Profil dan Manfaat Kesehatan Okra (Abelmoschus esculentus)

Abelmoschus esculentus

Nama populer: okra, lady’s finger (En); gombo, gumbo (French); quingombó, guingombó (Spanish); 黃秋葵 (Chinese).

Baca juga: Bahaya Penurun Berat Badan

translate jasa jurnal fk murah berkualitas

Kandungan gizi:

Daun: beta karoten kadar rendah, ribovlavin (vitamin B2) kadar sangat tinggi, asam askorbat (vitamin C) kadar sangat tinggi, kalsium kadar sangat tinggi, besi kadar rendah, protein 4,4%, kaya mucilage (lendir, serat larut air).

Buah: beta karoten kadar rendah, vitamin E kadar rendah, ribovlavin (vitamin B2) kadar rendah, asam folat kadar tinggi, asam askorbat (vitamin C) kadar sedang, kalsium kadar rendah, besi kadar rendah, protein 2,1%, kaya mucilage (lendir, serat larut air) jika masih muda, aktivitas antioksidatif tinggi jika masih muda.

khasiat okra hijau dokteryoseph

Khasiat:

  • Ekstrak okra pada tikus diketahui dapat memperbaiki fungsi kognitif dan memiliki efek neuroprotektif (melindungi otak dan sistem saraf dari kerusakan).

These findings suggest that quercetin, rutin and okra extract treatments reversed cognitive deficits, including impaired dentate gyrus (DG) cell proliferation, and protected against morphological changes in the CA3 region in dexamethasone-treated mice. The precise mechanism of the neuroprotective effect of these plant extracts should be further investigated.

Walaiporn Tongjaroenbuangam, et al. Neuroprotective effects of quercetin, rutin and okra (Abelmoschus esculentus Linn.) in dexamethasone-treated mice. Neurochemistry International. Volume 59, Issue 5, October 2011, Pages 677–685

Baca juga: Ayo Kita Buat Konten Positif!

  • Tepung biji okra dan tepung kulit buah (peel) okra pada tikus diabetik diketahui menunjukkan efek antidiabetik (dapat menurunkan kadar gula darah/glukosa darah) dan antihiperlipidemik (menurunkan kadar lipid darah).

The present study, for the first time, confirms that A. esculentus peel and seed possess blood glucose normalization and lipid profiles lowering action in diabetic condition.

Sabitha V, Ramachandran S, Naveen K R, Panneerselvam K. Antidiabetic and antihyperlipidemic potential of Abelmoschus esculentus (L.) Moench. in streptozotocin-induced diabetic rats. J Pharm Bioall Sci 2011;3:397-402

dukung dokteryoseph.com

Sumber:

AVRDC – The World Vegetable Center. Discovering Indigenous Treasures: Promising Indigenous Vegetables from Around the World. 2009:40-43.

avrdc.org/okra-abelmoschus-esculentus/

sciencedirect.com/science/article/pii/S0197018611002105

jpbsonline.org/article.asp?issn=0975-7406;year=2011;volume=3;issue=3;spage=397;epage=402;aulast=Sabitha

12 thoughts on “Profil dan Manfaat Kesehatan Okra (Abelmoschus esculentus)

  1. MANFAAT ANALISIS KEBIJAKAN BAGI KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

    Sektor kesehatan merupakan salah satu bagian penting penyokong perekonomian di berbagai negara baik negara maju maupun negara berkembang. Di Indonesia, pemerintahan dan lembaga kesehatan, seperti asuransi BPJS, menyatakan bahwa sektor kesehatan menghabiskan banyak anggaran negara dan sumber daya nasional bahkan hingga mencapai angka defisit untuk membiayai jaminan kesehaan masyarakat, tenaga kesehatan, keperluan logistik seperti alat, bahan, obat-obatan, biaya operasional, dan sebagainya.
    Pendapat yang lain mengemukakan bahwa sektor kesehatan dapat membangkitkan perekonomian negara, seperti yang tampak pada negara-negara maju, melalui inovasi dan investasi dibidang teknologi bio-medis atau produksi dan penjualan obat-obatan (sebagai contoh dari negara-negara dengan kemajuan di bidang kesehatan seperti Korea Selatan yang terkenal dengan kemajuan teknologi kesehatan kulit, Singapore dan China dengan kemajuan teknologi dan obat-obatan yang mampu menjadi rujukan dari negara-negara sekitarnya) atau dengan menjamin adanya populasi yang sehat dan produktif baik secara jiwa, raga, ekonomi dan sosial, misalnya seperti pada negara-negara eropa dengan kebijakannya yang menetapkan jaminan kesehatan melalui pajak penghasilan, maupun kebijakan di bidang kesehatan lain yang sudah terbukti berjalan dengan baik.
    Diharapkan analisis kebijakan kesehatan yang dilaksanakan dengan pendekatan yang benar, mampu menekan pengeluaran biaya berlebih, sehingga anggaran dapat dialokasikan tepat sasaran, tepat biaya, sehingga masyarakat mendapatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal dan merata, fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan juga tidak terbebani dengan sumber daya yang minim. Manfaat lain yang dapat diperoleh adalah apabila sudah terciptanya populasi masyarakat yang sehat dan produktif, maka perekonomian juga dapat meningkat.
    Masyarakat yang mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan dapat berperan sebagai pasien, dengan memanfaatkan fasilitas kesehatan dirumah sakit, klinik, apotik, laboratorium, dan lain-lain; atau sebagai tenaga profesi kesehatan, seperti perawat, dokter, bidan, tenaga pendukung kesehatan, apoteker, atau bagian operasional suatu Fasilitas Kesehatan. Pengambilan kebijakan kesehatan berkaitan dengan hal kematian dan keselamatan pasien, seperti yang tercantum dalam undang-undang praktik pada tiap tenaga kesehatan, kode etik, dan lain-lain. Saat ini kesehatan masih diletakkan dalam kedudukan yang lebih istimewa dibanding dengan masalah sosial yang lainnya, karena masalah kesehatan memiliki dampak yang besar secara multisektoral.
    Kesehatan juga dipengaruhi oleh sejumlah kebijakan yang tidak ada kaitannya dengan layanan kesehatan, misalnya pada kebijakan ekonomi mengenai kemiskinan mempengaruhi kesehatan masyarakat akibat jangkauan pelayanan kesehatan masyarakat yang terbatas, sama halnya dengan pengelolaan sampah, pencemaran air kotor atau sanitasi yang buruk di suatu daerah dapat mempengaruhi munculnya berbagai penyakit. Kebijakan ekonomi lain, seperti pajak merokok, minum-minuman keras atau napza dapat pula mempengaruhi perilaku masyarakat. Bahkan fenomena akibat kemajuan dan globalisasi yang saat ini menyebabkan meningkatnya kejadian komplikasi dari penyakit tidak menular akibat perubahan pola konsumsi masyarakat, obesitas di tengah masyarakat mencakup kesediaan makanan cepat saji yang murah, penjualan makanan di kantin sekolah yang tidak diawasi, juga menurunnya kebiasaan berolah raga dan gaya hidup sedentary.
    Memahami kebijakan kesehatan dengan analisis dan pendekatan yang sesuai diharapkan dapat menyelesaikan masalah kesehatan utama yang terjadi di Indonesia saat ini, seperti meningkatnya komplikasi penyakit tidak menular, HIV/AIDS, penggunaan Napza, meningkatnya resistensi obat pada penyakit-penyakit tertentu khususnya penyakit menular. Memahami bagaimana perekonomian dan kebijakan lain dapat berdampak pada sektor kesehatan, begitu pula sebaliknya. Kebijakan kesehatan dapat memberi arahan bagi negara Indonesia dalam menentukan pengelolaan dan pembiayaan layanan kesehatan yang efektif, pemilihan masalah kesehatan yang harus diprioritaskan untuk ditangani, perubahan pola perilaku dan gaya hidup masyarakat demi meningkatkan kesehatan melalui upaya promotif dan preventif, memperluas jangkauan bagi penyakit-penyakit sensitif yang belum tertangani dengan maksimal (fenomena gunung es), dan lain-lain.
    Menurut saya, pendekatan segitiga kebijakan kesehatan merupakan suatu pendekatan yang sudah disederhanakan untuk menghubungkan yang hal-hal kompleks, dan segitiga ini menunjukkan bahwa ke-empat faktor berhubungan satu dengan lainnya. Aktor (sebagai individu atau anggota organisasi tertentu) dipengaruhi dalam konteks dimana mereka tinggal (sosial dan budaya daerah); proses penyusunan kebijakan dipengaruhi oleh pelaksana dan kedudukan dalam suatu struktur kelembagaan. Segitiga tersebut membantu berpikir secara sistematis tentang bermacam-macam pelaku yang berbeda dalam mempengaruhi kebijakan dilihat dari berbagai sisi.

