kakek bawa cangkul

Lesson Learned from Duta Wacana Seminar for Healthy Ageing (DEMENTIA)

Duta Wacana Seminar for Healthy Ageing

DEMENTIA

Towards Healthy and Active Ageing: Prevention, Diagnosis & Treatment of Degenerative Diseases

HUT Ke-8 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana

Sabtu, 30 September 2017

Ruang Seminar Pdt. Rudi Budiman

Gedung Iama Lt. 3 UKDW

 

Beberapa hal yang dipelajari dari simposium ini:

 

Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc., Ph.D: Terapi Rasional pada Lanjut Usia

  • Lansia sering mengalami polipatologi dan polifarmasi. Sering kabur antara patologi terkait penuaan dengan faktor iatrogenik (antara lain: efek samping obat).
  • Lansia sering dieksklusikan dari uji klinik obat sehingga bukti ilmiah efikasi obat pada lansia sangat terbatas. Pemberian obat seringkali hanya berdasarkan ekstrapolasi dari data yang tidak melibatkan lansia,
  • Obat yang boleh digerus adalah obat yang ada garis belahnya, selain itu tidak boleh digerus.
  • Polifarmasi harus memperhatikan interaksi masing-masing obat.
  • Lansia mengalami penurunan protein dalam darah sehingga akan mempengaruhi kinerja obat-obat (terutama antibiotik) yang terikat protein dalam transportasinya.
  • Minimalkan jumlah obat untuk diberikan pada lansia.
  • Fokuslah pada diagnosis, bukan hanya pada tanda dan gejala.
  • Resepkan obat yang ada tertulis di Formularium Nasional.

Baca juga: Cara Menulis Resep Dokter yang Benar

kakek bawa cangkul

dr. Yudiyanta, Sp.S(K): Pain Management in Elderly

  • Dokter harus memahami dulu filosofi nyeri agar dapat melakukan tatalaksana yang tepat.
  • Jumlah mielin dan akson saraf pada lansia mengalami penurunan.
  • Persepsi nyeri dan ekspresi nyeri umumnya berkurang pada lansia.
  • Dokter harus bisa menilai nyeri dengan tepat. Gunakan Faces Pain Scale atau Verbal/Numeric Rating Scale jika pasien mudah berkomunikasi.
  • Intensitas yang tidak terlalu tinggi tidak perlu diberi antinyeri.
  • Mechanism-based treatment harus menjadi pertimbangan utama pemilihan obat.
  • Hipnoterapi dan aromaterapi dapat dilakukan sebagai terapi non-farmakologi untuk pasien nyeri.
  • NSAID jika sudah dipakai selama 3 hari sebaiknya ditinjau kembali apakah masih diperlukan.
  • Hindari semaksimal mungkin penggunaan opioid. Batasi penggunaannya pada pasien rawat inap dengan nyeri hebat.

Baca juga: Mengoleksi Prangko Sebagai Hobi Antik

dr. Vera, SpPD-KGer: Sindrom Delirium Akut pada Lansia

  • Sindrom Delirium Akut merupakan kondisi gawat darurat.
  • Halusinasi/delusi yang dialami oleh 30% penderita seringkali mengenai orang yang sudah meninggal atau sesuatu yang menakutkan.
  • Gangguan psikomotor bisa hipoaktif (letargi) atau hiperaktif (agitasi). Prognosis lebih baik pada yang hiperaktif karena lebih cenderung segera dibawa ke layanan kesehatan.

dukung dokteryoseph.com

11 thoughts on “Lesson Learned from Duta Wacana Seminar for Healthy Ageing (DEMENTIA)

  1. Berita online yang dipilih :
    Pentingnya Jalan Kaki 10 Menit Sehari bagi Lansia

    Diambil dari :
    http://www.viva.co.id/gaya-hidup/kesehatan-intim/968692-pentingnya-jalan-kaki-10-menit-sehari-bagi-lansia

