dokteryoseph kotak klasik psikologi

Kapasitas, Durasi, dan Pengkodean Ingatan Jangka Pendek

Penyimpanan Informasi

Dalam praktiknya, penyimpanan dipelajari melalui pengujian kemampuan seseorang untuk mengambil informasi yang tersimpan. Ini ekuivalen dengan perbedaan antara belajar dengan performa: belajar berkaitan dengan penyimpanan, sedangkan performa berkaitan dengan pengambilan informasi. Namun terdapat beberapa jenis pengambilan informasi. Jadi, jika kita dites menggunakan recall maka akan tampak bahwa kita tidak mempelajari sesuatu, tetapi tes rekognisi dapat menunjukkan bahwa kita telah mempelajari sesuatu. Untuk alasan ini, penting untuk membedakan antara ingatan sebagai simpanan dan ingatan sebagai pengambilan informasi tersimpan. Ketika seseorang mengeluhkan memiliki ‘ingatan yang buruk’, mereka mungkin memaksudkan penyimpanan atau pengambilan kembali yang buruk, namun tanpa pembedaan yang jelas (mereka akan menyampaikan bahwa ‘Saya tidak dapat mengingat’).

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, James adalah orang pertama yang membedakan ingatan primer dan sekunder. Ebbinghaus (1885), pionir penelitian ingatan, akan menerimanya. Banyak psikolog setelah James yang juga membuat pembedaan serupa, termasuk Hebb (1949), Broadbent (1958), serta Waugh dan Norman (1965). Pada model multi-store Atkinson dan Shiffrin (1968, 1971), istilah yang dipakai adalah ingatan jangka pendek (short-term memory, STM) dan ingatan jangka panjang (long-term memory, LTM). Secara ketat, STM dan LTM mengacu pada prosedur eksperimental untuk menilai penyimpanan jangka pendek dan penyimpanan jangka panjang.

translate jasa jurnal fk murah berkualitas

Ingatan sensori

Ingatan sensori memberikan gambaran akurat dari lingkungan yang dialami oleh sistem indera kita. Kita mempertahankan ‘salinan literal’ dari stimulus cukup lama untuk kita dapat memutuskan apakah informasi tersebut layak diproses lebih lanjut. Informasi manapun yang tidak kita perhatikan atau tidak diproses lebih lanjut akan dilupakan. Mungkin lebih baik kita pikirkan ingatan sensori sebagai salah satu aspek persepsi dan sebagai persyaratan yang diperlukan untuk penyimpanan selanjutnya (yaitu STM).

Penyimpanan terjadi dalam sistem sensori yang menerima informasi (yaitu spesifik-modalitas). Informasi tambahan yang memasuki kanal sensori yang sama akan segera mengganggu penyimpanan. Contohnya, jika dua stimuli visual ditampilkan dalam urutan yang cepat, ingatan akan stimulus pertama dapat tidak tersimpan. Tetapi jika stimulus kedua adalah suara atau bebauan, itu tidak akan berpengaruh pada memori dari stimulus visual. Meskipun sepertinya terdapat sebuah ingatan sensori untuk masing-masing sistem indera kita, kebanyakan penelitian terkonsentrasi pada:

  • Ingatan ikonik (sebuah ikon adalah sebuah gambar) menyimpan gambar visual selama sekitar setengah detik;
  • Ingatan ekoik menyimpan suara selama hingga dua detik.

Kita biasanya tidak menyadari ingatan sensori, tetapi jika anda melihat seseorang mengayunkan rokok yang menyala di ruang yang gelap, anda akan melihat sebuah garis bukannya serangkaian titik terpisah (Woodworth, 1938). Jika kita tidak memiliki ingatan ikonik, kita akan menganggap sebuah film sebagai serangkaian gambar diam yang disertai dengan interval kosong, bukannya adegan bergerak yang kontinyu. Tanpa ingatan ekoik, bukannya mendengar pidato namun kita akan mendengar serangkaian suara yang tidak berkaitan (Baddeley, 1995).

 

Ingatan ikonik (Sperling, 1960, 1963)

Sperling menggunakan sebuah takistoskop untuk menampilkan gambaran visual dalam interval yang sangat singkat (50 milidetik atau 1/20 detik). Gambaran visualnya terdiri atas tiga baris berisi empat huruf dalam matriks empat kali tiga.