    Alfian Dicka Ananto (42160097)

    Liked by 1 person

  2. Clarissa Nitihardjo June 19, 2018 — 4:32 pm

    MANFAAT ANALISIS KEBIJAKAN BAGI KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

    Negara Indonesia yang memiliki otonomi daerah dapat mengeluarkan kebijakan baik dari pusat maupun daerah menurut kebutuhan daerah tersebut masing-masing. Setiap daerah memiliki masalah kesehatan yang bermacam-macam. Hal ini menjadi penting untuk masing-masing pemerintah daerah (maupun pusat) untuk mengeluarkan kebijakan yang dapat membangun kesehatan masyarakat menjadi lebih baik. Dengan meningkatnya kesehatan masyarakat, tentu akan berpengaruh kepada perekonomian negara. Begitu juga sebaliknya. Perbedaan perekonomian setiap daerah di Indonesia mempengaruhi kesehatan masyarakat setempat, tergantung dari isu masing-masing daerah. Oleh sebab itu, berbagai faktor resiko dan predileksi yang didapat dari data daerah dapat mencetuskan penegakkan kebijakan kesehatan demi memperbaiki taraf hidup masyarakat. Selain itu, dari kebijakan yang sudah dirancang, pemegang kebijakan dan tenaga kesehatan dapat memberikan inovasi baru untuk menjalankan program demi tercapainya tujuan.

    Selanjutnya, analisis kebijakan dapat juga menunjang kerjasama antarinstitusi yang terlibat dalam penegakkan kebijakan tersebut, contohnya antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk merealisasikan program yang sudah dicanangkan. Kebijakan pun dievaluasi dalam kurun waktu tertentu sehingga pemegang kebijakan dapat menentukan apakah program tersebut berhasil atau diperlukan perubahan sehingga tujuan awal dapat tercapai. Hal ini dilakukan dengan analisis kebijakan yang dapat dilakukan menggunakan berbagai metode yang kemudian dapat direncanakan penyusunan kebijakan baru atau perubahan kebijakan.

    Terdapat berbagai macam metode analisis kebijakan. Pendekatan yang dibuat khusus untuk kesehatan oleh Walt and Gilson (1994) adalah pendekatan segitiga kebijakan. Metode ini menganalisis konten, actor, konteks dan proses dalam pembuatan kebijakan. Kembali kepada dasar pembuatan kebijakan tersebut yang sudah dibahas sebelumnya, dapat berasal dari bidang ekonomi daerah atau negara dan dapat dipengaruhi oleh berbagai pemegang peran seperti pemerintah, tenaga kesehatan, maupun masyarakat sendiri. Oleh karena itu, pendekatan segitiga kebijakan ini cukup holistik mengingat banyaknya masalah kesehatan masyarakat Indonesia serta terbukti cukup efektif dalam meneliti berbagai aspek yang mempengaruhi kesehatan tersebut.

    Metode lain yang cukup terkenal dalam analisis kebijakan adalah stages heuristic. Sesuai dengan namanya, pendekatannya dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu pengaturan agenda, formulasi, implementasi, dan evaluasi. Dalam pengaturan agenda, para pembuat keputusan melihat dan mengurutkan masalah yang dihadapi masyarakat. Pada tahap implementasi, pemerintah mengeluarkan kebijakan dan pada evaluasi, analisis pengaruh kebijakan dilakukan. Pendekatan ini menyediakan proses yang mudah digunakan sehingga dapat juga dipakai diluar bidang kesehatan. Hal ini nampak seperti hal yang biasa dilakukan dalam pembuatan kebijakan, namun, metode ini dikritik karena pada realitanya kurang dapat terimplementasi dengan baik dalam hal penyusunan kebijakan serta tidak tersedianya celah untuk kegagalan yang sebenarnya sering terjadi di masyarakat. Dalam pemakaiannya untuk kesehatan masyarakat Indonesia, metode ini dapat digunakan oleh berbagai pihak sebab prosesnya sederhana. Selama adanya tahapan evaluasi dalam proses analisis kebijakan, hasil yang diberikan oleh implementasi kebijakan dapat ditinjau ulang dan dinilai apakah berhasil atau perlu adanya perubahan.

    Selain itu, terdapat pula pendekatan yang menekankan pada jaringan atau disebut network frameworks. Metode jaringan ini digunakan apabila aktor yang terlibat sudah berkembang sehingga perlu analisis sistem interaksi dan keterlibatan satu aktor dan lainnya. Banyaknya aktor yang terlibat, maka banyak pula kepentingan dari berbagai sektor dan perlu juga penilaian keberhasilan atau kegagalan kebijakan dari berbagai perspektif. Dalam realitanya, dapat ditemui satu aktor dominan dikelilingi aktor-aktor kecil lainnya; atau beberapa kelompok yang berbeda dengan satu tujuan yang sama. Sehingga pendekatan jaringan ini dapat digunakan untuk mencakup semua aktor yang terlibat. Pendekatan melalui jaringan dapat merupakan sebuah lanjutan dari pendekatan segitiga kebijakan sehingga semua aktor dapat berpartisipasi dalam pembuatan keputusan serta saling membantu dalam hal sumber daya.

    Sesungguhnya, pendekatan apapun yang digunakan dapat berjalan dengan baik asalkan evaluasi dari kebijakan tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh dan keputusan untuk merubah kebijakan bila dirasa ada kegagalan benar-benar diimplementasikan. Hal ini dikarenakan penyusunan kebijakan didasari berbagai macam faktor sehingga perlu dianalisis demi tercapainya kesehatan masyarakat Indonesia.

    Clarissa Nitihardjo – 42160098

    Like

  3. Benny Hwanggara June 19, 2018 — 8:27 pm

    MANFAAT ANALISIS KEBIJAKAN BAGI KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

    Analisis kebijakan dapat membantu para decision maker lewat informasi-informasi yang diberikan tentang bagaimana kebijakan itu berjalan dalam praktiknya, dampaknya terhadap ekonomi, lingkungan, sosial, dan faktor-faktor lain baik secara retrospektif; untuk mengidentifikasi kegagalan dan keberhasilan kebijakan-kebijakan di masa lampau, maupun secara prospektif untuk merencanakan bagaimana implementasi kebijakan baru nantinya.
    Analisa Kebijakan Kesehatan merupakan salah satu kunci dari langkah promosi kesehatan, sebagaimana tertera pada piagam Ottawa 1986 bahwa kebijakan publik kesehatan adalah satu dari lima area langkah promosi kesehatan, di samping penguatan gerakan masyarakat, pengembangan keterampilan (di bidang kesehatan) personal, reorientasi layanan kesehatan ke arah prevensi dan promosi, serta membangun lingkungan yang suportif. Piagam Ottawa ini sendiri disusun dalam konteks akan pentingnya promosi kesehatan bagi warga internasional mencapai taraf kesehatan yang ‘ekonomi produktif ‘ pada tahun 2000 dan tahun-tahun setelahnya melalui promosi kesehatan yang lebih baik.
    Relevansi pentingnya kebijakan kesehatan untuk saat ini bisa kita lihat dari salah satu kebijakan Presiden Jokowi yang menjadi terobosan besar dalam sektor kesehatan; yang juga patut diapresiasi, salah satunya yaitu program Jaminan Kesehatan Nasional atau Kartu Indonesia Sehat. Program yang sudah berjalan sejak 2014 ini masih memiliki pekerjaan rumah dalam memperbaiki kekurangan sistemnya serta berupaya dalam pencapaian targetnya di tahun 2019. Meski kita dapat berkaca pada kebijakan Universal health coverage di Amerika Serikat yang secara umum kebijakan ini memiliki tujuan yang sama, namun prediksi serta outcome dari implementasinya bisa berbeda sehingga dalam hal ini harus diberlakukan pendekatan kontekstual karena policy environtment dapat berbeda pada negara high-income dibandingkan middle dan low income, misalnya lemahnya regulasi, sistem monitoring, ataupun dukungan politis. Oleh karena itu, kebijakan skala besar ini perlu evaluasi yang dalam hal ini berupa analisa kebijakan untuk implikasinya terhadap Sistem Kesehatan Nasional, dimana di dalamnya terdapat komponen pembentuk sistem yaitu aktor-aktor pelaku yang terhubung dengan fungsinya masing-masing. Walt dan Gilson (1994) mencermati kurangnya penelitian tentang kebijakan kesehatan saat itu yang memasukkan unsur aktor, konteks, dan proses kebijakan, dan hanya terfokus pada konten kebijakannya. Berangkat dari situ dikembangkan sebuah kerangka segitiga kebijakan (policy triangle framework) yang mempertimbangkan keempat elemen tersebut dan interaksinya dalam pembentukan suatu kebijakan.
    Sebuah kerangka analisa lain yang umum diketahui untuk kebijakan publik adalah Stages heuristic. Kerangka ini membagi proses kebijakan publik menjadi empat tahap, yaitu: penyusunan agenda (agenda setting), perumusan (formulation), pelaksanaan (implementation), dan evaluasi (evaluation). Penyusunan agenda adalah tahapan menyortir permasalahan-permasalahan yang muncul di masyarakat yang muncul dan menjadi perhatian decision maker. Pada tahap perumusan, badan legislatif dan badan pembentuk kebijakan lainnya merancang dan mengesahkan kebijakan. Pada tahap pelaksanaan, pemerintah yang melanjutkan kebijakan-kebijakan. Kerangka analisa stages heuristic mendapat kritik dari pada analis oleh karena presumsi pada keselarasan proses kebijakan publik yang tidak sesuai dengan kenyataannya, yang sering kali masih abu-abu untuk batasan antar tahapannya.
    Benny Hwanggara – 42160105