    Determinan sosial kesehatan yang mempengaruhi dalam berita online tersebut adalah
    1. Usia
    Penurunan aktifitas fisik erat dihubungkan dengan meningkatnya usia seseorang. Hal ini tanpa disadari berdampak langsung pada kesehatan seseorang. Dengan kurangnya aktivitas fisik akan mengakibatkan kurangnya pembakaran energi dalam tubuh yang menyebabkan penumpukkan lemak pada tubuh. Di atas usia 64 tahun, lansia lebih rentan mengalami berbagai masalah kesehatan seperti penyakit saraf, jantung, hingga endokrin.
    2. Waktu
    Lansia yang kurang aktif secara fisik. Beberapa hal yang diduga menjadi penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan tentang manfaat aktivitas fisik, seberapa banyak dan apa jenis aktivitas fisik yang harus dilakukan, terlalu sibuk sehingga tidak mempunyai waktu untuk melakukan olahraga, serta kurangnya dukungan darilingkungan sosial. Pemilihan waktu yang tepat yaitu pagi hari atau sore hari dapat meningkatkan minat lansia untuk beraktivitas fisik. Durasi waktu yang terbaik adalah minimal sepuluh menit sehari sehingga lansia merasa tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat dalam beraktivitas. Dengan berjalan minimal 10 menit sehari dapat membantu lansia dalam membakar energi sehingga terhindar dari penyakit di kemudian hari nanti.
    3. Tangga
    Tangga adalah fasilitas termurah yang mudah dijumpai. Tangga dapat membantu lansia dalam beraktifitas fisik. Tulang, sendi, dan otot saling terkait. Jika sendi tidak dapat digerakkan sesuaidengan ROM-nya maka gerakan menjadi terbatas sehingga fleksibilitas menjadi komponen esensial dari program latihan bagi Lansia. Jika suatu sendi tidak digunakan, maka otot yang melintasi sendi akan memendek dan mengurangi ROM. Latihan fleksibilitas dapat meningkatkan kekuatan tendon dan ligamen,mempertahankan kekuatan otot yang melintasi sendi, mengurangi nyeri pada kasusosteoartritis sehingga ROM bisa dipertahankan. Dengan olahraga naik turun tangga dapat menghindari adanya kondisi saraf dan otot yang pasif. Olahraga ini dapat meningkatkan kekuatan otot, massa otot, perfusi otot, dankecepatan konduksi saraf ke otot.
    4. Eskalator
    Eskalator merupakan fasilitas yang menyebabkan lansia kurang dalam aktivitas fisik. Lansia dapat menaiki lantai atas tanpa ada aktivitas fisik. Dengan kurangnya aktivitas fisik menyebabkan lansia rentan terserang penyakit di kemudian hari.
    5. Kamar tidur
    Pemilihan kamar tidur dilantai 2 dapat memacu olahraga pada lansia. Menurut The Independent, jika lansia memiliki kamar tidur di lantai 2 dan menuruni tangga dengan menggunakan pegangan tangga sendiri dapat mendorong aktvitas fisik lansia seiring bertambahnya usia.
    6. Kursi di bus
    Menurut penelitian oleh Professor dari Oxford Sir Muir Gray yang merupakan penasihat klinis untuk Kesehatan Masyarakat Inggri, dengan kita memberikan atau mempersilahkan lansia untuk duduk menyebabkan lansia tidak beraktifitas fisik. Berdiri di dalam bus merupakan salah satu aktivitas fisik yang bagus bagi lansia.

    Like

  2. Judul berita online:
    Dokter Jiwa: Lansia Rentan Depresi (01 Agustus 2017, 11:30 WIB)

    Diambil dari :
    Liputan6.com
    http://health.liputan6.com/read/3042451/dokter-jiwa-lansia-rentan-depresi diakses pada tanggal 25 November 2017, 20:00 WIB

    Determinan sosial kesehatan yang terlibat dalam berita yang saya pilih, yaitu:

    Usia
    Kecenderungan mengalami depresi meningkat sejalan bertambahnya usia. Kaum lansia merupakan salah satu kelompok orang yang rentan mengalami depresi sepanjang hidupnya. Sekitar 1-5% populasi lansia mengalami gangguan depresi. Angka ini bertambah besar sampai 13.5% pada lansia yang mengalami gangguan medis dan harus mendapatkan perawatan di rawat inap. Kondisi depresi pada pasien lansia banyak dihubungkan dengan kebugaran fisiknya, dimana mereka cenderung untuk mengalami masalah – masalah kesehatan yang lebih menetap dan berpotensi untuk menimbulkan ketidakmampuan. Kebanyakan lansia memiliki satu atau lebih keadaan atau ketidakmampuan fisik yang kronis. Seorang lansia yang mengalami masalah kesehatan kronik yang paling sering adalah artritis, hipertensi, gangguan pendengaran, penyakit jantung, katarak, deformitas atau kelemahan ortopedik, sinusitis kronik, diabetes, gangguan penglihatan, varicose vein lebih rentan mengalami depresi.
    Menurut Tedy Hidayat yang merupakan salah satu anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, orang yang berusia 60 tahun ke atas (lansia) rentan terpapar gangguan jiwa. Gangguan jiwa yang sering terjadi terhadap lansia, yaitu depresi dan yang kedua adalah demensia atau pikun.

