cara meningkatkan memori banyakbaca

Model multi-store pada Psikologi Kognitif

Model multi-store (kadang disebut model dual-memory karena penekanannya pada STM dan LTM) menurut Atkinson dan Shiffrin (1968, 1971) adalah upaya untuk menjelaskan bagaimana informasi mengalir dari satu sistem penyimpanan ke lainnya. Model ini menganggap ingatan sensori, STM, dan LTM sebagai komponen struktural permanen dari sistem ingatan; yaitu fungsi yang sudah ada pada sistem pemrosesan informasi manusia. Sebagai tambahan pada komponen struktural ini, sistem ingatan tersusun atas proses kontrol yang lebih bersifat sementara. Latihan (rehearsal) adalah proses kontrol utama, memiliki dua fungsi utama:

  • Berperan sebagai buffer antara ingatan sensori dan LTM dengan mempertahankan informasi yang datang pada STM;
  • Mentransfer informasi ke LTM.

Informasi dari ingatan sensori dipindai dan dicocokkan dengan informasi di LTM, dan jika ditemukan kecocokan (misalnya rekognisi pola), maka akan diarahkan ke STM bersama label verbal dari LTM.

 

Bukti untuk model multi-store

Terdapat tiga macam bukti yang relevan:

  • Penelitian eksperimental tentang STM dan LTM (kadang disebut sebagai tugas dua-komponen);
  • Penelitian mengenai pengkodean;
  • Penelitian pada pasien dengan kerusakan otak.

translate jasa jurnal fk murah berkualitas

Penelitian eksperimental tentang STM dan LTM

Efek posisi serial

Murdock (1962) memberikan partisipan daftar kata-kata dengan kecepatan sekitar satu kata per detik. Mereka diminta untuk me-recall tanpa harus urut sebanyak mungkin kata yang mereka bisa ingat. Murdock menemukan bahwa kemungkinan recall kata manapun tergantung pada posisinya di daftar. Partisipan biasanya me-recall item dari bagian akhir daftar terlebih dahulu, dan hasilnya lebih banyak benar dibandingkan dengan item yang disampaikan lebih awal (efek recency). Item dari awal daftar diulang kembali dengan lebih baik dibandingkan dengan item yang ada di tengah daftar (efek primacy), meskipun tak sebaik item yang di akhir daftar. Recall paling buruk adalah untuk item di tengah daftar. Efek posisi serial terjadi tanpa terpengaruh panjang daftar kata-kata yang diberikan (Murdock, 1962).

 

Efek primacy timbul akibat item di awal daftar (dianggap) telah dilatih dan dipindah ke LTM, sehingga ketika diulang kembali diambilnya dari LTM. Efek recency terjadi kemungkinan karena item tersebut sedang berada di STM. Karena kapasitas STM terbatas dan hanya dapat menahan item dengan singkat, maka kata-kata di tengah daftar mungkin hilang dari sistem atau tidak tersedia untuk diulang kembali. Item terakhir hanya dapat diingat jika disebut pertama pada recall dan segera setelah item terekhir dibacakan, seperti yang ditunjukkan oleh Glanzer dan Cunitz (1966) dalam sebuah variasi dari penelitian Murdock.

 

Menyingkirkan efek recency (Glanzer dan Cunitz, 1966)

Glanzer dan Cunitz menunjukkan daftar kata-kata yang sama pada dua kelompok. Satu kelompok mengulang kembali segera setelah penyampaian, sedangkan kelompok yang lain mengulang kembali setelah menunggu 30 detik. Mereka harus mengitung mundur tiga-tiga (teknik Brown-Peterson), yang mencegah latihan dan menyebabkan efek recency menghilang. Efek primacy secara garis besar tidak terpengaruh.

Tampaknya kata-kata yang lebih awal telah dipindah ke LTM, sedangkan kata-kata terakhir ‘rentan’ terhadap tugas pengalih perhatian (Eysenck, 1993).

 

Teknik Brown-Peterson dan latihan

Ketika mendiskusikan karakteristik STM, kita memperhatikan hilangnya informasi secara cepat dari ingatan ketika latihan dihambat menggunakan teknik Brown-Peterson. Ini sering dijadikan bukti adanya STM dengan lupa yang segera terjadi. Tetapi konsep latihan itu sendiri telah dikritik sebagai tidak perlu dan terlalu umum.