    Like

  4. Indra putra prakasa June 19, 2018 — 11:56 pm

    Manfaat Analisis Kebijakan Bagi Kesehatan Masyarakat Indonesia

    kebijakan kesehatan diasumsikan untuk merangkum segala arah tindakan (dan dilaksanakan) yang mempengaruhi tatanan kelembagaan, organisasi, layanan dan aturan pembiayaan dalam system kesehatan. Kebijakan ini mencakup sektor publik (pemerintah) sekaligus sektor swasta. Tetapi karena kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor penentu diluar system kesehatan, para pengkaji kebijakan kesehatan juga menaruh perhatian pada segala tindakan dan rencana tindakan dari organisasi diluar system kesehatan yang memiliki dampak pada kesehatan (misal: pangan, tembakau atau industri obat).
    Sebagai suatu bidang kajian ilmu yang baru, analisis kebijakan kesehatan memiliki peran dan fungsi dalam pelaksanaannya. Peran dan fungsi itu adalah adanya analisis kebijakan kesehatan akan memberikan keputusan yang fokus pada masalah yang akan diselesaikan yang ada dimasyarakat.
    Analisis kebijakan kesehatan juga mampu menganalisis isu yang ada dimasyarakat, yang dimana isu – isu ini berkaitan dengan disiplin ilmu lain, selain bidang kesehatan. Memahami hubungan antara kebijakan kesehatan dan kesehatan itu sendiri menjadi sedemikian pentingnya sehingga memungkinkan untuk menyelesaikan masalah kesehatan utama yang terjadi saat ini,contoh masalah antara lain : meningkatnya obesitas, wabah HIV/AIDS, meningkatnya resistensi obat. Sekaligus memahani bagaimana perekonomian dan kebijakan lain berdampak pada kesehatan. Kebijakan kesehatan memberi arahan dalam pemilihan teknologi kesehatan yang akan dikembangkan dan digunakan, mengelola dan membiayai layanan kesehatan, atau jenis obat yang dapat dibeli bebas. Dengan output, untuk mempengaruhi faktor – faktor penentu di sektor kesehatan agar dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
    Segitiga kebijakan kesehatan berfokus pada isi, konteks, proses dan pelaku. Kerangka tersebut digunakan dalam buku karena membantu dalam mengeksplorasi secara sistematis bidang politik yang terabaikan dalam kebijakan kesehatan dan kerangka tersebut dapat diterapkan dinegara dengan penghasilan rendah, menengah dan tinggi. Pada pendekatan ini, para pelaku dapat dipengaruhi (sebagai seorang individu atau seorang anggota suatu kelompok atau organisasi) dalam konteks dimana mereka tinggal dan bekerja. Konteks dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti: ketidakstabilan, atau ideologi, dalam hal sejarah dan budaya. Serta proses penyusunan kebijakan bagaimana isu dapat menjadi suatu agenda kebijakan, dan bagaimana isu tersebut dapat berharga dipengaruhi oleh pelaksana kedudukan mereka dalam strutur kekuatan, norma dan harapan mereka sendiri. Dan isi dari kebijakan menunjukan sebagian atau seluruh bagian ini. Jadi, segitiga tersebut tidak hanya membantu dalam berpikir sistematis tentang pelaku – pelaku yang berbeda yang mungkin mempengaruhi kebijakan, tetapi juga berfungsi seperti peta.
    Selain segitiga kebijakan diatas, dikenal pula kerangka lain dalam analisa kebijakan yaitu heuristic stage. Yang dibagi menjadi 4 tahapan yaitu : yang pertama adalah pemilahan masalah yang ada dimasyarakat oleh para pejabat terkait. Selanjutnya perumusan masalah sampai dengan dipilihnya alternatif untuk direkomendasikan dan disahkan oleh pejabat yang berwenang. Setelah kebijakan publik disahkan oleh pejabat yang berwenang, maka kemudian kebijakan publik tersebut diimplementasikan (dilaksanakan). Evaluasi kebijakan publik ini bertujuan untuk menilai apakah perbedaan sebelum dan setelah kebijakan itu diimplementasikan, yaitu perbandingan antara sebelum dan sesudah diberlakukannya suatu kebijakan. analisa ini memberikan cara berpikir yang lebih sederhana dibandingkan segitiga kebijakan.

    Indra Putra Prakasa (42160100)

    Like

  5. Analisis Kebijakan kesehatan/ Jovian Chendy 4216102
    Tujuan umum analisis Kebijakan adalah Menyediakan informasi untuk para pengambilan kebijakan yang digunakan sebagai pedoman pemecahan masalah Kebijakan secara praktis Menurut Dunn, 1998. Tujuan analisis kebijakan juga meliputi Evaluasi Kebijakan dan anjuran kebijakan. Informasi yang di dapatkan dari proses analisis, Digunakan sebagai pertimbangan Tindakan atau pembuatan Kebijakan Selanjut nya demi tercapai nya suatu Stakeholder pembuat kebijakan. Melihat Keanekaragman Demografi di Indonesia yang Sangat beragam, Hal ini meningkatkan kompleksitas Kebijakan Kesehatan untuk menanggulangi atau menyelesaikan Masalah – Masalah Kesehatan. Kebijakan yang di buat Sentral Sulit untuk menyelesaikan Masalah kesehatan pada Demografi yang Beragam ini. Disini Peran Analisis Kebijakan Desentralisasi sangat berperan penting untuk menyelesaikan masalah-masalah Kesehatan yang terjadi diantara perbedaan demografi. Berdasarkan pendapat Ahli Kondisi Perbedaan masalah kesehatan yang terjadi akan menyebabkan perbedaan analisis masalah yang yang digunakan Demi menyelesaikan masalah kesehatan yang sedang terjadi di demografi tertentu. Menurut Dunn Ada 3 Bentuk analisis kesehatan yaitu Prospektif, retospektif, dan Terpadu yang merupakan gabungan antara Prospektif dan retrospektif. Kebijakan Kesehatan yang mengatur dan mendukung keberlangsungan Pelayanan Kesehatan yang meliputi Promotif, Preventif, Kuratif dan rehabilitative Harus lah memiliki Porsi Yang effektify yang tentu tidak terlepas dari Paradigma Sehat yang sekarang di tetapkan yaitu Promotif dan preventif Tetapi Tidak semua kondisi Demografi Kesehatan memerlukan porsi yang selalu sama dan hal yang sama, Keberbedaan Demografi yang menyebabkan perbedaan masalah kesehatan di berbagai daerah membutuhkan Analisis Kebijakan agar Kegiatan pelayanan Kesehatan yang mencakup Promotif , Preventiv, Kuratif dan Rehabilitatif dapat berjalan dengan baik dan mencakup semua lapisan masyarakat yang membutuhkan tanpa terkecuali. Walt and Gilson (1994) memperkenalkan Pendekatan Segitiga Kebijakan yang di harapkan Menjadi Solusi agar Usaha Kegiatan Promotif, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif Pelayanan Kesehatan dapat efektif dari segi Hasil, Biaya, Sumber daya, Waktu, dan Usaha. Metode Segitiga Pendekatan Kebijakan Mengkaji Kebijakan dari Segi Konten, Aktor dan proses untuk membuat sebuah kebijakan. Metode analisis ini Cukup Efektif dalam Menganalisis Masalah Kesehatan dan Pembuatan Kebijakan yang Tepat.
    William dunn Menceritrakan Pendekatan Heuristic yang memproses Analisis kebijakan menjadi 4 tahap yaitu, Agenda Setting, Formulasi, Implementasi dan evaluasi. Pertama Penting merumuskan masalah – Masalah yang ada, Rumusan masalah di rumuskan dalam bentuk yang spesifik, Setelah itu Pihak Legiselatif dan Pembuat keputusan mendesign Rancangan Kebijakan yang di anggap paling efektif dengan berbagau peritmbangan bisa itu Prospektif, Retrospektif maupun Terpadu, Setelah itu badan Ekskutor Mengimplementasi kan Kebijakan tersebut dan memantau keberlansungan Kebijakan dan pada tahap yang terakhir adalah tahap evaluasi, Evaluasi perlu di lakukan dan akan menjadi bahan pertimbangan atau Agenda setting berikut nya. Metode ini dikritik karan sering tidak sesuai dengan realita dan sulit di aplikasi kan.
    Jovian Chendy 42160102

