Teori Tentang Lupa

Teori melupakan

Untuk memahami bagaimana kita lupa, kita harus mengingat kembali perbedaan antara availabilitas (apakah materi tersimpan atau tidak) dan aksesibilitas (dapat mengambil apa yang sudah tersimpan). Dalam istilah model multi-store, karena informasi harus dipindahkan dari STM ke LTM untuk penyimpanan permanen:

  • Availabilitas terutama melibatkan STM dan perpindahan informasi dari STM ke LTM;
  • Aksesibilitas terutama melibatkan LTM.

Melupakan sesuatu dapat terjadi pada tahap pengkodean, penyimpanan, atau pengambilan kembali.

Jadi, satu cara untuk memahami lupa adalah menanyakan apakah yang mencegah informasi bertahan cukup lama di STM untuk dipindahkan ke LTM (beberapa jawaban diberikan oleh teori pembusukan (decay) dan pemindahan (displacement)). Beberapa jawaban atas pertanyaan apakah yang mencegah kita untuk menemukan informasi yang sudah tersimpan mencakup yang diberikan oleh teori interferensi, cue-dependent forgetting, dan melupakan dengan motivasi tertentu (atau represi).

translate jasa jurnal fk murah berkualitas

Teori pembusukan

Teori pembusukan (decay atau trace decay) mencoba menjelaskan mengapa lupa meningkat seiring berjalannya waktu. Jelas bahwa ingatan harus disimpan di suatu tempat, paling jelas di otak. Diasumsikan bahwa semacam perubahan truktural (engram) timbul ketika mempelajari sesuatu. Menurut teori pembusukan, proses metabolik yang terjadi seiring berjalannya waktu akan merusak engram yang ada, kecuali engramnya dipertahankan melalui latihan dan pengulangan. Jika engram rusak, ingatan di dalamnya menjadi hilang.

Hebb (1949) berpendapat bahwa ketika mulai mempelajari sesuatu, engram yang segera terbentuk memiliki sifat yang mudah terganggu (active trace). Dengan terus belajar, engramnya makin kuat hingga terbentuk engram permanen (structural trace) melalui perubahan neurokimiawi dan neuroanatomi.

 

Pembusukan di STM dan LTM

Active trace berkaitan dengan STM, dan, menurut teori pembusukan, melupakan sesuatu dari STM adalah akibat dari gangguan terhadap active trace. Meskipun Hebb tidak menerapkan ide pembusukan pada LTM, peneliti lain berpendapat bahwa teori ini dapat menjelaskan melupakan sesuatu dari LTM jika diasumsikan pembusukan terjadi akibat tidak dipakai (menjadi: teori pembusukan akibat tidak dipakai). Jadi, jika pengetahuan atau ketrampilan tertentu tidak dipakai dalam waktu yang lama, engramnya akan membusuk (Loftus dan Loftus, 1980).

 

Apakah melupakan hanya masalah waktu?

Penelitian Peterson dan Peterson (1959) telah dipakai sebagai bukti peranan pembusukan pada melupakan sesuatu di STM. Jika terjadi pembusukan, maka kita mengharapkan recall yang makin buruk seiring waktu, yang dibuktikan oleh penelitian tersebut.

Kesulitan terkait penelitian Peterson secara khusus, dan teori pembusukan secara umum, adalah bahwa efek lainnya yang mungkinmempengaruhi harus disingkirkan sebelum penjelasan terkait pembusukan bisa diterima. Cara ideal untuk meneliti pembusukan adalah denganmeminta seseorang menerima informasi lalu tidak melakukan apa-apa secara fisik maupun mental, selama beberapa waktu. Jika recall makin buruk seiring waktu, barulah bisa diterima bahwa telah terjadi pembusukan. Penelitian semacam ini tentu mustahil dilakukan. Namun, Jenkins dan Dallenbach (1924) adalah yang pertama mencoba melakukan penelitian dengan pendekatan tersebut.

 

Jenkins dan Dallenbach (1924)

Partisipan mempelajari daftar sepuluh silabel tanpa makna. Beberapa segera tidur (mendekati keadaan ideal ‘tidak melakukan apa-apa’), sedangkan yang lainnya tetap beraktivitas normal.

Setelah interval satu, dua, empat, atau delapan jam, seluruh partisipan diuji recall daftar silabelnya. Terdapat perbedaan hasil antara yang tidur dan yang tidak tidur.