  • Pada kondisi laporan keseluruhan (atau rentang aprehensi), partisipan diminta untuk menyebutkan kembali sebanyak mungkin dari seluruh matriks. Rata-rata, mereka menyebutkan kembali 4,32 huruf (dari total 12 huruf), meskipun mereka umumnya melaporkan telah melihat lebih banyak dari yang dapat mereka ingat.
  • Pada kondisi laporan parsial, partisipan diminta menyebutkan kembali baris atas, tengah, atau bawah, tergantung pada apakah mereka mendengar nada tinggi, sedang, atau rendah setelah penampilan gambar. Meskipun mereka tidak tahu nada apakah yang akan mereka dengar, mereka sukses menyebutkan kembali rata-rata 3,04 dari huruf di tiap baris. Ini berarti bahwa antara sembilan hingga sepuluh huruf tersedia segera setelah penampilan gambar.

Pada kondisi pertama, kira-kira lima huruf hilang selama waktu yang diperlukan untuk menyebutkan kembali keseluruhan huruf. Ini didukung dengan temuan bahwa keunggulan kondisi laporan parsial akan menghilang jika nadanya ditunda selama satu detik atau lebih.

 

Efek serupa telah dilaporkan untuk ingatan ekoik oleh Broadbent (1958) dan Treisman (1964). Model filter untuk atensi selektif buatan Broadbent adalah prekursor utama pendekatan multi-store pada ingatan, serta terdapat kemiripan antara ingatan sensori (atau penyimpanan sensori) dan simpanan ‘buffer’ sensori menurut Broadbent (Eysenck dan Keane, 1990).

Baca juga: Cara melakukan analisis kebijakan sederhana

dokteryoseph kotak klasik psikologi

Short-term memory (STM)

Mungkin kurang dari seperseratus dari seluruh informasi sensori yang ditangkap oleh indera manusia tiap detiknya disadari oleh manusia. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar lima persen disimpan secara permanen (lloyd dkk, 1984). Jelasnya, jika kita hanya mempunyai ingatan sensori, kapasitas kita mempertahankan informasi tentang dunia ini akan sangat terbatas. Namun, menurut model ingatan seperti model multi-store buatan Atkinson dan Shiffrin (1968, 1971), beberapa informasi dari ingatan sensori berhasil lanjut ke STM.

STM (dan LTM) dapat dianalisis menggunakan istilah-istilah berikut ini:

  • Kapasitas: seberapa banyak informasi dapat disimpan;
  • Durasi: Berapa lama informasi dapat ditahan di penyimpanan;
  • Pengkodean: bagaimana input sensori disimpan dalam sistem ingatan.

 

Kapasitas

Ebbinghaus (1885) dan Wundt (pada tahun 1860an) adalah dua psikolog pertama yang menyatakan bahwa STM terbatas pada enam hingga tujuh bit informasi. Tetapi penjelasan paling terkenal adalah menurut Miller (1956) dalam artikelnya ‘Angka tujuh yang ajaib, kurang atau lebih dua’. Miller menunjukkan bagaimana chunking dapat digunakan untuk mengembangkan kapasitas STM yang terbatas dengan menggunakan penyimpanan ingatan yang sudah ada untuk mengkategorikan atau encode informasi baru.

Jika kita memikirkan kapasitas STM sebagai tujuh ‘slot’, dimana masing-masing slot mampu mengakomodasi satu bit atau unit informasi, maka tujuh huruf individual akan memenuhi seluruh slot sehingga tidak ada tempat lagi untuk tambahan huruf lainnya. Namun jika huruf-huruf dikumpulkan menjadi sebuah kata, maka kata tersebut akan menjadi satu unit informasi, sehingga tersedia enam slot kosong. Pada contoh di bawah ini, 25 bit informasi dapat dikumpulkan menjadi (atau dikecilkan menjadi) enam kata, yang dapat dengan mudah diperkecil menjadi satu bit (atau chunk) berdasarkan familiaritas sebelumnya atas kata-kata tersebut:

S A V A O

R E E E G

U R S Y A

O O D N S

F C N E R

Untuk dapat membentuk chunk, anda harus mengetahui ‘aturan’ atau ‘kode’-nya, pada kasus ini yaitu: mulailah dari F (sudut kiri bawah) lalu baca ke atas hingga S, lalu ke bawah ke huruf C dan baca ke atas hingga huruf A, lalu ke huruf N dan baca ke atas dan seterusnya. Ini akan menghasilkan ‘four score and seven years ago’.