    Pekerjaan
    Lansia yang mengalami depresi berhubungan dengan status pekerjaan, dimana dulunya menduduki jabatan bahkan dihormati namun sekarang tidak ada lagi yang menyapa dia. Hal ini sering menyebabkan orang tua merasa sedih. Mereka merasa kehidupan sudah banyak berubah. Akibatnya mereka banyak berpikir dan justru sakit. Kondisi ini sering terjadi pada orang tua yang awalnya memiliki pekerjaan rutin dan penghasilan yang lumayan besar.

    Sifat
    Ketika orang tua merasa bahwa usia mereka sudah tidak lama lagi, sakit dan kondisi lain yang lebih buruk, maka bisa membuat mereka merasa tidak memiliki harapan yang baik, yang pada dasarnya mereka kehilangan semangat hidup. Depresi pada usia lanjut biasanya memiliki sifat berupa hilangnya kepercayaan diri, diikuti dengan peningkatan emosi, iritabel, perasaan agresif, perasaan sedih dan murung yang lebih buruk di pagi hari, menangis tiba-tiba tanpa alasan jelas dan adanya penyesalan karena apa yang dilakukan belum sebaik yang dibayangkan. Selain itu, merasa hidupnya tak bermakna karena belum melakukan hal yang berarti.

    Perilaku
    Menurut WHO (World Health Organization) depresi merupakan suatu gangguan mental umum yang ditandai dengan mood tertekan, kehilangan kesenangan atau minat, perasaan bersalah atau harga diri rendah, gangguan makan atau tidur, kurang energi, dan konsentrasi yang rendah. Beberapa perilaku lansia yang terpapar gangguan jiwa, berupa depresi yaitu sering marah tanpa sebab setiap harinya, berpandangan negatif terhadap suatu masalah dan menyalahkan orang lain, berkurangnya perawatan diri seperti perawatan diri dan makan, menarik diri dari lingkungan sosial, kerja atau kegiatan santai, dan peningkatan penggunaan obat-obatan.

    Keadaan Ekonomi
    Depresi yang dialami lansia biasanya berhubungan juga dengan pensiun, dimana pendapatan mereka menjadi berkurang. Bayangan diri menjadi seorang lansia yang tak berdaya karena tak bisa membiayai hidup sendiri akan menjadi tekanan dan mengakibatkan depresi.

    Jejaring Sosial
    Interaksi sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan peran di kehidupan sosial ternyata berkontribusi dalam menyebabkan bahkan mencegah terjadinya depresi pada lansia. Tidak memiliki peran di kehidupan sosial membuat seorang lansia terpuruk karena merasa tak dibutuhkan dan tak dirasakan keberadaannya. Para lansia yang tinggal sendiri tanpa ada interaksi sosial akan memperbesar peluang terkena depresi. Perceraian, kematian pasangan, tidak menikah dan atau tidak adanya kerabat keluarga yang dekat dapat memicu terjadinya depresi.

    Kebijakan Publik
    Dengan adanya berbagai masalah tersebut, maka sudah saatnya pemegang kebijakan membuat program kota ramah untuk lansia, agar mereka merasa diakui keberadaannya dan akan membantu untuk meningkatkan kualitas hidup para lanjut usia, serta akan membuat mereka lebih menikmati kehidupan mereka. Selain itu, sebaiknya pemerintah provinsi memberikan anggaran yang layak untuk kesehatan jiwa, walaupun kesehatan jiwa bukan termasuk dalam tujuh prioritas pembangunan Jawa Barat.

    Like

  3. Judul berita online : Kalangan Lansia Rawan Hipertensi dan Diabetes. Diambil dari : http://www.beritasatu.com/kesehatan/362775-kalangan-lansia-rawan-hipertensi-dan-diabetes.html

    1. Keturunan
    Faktor keturunan memang selalu memainkan peranan penting dari timbulnya suatu penyakit yang dibawa oleh gen keluarga. Bila salah satu anggota keluarga atau orang tua memiliki tekanan darah tinggi/diabetes, maka anak pun memiliki resiko yang sama dan bahkan resiko tersebut lebih besar dibanding yang diturunkan oleh gen orang tua.