Jika pembusukan hanya akibat berjalannya waktu, maka harusnya tingkat lupanya sama pada kedua kelompok. Hasil ini menunjukkan bahwa belajar dan recall yang menentukan lupa, bukan sekedar waktu. Ini membuat Jenkins dan Dallenbach menyimpulkan: ‘Melupakan bukanlah masalah pembusukan impresi dan asosiasi lama karena itu adalah masalah interferensi, inhibisi, atau obliterasi yang lama oleh yang baru’.

 

Meskipun beberapa data yang ada menunjukkan bahwa kerusakan neurologis terjadi seiring bertambahnya usia dan penyakit (misalnya penyakit Alzheimer), tidak terdapat bukti bahwa penyebab utama melupakan sesuatu dari LTM adalah pembusukan neurologis (Solso, 1995).

Baca juga: Working-memory

terus banyakbaca biar tidak mudah lupa

Teori pemindahan (displacement)

Dalam sistem STM yang kapasitasnya terbatas, lupa dapat timbul akibat pemindahan. Ketika sistemnya ‘penuh’, materi terlama akan dipindahkan (‘dikeluarkan’) oleh materi baru. Kemungkinan ini diteliti oleh Waugh dan Norman (1965) menggunakan tugas rangkaian probe. Partisipan diberikan 16 angka dengan kecepatan satu atau empat per detik. Salah satu angka (‘probe’) lalu diulang, dan partisipan diminta menyebutkan angka mana yang muncul setelah probe. Asumsinya:

  • Jika probe adalah salah satu angka di bagian awal, probabilitas menyebutkan angka setelah probe adalah kecil, karena angka di bagian akhir akan menggeser posisi angka sebelumnya di sistem;
  • Jika probe adalah salah satu angka di bagian akhir, probabilitas menyebutkan angka setelah probe adalah besar, karena angka di bagian akhir masih ada di sistem STM.

Ketika jumlah angka setelah probe sedikit, recall-nya akan baik, dan sebaliknya. Ini konsisten dengan ide bahwa angka awal digantikan oleh angka akhir.

 

Karena lebih sedikit waktu berlalu antara penyajian angka dan probe pada kondisi empat angka per detik, maka lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami pembusukan, sehingga hasil recall-nya lebih baik. Hal ini membuat ketidakjelasan mengenai apakah pemindahan adalah proses yang berbeda dengan pembusukan.

 

Teori kegagalan pengambilan kembali dan cue-dependent forgetting

Berdasarkan teori kegagalan pengambilan kembali, ingatan tidak dapat diambil karena tidak menggunakan petunjuk (cue) pengambilan kembali yang tepat. Penggunaan petunjuk pengambilan kembali ditunjukkan melalui fenomena ‘di ujung lidah’, dimana kita tahu bahwa kita mengetahui sesuatu tetapi tidak bisa menyebutkannya pada waktu tertentu (Brown dan McNeill, 1966).

 

Itu sudah di ujung lidahku (Brown dan McNeill, 1966)

Brown dan McNeill memberikan partisipan definisi dari kamus untuk kata-kata yang tidak familiar, dan meminta mereka menyebutkan kata tersebut. Kebanyakan partisipan mengetahui kata tersebut atau mengetahui bahwa mereka tidak mengetahuinya.

Beberapa orang merasa yakin mereka mengetahui kata tersebut tapi tidak bisa menyebutkannya (kata tersebut sudah di ujung lidah mereka). Sekitar setengahnya dapat menyebutkan huruf pertama dan jumlah silabelnya, dan sering menyebutkan kata lain yang bunyi atau artinya mirip dengan kata tersebut. Ini berarti bahwa kata tersebut ada di ingatan mereka namun karena tidak ada petunjuk pengambilan kembali yang tepat membuat mereka gagal menyebutkannya.

Contoh definisi yang diberikan ke partisipan oleh Brown dan McNeill:

  1. Kapal kecil yang digunakan di pelabuhan dan sungai di Jepang dan Cina, didayung dengan sebuah dayung di bagian belakang kapal, kadang memiliki layar.
  2. Favoritisme, terutama patronasi pemerintahan yang meluas ke kerabat.
  3. Kavitas gabungan yang menjadi muara berbagai duktus di tubuh ikan, reptil, burung, dan mamalia tertentu.