    Like

  6. Elisabeth Marselina June 20, 2018 — 12:54 am

    MANFAAT ANALISIS KEBIJAKAN BAGI KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA
    Untuk dapat meningkatkan kualitas kesehatan dalam mempengaruhinya faktor – faktor penentu di bidang kesehatan, maka diperlukan suatu kebijakan kesehatan. Karena pentingnya suatu kebijakan kesehatan tersebut, maka perlu untuk dilakukan analisis kebijakan yang bertujuan untuk memperoleh penjelasan mengenai hasil kebijakan yang akan dicapai.
    Analisis kebijakan kesehatan adalah pengunaan berbagai metode penelitian dan argumen untuk menghasilkan informasi yang relevan dengan kebijakan sehingga dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah kebijakan kesehatan. Analisis kebijakan kesehatan awalnya adalah hasil pengembangan dari analisis kebijakan publik, yang merupakan akibat dari semakin kemajuan ilmu pengetahuan dan kebutuhan akan analisis kebijakan dalam bidang kesehatan sehingga akhirnya muncul analisis kebijakan kesehatan. Dengan adanya Analisis kebijakan maka akan membantu menghindarkan kemungkinan suatu kebijakan yang memakai pertimbangan yang sempit atau hanya mempertimbangan kekuasaan, karena analisis kebijakan memberikan informasi dan argumen yang lebih komprehensif dan dapat diterima oleh publik.
    Analisa kebijakan kesehatan di indonesia menggunakan segitiga kebijakan yang dikemukakan oleh Walt dan Gilson tahun 1994. Selain itu kerangka analisa kebijakan yang telah dikembangkan oleh Walt dan Gilson juga telah mempengaruhi penelitian kebijakan kesehatan di berbagai negara, dan telah digunakan untuk menganalisa banyak masalah kesehatan, seperti kesehatan mental, reformasi sektor kesehatan, tuberkulosis, kesehatan reproduksi dan kontrol sifilis antenatal.

    Segitiga kebijakan kesehatan merupakan sebuah gambaran dari kesatuan hubungan antara unsur-unsur kebijakan (konten, proses, konteks, dan aktor) yang saling memberi pengaruh satu sama lain. Unsur-unsur dari segitiga kebijakan, yaitu; ”aktor-aktor” kebijakan (baik sebagai individu atau kelompok) misalnya dipengaruhi oleh konteks dimana mereka bekerja, tinggal atau menjalankan tugas-tuganya. ”Konteks” merupakan hasil dari interaksi dari banyak faktor seperti ideologi atau kebijakan yang berubah-ubah, sejarah, dan nilai budaya. ”Proses” dan ”Konten” dari sebuah kebijakan,yaitu: bagaimana sebuah isu strategis atau masalah publik diangkat dan menjadi penetapan agenda dalam formulasi kebijakan serta nilai, ekspektasi atau kepentingan aktor-aktor tersebut menjelaskan tentang konteks dalam segitiga kebijakan publik. Oleh karena itu, segitiga kebijakan bermanfaat untuk dapat secara sistematis menganalisis dan mengetahui tentang berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan kesehatan terutama kebijakan yang terdapat di Indonesia.

    Selain analisa masalah kesehatan dengan menggunakan metode segitiga kebijakan, terdapat metode stages heuristic yang dikemukakan oleh Lasswell (1956), dan Brewer and deLeon (1983) kebijakan menjadi empat tahap, yaitu: Pengaturan agenda, Perumusan, Implementasi dan Evaluasi.
    Heuristik adalah pedoman, prinsip umum dan peraturan, pengalaman yang membantu suatu keputusan atau kritik atas suatu keputusan yang telah diambil. Tujuan dari evaluasi heuristik ini adalah untuk memperbaiki perancangan secara efektif. Analisa kebijakan heuristic memandang secara holistik/menyeluruh untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang sebelumnya terlewatkan, dan dapat digunakan untuk mengkaji kebijakan di tingkat nasional tdan juga internasional untuk memahami bagaimana kebijakan disebarkan ke seluruh dunia.

    Pada tahun 2000 William N. Dunn mengungkapkan bahwa analisis kebijakan merupakan aktivitas menciptakan pengetahuan tentang dan dalam proses pembuatan kebijakan. Badan eksekutif, legislatif dan yudikatif, bersama dengan warga negara dapat menggunakan hasil-hasil analisis kebijakan untuk memperbaiki proses pembuatan kebijakan dan juga kinerjanya. Efektifitas pembuatan sebuah kebijakan tergantung pada akses informasi yang tersedia, komunikasi dan penggunaan analisis kebijakan menjadi penting sekali dalam praktek dan teori pembuatan kebijakan publik. Dunn membedakan 3 bentuk utama dalam analisis kebijakan publik,yaitu;
    1.Analisis kebijakan prospektif
    2.Analisis kebijakan retrospektif
    – analis yang berorientasi pada disiplin
    – analis yang berorientasi pada masalah
    – analis yang berorientasi pada aplikasi.
    3.Analisis kebijakan yang terintegrasi
    Dunn menggunakan analisis yang lebih focus pada waktu dalam hubungannya dengan tindakan. Prediksi dan rekomendasi digunakan sebelum tindakan diambil atau untuk masa yang akan datang (ex ante), sedangkan deskripsi dan evaluasi digunakan setelah tindakan yang sudah terjadi (ex post).

    Selain itu analisis kebijakan dikemukakan oleh Suharto (2010), yaitu sebagai usaha yang terencana dan sistematis dalam membuat analisis atau asesmen akurat mengenai konsekuensi-konsekuensi kebijakan, baik sebelum maupun sesudah kebijakan tersebut diimplementasikan.
    Analisa kebijakan yang dikemukakan oleh Suharto lebih mengarah pada identifikasi masalah dan bagaimana cara untuk menemukan solusinya dan kemudian dari usulan solusi-solusi tersebut akan dipilih yang paling mungkin untuk diimplementasikan dan aman. Terdapat enam tahapan dalam analisis kebijakan antara lain:
    1. Mendefinisikan masalah kebijakan
    2. Mengumpulkan bukti masalah
    3. Mengkaji penyebab masalah
    4. Mengevaluasi kebijakan yang ada
    5. Mengembangkan alternatif atau opsi-opsi kebijakan
    6. Menyeleksi alternatif terbaik
    Meskipun terdapat banyaknya metode dalam analisis kebijakan publik dengan tahapan yang berbeda-beda, namun tujuannya sama, yaitu; membuat kebijakan yang lebih baik dalam rangka menyelasaikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat, dan juga menghindarkan suatu kebijakan yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu atau pertimbangan kekuasaan.

