anggaran kesehatan indonesia banyakbaca

Peningkatan Anggaran Sektor Kesehatan dan Status Kesehatan Masyarakat Indonesia

Undang-Undang tentang Kesehatan No.36 tahun 2009 mengamanatkan anggaran sektor kesehatan sebesar minimal 5% dari total belanja APBN. Pada RAPBN 2016, untuk pertama kalinya amanat Undang-Undang tersebut terpenuhi, anggaran kesehatan yang saat ini masih 3,9% akan naik jadi 5%. Anggaran tersebut bukan hanya untuk Kementerian Kesehatan, namun juga untuk pemerintah pusat, pemerintah daerah, BPJS, dan semua hal terkait fungsi kesehatan. Menjadi harapan kita bersama bahwa kenaikan anggaran sektor kesehatan ini akan memperbaiki status kesehatan masyarakat Indonesia.

translate jasa jurnal fk murah berkualitas

Untuk lebih memahami kebijakan ini maka kita bisa melakukan analisis kebijakan berdasarkan skema segitiga analisis kebijakan. Konteks mengacu pada faktor sistemik yaitu politik, ekonomi, sosial, ideologi, budaya, serta hubungan internasional yang memiliki pengaruh terhadap kebijakan. Pada penyusunan APBN konteksnya adalah seluruh faktor sistemik di Indonesia. Sedangkan pada peningkatan anggaran sektor kesehatan pengaruh yang paling kuat adalah dari faktor ekonomi, sosial, dan politik.

Konten (isi) adalah substansi/garis besar dari kebijakan berupa hal yang ingin dicapai/tujuan/target untuk jangka pendek maupun jangka panjang beserta rincian dan pengecualiannya. Pada penyusunan APBN kontennya adalah berbagai perkiraan (anggaran) atas pendapatan dan pengeluaran dalam jangka waktu satu tahun ke depan yang terbagi dalam sektor-sektor. Konten yang mencakup sektor kesehatan pasti akan saling terkait dengan sektor lain.

Proses mengacu kepada cara bagaimana kebijakan dimulai, dikembangkan atau disusun, dinegosiasi, dikomunikasikan/disosialisasikan, dilaksanakan, hingga dievaluasi. Pada penyusunan APBN proses mulai berlangsung pada perumusan RAPBN oleh pihak pemerintah (Presiden, Wakil Presiden, dan para Menteri), yang kemudian masuk ke ranah politik antara legislatif dan eksekutif, dengan hasil akhir disahkannya RAPBN menjadi APBN dalam bentuk Undang-undang. Namun sebaiknya prosesnya dimulai dari mendengarkan aspirasi rakyat agar kebijakan yang dibuat tidak sekedar meneruskan tradisi dari pemerintahan sebelumnya, dipengaruhi oleh kepentingan industri, maupun sekedar meniru negara lain yang berpotensi merugikan rakyat. Dalam pelaksanaan kebijakan tersebut masyarakat juga harus mendapatkan sosialisasi serta berhak untuk mengevaluasi. Peranan pers untuk mengawal realisasi APBN ini amatlah besar, meskipun kita juga tidak boleh melupakan peluang media sosial untuk berkontribusi dalam hal pengawasan. Sebagai sarana fleksibilitas terhadap hasil monitoring selama pelaksanaannya, pemerintah dapat melakukan perbaikan, yang prosesnya adalah dimulai dengan penyusunan RAPBN-Perubahan yang ketika sudah disetujui oleh DPR akan menjadi APBN-P.

Baca juga: Gizi Buruk di Asmat

anggaran kesehatan indonesia banyakbaca

Aktor/pelaku adalah individu/grup/organisasi yang melakukan perencanaan hingga penerapan kebijakan. Dalam penyusunan APBN maka aktornya sama dengan aktor penyusunan UU/Perda karena nantinya bentuk akhir APBN adalah Undang-undang.

Di awal 2015, Bank Dunia menyebut alokasi dana kesehatan Indonesia merupakan salah satu yang terendah di dunia. Posisi Indonesia hanya kalah dari Sudan Selatan, Chad, Myanmar, dan Pakistan. Ekonom Bank Dunia Cristobal Ridao-Cano mengatakan, anggaran kesehatan Indonesia saat ini hanya 1,2% terhadap produk domestik bruto (PDB). Dia berharap pemerintah dapat meningkatkan rasio dana kesehatan menjadi 2,5% pada 2019, dan mencapai 5% pada 2024.

Prioritas anggaran kesehatan kali ini adalah untuk memperluas cakupan Jaminan Kesehatan Nasional melalui BPJS Kesehatan sebagai program yang menjadi bagian dari layanan kesehatan universal. Penerima Bantuan Iuran (PBI) meningkat dari 86,4 juta orang pada APBN-P 2015 menjadi 92,4 juta Jiwa pada RAPBN 2016. Program Jaminan Kesehatan Nasional akan semakin tinggi beban biayanya dan menggerus anggaran BPJS apabila tidak diimbangi dengan upaya kesehatan masyarakat. Utamanya program promotif dan preventif di puskesmas yang efektif.

