papan reminder dokteryoseph

Working-memory pada Psikologi Kognitif

Model ingatan-kerja (working-memory, WM): memikirkan kembali STM

Pada model multi-store mereka, Atkinson dan Shiffrin melihat STM sebagai sistem untuk sementara menampung dan memanipulasi informasi. Baddeley dan Hitch (1974) mengkritisi konsep STM sebagai sebuah unit. Mereka menerima bahwa STM menyiapkan informasi untuk dipindahkan ke LTM, tapi STM lebih rumit dan bermanfaat dibandingkan hanya menjadi ‘tempat singgah’ informasi.

 

Aliran informasi dua arah antara STM dan LTM

Sangat tidak mungkin bahwa STM hanya memuat informasi baru, dan lebih mungkin bahwa informasi diambil dari LTM untuk dipakai di STM. Contohnya, deretan angka 18561939 tampak tak berkaitan. Namun, mereka dapat dikelompokkan menjadi satu unut berdasarkan aturan ‘tahun lahir dan matinya Sigmund Freud’. Jika kita bisa memberikan makna pada sederetan angka, kita pasti telah mempelajarinya sebelumnya, aturan yang telah dipelajari sebelumnya dianggap tersimpan di LTM. Informasi telah mengalir tak hanya dari STM ke LTM, tapi juga sebaliknya.

Ilustrasi yang jelas akan hal ini bisa diambil dari penelitian tentang mereka yang pakar tentang sesuatu. De Groot (1966), menunjukkan bahwa pemain catur handal memiliki STM fenomenal mengenai posisi bidak catur di papan, dengan catatan mereka disusun sesuai aturan catur. Ketika susunannya diacak, recall-nya tidak lebih baik dibandingkan dengan yang bukan pemain catur. Pakar catur menggunakan informasi mengenai aturan catur, menyimpannya di LTM, untuk membantu recall dari STM.

translate jasa jurnal fk murah berkualitas

Contoh lain tentang bagaimana ‘kepakaran’ dapat meningkatkan kapasitas STM adalah betapa suporter sepakbola dapat mengingat hasil pertandingan lebih akurat dibanding penonton biasa (Morris dkk., 1985). Perampok berpengalaman dapat mengingat detail rumah yang ditampilkan di foto beberapa saat sebelumnya dengan lebih baik dibandingkan dengan polisi atau pemilik rumah (Logie dkk., 1992).

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa STM adalah penyimpanan aktif yang digunakan untuk menahan informasi yang sedang dimanipulasi. Menurut Groome dkk. (1999), WM mirip dengan layar komputer, semacam ruang kerja mental dimana sejumlah operasi dilakukan pada data terkini. Sebaliknya, LTM mirip dengan memori komputer, yang menyimpan sejumlah besar informasi secara pasif untuk dapat diambil di masa depan. WM adalah fungsi kognitif yang:

  • Membantu kita melacak apa yang kita lakukan atau dimana kita berada waktu demi waktu;
  • Menahan informasi cukup lama untuk memungkinkan kita mengambil keputusan, menekan nomor telepon, atau mengulang istilah asing yang baru saja kita dengar.

Alih-alih STM tunggal yang sederhana, Baddeley dan Hitch (1974) menyarankan WM yang lebih rumit dan multi komponen. Terdiri atas eksekutif sentral, yang bertanggung jawab secara keseluruhan, dan subsistem atau slave system, yang aktivitasnya dikontrol oleh eksekutif sentral. Mereka adalah loop artikulatori (atau fonologis) dan papan sketsa visuospasial.

 

Eksekutif sentral

Ini dianggap terlibat pada banyak proses mental yang lebih tinggi, seprti pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan penyusunan rencana. Secara spesifik, ini dapat mengkoordinasikan kinerja dua tugas yang berbeda, dan memperhatikan dengan selektif salah satu input sambil menghambat input lainnya (Baddeley, 1996). Meskipun kapasitasnya terbatas, eksekutif sentral sangat fleksibel dan dapat memproses informasi dalam berbagai modalitas indera (modality-free). Ini membentuk sistem atensional yang murni (Baddeley, 1981).

 

Loop artikulatori (atau fonologis)

Ini mungkin menjadi komponen yang paling ekstensif diteliti. Ini dimaksudkan untuk menjelaskan bukti untuk pengkodean akustik di STM (Baddeley, 1997). Komponen ini dapat dibayangkan sebagai loop latihan verbal yang digunakan ketika, misalnya, kita mencoba mengingat nomor telepon selama beberapa detik dengan mengucapkannya dalam hening pada diri kita sendiri. Juga dipakai untuk menahan kata yang disiapkan untuk disampaikan dengan keras. Dengan menggunakan kode fonologis, informasi yang akan disampaikan akan terwakili dengan serupa dalam pikiran. Itulah sebabnya disebut juga sebagai suara di dalam (inner voice).

Namanya berasal dari temuan bahwa kapasitasnya tidak terbatas oleh jumlah item yang mampu ditahannya, tapi dibatasi oleh seberapa lama waktu yang diperlukan untuk mengulang-ulangnya (Baddeley dkk., 1975). Ini mirip dengan semakin kita cepat mengucapkan sesuatu pada mikrofon maka semakin banyak kata yang bisa direkam (Groome dkk., 1999).