    2. Usia
    Usia juga mempengaruhi tekanan darah seseorang, semakin bertambahnya usia maka tekanan darah pun akan semakin meningkat. Usia semakin tua juga menyebabkan lebih mudahnya terkena diabetes. Dalam penyakit hipertensi/diabetes usia berperan dalam menimbulkan munculnya penyakit hipertensi/diabetes karena dengan semakin bertambahnya usia maka semakin menurun pula fungsi kerja tubuh dan organ tubuh. sehingga akan memudahkan munculnya berbagai macam penyakit pada tubuh. Namun usia yang semakin tua pun tekanan darah/diabetes dapat dikendalikan dengan tetap menjaga pola asupan makan, rajin berolahraga dan melakukan pemeriksaan rutin tekanan darah/gula.

    3. Garam
    Garam mempunyai peluang yang sangat besar dalam meningkatan tekanan darah secara cepat. Ditambah pada mereka yang sebelumnya memiliki riwayat terhadap penyakit diabetes, hipertensi ringan dan mereka yang berusia diataas 45 tahun.

    4. Makanan tinggi kolesterol
    Kolesterol yang identik dengan lemak berlebih yang tertimbun pada dinding pembuluh darah.  Makanan yang banyak mengandung minyak akan menyebabkan meningkatnya atau menebalnya lapisan lemak pada tubuh yang akan membuat pembuluh darah menyempit, sedangkan kolestrol yang ada pada saluran darah dapat meenempel pada dinding – dinding pembuluh darah dan menjadi plak. jika plak tersebut tidak segera ditangani maka akan menimbulkan penumpukan plak dalam pembuluh darah dan pada akhirnya akan terjadi penyumbatan. jika hal itu samapi terjadi maka tekanan darah pun akan  meningkat. dan jika sumbatan tersebut sudah maksimal akan membuat pembuluh darah menjadi pecah.

    5. Gula
    Mengkonsumsi gula yang berlebihan dapat mempermudah terkena diabetes mellitus.

    6. Obesitas
    Seseorang yang memiliki berat tubuh berlebih atau kegemukan merupakan peluang besar terserang penyakit hipertensi. Obesitas atau kelebihan berat badan juga sangat mempengaruhi karena jika seseorang mengalami obesitas maka lapisan lemak pada kulit akan menebal dan akan menyebabkan saluran pembuluh darah menyempit sehingga tekanan darah akan menjadi menngkat. hal ini lah yang akan menyebabkan terjadinya penyakit hipertensi pada seseorang yang sudah lanjut usia.

    7. Stress
    stress akibat banyak pekerjaan banyak diderita oleh seseorang. hal itu akan berdampak buruk bagi tubuh, karena otak tidak dapat bekerja dengan baik. karena kinerja otak juga dipengaruhi oleh tekanana darah. jika kita mengalami hipertensi akan membuat kita berfikir tidak jernih. ketika stres, tubuh akan memompa keluar hormon stres (kortisol). Hormon ini meningkatkan detak jantung dan kecepatan pernapasan. Hormon ini juga mengirim glukosa ke dalam darah untuk mengubahnya menjadi energi bagi otot Anda. Hasilnya, kadar gula darah akan lebih tinggi.

    8. Rokok
    Kandungan nikotin dan zat senyawa kimia yang cukup berbahaya yang terdapat pada rokok juga memberikan peluang besar seseorang menderita hipertensi /diabetes terutama pada mereka yang termasuk dalam perokok aktif. Tak hanya mengkibatkan hipertensi/diabetes, zat rokok yang terhirup dan masuk ke dalam tubuh akan meningkatkan resiko pada penyakit serangan jantung dan stroke.

    9. Kafein
    Kafein banyak terdapat pada kopi,teh dan minuman bersoda. Kopi dan teh jika dikonsumsi melebihi batasan normal dalam penyajian akan mengakibatkan hipertensi. sebenarnya kopi memiliki manfaat yang baik bagi tubuh terutama bagi pria dewasa dalam hormon seksualnya, begitu pula dengan teh mengandung antioksidan yang sangat baik dan diperlukan oleh tubuh. Untuk itu batasi asupan minum kopi dan teh minimal 1 cangkir = 100ml.

    10. Minuman beralkohol
    Minuman beralkohol seperti bir, wiski, minuman yang dibuat dari ragi, tuak dsb. Minuman alkohol ini juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi/diabetes.