Chunking terlibat kapanpun kita memperkecil ukuran informasi yang besar. Ini tidak hanya meningkatkan kapasitas STM, tapi juga mewakili sebuah bentuk pengkodean informasi dengan memberikan makna pada sesuatu yang tidak bermakna. Contohnya:

  • Menyusun huruf menjadi kata-kata, kata-kata menjadi frase, frase menjadi kalimat;
  • Merubah 1066 (empat bit informasi) menjadi sebuah tanggal (satu chunk), jadi sebuah rangkaian 28 angka dapat diperkecil menjadi tujuh tanggal;
  • Menggunakan sebuah rumus untuk mengorganisasikan informasi: rangkaian 149162536496481100121 (21 bit) dibuat dengan rumus dimana 1 pangkat 2 = 1, 2 pangkat 2 = 4, 3 pangkat 2 = 9 dan seterusnya. Rumusnya mewakili sebuah chunk, dan itulah yang harus diingat.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bagaimana membuat chunk memungkinkan kita untuk mengatasi hambatan tujuh bit. Meskipun jumlah informasi yang terkandung dalam satu chunk dapat tak terbatas (misalnya rumus di atas dapat menghasilkan deretan digit yang tak terhingga), jumlah chunk yang dapat dipertahankan di STM tetaplah terbatas tujuh, lebih atau kurang dua.

 

Durasi

Sebuah cara untuk meneliti STM ‘murni’ dikembangkan oleh Brown (1958) serta oleh Peterson dan Peterson (1959), dan disebut dengan teknik Brown-Peterson. Dengan mengulang sesuatu yang harus diingat (latihan rumatan), informasi dapat ditahan di STM hingga nyaris tak terhingga. Teknik Brown-Peterson mengatasi masalah terkait durasi.

 

Teknik Brown-Peterson (Peterson dan Peterson, 1959)

Pada teknik Brown-Peterson, partisipan mendengar berbagai trigram (misalnya XPJ). Hanya satu trigram diberikan pada tiap percobaan. Segera sesudahnya, mereka menginstruksikan untuk menyebutkan kembali apa yang mereka dengar atau menghitung mundur, tiga-tiga, bersuara keras, dari sejumlah angka yang ditentukan untuk 3, 6, 9, 12, 15, atau 18 detik (interval retensi). Fungsi tugas pangalih perhatian ini adalah untuk mencegah latihan. Pada akhir periode waktu, partisipan mencoba menyebutkan lagi trigramnya.

Peterson dan Peterson menemukan bahwa rata-rata persentase trigram yang disebutkan kembali dengan benar tergolong tinggi pada saat intervalnya singkat, namun menurun saat intervalnya makin lama. Hampir 70 persen terlupakan setelah interval sembilan detik, dan 90 persen terlupakan setelah interval 18 detik. Pada kondisi tanpa latihan, durasi STM amat pendek, bahkan dengan informasi yang hanya sedikit. Jika memakai tugas pengalih perhatian yang lebih sulit, durasinya bisa makin singkat.

 

Pengkodean

Conrad (1964) memberi partisipan daftar enam konsonan (misalnya BKSJLR), masing-masing dilihat selama tiga per empat detik. Lalu mereka diminta menulis konsonan tersebut. Kesalahan cenderung terjadi terkait dengan bunyi hurufnya. Contohnya, terdapat 62 kejadian B salah dianggap sebagai P, 83 kejadian V salah dianggap sebagai P, tetapi hanya dua kejadian S dianggap sebagai P. Kesalahan kebingungan akustik ini membuat Conrad menyimpulkan bahwa STM pasti mengkode informasi berdasarkan bunyinya. Jika informasi ditampilkan secara visual, nantinya akan ditransformasikan menjadi kode akustiknya.

 

Bentuk lain pengkodean di STM

Shulman (1970) menunjukkan pada partisipan daftar 10 kata. Rekognisi dari kata-kata tersebut diuji menggunakan ‘kata bantu’ yang ditampilkan secara visual, yang dapat berupa:

  • Homonim dari satu kata dari daftar (misalnya ‘bawl’ untuk ‘ball’),
  • Sinonim (misalnya ‘talk’ untuk ‘speak’), atau
  • Kata yang identik.

Hasil penelitian Shulman menunjukkan bahwa beberapa pengkodean semantik (pengkodean untuk makna) terdapat pada STM. Jika sebuah kesalahan terjadi pada kata bantu berupa sinonim, beberapa pencocokan untuk maknanya pasti terjadi.

Gambar visual (misalnya gambar abstrak, yang dapat sulit disimpan dengan kode akustik) juga dapat dipertahankan di STM, jika hanya dalam waktu singkat.

bantu situs ini tetap online

[Diterjemahkan dari Psychology: The Science of Mind and Behaviour by Richard Gross]

Silahkan berkomentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s