    Elisabeth Marselina/421060104

    Like

  7. MANFAAT ANALISIS KEBIJAKAN BAGI KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA
    “Kebijakan kesehatan itu apa ?? untuk siapa ?? apa manfaatnya ??”. Pertanyaan itu yang sangat mungkin muncul di masyarakat ketika ada suatu kebijakan atau aturan yang baru muncul di permukaan. Health policy (kebijakan kesehatan) mencakup tindakan yang mempengaruhi institusi, organisasi, pelayanan, dan upaya pendanaan sistem kesehatan. Kebijakan kesehatan harus bertujuan bagi kepentingan seluruh masyarakat dan hal yang perlu menjadi perhatian adalah tugas administrator publik bukan membuat kebijakan kesehatan “atas nama” kepentingan publik, tetapi benar-benar bertujuan untuk mengatasi masalah dan memenuhi keinginan serta tuntutan seluruh masyarakat. Tujuan dari kebijakan kesehatan adalah untuk menyediakan pola pencegahan, pelayanan yang terfokus pada pemeliharaan kesehatan, pengobatan penyakit, perlindungan terhadap kaum rentan, serta menilai dampak dari lingkungan dan sosial ekonomi terhadap kesehatan. Berangkat dari semua tujuan tersebutlah masyarakat bisa mendapatkan manfaat dari setiap kebijakan kesehatan yang telah dibuat yang tujuan dan manfaatnya untuk meningkatakan kesehatan masyarakat Indonesia dan dapat memberantas penyakit secara menyeluruh lapisan masyarakat.
    Salah satu kebijakan kesehatan yang dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat adalah adanya Program Jaminan Kesehatan Nasional (Jamkesnas) yang dapat digunakan dengan memakai Kartu Indonesia Sehat. Program ini sangat membantu semua lapisan masyarakat untuk bisa ke layanan kesehatan tanpa takut dengan masalah biaya atau hal-hal lain. Dengan begitu, beberapa masyarakat pun juga dapat dideteksi lebih dini jika menderita penyakit yang sifatnya degeneratif dan penyakit tidak menular serta yang menular. Selain itu, masyarakat zaman sekarang menjadi bisa dan lebih mudah untuk mendapatkan informasi kesehatan dengan adanya program pemerintah yang lebih mengutamakan preventif dan promotif. Dari segi tempat layanan kesehatan, pemerintah pun juga mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan jumlah puskesmas dengan didukung Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) yang bermaksud untuk menekan angka kematian ibu dan anak. Diharapkan dengan semakin meratanya fasilitas kesehatan seperti ini para ibu juga dapat dengan mudah dan dekat untuk memeriksakan dirinya dari saat hamil, melahirkan, sampai melakukan pemeriksaan terhadap anaknya tanpa harus jauh-jauh dan repot ke rumah sakit di kota yang jauh dari tempat tinggalnya.
    Melihat begitu banyaknya masalah kesehatan di Indonesia, pembuatan kebijakan kesehatan tidak bisa dibuat tanpa adanya suatu metode. Dalam pembentukan suatu kebijakan kesehatan terdapat metode yang bernama segitiga kebijakan kesehatan. Merupakan suatu pendekatan yang sudah sangat disederhanakan untuk suatu tatanan hubungan yang kompleks, dan segitiga ini menunjukkan kesan bahwa ke-empat faktor yaitu isi, konteks, proses, dan aktor itu seperti berdiri sendiri padahal keempatnya adalah suatu hal yang memiliki hubungan yang berkesinambungan. Pada kenyataannya, para pelaku dapat dipengaruhi (sebagai seorang individu atau seorang anggota suatu kelompok atau organisasi) dalam konteks dimana mereka tinggal dan bekerja; dan konteks sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor. Jadi, segitiga tersebut tidak hanya membantu dalam berpikir sistematis tentang pelaku-pelaku, masalah-masalah kesehatan yang berbeda yang mungkin mempengaruhi kebijakan, tetapi juga berfungsi seperti peta yang menunjukkan jalan-jalan utama sekaligus bukit, sungai, hutan, jalan setapak dan pemukiman.
    Kerangka kebijakan publik yang paling dikenal adalah “heuristik tahap-tahap” (Lasswell 1956; Brewer dan deLeon 1983). Ini membagi proses kebijakan publik menjadi empat tahap: pengaturan agenda, perumusan, implementasi, dan evaluasi. Pengaturan agenda adalah tahap penyortiran masalah di mana sejumlah kecil dari masalah-masalah yang dihadapi masyarakat bisa menarik perhatian para pengambil keputusan. Pada tahap perumusan, legislatif dan badan pembuat keputusan lainnya merancang dan memberlakukan kebijakan. Pada tahap implementasi, pemerintah melaksanakan kebijakan ini, dan dalam tahap evaluasi dampak kebijakan tersebut dinilai. Analis telah mengkritik heuristik tahap-tahap karena mengasumsikan linieritas terhadap proses kebijakan publik yang tidak ada di dunia nyata, karena menarik garis pemisah yang tegas antara tahap-tahap yang pada kenyataannya sangat kabur, dan karena tidak menawarkan saran mengenai kausalitas (Sabatier 2007). Namun demikian, heuristik ini menawarkan cara berpikir yang berguna dan sederhana tentang keseluruhan proses kebijakan publik, dan membantu peneliti menempatkan penelitian mereka dalam kerangka yang lebih luas.
    Setelah membaca masing-masing pengertian dan hal lainnya dari kedua kebijakan di atas, dapat dilihat bahwa segitiga kebijakan kesehatan menurut saya memiliki kelebihan yaitu dapat diaplikasikan ke dalam setiap pembentukan suatu kebijakan (tidak hanya kesehatan) karena metode ini melihat suatu permasalahan dari semua sisi dan kemudian dianalisa mendalam dari 4 faktor yang terkandung di dalamnya. Sehingga ketika suatu kebijakan yang baru muncul betul-betul dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan juga mampu laksana dengan sumber daya yang memadai untuk mencapai sutu cita-cita atau target yang ingin dicapai bersama. Jika dibandingan dengan “heuristik tahap-tahap”, terlihat cukup banyak masalah yang mungkin belum dianalisa mendalam bahkan tidak teranalisa karena tidak jelasnya dalam memilah dan memilih masalah dan penyebabnya sehingga mengakibatkan terbentuk kebijakan yang tidak tepat sasaran dan tidak mampu laksana secara maximal. Tetapi yang terpenting adalah dalam setiap pembentukan suatu kebijakan adalah evaluasi dalam kurun waktu tertentu untuk mengetahui dan menganalisa seberapa besar keberhasilan dari suatu kebijakan yang sudah dicanangkan.
    YUDHA HADI K. – 42160106

    Like

  8. Amelia Litmantoro Hidayat June 20, 2018 — 2:14 am

    Analisis Kebijakan Terkait Kesehatan Masyarakat

    Analisis kebijakan adalah suatu proses yang memerlukan pendekatan multidisiplin ilmu yang terkait dengan situasi dan masalah kebijakan yang muncul. Analisis kebijakan dapat diterapkan dalam berbagai bidang, salah satunya pada kebijakan terkait kesehatan. Kebijakan kesehatan menjadi penting karena kesehatan memiliki posisi yang cukup istimewa dibanding dengan masalah lainnya. Sektor kesehatan juga merupakan bagian penting perekonomian di berbagai berbagai negara. Kesehatan dapat dipengaruhi oleh sejumlah keputusan yang tidak ada kaitannya dengan pelayanan kesehatan (misal: kemiskinan, polusi). Selain itu kebijakan kesehatan ikut memberi arahan dalam pemilihan teknologi kesehatan di tengah arus perkembangan teknologi yang pesat saat ini.
    Melihat beberapa kondisi di atas, analisis kebijakan kemudian muncul dengan dampak positif. Dengan melakukan analisis kebijakan terkait kesehatan, analis serta masyarakat dapat mengerti mengenai apa dan bagaimana hasil (outcome) kebijakan akan dicapai. Analisis kebijakan juga dapat menjadi piranti untuk membuat model kebijakan di masa depan, sehingga kebijakan yang berlaku dapat menjadi kebijakan yang tepat sasaran, dan dapat diimplementasikan dengan lebih efektif.