    11. Aktivitas
    Kurangnya aktivitas fisik seperti olahraga membuat organ tubuh dan pasokan darah maupun oksigen menjadi tersendat sehingga meningkatkan tekanan darah. Kurang beraktifitas juga salah satu penyebab pada lanjut usia. hal itu dikarenakan jika kita tidak beraktifitas maka aliran darah dalam tubuh akan mudah membeku karena proses metabolisme yang kurang. kurang beraktifitas juga dapat menyebabkan pembuluh darah kehilangan elastisitasnya dan akan menjadi kaku. jika pembuluh darah menajdi kaku maka dapat menyebabkan pembuluh darah itu akanmudah pecah. Kurangnya aktivitas fisik juga mempermudah terjadinya diabetes. Dengan melakukan olahraga teratur sesuai dengan kemampuan dapat menurunkan tekanan darah tinggi/diabetes.

    – Kendaraan bermotor
    Adanya kendaraan bermotor menyebabkan berkurangnya aktivitas fisik seseorang. Dimana sebenarnya lebih bagus bila menggunakan sepeda / jalan kaki bila jarak tidak jauh.

    – Eskalator / lift
    Adanya escalator / lift membuat orang menjadi kurang beraktivitas.

    – Tidak tersedianya jalan yang nyaman untuk pejalan kaki
    Lingkungan yang ramai / polusi / kotor menyebabkan seseorang menjadi malas untuk berjalan kaki.

    12. Program dari pelayanan kesehatan (prolanis)
    Program yang bila tidak dikelola dengan baik maka tidak akan bisa memberikan informasi serta manfaat untuk orang-orang yang sudah atau beresiko hipertensi dan diabetes.

    Like

  4. Berita online yang dipilih: DINAS SOSIAL KABUPATEN MALANG SALURKAN BANTUAN BAGI 50 LANSIA TERLANTAR

    Diambil dari : http://m.jatimtimes.com/baca/161552/20171110/195804/dinas-sosial-kabupaten-malang-salurkan-bantuan-bagi-50-lansia-terlantar/

    Determinan sosial kesehatan yang mempengaruhi dalam berita online tersebut menurut saya adalah:
    1. Usia
    Semakin bertambahnya usia seseorang umumnya menunjukkan tingkat kematangan yang semakin bertambah, namun hal tersebut umumnya berbanding terbalik apabila seseorang sudah memasuki usia 65 tahun. Penurunan aktivitas fisik dan penurunan kemampuan lansia untuk berkonsentrasi merupakan hal yang wajar. Sehingga umumnya lansia selalu mengurangi aktifitas fisik mereka dan justru sering menghabiskan waktu bersama keluarga mereka. Dan umumnya pada usia senja lansia cenderung lebih gampang terkena penyakit dikarenakan daya tahan tubuh mereka yang semakin menurun. Dimulai dari flu hingga hipertensi sehingga pada usia senja orang cenderung lebih sering berobat ke dokter.
    2. Pekerjaan
    Memilikii pekerjaan pada usia senja merupakan hal yang bagus untuk diterapkan menurut saya, meskipun pekerjaan yang dilakukan oleh lansia tersebut tidak berfokus kepada mencari keuntungan. Hanya untuk memberikan kesibukan kepada lansia tersebut dan dapat menghasilkan uang meskipun tidak sebanyak uang yang dapat dihasilkan oleh lansia tersebut sewaktu muda dikarenakan keterbatasan fisik dimana lansia mudah merasa lelah.
    3. Pola hidup & Kesehatan
    Sewaktu lansia tersebut masih muda apakah dia biasa melakukan aktivitas fisik yang berat, berolahraga secara teratur, memakan sayur dan buah yang cukup, menghindari rokok dan minuman beralkohol atau justru sebaliknya. Karena apapun yang dilakukan oleh lansia tersebut saat muda akan berdampak terhadap kualitas hidupnya semasa tua. Apabila lansia tersebut selalu berolahraga, menghindari rokok dan minum-minuman beralkohol serta memakan cukup sayur dan buah maka pada saat tua umumnya mereka masih sehat dan masih bisa beraktivitas secara mandiri. Pola hidup tentu memiliki pengaruh yang sangat erat dengan kesehatan lansia tersebut disaat ini. Rata-rata lansia yang masih aktif dan sehat pada usia diatas 65 tahun selalu menjaga pola hidup mereka semenjak masih muda sehingga mereka dapat menikmati hidup hingga usia senja.
    4. Sikap
    Bagaimana cara lansia tersebut memandang pola hidupnya sehari-hari sangat berpengaruh terhadap aktivitasnya. Orang yang optimis cenderung untuk selalu semangat memulai harinya, sehingga pola tersebut terbawa hingga orang tersebut berusia senja (menjadi lansia). Namun orang yang selalu berpikir pesimis umumnya tidak ingin berusaha lebih jauh, mereka hanya melakukan segala sesuatu sesuai kemampuan mereka. Cenderung merasa cepat puas dan tidak ingin keluar dari zona nyaman mereka. Sehingga umumnya lansia yang memiliki sikap pesimis selalu lebih tertutup dan cenderung enggan bersosialisasi bahkan dengan sesama teman lansia mereka. Sedangkan lansia yang memiliki sikap optimistik cenderung selalu ingin berkembang meskipun mereka sadar bahwa usia mereka tidak muda kembali, mereka selalu terbuka dengan hal-hal baru dan selalu ingin bersosialisasi dengan orang-orang disekitar mereka.
    5. Keadaan ekonomi
    Lansia dengan kondisi ekonomi yang baik cenderung memiliki kualitas hidup yang baik, dikarenakan mereka dapat melakukan apa yang mereka mau tanpa harus bergantung dengan orang lain seperti anak mereka. Mereka dapat membelikan mainan untuk cucu mereka, menghabiskan waktu dengan teman mereka, bahkan berlibur dengan teman sebayanya atau dengan keluarga mereka. Namun lansia dengan kondisi ekonomi yang cukup terbatas tidak dapat memiliki kebebasan seperti itu, mereka dengan kondisi ekonomi yang terbatas cenderung sangat bergantung dengan orang lain. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang, papan dan pangan.
    6. Keluarga
    Kedekatan individu dengan anggota keluarga tentu menjadi faktor yang akan menentukan apakah akan ada anggota keluarga yang merawat lansia tersebut atau tidak. Semakin dekat hubungan lansia tersebut saat muda dengan individu tersebut tentu akan menjadi faktor yang mempererat tali kekeluargaan mereka. Apabila seorang ayah dan ibu sangat memperhatikan anaknya dan mendidik anaknya dengan baik semenjak kecil maka akan kecil kemungkinan anak tersebut akan menelantarkan orang tuanya disaat usia senja mereka. Lain cerita bila orang tua tersebut sangat menyayangi anak mereka namun tidak mendidik anak mereka dengan baik dengan terlalu memanjakannya, sehingga anak tersebut akan tumbuh menjadi pribadi yang egois.