Untuk dapat meningkatkan program promotif dan kuratif, maka telah dirumuskan dalam sasaran lain yang ingin dicapai, diantaranya: cakupan peserta KB baru dan KB aktif, cakupan persalinan ibu di fasilitas kesehatan, cakupan imunisasi, pengendalian penyakit menular dan tidak menular, ketersediaan dan akreditasi Puskesmas dan rumah sakit, dan ketersediaan dan distribusi tenaga kesehatan dan obat. Meskipun demikian, salah satu tantangan terbesarnya adalah hanya 45% tenaga kesehatan yang tersedia yang benar-benar memiliki kualifikasi dan keahlian untuk menjalankan fungsi-fungsi tersebut.

Tataran pelayanan juga harus diperhatikan terutama masalah akses dan pemerataan. Meski PBI meluas, jumlah fasilitas kesehatan (faskes) juga harus meningkat. Rata-rata lokasi layanan kesehatan di Pulau Jawa dapat diakses kurang dari 10 kilometer, sedangkan di wilayah Indonesia Timur butuh sekitar 30 kilometer. Selain itu seringkali walaupun puskesmas sudah ada di suatu wilayah, namun tidak ada dokter, obat-obatan, dan juga peralatan kesehatan lainnya. Lebih dari itu, kualitas pelayanan BPJS adalah pekerjaan utama yang harus diperhatikan.

Alokasi dana alokasi khusus (DAK) Kesehatan & Keluarga Berencana tahun 2015 sebesar 6,8 triliun rupiah, dan akan meningkat menjadi hampir 3 kalinya pada tahun 2016 yaitu menjadi sebesar 19,6 triliun rupiah. Dana DAK Kesehatan tersebut dapat digunakan untuk kegiatan non fisik, tentunya akan lebih baik jika dialokasikan tidak hanya pada bidang kuratif dan administratif, namun juga pada bidang promotif dan preventif.

Dana ini akan sia-sia dan rawan diselewengkan jika tidak ada arah yang jelas. Padahal hampir semua program promotif dan preventif kesehatan masyarakat memerlukan waktu yang lama sebelum hasilnya bisa dirasakan manfaatnya. Karena itu dibutuhkan penguatan sinergi antara upaya kesehatan masyarakat dan JKN agar hasil kegiatan promotif dan preventif berbasis masyarakat dapat dengan efektif menekan pemanfaatan berlebihan program kuratif dan rehabilitatif berbasis individual yang diselenggarakan dalam program JKN pada masing-masing daerah. Masukan dari mitra serta pemangku kepentingan (termasuk masyarakat) menjadi esensial agar program yang disusun lebih tepat guna dan sesuai dengan prioritas pembangunan kesehatan di daerah tersebut.

Disusun oleh Yoseph Leonardo Samodra

situs kedokteran indonesia jurnal ilmiah

Referensi
Herman, 2015. 2016, Anggaran Kesehatan Naik Jadi 5 Persen. [Online] BeritaSatu Available at: beritasatu.com/kesra/kesehatan [Accessed 23 December 2015].

IAKMI, 2015. Kursus Kelas Jauh: Dinamika Pembiayaan Kesehatan di Tahun 2015-2016. [Online] Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia. Available at: iakmi.or.id/index.php/publikasi-dan-informasi/pengumuman/35-kursus-kelas-jauh-dinamika-pembiayaan-kesehatan-di-tahun-2015-2016 [Accessed 23 December 2015].

katadata, 2015. Anggaran Kesehatan Indonesia Salah Satu yang Terendah di Dunia. [Online] katadata Available at: katadata.co.id/berita/2015/02/18/anggaran-kesehatan-indonesia-salah-satu-yang-terendah-di-dunia [Accessed 23 December 2015].

PKMK, 2015. Apakah Anggaran Fungsi Kesehatan Tahun 2016 Berubah Lagi? [Online] Manajemen Pembiayaan Kesehatan Available at: manajemen-pembiayaankesehatan.net/index.php/jurnal/91-arsip-pengantar/1609-apakah-anggaran-fungsi-kesehatan-tahun-2016-berubah-lagi [Accessed 23 December 2015].

Tety, 2015. Tambahan Anggaran Kesehatan 2016, Momentum Sinergikan UKM dan JKN. [Online] Pos Sore Available at: possore.com/kanal/aktual/ [Accessed 23 December 2015].

Wiyanto, S.D.S., 2015. RAPBN 2016, Semangat Pemerataan Kesejahteraan. [Online] Ministry of Finance of Republic of Indonesia Available at: kemenkeu.go.id/en/node/46864 [Accessed 23 December 2015].

 

One thought on “Peningkatan Anggaran Sektor Kesehatan dan Status Kesehatan Masyarakat Indonesia

Silahkan berkomentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s