    Banyak pakar yang telah mengemukakan pandangan mengenai proses dan/atau model-model dalam analisis kebijakan. Salah satunya adalah pendekatan segitiga kebijakan Walt and Gilson (1994). Pada metode ini, 4 hal yang disorot dalam kebijakan yaitu konteks, konten/isi, actor/pelaku dan proses. Konteks berbicara mengenai kondisi yang dimiliki oleh pihak yang menjadi sasaran kebijakan, seperti kondisi ekonomi, ideologi, dan budaya; konten berisi tujuan yang ingin dicapai, inti dari kebijakan, serta apakah ada pengecualian; actor membahas mengenai pelaku atau pihak-pihak terkait kebijakan; sedangkan proses menggambarkan bagaimana kebijakan dibuat, bagaimana akan dikomunikasikan entah dengan pendekatan top up atau bottom down. Segitiga kebijakan kesehatan yang digunakan untuk memahami kebijakan kebijakan tertentu dan diterapkan untuk merencanakan kebijakan khusus dan dapat bersifat etrospektif (meliputi evaluasi dan monitoring kebijakan) atau prospektif (Memberi pemikiran pemikiran strategis strategis, advokasi dan lobi kebijakan).
    Contoh lain adalah Patton and Sawicki dalam bukunya yang berjudul Basic Methods of Policy Analysis and Planning (Prentice-Hall, New Jersey), yang membagi analisis kebijakan menjadi 6 (enam) langkah sebagai berikut:
    1. Menentukan atau mendefinisikan masalah kebijakan dengan cara menganalisis data dan informasi yang relevan dengan masalah tersebut.
    2. Mengidentifikasikan atau mengembangkan kriteria-kriteria untuk pemecahan masalah. Dalam hal ini, seorang pengambil kebijakan harus memperhatikan faktor-faktor terkait sebelum memutuskan sesuatu.
    3. Membuat daftar alternatif yang akan dipilih sebagai kebijakan terbaik dalam menyelesaikan masalah kebijakan.
    4. Melakukan analisis dan evaluasi terhadap setiap kriteria yang dikembangkan, dengan memberikan bobot terhadap setiap kriteria, yang kemudian dapat dijadikan beberapa kebijakan alternatif sesuai prioritasnya.
    5. Melakukan evaluasi terhadap setiap alternatif berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, untuk kemudian memilih alternatif terbaik sebagai kebijakan terpilih
    6. Menjalankan kebijakan yang telah dipilih

    Dua contoh pendekatan yang telah dipaparkan di atas memiliki perbedaannya tersendiri. Menurut saya, dalam perbandingan ini segitiga kebijakan lebih unggul daripada contoh lainnya. Segitiga kebijakan secara lengkap dan terstruktur membahas unsur-unsur terkait, dari pelaku dan kondisinya, isi kebijakan, serta bagaimana proses yang berkaitan dalam kebijakan, sehingga mempermudah semua pihak untuk dapat segera mengidentifikasi bagian dari kebijakan tersebut. Sedangkan analisis kebijakan oleh Patton hanya berfokus pada langkah-langkah mulai dari pembuatan kebijakan sampai penerapannya, hal ini juga menjadi tumpang tindih dengan unsur proses dalam segitiga kebijakan. Oleh karena itu, dalam penerapannya, kedua metode ini dapat dipadukan untuk membentuk analisis kebijakan yang komprehensif, yang pada akhirnya dapat mewujudkan hasil yang bermakna pada masyarakat dan berjalan sesuai tujuan awal pembuatan kebijakan.

    Amelia Litmantoro Hidayat (42160103)

    Like

  9. Ayu Anita Rosalia June 20, 2018 — 5:05 am

    Analisis kebijakan kesehatan adalah penyelidikan, pengkajian, penelitian, dan argumen untuk menghasilkan dan memindahkan informasi tentang suatu fenomena kesehatan yang berkaitan dengan kebijakan sehingga dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah kesehatan. Analisis kebijakan kesehatan juga dapat berupa evaluasi dan rekomendasi kebijakan kesehatan. Analisis ini tidak hanya menghasilkan fakta, namun juga menghasilkan informasi mengenai nilai dan arah tindakan di bidang kesehatan yang lebih baik. Manfaat analisis kebijakan pada kesehatan masyarakat antara lain:
    – Menghasilkan keputusan yang berfokus pada masalah atau isu kesehatan masyarakat yang akan diselesaikan
    – Analisis tersebut menggabungkan berbagai disiplin ilmu dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kebijakan kesehatan dapat diposisikan sebagai dependen variabel maupun independen variabel. Sebagai dependen variabel, kebijakan kesehatan berupaya mencari variabel-variabel yang dapat mempengaruhi kualitas isi dari sebuah kebijakan kesehatan, sedangkan sebagai independen variabel dapat berupaya untuk mengidentifikasi dampak kebijakan kesehatan nantinya
    – Menghasilkan rekomendasi kepada pemerintah tentang jenis tindakan kebijakan apa yang tepat dalam menyelesaikan suatu masalah atau isu masyarakat
    – Memberi kepastian dengan memberikan kebijakan/keputusan yang sesuai atas suatu masalah yang awalnya tidak pasti menjadi pasti
    – Menelaah berbagai fakta yang muncul kemudian sebagai akibat dari suatu kebijakan yang telah diputuskan atau diundangkan
    – Membantu para praktisi dalam memecahkan masalah atau isu kesehatan masyarakat melalui pemahaman berbagai konsep dasar teori kebijakan tersebut
    – Melalui berbagai teori dan proses kebijakan yang benar akan meyakinkan para pelaku politik dalam menetapkan suatu kebijakan di bidang kesehatan

    Untuk membantu menganalisa suatu kebijakan, terdapat dua kerangka atau suatu pendekatan yang sering digunakan yaitu segitiga kebijakan dan tahapan heuristik. Kerangka segitiga kebijakan terdiri dari isi, konteks, proses, dan pelaku. Dalam kerangka segitiga kebijakan ini, isi atau konten mengacu pada isi kebijakan yang nantinya diterapkan berdasarkan isu atau masalah di masyarakat. Konteks mengacu pada faktor sistematis terdiri dari politik, ekonomi, sosial, budaya, nasional hingga internasional yang memliki pengaruh terhadap kebijakan kesehatan. Proses mengacu pada cara bagaimana kebijakan dimulai, disusun, dilaksanakan, hingga dievaluasi. Pelaku berupa individu maupun organisasi yang besar pengaruhnya tergantung dari kekuasaan para pelaku yang terikat dalam struktur organisasi mereka sendiri. Kerangka segitiga kebijakan ini dapat membantu memecahkan masalah – masalah di bidang politik yang terabaikan terutama dalam kebijakan kesehatan secara sistematis. Selain itu, segitiga kebijakan dapat diterapkan di negara yang berpenghasilan rendah, menengah, dan tinggi.
    Kerangka ini juga sudah sangat disederhanakan untuk tatanan hubungan yang kompleks dan memiliki keempat komponen tersebut yang saling berhubungan dimana faktor pelaku dapat dipengaruhi dalam konteks, begitu pula konteks dapat dipengaruhi berbagai macam faktor, serta proses dalam penyusunan kebijakan yang dapat menjadi suatu agenda kebijakan, sedangkan isi kebijakan menunjukkan sebagian maupun seluruh bagian kerangka ini. Dalam pelaksanaannya, segitiga kebijakan dapat digunakan secara retrospektif untuk menganalisis kebijakan masa lalu, dan secara prospektif yaitu membantu perencanaan untuk mengubah kebijakan yang telah ada.
    Sedangkan, tahapan heuristik merupakan pendekatan yang sering digunakan untuk menganalisa proses kebijakan yang membagi proses kebijakan menjadi berbagai tahapan. Pendekatan ini membagi menjadi 4 tahapan yaitu identifikasi masalah dan isu, perumusan kebijakan, pelaksanaan kebijakan, dan evaluasi kebijakan. . Namun, tahapan heuristik ini merupakan pendekatan dengan model teoritis yang tidak selalu menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi di dunia nyata. Pada pendekatan ini, proses kebijakan tampak seperti proses yang linier atau berjalan lurus dari satu tahap ke tahap lainnya, tetapi sebenarnya jarang terlihat jelas sebagai suatu proses, karena seringkali masalah baru ditemukan pada saat tahap pelaksanaannya atau kebijakan sudah disusun, namun tidak pernah mencapai hingga tahap pelaksanaan. Meskipun demikian, tahap heuristik telah berlangsung lama, sederhana, dan tetap bermanfaat. Pendekatan ini dapat mengkaji kebijakan pada tingkat nasional hingga internasional.
    Kesimpulannya, pendekatan atau kerangka segitiga kebijakan lebih dapat diterapkan secara nyata untuk memecahkan isu atau masalah secara khusus di bidang kesehatan secara sistematis, sedangkan pendekatan tahapan heuristik merupakan pendekatan untuk menganalisa kebijakan publik yang tidak berfokus untuk masalah kesehatan, selain itu tahapan heuristik menggunakan model teoritis sehingga sulit diaplikasikan yang pada kenyataannya, masalah sering baru diketahui saat pada tahap pelaksanaannya atau saat kebijakan telah disusun meskipun pendekatannya sederhana.