    Like

  5. Judul artikel : Gaya Hidup Pengaruhi Kesehatan Lansia. Diambil dari :

    http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/17/11/07/oz1gjx284-gaya-hidup-pengaruhi-kesehatan-lansia

    determinan sosial kesehatan yang terlibat dalam berita yang di pilih,yaitu:
    • Menjaga pola makan yang seimbang dan terukur.
    o Hal ini sangat perlu diperhatikan karena, mengingat banyak sekali keluhan – keluhan kesehatan yang mengarah ke pola makan yang seimbang dan terukur. Contoh nya seperti penyakit DM (diabetes melitus), hipertensi, dan penyakit jantung. Menjaga pola makan yang seimbang bisa dengan cara mengontrol jumlah kalori yang masuk dan keluar setiap harinya dan dengan porsi atau kebutuhan yang disesuaikan dengan aktivitas seharian dari para lansia tersebut. Menjaga pola makan yang seimbang bisa juga dengan memakan makanan yang sejenis setiap harinya dan mengingat makanan apa saja yang sudah dimakan sebelumnya. Baik menunya dan jumlah yang dihabis kan dalam sekali makan.
    • Beraktivitas atau berolahraga
    o Beraktivitas atau berolah raga juga sangat penting untuk lansia. Selain menambah kebugaran, berolah raga juga penting untuk mencegah otot – otot pada lansia menjadi atrofi. Jenis olah raga pada lansia tidak sama dengan jenis olah raga pada umumnya. Olahraga yang yang sering dipraktekkan oleh lansia merupakan jenis olahraga yang ringan dan aman. Contohnya senam ( senam lansia) dan renang. Berenang seringkali di referensikan sebagai olahraga yang aman karena terhindar dari resiko jatuh yang tinggi dan baik untuk lansia yang terkena osteoporosis karena terhindar dari resiko jatuh yang dapat menyebabkan fraktur. Beraktivitas juga dapat di praktekan, seperti jalan pagi atau tetap menyibukkan diri dengan kegiatan rutinitas sehari – hari.
    • Aktif dalam berinteraksi sosial dan lingkungan
    o Para lansia juga harus berperan aktif dalam kehidupan sosial sehari – hari, seperti mengikuti kegiatan – kegiatan dengan lansia – lansia yang lain contohnya senam lansia, prolanis, posyandu lansia jika daerahnya terdapat fasilitas. Selain itu para lansia juga harus sering berinteraksi dengan lingkungan disekitarnya hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan psikologis pada lansia yang sering terjadi akubat kurangnya berinteraksi dengan sekitarnya. Contoh – contoh gangguan psikologis yang sering terjadi pada lansia bisa berupa depresi, gangguan cemas, dementia dll.
    • Pemeriksaan rutin baik pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang
    o Banyak keluhan – keluhan pada lansia yang diakibatkan oleh karena penuaan. Sehingga sangat penting sekali dilakukan pemeriksaan – pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang rutin dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit – penyakit yang datang bersifat dadakan, seperti serangan jantung dan stroke. Selain pencegahan, pemeriksaan rutin bisa digunakan untuk pemantauan berkala jika lansia tersebut sudah terkena penyakit akibat gaya hidup contohnya DM ( diabetes melitus ). Selain pemantauan, pemeriksaan rutin juga diperlukan untuk tolok ukur pemberian obat – obat pada lansia yang mungkin akan memberikan efek samping lebih jika diberikan pada lansia.
    • Membatasi kegiatan – kegiatan instan