Tulving dan Pearlstone (1966) membacakan daftar kata-kata dalam jumlah yang berbeda (12, 24, atau 48) terdiri atas kategori (misalnya binatang) yang terdiri atas satu, dua, atau empat eksemplar (misalnya anjing) tiap daftarnya, dengan nama kategorinya. Partisipan diminta mencoba mengingat hanya eksemplarnya. Setengah partisipan (kelompok 1) melakukan free-recall dan menuliskannya pada selembar kertas kosong. Setengahnya lagi (kelompok 2) diberikan nama kategorinya. Kelompok 2 mengingat jauh lebih banyak, terutama pada daftar berisi 48 item. Ketika kelompok 1 juga diberikan nama kategorinya, hasilnya membaik.

Ini menjelaskan dengan baik perbedaan antara availabilitas dan aksesibilitas. Nama kategori berperan sebagai petunjuk kontekstual, membantu mengakses apa yang tersedia. Kelompok 2 mampu mengingat lebih banyak dari yang sesungguhnya mereka bisa ingat pada kondisi tanpa bantuan petunjuk.

 

Tulving (1968) menunjukkan daftar kata pada partisipan dan meminta mereka menuliskan sebanyak mungkin yang bisa mereka ingat tanpa harus berurutan. Lalu tanpa ditunjukkan lagi daftarnya atau melihat catatan mereka, partisipan diminta mengulang kembali. Setelah itu mereka diminta lagi mengulang kata-kata di daftar original untuk ketiga kalinya.

Teori pembusukan tidak akan memprediksikan recall sebuah kata di percobaan 3 jika tidak muncul saat recall percobaan 1 dan 2. Karena untuk dapat di-recall pada percobaan ketiga tentu tidak boleh mengalami pembusukan dan hilang pada percobaan sebelumnya. Tetapi teori kegagalan pengambilan kembali dapat menjelaskan hal ini dengan alasan bahwa petunjuk pengambilan kembali yang berbeda terlibat dalam ketiga percobaan tersebut.

 

Menurut prinsip spesifisitas pengkodean (encoding-specificity principle, ESP) Tulving (1983), recall akan makin baik jika petunjuk yang sama muncul saat recall dan saat mempelajarinya. Dalam penelitian Tulving dan Pearlstone, nama kategori diberikan bersama dengan eksemplar untuk kelompok 1, dan dianggap terkodekan saat mempelajarinya. ESP menjelaskan mengapa recall kadang lebih baik hasilnya daripada rekognisi (meskipun rekognisi secara umum dianggap lebih mudah daripada recall).

Tulving (1974) menggunakan istilah cue-dependent forgetting untuk mengacu pada melupakan tergantung konteks dan melupakan tergantung keadaan.

 

Yang menarik, ketika Godden dan Baddeley (1980) mengulang percobaan bawah airnya menggunakan rekognisi sebagai ukuran mengingat, mereka tidak menemukan efek konteks. Mereka menyimpulkan bahwa melupakan yang tergantung konteks hanya berpengaruh pada mengulang kembali. Menurut Baddeley (1995), efek besar dari konteks terhadap ingatan hanya timbul ketika konteks saat pengkodean dan pengambilan kembali sangat berbeda. Meskipun perubahan yang tidak terlalu besar dapat memberikan sejumlah efek, penelitian (selain milik Abernathy) mencari efek konteks pada performa cenderung menunjukkan sedikit efek. Ini mungkin karena ketika kita belajar, lingkungan kita bukanlah penanda utama situasi tersebut, tidak seoerti keadaan internal kita (misalnya keadaan emosi kita).

 

Teori interferensi

Menurut teori interferensi, melupakan dipengaruhi lebih oleh apa yang kita lakukan sebelum atau sesudah belajar daripada hanya sekedar dipengaruhi oleh berjalannya waktu.

  • Pada interferensi/inhibisi retroaktif (retroactive interference/inhibition, RI), pembelajaran terakhir akan mempengaruhi recall dari pembelajaran terdahulu. Contohnya, jika anda awalnya belajar mengemudikan mobil manual, lalu belajar mengemudikan mobil otomatis, ketika kembali memakai mobil manual, anda mungkin akan mengemudikannya seolah-olah itu mobil otomatis.
  • Pada interferensi/inhibisi proaktif (proactive interference/inhibition, PI), pembelajaran terdahulu akan mempengaruhi recall dari pembelajaran terakhir. Contohnya, anda belajar mengemudikan mobil dengan tuas wiper di kanan dan tuas indikator belok di kiri. Ketika sudah mendapat SIM, anda membeli mobil dengan posisi tuas yang berlawanan. Ketika anda ingin belok, anda malah mengaktifkan wiper.

