Setiap kita pasti ingin dibantu atau dipermudah menjalani hidup ini. Munafik jika saat bisa memilih dengan bebas ada orang yang sengaja memilih hal yang lebih sukar. Banyak yang terpaksa ‘memilih’ hidup yang sulit karena dua hal: ketidaktahuan dan keterbatasan.

Ingatlah bahwa semua orang pernah bodoh. Janganlah menertawakan mereka yang nampak bodoh maupun benar-benar bodoh. Ingatlah bahwa kita semua pernah berbuat salah, pernah berbuat yang tidak pantas, pernah tidak kompeten.

Jika kita beneran pintar, lebih dulu tahu, tidak licik, baik, senang mikir, logis, atau kompeten, maka harusnya kita mau membantu yang belum seperti kita. Minimal jangan menertawakan kekurangan orang lain. Jangan pula menyebarkannya kepada orang lain.

Tunjukkan hal yang baik melalui ucapan dan perbuatan yang baik. Lakukan hal yang benar dengan cara yang baik. Berjuanglah mewujudkannya, jangan mencari alasan untuk memilih tidak melakukannya.

Jangan terintimidasi dengan masa lalu. Sampaikan saja hal yang baik dan benar. Bahkan diajarkan bahwa kabarkanlah berita Injil ketika baik maupun tidak baik waktunya. Ingatlah bahwa kita adalah surat terbuka yang dapat dibaca oleh setiap orang yang berhubungan dengan kita. Lebih baik kita mengevaluasi apa yang kurang dari apa yang kita sampaikan, daripada merasa aman karena tidak menyampaikan apa-apa.

Sampaikan saja apa yang kamu ketahui, apa yang kamu percayai, apa yang kamu rasakan, perubahan apa yang menurutmu sudah terjadi. Bagikan apa yang bisa membuat orang lain menjadi lebih baik tanpa merendahkannya.

Jangan menunggu dan beralasan untuk menunjukkan bahwa Yesus Kristus telah menebusmu dari dosamu. Sampaikan berita Injil sebagai berita terbaik yang pernah ada melalui ucapan dan perbuatanmu sehari-hari. Sampaikan kabar sukacita dengan penuh sukacita. Ingatlah bahwa kita telah menerima anugerah yang luar biasa, yang layak diceritakan ke semua orang. Ya, semua orang perlu mendengar kisah penebusan hidupmu dari dosa. Tentu mereka ingin melihat atau mendengarnya dengan baik, bukan sambil dihina atau dibuat bahan bercandaan.

Jangan takut dianggap tidak layak menyampaikan karya keselamatan dari Tuhan Yesus. Jangan takut direndahkan atau diremehkan karena pendengar kisah kita adalah orang yang tahu bahwa kita pernah berbuat dosa. Jangan mengurungkan niat untuk mengabarkan berita Injil pada mereka yang dulu pernah kita sakiti. Beranilah bersaksi, tunjukkan bahwa kita sudah ditebus. Biarkan kehidupan kita yang sudah berubah menjadi lebih baik dan benar menjadi bukti segala kesaksian lisan kita.

Ketika seseorang ditebus dari dosa, maka wajar jika dia bersukacita. Bebas dari hukuman tentu hal yang sangat menyenangkan bagi orang-orang yang menanti eksekusi. Jika kita sudah tahu caranya untuk bebas, maka tentu kita perlu memberi tahu mereka yang belum bebas dari hukuman dosa. Kabarkan saja kabar sukacita yang telah kita alami. Jika kesaksian kita membuat orang tidak mau percaya karena latar belakang kita, maka jadikan itu pengingat bahwa memang kita tidak layak mendapat pengampunan. Yakinlah bahwa keselamatan memang anugerah dari Tuhan Yesus, yang tidak mungkin kita upayakan sendiri.

Jangan terkurung oleh persepsi diri sendiri maupun persepsi orang lain bahwa untuk berbagi hal yang baik memerlukan kesempurnaan hidup. Jangan percaya bahwa untuk mengabarkan karya penebusan yang nyata dalam dirimu diperlukan syarat berupa hidup yang tidak bercela sejak lahir.

Hindari situasi yang membuat kita menjadi penegak hukum atau pembuat hukum. Ingatlah bahwa kita hanyalah mantan orang hukuman yang dibebaskan hanya oleh anugerah Tuhan Yesus. Bagikan saja hal yang benar yang lebih dulu kita ketahui tanpa menghakimi orang lain dan tanpa mengumbar kebodohan orang lain.

Bingung mulai dari mana? Mulailah dengan berdoa. Ketika kita berdoa sebetulnya kita ‘hanya’ berterima kasih. Sama seperti ketika kita mendapatkan sesuatu dari seseorang, kita diajari untuk merespon pemberian tersebut dengan mengucapkan terima kasih. Jadi mulailah dengan bersyukur.

Pemberian Tuhan Yesus bagi kita tentu tak terhitung jumlahnya. Bahkan kemampuan kita untuk memahami bahwa Tuhan Yesus adalah sang pemberi juga merupakan pemberian Tuhan Yesus. Sudah seharusnya kita rajin berdoa. Pemberian Tuhan Yesus selalu ada dan tak pernah berhenti. Setiap kali kita mengingat kebaikan Tuhan Yesus maka sebaiknya kita berdoa.

Berdoa bisa dilakukan di mana saja. Sebaiknya tempat untuk berdoa disesuaikan dengan kondisi kita, sedapat mungkin pilihlah tempat yang membuat kita dapat berdoa dengan baik. Doa tidak harus dalam kondisi mata terpejam, tangan dilipat, tangan dikunci, atau dalam posisi tertentu. Doa tak perlu selalu bersuara, seringkali bahkan tak perlu kata-kata.

Karena doa sejatinya adalah ungkapan terima kasih ciptaan pada penciptanya maka ucapan syukur sudah merupakan inti terpenting dari sebuah doa yang lengkap. Beberapa hal lain yang sebaiknya ada dalam doa mencakup: pengagungan Tuhan Yesus, pengakuan dosa dan permohonan ampun, dan permohonan spesifik. Mintalah Tuhan Yesus menunjukkan apa hal benar yang bisa kita lakukan dengan baik untuk orang lain.

Berdoalah sesuai kebutuhan. Tidak ada batasan khusus. Tidak perlu berpanjang lebar, sampaikan secara spesifik, satu kali, akhiri dengan amin. Tuhan Yesus mengajar kita untuk berdoa dengan singkat, padat, dan jelas. Tidak perlu menggunakan kata atau kalimat yang sama berulang-ulang dalam sebuah doa. Semua yang sadar bahwa telah menerima anugerah dari Tuhan Yesus perlu berdoa. Mulailah dengan syukur, akhirilah dengan kesediaan dipakai untuk mengerjakan pekerjaan Kerajaan Allah.

Marilah kita membantu dan mempermudah diri sendiri dan orang lain menjalani hidup ini. Justru karena kita tahu banyak yang terpaksa ‘memilih’ hidup yang sulit karena ketidaktahuan dan keterbatasan, maka kita perlu menjadi penerang.

lampu dalam kegelapan

Sleman, 6 Juni 2020

Leave a comment

Leave a Reply