    o Saat ini gaya hidup yang cenderung serba instan menjadi tren. Gaya hidup serba instan ini juga mempengaruhi lansia, contohnya penggunaan lift dan eskalator yang dapat mengurangi aktivitas gerak tubuh. Hal ini mungkin sangat membantu orang tersebut dalam memenuhi kebutuhannya. Akan tetapi hal ini juga berakibat buruk karena turun nya aktivitas fisik yang berakibat terjadinya penyakit gaya hidup atau penyakit tidak menular. Sehigga mengurangi hal – hal instans juga akan saat berpengaruh pada kebugaran tubuh. Pada lansia hal ini tentu akan sangat membantu mengingat lansia sangat perlu adanya aktivitas fisik sehari – hari yang akan membantu mencegah terjadinya kontraktur pada lansia jika ada salah satu anggota tubuhnya jarang digerakkan. Membatasi kegiatan – kegiatan instan juga terbatas batas pada lansia, contohnya jika lansia tersebut menaiki tangga terlalu jauh atau terlalu berlebih akan menambah keluhan kesehatan yang akan dialami oleh lansia. Contoh sederhana yang bisa diterapkan dalam mengurangi aktivitas instan sehari – hari adalah menyimpan remote tv. Mengapa, karena hal ini akan menambah aktivitas keseharian lansia dengan cara berjalan kaki menuju tv dan mengubah chanel secara manual. Hal ini tentu akan membuat lansia tersebut terhindar dari pengurangan aktivitas berlebih dikala bersantai dirumah.

    Like

  6. Berita online yang dipilih :
    Kurang Gizi Bagi Lansia, Bisa Picu Stroke

    Diambil dari:
    http://m.suara.com/health/2016/06/05/124339/kurang-gizi-bagi-lansia-bisa-picu-stroke

    Stroke adalah penyakit gangguan fungsional otak fokal maupun global akut dengan gejala dan tanda sesuai bagian otak yang terkena, yang sebelumnya tanpa peringatan, dan yang dapat sembuh sempurna, sembuh dengan kecacatan atau kematian akibat gangguan aliran darah ke otak karena perdarahan ataupun non perdarahan.

    Determinan sosial kesehatan kejadian stroke pada berita :
    1. Host
    • Jenis Kelamin
    Pria lebih berisiko terkena stroke daripada wanita, namun wanita lebih banyak meninggal karena stroke. Prevalensi stroke pada wanita meningkat pada usia 50 tahun ke atas dan pada masa menopause. Naiknya faktor risiko penyakit kardiovaskuler pada wanita berhubungan terhadapnya menurunnya kadar estrogen pada saat menopause.
    • Gaya hidup
    a. Status gizi : kekurangan gizi sejak masa kanak-kanak dalam jangka panjang berisiko mengidap penyakit degenerative, seperti hipertensi, diabetes, jantung koroner hingga stroke. Apabila seseorang kurang gizi sejak kecil, bukan hanya otaknya saja yang mengalami degenerasi, tetapi organ bagian dalam juga terpengaruh, dalam jangka waktu beberapa tahun kemudian. Kekurangan gizi terjadi ketika seseorang tidak memenuhi gizi lengkap dan seimbang yang dibutuhkan tubuh. Misalnya pola makan lebih banyak karbohidrat dalam seporsi piring dibandingkan asupan sayur, buah, protein, lemak, dan vitamin, dan mineral. Asupan tinggi lemak dapat memicu kenaikan kadar kolesterol dalam darah. Status
    b. Perilaku merokok : hal ini berkaitan erat dengan zat lemak (aterosklerosis).
    c. Aktivitas fisik : kurangnya olahraga berkaitan erat dengan turunnya HDL, meningkatkan tekanan darah, dan resistensi insulin yang akhirnya dapat berujung pada stroke.
    • Budaya
    Budaya dalam suatu daerah atau negara akan mempengaruhi gaya hidup masyarakat.
    • Tingkat pendidikan
    Tingkat pendidikan diduga berkaitan dengan kesadaran berperilaku hidup sehat.
    • Tingkat pendapatan
    Masyarakat dengan tingkat ekonomi dan berpendapatan rendah biasanya lebih rentan menderita gizi buruk. Hal tersebut bisa terjadi karena orang dengan tingkat ekonomi rendah sulit untuk mendapatkan makanan dengan nilai gizi yang bisa dibilang layak.
    • Stress
    Stress merupakan pemicu terjadinya hipertensi yang akhirnya mempengaruhi jantung dan otak. Secara psikologis, stress dapat disebabkan karena kurang tidur, masalah pribadi, pekerjaan, dan keuangan. Dalam hubungannya dengan stroke, stress memicu produksi hormon kortisol dan adrenalin semakin tinggi, sehingga menyebabkan peningkatan jumlah trombosit dan kolesterol.