    Ayu Anita Rosalia (42160101)

    Like

  10. Ayu Anita Rosalia June 20, 2018 — 5:09 am

    MANFAAT ANALISIS KEBIJAKAN BAGI KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

    Analisis kebijakan kesehatan adalah penyelidikan, pengkajian, penelitian, dan argumen untuk menghasilkan dan memindahkan informasi tentang suatu fenomena kesehatan yang berkaitan dengan kebijakan sehingga dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah kesehatan. Analisis kebijakan kesehatan juga dapat berupa evaluasi dan rekomendasi kebijakan kesehatan. Analisis ini tidak hanya menghasilkan fakta, namun juga menghasilkan informasi mengenai nilai dan arah tindakan di bidang kesehatan yang lebih baik. Manfaat analisis kebijakan pada kesehatan masyarakat antara lain:
    – Menghasilkan keputusan yang berfokus pada masalah atau isu kesehatan masyarakat yang akan diselesaikan
    – Analisis tersebut menggabungkan berbagai disiplin ilmu dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kebijakan kesehatan dapat diposisikan sebagai dependen variabel maupun independen variabel. Sebagai dependen variabel, kebijakan kesehatan berupaya mencari variabel-variabel yang dapat mempengaruhi kualitas isi dari sebuah kebijakan kesehatan, sedangkan sebagai independen variabel dapat berupaya untuk mengidentifikasi dampak kebijakan kesehatan nantinya
    – Menghasilkan rekomendasi kepada pemerintah tentang jenis tindakan kebijakan apa yang tepat dalam menyelesaikan suatu masalah atau isu masyarakat
    – Memberi kepastian dengan memberikan kebijakan/keputusan yang sesuai atas suatu masalah yang awalnya tidak pasti menjadi pasti
    – Menelaah berbagai fakta yang muncul kemudian sebagai akibat dari suatu kebijakan yang telah diputuskan atau diundangkan
    – Membantu para praktisi dalam memecahkan masalah atau isu kesehatan masyarakat melalui pemahaman berbagai konsep dasar teori kebijakan tersebut
    – Melalui berbagai teori dan proses kebijakan yang benar akan meyakinkan para pelaku politik dalam menetapkan suatu kebijakan di bidang kesehatan

    Untuk membantu menganalisa suatu kebijakan, terdapat dua kerangka atau suatu pendekatan yang sering digunakan yaitu segitiga kebijakan dan tahapan heuristik. Kerangka segitiga kebijakan terdiri dari isi, konteks, proses, dan pelaku. Dalam kerangka segitiga kebijakan ini, isi atau konten mengacu pada isi kebijakan yang nantinya diterapkan berdasarkan isu atau masalah di masyarakat. Konteks mengacu pada faktor sistematis terdiri dari politik, ekonomi, sosial, budaya, nasional hingga internasional yang memliki pengaruh terhadap kebijakan kesehatan. Proses mengacu pada cara bagaimana kebijakan dimulai, disusun, dilaksanakan, hingga dievaluasi. Pelaku berupa individu maupun organisasi yang besar pengaruhnya tergantung dari kekuasaan para pelaku yang terikat dalam struktur organisasi mereka sendiri. Kerangka segitiga kebijakan ini dapat membantu memecahkan masalah – masalah di bidang politik yang terabaikan terutama dalam kebijakan kesehatan secara sistematis. Selain itu, segitiga kebijakan dapat diterapkan di negara yang berpenghasilan rendah, menengah, dan tinggi.
    Kerangka ini juga sudah sangat disederhanakan untuk tatanan hubungan yang kompleks dan memiliki keempat komponen tersebut yang saling berhubungan dimana faktor pelaku dapat dipengaruhi dalam konteks, begitu pula konteks dapat dipengaruhi berbagai macam faktor, serta proses dalam penyusunan kebijakan yang dapat menjadi suatu agenda kebijakan, sedangkan isi kebijakan menunjukkan sebagian maupun seluruh bagian kerangka ini. Dalam pelaksanaannya, segitiga kebijakan dapat digunakan secara retrospektif untuk menganalisis kebijakan masa lalu, dan secara prospektif yaitu membantu perencanaan untuk mengubah kebijakan yang telah ada.
    Sedangkan, tahapan heuristik merupakan pendekatan yang sering digunakan untuk menganalisa proses kebijakan yang membagi proses kebijakan menjadi berbagai tahapan. Pendekatan ini membagi menjadi 4 tahapan yaitu identifikasi masalah dan isu, perumusan kebijakan, pelaksanaan kebijakan, dan evaluasi kebijakan. . Namun, tahapan heuristik ini merupakan pendekatan dengan model teoritis yang tidak selalu menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi di dunia nyata. Pada pendekatan ini, proses kebijakan tampak seperti proses yang linier atau berjalan lurus dari satu tahap ke tahap lainnya, tetapi sebenarnya jarang terlihat jelas sebagai suatu proses, karena seringkali masalah baru ditemukan pada saat tahap pelaksanaannya atau kebijakan sudah disusun, namun tidak pernah mencapai hingga tahap pelaksanaan. Meskipun demikian, tahap heuristik telah berlangsung lama, sederhana, dan tetap bermanfaat. Pendekatan ini dapat mengkaji kebijakan pada tingkat nasional hingga internasional.
    Kesimpulannya, pendekatan atau kerangka segitiga kebijakan lebih dapat diterapkan secara nyata untuk memecahkan isu atau masalah secara khusus di bidang kesehatan secara sistematis, sedangkan pendekatan tahapan heuristik merupakan pendekatan untuk menganalisa kebijakan publik yang tidak berfokus untuk masalah kesehatan, selain itu tahapan heuristik menggunakan model teoritis sehingga sulit diaplikasikan yang pada kenyataannya, masalah sering baru diketahui saat pada tahap pelaksanaannya atau saat kebijakan telah disusun meskipun pendekatannya sederhana.

    Ayu Anita Rosalia (42160101)

