Keluarga harus jadi nomor satu dalam prioritas kita. Pendidikan, pekerjaan, politik, dan hal lain haruslah jadi hal yang kurang penting ketika dibandingkan dengan keluarga. Tentu pilihan ini harus dijalani dengan bertanggung jawab dan berpikiran luas. Bukan asal yang penting keluarga duluan. Jangan mau menomorduakan keluarga. Pekerjaan dan hal yang lain harus mengikuti kebutuhan keluarga.

Yang terutama tentu adalah hidup demi Tuhan Yesus karena hidup kita adalah anegerah dari Tuhan Yesus. Sehingga Tuhan Yesus tidak perlu dinomorsatukan, karena memang tidak perlu diberi nomor. Pengabdian kita pada Tuhan Yesus harus mewarnai setiap prioritas hidup kita.

Standar sebagai orang tua yang baik adalah standar yang paling sulit dipenuhi namun paling mendesak untuk dapat tercapai. Karena tugas sebagai orang tua adalah tugas yang utama, sehingga anak sebagai bagian keluarga juga harus diutamakan.

Dalam membesarkan anak kita harus memilih cara yang benar. Dengan memilih cara yang benar kita bisa mengharapkan hasil yang baik. Jangan sampai kesibukan kita dalam bekerja menjadi penghalang bagi kita untuk memberikan yang terbaik bagi anak kita.

Cara yang benar dalam membesarkan anak adalah dengan mengarahkan bagaimana seharusnya orang benar hidup, serta menghindari cara hidup orang berdosa. Mengajarkan dengan baik membutuhkan banyak waktu dan usaha. Metode yang terbaik adalah dengan menjadi teladan dan menerangkannya ke anak-anak kita. Akan sangat sulit dipahami jika kita menyampaikan banyak hal baik namun cara hidup kita tidak terkategori sebagai tingkah laku orang benar.

keluarga adalah prioritas utama

Kita wajib menghukum anak kita sesuai kesalahannya dengan hukuman yang bisa membuatnya memahami kesalahannya dan bisa dapat kesempatan untuk memperbaiki sikap dan tingkah lakunya. Hukuman orang tua pada anaknya harus sepaket dengan pengampunan tanpa syarat. Ya, orang tua pun harus belajar untuk melakukan hal yang sulit. Tak ada yang mudah dalam proses menjadi lebih baik.

Jika perlu untuk menghukum secara fisik (misalnya memukul atau mencubit) maka lakukanlah setelah berfikir jernih. Sulit untuk melakukannya tanpa luapan emosi. Lakukanlah dalam kadar yang cukup hingga membuatnya sadar bahwa dia sedang dihukum, tidak harus sampai menangis. Upayakan untuk tidak meninggalkan bekas secara fisik. Dan, yang terpenting, minta maaflah kepada anak karena telah menghukumnya secara fisik. Terangkan tujuan anda menghukumnya, pastikan dia mengerti kesalahannya, dan sampaikan harapan anda.

Ya, orang tua memiliki tugas yang berat dalam mendidik anak dengan cara yang benar. Mari selalu belajar menjadi lebih baik. Anak pun kelak akan menjadi orang tua. Berilah teladan yang baik. Ingatlah bahwa pasangan dan anak anda adalah harta yang paling berharga.

Hai anakku, janganlah engkau hidup menurut tingkah laku orang berdosa, tahanlah kakimu dari pada jalan mereka. (Amsal 1:15)
Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar. (Amsal 2:20)

Sleman, 19 Mei 2020

Leave a comment

Leave a Reply