penghitungan anggaran asuransi kesehatan

Komorbiditas Nonkardiak Meningkatkan Rawat Inap yang Dapat Dicegah dan Mortalitas pada Penerima Manfaat Medicare dengan Gagal Jantung Kronis

Masih terdapat ketidakpastian mengenai bagaimana menangani lansia dengan komorbiditas yang kompleks. Pada penelitian di Skotlandia yang meneliti kohort 25000 penderita gagal jantung kronis, dikaitkan dengan rawat inap dan mortalitas, ditemukan bahwa komorbiditas yang sering tidak diperhatikan pada saat kontrol rawat jalan rutin akan memicu atau menjadi penyulit pada saat pasien rawat inap. Penelitian lain menunjukkan bahwa ketika satu kondisi serius menjadi fokus penatalaksanaan, maka penatalaksanaan kondisi kronis lainnya menjadi kurang diperhatikan.

translate jasa jurnal fk murah berkualitasPenelitian ini berfokus pada individu berusia 65 tahun ke atas karena mencakup 80% dari satu juta rawat inap yang terkait gagal jantung kronis dan 88% dari 287000 kematian per tahun yang terkait gagal jantung kronis. Kami mendefinisikan rawat inap yang dapat dicegah sebagai rawat inap untuk kondisi rawat jalan sensitif. Sering dipakai sebagai indikator layanan primer yang adekuat, kondisi rawat jalan sensitif merefleksikan kondisi dimana layanan primer yang tepat waktu dan efektif dapat mengurangi risiko rawat inap dengan mencegah onset penyakit, mengontrol gangguan episodik akut, atau mengelola kondisi kronis. Kami berhipotesis bahwa pada penerima manfaat Medicare dengan gagal jantung kronis, peluang rawat inap yang dapat dicegah akibat kondisi rawat jalan sensitif akan meningkat dengan komorbiditas nonkardiak yang lebih besar. Kami juga berhipotesis bahwa komorbiditas yang umumnya responsif terhadap penanganan rawat jalan reguler (misalnya diabetes melitus atau gagal ginjal kronis) akan berhubungan dengan peluang yang lebih besar untuk rawat inap yang dapat dicegah dan mortalitas. Hubungan-hubungan tersebut akan menegaskan perlunya dokter yang merawat gagal jantung kronis untuk mengenali lebih baik kondisi nonkardiak yang menjadi penyulit pada lansia.

Komorbiditas kardiak yang paling sering ditemui adalah penyakit jantung aterosklerotik, disritmia jantung, dan gangguan katup.

Terdapat 39% pasien yang memiliki lima atau lebih komorbiditas nonkardiak, dan hanya 4% pasien yang tidak memiliki komorbiditas. Dua puluh komorbiditas nonkardiak pada pasien lansia dengan gagal jantung kronis adalah hipertensi esensial, diabetes melitus, PPOK dan bronkiektasis, gangguan okuler (retinopati, penyakit makuler, katarak, glaukoma, hiperkolesterolemia, aterosklerosis periferal dan viseral, osteoartritis, gangguan saluran nafas bawah selain PPOK dan bronkiektasis, gangguan tiroid, hipertensi sekunder dan hipertensi dengan komplikasi, demensia atau penyakit Alzheimer, depresi atau gangguan afektif, gagal ginjal kronis, hiperplasia prostat, gangguan tulang belakang kronis, asma, osteoporosis, insufisiensi ginjal, gangguan cemas dan kepribadian, penyakit serebrovaskuler. Sekitar 75% pasien dengan gagal jantung kronis memiliki minimal satu dari tiga komorbiditas berikut ini: hipertensi esensial, diabetes melitus, PPOK/bronkiektasis.

Baca juga: Level of Processing pada Psikologi

penghitungan anggaran asuransi kesehatan

Beban penyakit kronis nonkardiak dan tingkat rawat inap.

Pasien gagal jantung kronis tanpa komorbiditas memiliki rata-rata probabilitas rawat inap sebesar 35%. Probabilitas ini meningkat jadi 72% jika memiliki lima komorbiditas dan 94% jika memiliki 10 atau lebih komorbiditas. Meskipun pasien dengan lima atau lebih komorbiditas hanya sebanyak 39%, namun mereka mencakup 81% dari total hari rawat inap.

Pada pasien tanpa komorbiditas, probabilitas kondisi rawat jalan sensitif sebesar 10%. Probabilitas ini meningkat jadi 19% jika memiliki lima komorbiditas dan 29% jika memiliki 10 atau lebih komorbiditas. Pada rawat inap akibat kondisi rawat jalan sensitif, probabilitasnya 17% pada kelompok tanpa komorbiditas, 35% jika memiliki lima komorbiditas, dan 52% jika memiliki 10 atau lebih komorbiditas. Dibandingkan dengan pasien non-gagal jantung kronis, pasien gagal jantung kronis memiliki 1,27 kali (10 komorbiditas atau lebih) hingga 8,75 kali (tanpa komorbiditas) risiko yang lebih tinggi untuk rawat inap dengan sebab apapun dan 3,25 kali (10 komorbiditas atau lebih) hingga 21 kali (tanpa komorbiditas) risiko yang lebih tinggi untuk rawat inap akibat kondisi rawat jalan sensitif.