Teori interferensi telah banyak diteliti di laboratorium menggunakan daftar asosiasi berpasangan.

 

Umumnya, anggota pertama dari masing-masing pasangan di daftar A adalah sama dengan yang di daftar B, tapi anggota kedua dari masing-masing pasangan berbeda pada kedua daftar.

  • Pada RI, pembelajaran daftar kedua mempengaruhi recall dari daftar pertama (interferensi mundur).
  • Pada PI, pembelajaran daftar pertama mempengaruhi recall dari daftar kedua (interferensi maju).

Teori interferensi memberikan penjelasan alternatif untuk data Peterson dan Peterson (1959). Keppel dan Underwood (1962) mengamati bahwa Peterson memberikan dua percobaan latihan, dan tertarik akan bagaimana percobaan latihan ini mempengaruhi mereka dalam eksperimen aktual. Meskipun tidak ada bukti melupakan pada percobaan pertama, terdapat beberapa bukti pada percobaan kedua dan lebih banyak lagi bukti pada percobaan ketiga.

Meskipun melupakan dapat terjadi pada percobaan pertama (mendukung teori pembusukan), temuan Keppel dan Underwood bahwa performa tidak menurun hingga percobaan kedua dilakukan menunjukkan bahwa dalam eksperimen Peterson terjadi PI.

 

Seperti Keppel dan Underwood, Wickens (1972) menemukan bahwa partisipan menjadi makin buruk dalam menahan informasi di STM pada percobaan berulang. Namun, saat kategori informasi diubah, performa mereka sebaik saat percobaan pertama. Jadi performa dengan daftar angka makin buruk seiring berjalannya waktu, tapi ketika tugasnya diubah menjadi daftar huruf, hasilnya membaik. Ini disebut terlepas dari inhibisi proaktif.

 

Keterbatasan penelitian laboratorium tentang teori interferensi

Dukungan terkuat untuk teori interferensi berasal dari penelitian laboratorium. Namun:

  • Pembelajaran pada penelitian semacam itu tidak timbul seperti pada dunia nyata, dimana pembelajaran materi yang berpotensi berinterferensi memiliki jeda panjang. Pada laboratorium, pembelajaran secara artifisial dipadatkan waktunya, jedanya pendek, sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya interferensi (Baddeley, 1990). Penelitian semacam itu memiliki validitas ekologis yang rendah.
  • Penelitian laboratorium cenderung menggunakan silabel tak bermakna sebagai materi stimulus. Ketika materi bermakna digunakan, interferensi lebih sulit terjadi (Solso, 1995).
  • Ketika partisipan harus mempelajari, misalnya respon ‘bell’ untuk stimulus ‘woi’, kata ‘bell’ tidak sedang dipelajari di laboratorium, karena sudah merupakan bagian SM (semantic memory). Apa yang sedang dipelajari (respon spesifik untuk stimulus spesifik pada situasi laboratorium yang spesifik) disimpan di EM (episodic memory). SM jauh lebih stabil dan terstruktur dibandingkan EM, sehingga lebih tahan terhadap efek interferensi. Tidak ada sejumlah informasi baru yang akan membuat seseorang melupakan apa yang telah mereka ketahui dan tersimpan di SM (Solso, 1995).

Namun, dalam mendukung teori interferensi, telah umum disepakati bahwa jika pelajar harus mempelajari lebih dari satu mata pelajaran dalam kerangka waktu yang sama, mata pelajarannya sedapat mungkin dipilihkan yang tidak mirip.

dukung dokteryoseph.com

[Diterjemahkan dari Psychology: The Science of Mind and Behaviour by Richard Gross]