Baca juga: Bahaya Kurang Berjemur

cara meningkatkan memori banyakbaca

Latihan rumatan vs elaboratif (Craik dan Watkins, 1973)

Craik dan Watkins meminta partisipan untuk mengingat hanya kata-kata ‘kritis’ tertentu (yang dimulai dengan huruf tertentu) dari daftar yang disampaikan secara cepat atau lambat. Posisi kata-kata kritis relatif terhadap kata lainnya menentukan jumlah waktu kata tersebut berada di STM, dan jumlah latihan potensial yang dapat dilakukan.

Craik dan Watkins menemukan bahwa mengingat jangka panjang tidak berhubungan dengan seberapa lama kata tersebut berada di STM atau jumlah latihan eksplisit atau implisit yang dilakukan.

Berdasarkan temuan ini dan temuan selanjutnya, Craik dan Watkins membedakan antara:

  • Latihan rumatan (maintenance rehearsal), dimana materi dilatih dalam bentuk sebagaimana disampaikan (‘rote’), dan
  • Latihan elaboratif (elaborative rehearsal) atau elaborasi pengkodean, yang mengelaborasi materi dalam beberapa cara (misalnya dengan memberikan makna atau mengaitkannya dengan pengetahuan yang telah tersimpan di LTM).

Penelitian terdahulu oleh Glanzer dan Menzer (1967) menemukan bahwa partisipan yang diminta mengulang item dengan suara keras mampu me-recall lebih sedikit dibandingkan mereka yang diberikan waktu yang sama untuk latihan dengan hening. Mungkin dalam latihan dengan hening materinya tidak hanya diulang namun dikodekan uang menjadi bentuk lain yang meningkatkan hasil recall.

Tampaknya yang penting adalah jenis latihan, bukannya jumlah latihan. Secara khusus hal ini telah diteliti oleh Craik dan Lockhart (1972), dalam bentuk pendekatan tingkat pemrosesan.

 

Penelitian mengenai pengkodean

Telah diketahui bahwa pengkodean utama pada STM adalah akustik, sedangkan LTM lebih fleksibel dan bervariasi dalam mengkodekan informasi. Itu juga menunjukkan bahwa pengkodean semantik terutama digunakan oleh LTM. Ini sering dipakai untuk mendukung model multi-store. Namun tidak semua orang menerima pandangan ini.

 

Chunking, STM, dan LTM

Ketika mendiskusikan karakteristik STM, kita melihat bahwa chunking meningkatkan kapasitas STM dengan memberikan makna pda materi tak bermakna. Menurut Miller (1956), chunking mewakili pengkodean linguistik yang tampak menjadi ‘amat penting dalam proses berpikir’. Namun ini tak dapat terjadi sebelum informasi tertentu di LTM teraktivasi, dan dibuat pencocokan dengan item yang baru diterima dengan representasinya di LTM.

Miller dan Selfridge (1950) memberikan pasrtisipan ‘kalimat-kalimat’ dengan panjang yang berbeda-beda, yang mirip (atau mendekati) bahasa Inggris yang benar dalam tingkat yang berbeda-beda, dan meminta mereka mengulang kembali kata-kata tersebut dengan urutan yang tepat. Semakin dekat sebuah ‘kalimat’ dengan bahasa Inggris yang benar maka hasil recall-nya akan semakin baik. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan struktur semantik dan gramatikal (yang dianggap tersimpan di LTM) digunakn untuk membantu recall dari STM.

Pada penelitian yang serupa, Bower dan Springston (1970) menyampaikan pada sekelompok mahasiswa Amerika rangkaian huruf yang membentuk akronim yang familiar (misalnya fbi, phd, twa, ibm). Kelompok kedua diberikan rangkaian huruf yang sama tapi tidak membentuk akronim (misalnya fb, iph, dtw, aib, m). Kelompok pertama mengulang kembali lebih banyak huruf dibandingkan kelompok kedua. Jeda setelah penyampaian ‘fbi’ dan akronim selanjutnya memberikan kesempatan mahasiswa untuk ‘melihat’ materi tersebut di kamus mental mereka dan mengkodekannya menjadi sebuah chunk.

Jelas bahwa kode akustik bukanlah satu-satunya yang digunakan di STM. Menurut Wickelgren (1973), jenis pengkodean dapat merefleksikan proses yang sedang terjadi dalam konteks tertentu, daripada menjadi properti simpanan ingatan itu sendiri.

situs kedokteran indonesia jurnal ilmiah 

[Diterjemahkan dari Psychology: The Science of Mind and Behaviour by Richard Gross]

One thought on “Model multi-store pada Psikologi Kognitif

Silahkan berkomentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s