Komorbiditas nonkardiak spesifik terhadap rawat inap dan mortalitas.

Hipertensi sekunder atau hipertensi dengan komplikasi memiliki nilai RR terbesar (RR 1,51; 95% CI=1,45-1,56) terhadap rawat inap akibat kondisi rawat jalan sensitif terkait gagal jantung kronis, diikuti gagal ginjal kronis (RR 1,43; 95% CI=1,36-1,50), dan PPOK/bronkiektasis (RR 1,40; 95% CI=1,36-1,44).

Gangguan paru, termasuk PPOK/bronkiektasis, penyakit paru bawah lain, dan asma berhubungan dengan RR unadjusted tertinggi dari rawat inap akibat kondisi rawat jalan sensitif. Setelah adjustment, gangguan paru masih berhubungan kuat dengan rawat inap akibat kondisi rawat jalan sensitif, sama seperti hipertensi esensial dan hipertensi dengan komplikasi, penyakit serebrovaskuler tahap lanjut, gagal ginjal kronis, demensia/penyakit Alzheimer, DM, dan depresi/gangguan afektif.

Penyakit saluran nafas bawah kronis berhubungan dengan RR terbesar terhadap mortalitas (RR 2,34; 95% CI=2,27-2,41). Gagal ginjal menjadi urutan RR kedua (RR 1,65; 95% CI=1,58-1,73). Yang menarik, beberapa kondisi (misalnya hipertensi esensial dan hiperlipidemia) tampak sebagai “faktor protektif” untuk mortalitas, dengan RR secara bermakna kurang dari 1,00.

Pasien gagal jantung kronis, pada tingkat komorbiditas penyakit kronis manapun, memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami minimal satu rawat inap yang dapat dicegah dibandingkan dengan individu tanpa gagal jantung kronis.

Sejumlah alasan dapat menerangkan mengapa pasien gagal jantung kronis yang lebih tua dengan komorbiditas yang lebih berat akan mengalami lebih banyak kejadian tak diinginkan yang akan menyebabkan rawat inap yang dapat dicegah. Hal ini termasuk kurang digunakannya terapi gagal jantung kronis yang efektif karena adanya kondisi lain akibat alasan keamanan (contohnya, penggunaan beta-blocker pada pasien asma atau ACE inhibitor pada pasien insufisiensi ginjal), ketidakpatuhan pasien atau ketidakmampuan pasien mengingat anjuran diet atau minum obat yang rumit, penanganan setelah keluar rumah sakit yang kurang memadai, dukungan sosial yang buruk, dan tidak segera mencari layanan kesehatan saat gejala timbul kembali. Stres psikologis dari kesehatan yang buruk selama bertahun-tahun juga menjadi predisposisi hasil akhir yang buruk. Stres emosional dapat menginduksi disfungsi ventrikel kiri pada pasien kardiomiopati idiopatik, dan ada satu penelitian melaporkan mendahului rawat inap gagal jantung kronis pada 49% pasien. Pasien lansia dengan komorbiditas multipel dan polifarmasi juga rentan mengalami koordinasi penaganan yang buruk dan memiliki risiko yang meningkat untuk mengalami efek samping obat akibat interaksi antar obat.

Hiperkolesterolemia tampak sebagai faktor protektif pada kondisi gagal jantung kronis dengan memberikan risiko mortalitas yang 53% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak hiperkolesterolemia. Mekanisme yang mungkin mendasari temuan ini adalah kapasitas lipoprotein untuk mengikat lipopolisakarida, dan menekan produksi sitokin proinflamasi dan katabolisme yang diinduksi sitokin. Penjelasan lainnya adalah ketidaktepatan pengkodean. Pasien yang lebih sehat akan lebih cenderung mendapatkan hiperkolesterolemia dikodekan pada catatan administratifnya dibandingkan pasien dengan kondisi lain yang lebih serius yang memerlukan perhatian medis lebih sering.

Respon kardiologis dapat berupa meningkatkan usaha mengatasi kondisi-kondisi yang berperan sebagai komplikasi, menurunkan hambatan akses, dan meningkatkan komunikasi dengan penyedia layanan kesehatan lainnya jika kualitas layanan komprehensif tampak suboptimal. Respon penjamin biaya kesehatan dapat berupa pembentukan tim penanganan penyakit yang multidisiplin, tambahan pembayaran jasa untuk koordinasi dan strategi reibursement case-mix baru yang telah disesuaikan yang memberi penghargaan pada kardiologis untuk menemukan dan merujuk (bila perlu) pasien dengan komorbiditas nonkardiak yang tidak tertangani dengan baik.

situs kedokteran indonesia jurnal ilmiah

Sumber: Braunstein J, Anderson G, Gerstenblith G, Weller W, Niefeld M, Herbert R, et al. Noncardiac Comorbidity Increases Preventable Hospitalizations and Mortality Among Medicare Beneficiaries With Chronic Heart Failure. J Am Coll Cardiol. 2003;(42): p. 1226-1233.

 

Diterjemahkan oleh Yoseph Samodra

Silahkan berkomentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s