5 thoughts on “Teori Tentang Lupa

  1. Aditya Lovindo Suwarno April 11, 2018 — 9:35 pm

    1. Peraturan Bupati Kabupaten Lombok Utara NOMOR 9 TAHUN 2016 TTG PENGEMBANGAN DESA SIAGA AKTIF (Paragraf 3 Pasal 8)
    2. Peraturan Daerah Kota Kendari NOMOR 8 TAHUN 2017 TENTANG KESEHATAN IBU, BAYI BARU LAHIR, BAYI, DAN ANAK BALITA (BAB 6 Pasal 25 Ayat 1C)
    3. Peraturan Daerah Kota Batam NOMOR 8 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI HOLISTIK INTEGRATIF (BAB 5 Pasal 10 Ayat 3C)
    4. Peraturan Daerah Kota Batam NOMOR 8 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI HOLISTIK INTEGRATIF (BAB 5 Pasal 14 Ayat 1.A.2)
    5. Peraturan Daerah Kota Makassar NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF (BAB 9 Pasal 22 Ayat 3C)
    6. Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan NOMOR 071 TAHUN 2016 TENTANG PELAKSANAAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN HIV/AIDS DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN (BAB 2 pasal 12 ayat 1 d)
    7. Peraturan Gubernur Aceh NOMOR 21 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENYEDIAAN MAKANAN TAMBAHAN ANAK SEKOLAH DI ACEH
    8. Peraturan Walikota Pariaman NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENGGUNAAN DANA DESA TAHUN 2017 (pasal 3A ayat C)
    9. Peraturan Bupati Bulukumba NOMOR 72 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENINGKATAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT DESA DAN KELURAHAN DI KABUPATEN BULUKUMBA (pasal 6 ayat 2c)
    10. Peraturan Bupati Jembrana NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG DAFTAR KEWENANGAN BERDASARKAN HAK ASAL USUL DAN KEWENANGAN LOKAL BERSKALA DESA DI KABUPATEN JEMBRANA (pasal 9 ayat C3)
    11. Peraturan Bupati Kepulauan Aru NOMOR 34 TAHUN 2016 TENTANG PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT MELALUI PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) PANGAN LOKAL DI POSYANDU BALITA
    12. Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Barat NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF (Pasal 1 Ayat 6)
    13. Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Barat NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF (Pasal 8 Ayat 1)
    14. Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Barat NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF (Pasal 8 Ayat 2)
    15. Peraturan Daerah Kabupaten Sikka NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI HOLISTIK INTEGRATIF (BAB 5 Pasal 14 Ayat 2)
    16. Peraturan Walikota Prabumulih NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG DAFTAR KEWENANGAN DESA BERDASARKAN HAK ASAL USUL DAN KEWENANGAN LOKAL BERSKALA DESA DI KOTA PRABUMULIH (BAB 2 Pasal 9C)
    17. Peraturan Daerah Kota Bengkulu NOMOR 03 TAHUN 2017 TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSLUSIF (BAB 1 Pasal 1 Ayat 7)
    18. Peraturan Daerah Kota Bengkulu NOMOR 03 TAHUN 2017 TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSLUSIF (BAB 7 Pasal 1 Ayat 2)
    19. Peraturan Bupati Tanjung Jabung Barat NOMOR 34 TAHUN 2017 TENTANG DAFTAR KEWENANGAN DESA BERDASARKAN HAK ASAL USUL DAN KEWENANGAN LOKAL BERSKALA DESA (Pasal 4 Ayat 2 d)
    20. Peraturan Daerah Kabupaten Sikka NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI HOLISTIK INTEGRATIF (BAB 2 Pasal 14 Ayat 1a.5)

    Aditya Lovindo Suwarno – 42160076
    Yonathan Adhitya Irawan – 42160079
    Hendy Adirian Wicaksono – 42160077
    Januarius Hendra Kurniawan – 42160080

    Like

  2. Ramilya Elvera Silaban April 11, 2018 — 9:48 pm

    KUMPULAN KEBIJAKAN TERKAIT KESEHATAN IBU TAHUN 2016-2018

    1. Peraturan  Walikota  Manado  nomor  28 tahun  2017 tentang  Pedoman Respon  Cepat Penanganan  Kehamilan, Persalinan dan Bayi  baru  lahir  Bermasalah di kota Manado.

    2. Peraturan Walikota Prabumulih no.19 tahun 2017 tentang  Program Jaminan  Persalinan (Jampersal) di kota Prabumulih.

    3. Peraturan  Bupati Serdang  nomor.12  tentang  Penyelenggaraan Pelayanan Persalinan,  Pelayanan  Kesehatan  Ibu dan  Bayi  pada Fasilitas Pelayanan  Kesehatan di Kabupaten Serdang Bedagai .