Loop artikulatori memiliki dua komponen:

  • Simpanan fonologis yang mampu menahan informasi berbasis ucapan; dan
  • Proses kontrol artikulatori berdasarkan inner speech.

Ketika jejak ingatan dalam simpanan memudar dalam waktu dua detik, proses kontrol akan memberikannya kembali kesimpanan (proses yang mendasari latihan dalam hening). Proses kontrol juga mampu merubah materi tertulis menjadi kode fonologis, yang kemudian ditransfer ke simpanan fonologis (Baddeley, 1997).

Baca juga: Memori dan Melupakan

papan reminder dokteryoseph

Papan sketsa visuospasial

Ini juga dapat melatih informasi, tetapi yang berhubungan dengan informasi visual dan/atau spasial, contohnya, ketika kita berkendara di jalan yang familiar, mendekati tikungan, dan memikirkan gambaran spasial jalan setelah tikungan tersebut (Eysenck, 1986). Dia menggunakan kode visual, mewakili informasi dalam bentuk ciri visualnya seperti ukuran, bentuk, dan warna. Untuk alasan ini, dia disebut juga inner eye.

Papan sketsa tampaknya mengandung komponen visual dan spasial yang terpisah. Komponen spasial yang lebih aktif terlibat dalam persepsi gerakan dan kontrol aksi fisik, sedangkan komponen visual yang lebih pasif terlibat dalam rekognisi pola visual (Logie, 1995).

 

Penelitian mengenai WM sering menggunakan metode tugas konkuren (tugas interferens atau dual-task), dimana partisipan melakukan dua tugas bersamaan. Dengan asumsi bahwa kapasitas masing-masing slave system terbatas:

  • Dengan dua tugas sekaligus menggunakan slave system yang sama, performa pada salah satu atau kedua tugas seharusnya lebih buruk saat dilakukan bersamaan dibandingkan jika dilakukan secara bergantian (Baddeley dkk., 1975);
  • Jika dua tugas menggunakan slave system yang berbeda, seharusnya bisa meraih performa yang sama baiknya seperti ketika dilakukan secara bergantian.

Beberapa peneliti menggunakan supresi artikulatori, dimana partisipan mengulang dengan cepat dan bersuara keras sesuatu yang tak berarti (misalnya ‘hi-ya’ atau ‘the’).

Supresi artikulatori menghabiskan sumber daya loop artikulatori, sehingga tidak bisa digunakan untuk hal lain. Jika supresi artikulatori menghasilkan performa yang lebih buruk pada tugas lainnya, maka dapat disimpulkan bahwa tugas lain tersebut juga menggunakan loop artikulatori (Eysenck dan Keane, 1995).

 

Evaluasi model WM

  • Telah diterima secara umum bahwa STM lebih baik dilihat sebagai sejumlah mekanisme pemrosesan yang relatif independen dibandingkan hanya sebagai satu unit penyimpanan pada model multi-store, dan bahwa proses atensional dan STM merupakan bagian dari sistem yang sama (mereka mungkin digunakan bersamaan sepanjang waktu dalam hidup sehari-hari).
  • Gagasan bahwa salah satu slave system (misalnya loop fonologis) dapat terlibat dalam performa tugas yang sangat berbeda (seperti rentang ingatan, aritmatika mental, reasoning verbal, dan membaca) merupakan wawasan yang berharga.
  • WM memiliki aplikasi praktis yang melampaui kepentingan teoretisnya (Gilhooly, 1996; Logie, 1999).
  • Salah satu kelemahan model WM adalah sangat sedikit yang diketahui tentang komponen yang paling penting, yaitu eksekutif sentral (Hampson dan Morris, 1996). Eksekutif sentral tampaknya mampu menangani aktivitas pemrosesan yang amat beragam dalam kondisi yang berbeda. Hal ini memnyulitkan untuk menjelaskan fungsi tepatnya, dan gagasan bahwa hanya ada eksekutif sentral tunggal mungkin sama kurang tepatnya dengan gagasan bahwa hanya ada satu unit STM (Eysenck, 1986).

 

Working memory dan belajar membaca

Salah satu ciri dari anak dengan gangguan belajar membaca (meskipun kecerdasannya normal dan keluarganya mendukung) adalah gangguan rentang ingatan (Gathercole dan Baddeley, 1990). Mereka juga cenderung melakukan dengan buruk tugas yang tidak menilai ingatan secara langsung, misalnya menilai apakah kata-kata tertentu berima. Anak-anak ini menunjukkan sejenis defisit fonologis yang tampaknya menghambat mereka untuk belajar membaca (yang dapat dideteksi sebelum mereka mulai belajar). Defisit ini mungkin terkait dengan loop fonologis.

dukung dokteryoseph.com

[Diterjemahkan dari Psychology: The Science of Mind and Behaviour by Richard Gross]

One thought on “Working-memory pada Psikologi Kognitif

Silahkan berkomentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s