lanjut usia bahagia

Suplementasi Antioksidan (Vitamin E dan C) Tidak Meningkatkan Performa Kognitif Lansia di Iran

Demensia didefinisikan sebagai penurunan progresif fungsi kognitif yang terutama terjadi pada lansia. Banyak hal bisa menjadi etiologinya, yang akan memicu penurunan daya ingat, penilaian, pengambilan keputusan, proses belajar, fungsi eksekusi, dan aktivitas mental lainnya. Gejala-gejalanya akan menyebabkan masalah klinis yang bermakna atau gangguan pada fungsi sosial, okupasional, atau sisi kehidupan penting yang lain.

Gangguan kognitif ringan didefinisikan sebagai tahap transisional antara fungsi kognitif normal dan demensia. Penderita gangguan kognitif ringan cenderung berlanjut mengalami penyakit Alzheimer, sekitar sepuluh kali lipat, dibandingkan dengan lansia normal.

Banyak bukti menunjukkan bahwa stres oksidatif memiliki peranan penting dalam patogenesis gangguan kognitif. Stres oksidatif didefinisikan sebagai keadaan dimana aktivitas radikal bebas reaktif melampaui pertahanan sistem antioksidan.

Peningkatan kadar penanda stres oksidatif termasuk malondialdehyde (MDA) dan (8-hydroxydeoxyguanosine) 8-OHdG dan penurunan kadar glutathione (GSH), kapasitas antioksidan total, dan enzim-enzim antioksidan telah dilaporkan ditemukan pada pasien gangguan kognitif ringan. Jaringan otak sangat rentan terhadap kerusakan oksidatif akibat kebutuhan oksigennya untuk metabolisme yang tinggi, rendahnya kadar antioksidan, dan tingginya kandungan asam lemak tak jenuh ganda. Kerusakan oksidatif ini berpengaruh pada gangguan kognitif ringan dan progresinya menjadi penyakit Alzheimer.

Berdasarkan hal-hal tersebut, vitamin antioksidan, termasuk vitamin E, antioksidan penghancur-rantai lipofilik paling poten, dan vitamin C, antioksidan larut air yang poten, diharapkan dapat menurunkan kerusakan neuronal dan meningkatkan performa kognitif pada pasien gangguan kognitif; namun, penelitian-penelitian sebelumnya memberikan hasil yang bertentangan.

Penelitian ini bertujuan menilai efek suplemen antioksidan vitamin E dan C terhadap performa kognitif pada sekelompok lansia laki-laki dan perempuan di Iran. Sebanyak 256 lansia dengan gangguan kognitif, berusia 60-75 tahun, mendapatkan 300 mg vitamin E dan 400 mg vitamin C atau plasebo setiap hari selama satu tahun.

Suplementasi antioksidan menurunkan kadar malondialdehyde (p<0,001) dan meningkatkan kapasitas antioksidan total (p<0,001) dan glutation (p<0,01). Kadar 8-hydroxydeoxyguanosine tidak mengalami perubahan (p<0,4). Setelah melakukan penyesuaian untuk efek-efek kovariat, skor MMSE setelah 6 dan 12 bulan suplementasi tidak berbeda dari kelompok kontrol.

Meskipun terdapat perbaikan pada banyak penanda stres oksidatif, suplementasi antioksidan pada lansia tidak tampak meningkatkan performa kognitif. Banyak faktor lain yang diperkirakan mempengaruhi hasil penelitian ini. Penelitian lebih lanjut dengan alat ukur kognitif yang lebih efisien dan penggunaan antioksidan yang lebih beragam diperlukan untuk mengklarifikasi kemungkinan adanya interaksi antioksidan dengan gangguan kognisi terkait stres oksidatif.

lanjut usia bahagia

Sumber: A. M. Alavi Naeini, I. Elmadfa, A. Djazayery, M. Barekatain, M. R. Aghaye Ghazvini, M. Djalali, A. Feizi. The effect of antioxidant vitamins E and C on cognitive performance of the elderly with mild cognitive impairment in Isfahan, Iran: a double-blind, randomized, placebo-controlled trial. Eur J Nutr. DOI 10.1007/s00394-013-0628-1. 11 December 2013.

Silahkan berkomentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s