    Like

  11. Dalam menunjang pelayanan kesehatan masyarakat Indonesia diperlukan suatu kebijakan kesehatan. Adanya masalah kesehatan di Indonesia yang dinamis seiring berjalannya waktu, maka kebijakan kesehatan perlu dinilai kegunaannya apakah masih sesuai dengan masalah kesehatan yang ada. Itulah mengapa diperlukan suatu analisis kebijakan kesehatan. Bagi masyarakat Indonesia yang memiliki keberagaman suku mempengaruhi pelayanan kesehatan, sehingga menganalisis kebijakan yang telah ada diperlukan untuk menilai ada tidaknya konsekuensi yang dihasilkan dari kebijakan tersebut sesudah diimplementasikan. Penilaian yang dilakukan tidak boleh hanya bersifat spekulatif hipotetif, melainkan mesti diuji atau dikeluarkan dengan data atau setidaknya hasil penelitian yang pernah dilakukan. Analisis kebijakan diperlukan juga karena dapat memadukan berbagai informasi kesehatan dari berbagai pihak supaya diperoleh kebijakan yang selaras dan logis. Informasi mengenai isu-isu kesehatan masyarakat yang terbaru perlu menjadi bahan analisa kebijakan agar dapat menentukan isu yang perlu diprioritaskan untuk diatur dalam suatu kebijakan. Dengan latar belakang masyarakat Indonesia yang beragam tersebut, kesehatan masyarakat Indonesia lebih sering diatur oleh budaya yang terbentuk dari nenek moyang dan diwariskan turun temurun, sehingga pada akhirnya seiring pergantian zaman dan tren dunia, budaya tersebut dapat menimbulkan isu kesehatan bagi masyarakat Indonesia. Sehingga dengan adanya analisis kebijakan dapat membuat Pemerintah dan stakeholders lainnya lebih kritis dalam menganalisis isu-isu kesehatan untuk membuat kebijakan mendatang. Dengan kata lain, analisis kebijakan kesehatan bermanfaat agar dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.
    Kebijakan kesehatan dipahami persis sebagai kebijakan publik yang berlaku untuk bidang kesehatan. Kebijakan publik adalah apa pun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan. Kebijakan publik merupakan sekumpulan tindakan untuk memecahkan masalah sosial. Kebijakan kesehatan masuk di dalam salah satu kebijakan publik, karena kesehatan mempengaruhi kualitas hidup setiap orang sebagai makhluk sosial. Kebijakan kesehatan dianalisa menggunakan segitiga kebijakan, yang mengulas tentang unsur-unsur kebijakan kesehatan. Segitiga kebijakan kesehatan merupakan sebuah representasi dari kesatuan kompleksitas hubungan antara unsur-unsur kebijakan (konten, proses, konteks, dan aktor) yang dalam interaksinya saling memberi pengaruh. Segitiga kebijakan bermanfaat untuk dapat secara sistematis menganalisis dan mengetahui tentang berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kebijakan. Pendekatan yang dilakukan melalui segitiga kebijakan memang sesuai untuk sektor kesehatan. Kesehatan pasti akan dipengaruhi oleh berbagai sektor lain, seperti ekonomi, sosial, politik, pembangunan daerah. Namun, sektor kesehatan belum tentu dapat mempengaruhi sektor-sektor tersebut, untuk itulah kebijakan kesehatan menggunakan pendekatan holistik, yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan menitikberatkan tidak hanya pada upaya kuratif dan rehabilitatif namun juga upaya promotif dan preventif. Pendekatan yang dilakukan dengan segitiga kebijakan menggambarkan pendekatan holistik seperti yang sektor kesehatan butuhkan.
    Adapun pendekatan segitiga kebijakan terbagi menjadi tiga, yaitu:
    1. Pendekatan empiris: ditekankan pada penjelasan sebab dan akibat dari suatu kebijakan publik tertentu. Pertanyaan utama bersifat faktual (apakah sesuatu ada) dan informasi yang dihasilkan bersifat deskriptif. Analis dapat mendeskripsikan, menjelaskan, atau meramalkan pengeluaran publik untuk kesehatan, pendidikan, atau jalan-jalan
    raya.
    2. Pendekatan valuatif : ditekankan pada rekomendasi serangkaian tindakan yang akan datang yang dapat menyelesaikan masalah-masalah publik. Pertanyaan berkenaan dengan nilai (berapa nilainya) dan tipe informasi yang dihasilkan bersifat valuatif.
    3. Pendekatan normatif : Pertanyaan dengan pendekatan ini berkaitan dengan tindakan (apa yang harus dilakukan) dan tipe informasi yang dihasilkan bersifat preskriptif (Dunn, 2000).

    Tamara HGS/42160099

    Like

  12. ZILVIA L TAMBENGI June 20, 2018 — 6:20 am

    MANFAAT ANALISIS KEBIJAKAN BAGI KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

    Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan. Kesehatan itu sendiri merupakan keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Sehingga dalam pembangunan kesehatan yang merupakan bagian dari pembangunan nasional, maka dibentuklah kebijakan-kebijakan kesehatan yang diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan dilaksanakan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Oleh sebab itu, perlunya pemahaman hubungan antara kebijakan kesehatan dan kesehatan itu sendiri untuk menyelesaikan masalah kesehatan utama yang terjadi saat ini. Terutama faktor-faktor penentu disektor kesehatan yang dapat meningkatkan kualitas Kesehatan, contohnya salah satu kebijakan dibidang kesehatan adalah Pelayanan Kesehatan yang merupakan suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Kedudukan kesehatan pun penting karena berkaitan dengan hal kematian dan keselamatan. Serta penting juga dalam perekonomian di berbagai negara
    Karena pentingnya suatu kebijakan kesehatan tersebut, maka perlu untuk dilakukan analisis kebijakan yang bertujuan untuk memahami kegagalan dan keberhasilan kebijakan yang sudah ada, memperoleh penjelasan mengenai hasil kebijakan yang akan dicapai, dan piranti untuk membuat model kebijakan di masa depan dan mengimplementasikan dengan lebih efektif. Analisis kebijakan merupakan suatu proses pendekatan multidisiplin ilmu yang terkait dengan situasi dan masalah kebijakan yang muncul. Dan penerapannya dapat dilakukan dalam berbagai bidang.
    Cakupan kebijakan kesehatan adalah segala arah tindakan yang mempengaruhi tatanan kelembagaan, organisasi, layanan dan aturan pembiayaan dalam sistem kesehatan. Kebijakan ini mencakup sektor publik /pemerintah sekaligus sektor swasta. Tetapi karena kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor penentu diluar sistem kesehatan, maka kebijakan kesehatan juga tidak lepas dari perhatian pada segala tindakan dan rencana tindakan dari organisasi diluar sistem kesehatan yang memiliki dampak pada kesehatan (misalnyal: pangan, tembakau atau industri obat, polusi, kemiskinan, dan lain-lain).
    Penetapan kebijakan kesehatan memang rumit dan dinamis. Karena penetapan kebijakan kesehatan meliputi serangkaian komponen, proses, alokasi sumber daya, dan kekuasaan yang kesemuanya memiliki peran masing-masing. Intervensi kekuasaan dan kepentingan politik sering terjadi dalam proses Black Box of Policy Making Process sistem kebijakan. Dengan berbagai karakteristik khasnya, politisasi kesehatan lazim terjadi sehingga kebijakan kesehatan seringkali ditetapkan lebih berdasarkan aspek politis dibanding aspek rasionalitas. Kesehatan seolah menjadi sebuah komoditas yang diperjualbelikan. Tak hanya konteks politik, ekonomi, sosial budaya juga turut mempengaruhi. Menjadi penting karenanya untuk mengetahui bagaimana proses pengembangan kebijakan berlangsung sebagai sebuah sistem dan siklus kebijakan mulai dari formulasi hingga evaluasi.
    Maka manfaat analisis kebijakan kesehatan yang komprehensif guna terjadinya reformasi kesehatan sehingga beberapa pakar mengemukakan pandangannya mengenai proses atau model-model dalam analisis kebijakan. Salah satu pendekatan adalah segitiga kebijakan Walt and Gilson tahun 1994. Pada metode ini, 4 hal yang diperhatikan yaitu konteks, actor, proses, dan isi (konten). Para pelaku dapat dipengaruhi (sebagai seorang individu atau seorang anggota suatu kelompok atau organisasi) dalam konteks dimana mereka tinggal dan bekerja, konteks dipengaruhi oleh banyak faktor. Seperti ketidak stabilan atau ideology, dalam hal sejarah dan budaya, serta proses penyusunan kebijakan, bagaimana isi dapat menjadi menjadi agenda kebijakan, dan bagaimana isu tersebut dapat berharga yang dipengaruhi oleh pelaksana, kedudukan mereka dalam struktur kekuatan, norma dan harapan mereka sendiri. Dan isi dari kebijakan menunjukkan seluruh bagian ini. Segitiga kebijakan dapat bersifat Retrospektif yaitu meliputi evaluasi dan monitoring kebijakan) dan prospektif yaitu memberi pemikiran strategis, advokasi dan lobio kebijakan). Reich dan Cooper (1996) merancang dan memperbarui perangkat lunak untuk membantu peneliti dan pembuat kebijakan menganalisis dimensi politik dari kebijakan publik. Varvasovszky dan Brugha (2000) merancang pedoman untuk melakukan analisis pemangku kepentingan, sebagai bagian dari analisis kebijakan kesehatan. Bossert (1998) mengembangkan pendekatan untuk menganalisa pilihan-pilihan untuk desentralisasi sektor kesehatan. Dan dari setiap pendekatan diatas dapat dipadukan dalam penerapannya dimasyarakat guna untuk analisis kebijakan kesehatan yang mewujudkan hasil yang bermakna dalam pemilihan kebijakan kesehatan.

    Zilvia L Tambengi (42160096)

    Like

Silahkan berkomentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close