    4. Peraturan  Bupati Banjar nomor. 24 tahun 2016  tentang  Akselerasi  Penurunan Angka Kematian  Ibu,  kematian Bayi dan perbaikan status gizi masyarakat melalui satuan tugas desa di Kabupaten Banjar.

    5. Peraturan  Daerah Kabupaten Kolaka Utara nomor.8 tahun 2016 tentang Kewajiban Ibu ditolong melahirkan oleh Bidan disarana Kesehatan

    6. Peraturan  Daerah kota Baubau  nomor.3 tahun 2016 tentang  Kesehatan Ibu, Bayi baru lahir dan Anak Balita.

    7. Peraturan  Daerah kota Tapin  nomor 10 tahun 2016 tentang  Kesehatan  Ibu , Bayi baru lahir, Bayi dan Anak balita di Kabupaten Tapin

    8. Perda Provinsi  NTT nomor 1 tahun 2016 tentang  Penyelengaraan  Kesehatan Ibu dan Anak

    9. Perda Kabupaten  Kupang  no.7 Tahun 2017 tentang Kesehatan Ibu, Bayi baru lahir dan Anak balita (KIBBLA)

    10. Perbup Lombok Utara  nomor.9 tahun 2016 pasal 4,5,6,7 tentang Pengembangan Desa Siaga Aktif

    11. Peraturan  Daerah kota  Kendari  nomor 8 tahun 2017 tentang  Kesehatan Ibu, Bayi baru lahir dan Anak Balita

    12. Peraturan daerah kabupaten Kolaka Timur no.13 Tahun 2016 tentang Kesehatan Ibu, Bayi baru lahir, bayi dan Balita (KIBBLA) Kabupaten Kolaka Timur

    13. Peraturan Walikota Mataram  Provinsi Nusa Tenggara Timur nomor.9 tahun 2017 tentang Pedoman Jaminan Persalinan Kota Mataram.

    14. Peraturan Walikota Bengkulu nomor 21 tahun 2016 tentang Layanan Bergerak Pemeriksaan  Kehamilan (Mobile Antenatal Care) pada  pusat kesehatan masyarakat

    15. Peraturan Daerah Kabupaten Pohuwatu no.1 tahun 2017 tentang Kemitraan Bidan dan Dukun bayi

    16. Peraturan Daerah Kabupaten Kolaka Utara no.11 tahun 2016 tentang  Kemitraan Bidan desa dan Kader Desa Wisma Kesehatan di Kabupaten Kolaka Utara

    17. Peraturan Daerah Kabupaten Sambas Halmahera nomor 3 Tahun 2016 tentang Kesehatan Ibu, Bayi baru lahir, Bayi dan anak Balita

    18. Peraturan Daerah Kabupaten Alor  nomor 11. Tahun 2017 tentang Kesehatan  Ibu Bayi baru lahir dan Anak

    19. Peraturan  Daerah  Kabupaten  Lampung  Timur no.3 tahun 2017 tentang  Kesehatan  Ibu, Bayi baru lahir dan Anak.

    20. Peraturan Bupati Kepulauan Sangihe nomor 3 tahun 2017 tentang Pedoman Pelaksanaan Jaminan Persalinan di Kabupaten Kepulauan Sangihe

     

    Nama :

    Ramilya Elvera Silaban  (42160072)

    Charlina Amelia Br. Barus  (42160073)

    Silva Rosdina Worembai  (42160074)

    Rozalia Valenda von Bulow  ( 42160075)

    Like

  3. Kumpulan Kebijakan Terkait Penanggulangan Stunting 2016-2018.

    1. Peraturan Bupati Banjar Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Akselerasi Penurunan Angka Kematian Ibu, Kematian Bayi, Dan Perbaikan Status Gizi Masyarakat Melalui Satuan Tugas Desa Di Kabupaten Banjar
    2. Peraturan bupati batang hari nomor 34 tahun 2016 tentang kedudukan, tugas dan fungsi, susunan organisasi, dan tata kerja dinas kesehatan pasal 16 dan 17.
    3. Peraturan Bupati Tolitoli Nomor 12 Tahun 2017 Tentang Rencana Aksi Daerah Pangan Dan Gizi Kabupaten Tolitoli Tahun 2015-2019.
    4. Peraturan Daerah Kabupaten Kolaka Timur Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Pelayanan Publik Bidang Kesehatan Pasal 8 Ayat 5.
    5. Peraturan Daerah Kabupaten Kolaka Timur Nomor 13 Tahun 2016 Tentang Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, Bayi Dan Balita (Kibbla) Kabupaten Kolaka Timur Pasal 25 Ayat 1 Dan 2.
    6. Peraturan Daerah Kabupaten Sidoarjo Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perbaikan Gizi Dan Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif
    7. Peraturan Daerah Kabupaten Situbondo Nomor 3 Tahun 2017 Tentang Perbaikan Gizi.
    8. Peraturan Daerah Kabupaten Tapin Nomor 10 Tahun 2016 Tentang Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, Bayi Dan Balita Di Kabupaten Tapin Pasal 11 D.
    9. Peraturan Daerah Kota Gunungsitoli Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Sistem Kesehatan Daerah Pasal 13 Ayat 3.
    10. Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 4 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Pasal 8 Ayat 5.
    11. Peraturan Daerah Kota Pangkalpinang Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Ketahanan Pangan Dan Gizi Pasal 12 Dan 13.
    12. Peraturan Daerah Kota Tidore Kepulauan Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Pasal 9 Ayat 5.
    13. Peraturan Gubernur Sulawesi Tengah Nomor 50 Tahun 2016 Tentang Rencana Aksi Daerah Pangan Dan Gizi Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2015-2019.
    14. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2017 Tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2018 Pasal 6 Ayat 2e.
    15. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2016 Tentang Standar Produk Suplementasi Gizi.
    16. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2017 Tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Pasal 12 Ayat 2.1
    17. Peraturan Walikota Tebing Tinggi Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Tugas, Fungsi, Tata Kerja Dan Rincian Tugas Jabatan Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi Pasal 7.
    18. Peraturan Presiden Republik Indonesia No 83 Tahun 2017 Tentang Kebijakan Strategis Pangan dan Gizi Pasal 13.
    19. Peraturan Daerah Baubau Nomor 3 Tahun 2016 Tentang Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, Bayi dan Anak Balita.
    20. Peraturan Daerah Kabupaten Kolaka Utara Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Peningkatan Lingkungan Keluarga Sehat Pasal 21 – 26.
    21. Peraturan Walikota Prambukih Nomor 39 Tahun 2017 Tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Pasal 15b
    22. Peraturan Bupati Gorontalo Utara Nomor 31 Tahun 2017 Tentang Penanggulangan dan Pencegahan Gizi Buruk.

    Antonius Satriyo (421600078)
    Dicky Ariyono (421600081)
    Hendrisa Heppy (421600082)
    Ezra Gde Asa H. (421600083)

    Like

  4. Ringakasan Aktor Peraturan Walikota Prabumulih Nomor 19 Tahun 2017 tentang Program Jaminan Persalinan (JAMPERSAL) di kota Prabumulih.
    A. Penyusun :
    1. Individu :
    a. Walikota Prabumulih
    2. Lembaga :
    a. Pemerintah Kota Prabumulih
    b. Dinas Kesehatan Kota Prabumulih
    B. Pelaksana
    1. Individu
    a. Ibu : wanita usia subur yang masih dapat hamil, sedang hamil, bersalin, dan nifas.
    b. Bayi baru lahir atau disebut neonatal : anak usia 0 hari sampai dengan 28 hari.
    c. Tenaga kesehatan yang berkompeten dan berwenang mernberikan pelayanan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan, pelayanan bayi baru lahir, termasuk pelayanan persrapan rujukan pad a saat terjadinya komplikasi (kehamilan, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir) tingkat pertama.
    2. Lembaga
    a. Puskesmas PONED dan jaringannya (Polindes dan Poskesdes)
    b. Puskesmas mampu persalinan normal
    c. Bidan praktek
    c. Fasilitas kesehatan swasta yang merniliki Perjanjian Kerja Sarna dengan Dinas Kesehatan Kota Prabumulih.
    C. Pengawas
    1. Individu :
    a. Walikota Prabumulih
    b. Masyarakat kota Prabumulih

    2. Lembaga :
    a. Pemerintah Kota Prabumulih
    b. Dinas Kesehatan Kota Prabumulih

    EZRA GDE ASA H.
    42160083

    Like

Silahkan berkomentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close