    2. Agen
    • Unsur nutrisi
    Kelebihan zat gizi seperti tingginya kadar kolesterol, kadar gula, dan lemak dalam tubuh dapat menimbulkan stroke. Hal ini berkaitan dengan timbulnya beberapa penyakit stroke, seperti DM, hipertensi, obesitas, dan penyakit jantung.
    • Unsur kimiawi
    Zat-zat karsinogenik yang terus menerus terakumulasi dalam tubuh juga merupakan satu faktor penyebab penyakit stroke. Misalnya, penggunaan alkohol, rokok, obat-obatan terlarang yang mengandung bahan kimia berbahaya bagi tubuh, yang akan mempercepat seseorang terkena penyakit stroke.

    3. Lingkungan
    • Lingkungan fisik, berupa iklim, geografi yang mempengaruhi gaya hidup masyarakat.
    • Lingkungan biologis, misalnya kepadatan penduduk, flora (sebagai sumber bahan makanan), dan fauna (sebagai sumber protein).
    • Lingkungan sosial, berupa pelayanan kesehatan, dukungan sosial, migrasi/urbanisasi, lingkungan kerja, keadaan perumahan, keadaan sosial masyarakat (kekacuan, bencana alam, perang, dan banjir).
    Misalnya masalah urbanisasi, perpindahan masyarakat desa ke kota, yang semula gaya hidupnya sederhana dengan pola makan yang sehat, tentu akan berubah mengikuti gaya hidup masyarakat kota yang cenderung lebih mewah dan serba instan.
    Pelayanan kesehatan juga menunjang derajat kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan dibutuhkan sebagai pelaksana upaya preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif suatu penyakit, khususnya penyakit degeneratif. Upaya promotif dan preventif sangat penting, terutama terkait dengan gaya hidup.
    Dukungan sosial terutam yang berasal dari keluarga atau kerabat terdekat sangat penting pada pasien dengan penyakit degeneratif, terlebih lansia. Dukungan sosial dapat membantu seseorang mempunyai gaya hidup yang sehat, seperti perubahan untuk mempunyai pola makan gizi seimbang, menghentikan kebiasaan merokok dan penggunaan zat kimia berbahaya lainnya, melakukan aktifitas fisik yang menunjang kesehatan. Dukungan sosial juga dapat menurunkan stress di usia tua, sehingga dapat menurunkan faktor risiko terjadinya stroke.

    Like

  7. Berita diambil dari laman https://satelitpost.com/regional/banyumas/lansia-butuh-jaminan-prospek-kesehatan yang berjudul “Lansia Butuh Jaminan Prospek Kesehatan” yang diterbitkan pada tanggal 5 November 2017.

    Determinan sosial kehatan yang berpengaruh dalam berita tesebut antara lain :

    1) Usia lanjut
    Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin bertambahnya waktu, usia manusia juga bertambah dan menjadi tua. Di Indonesia, seseorang dikatakan lanjut usia ketika usianya menginjak 65 tahun ke atas. Seiring bertambahnya usia manusia, maka semakin menurun juga fungsi-fungsi organ tubuhnya. Ditambah lagi gaya hidup yang kurang baik di masa kini. Banyak makanan yang diproses dan dikonsumsi tanpa memperhatikan dampak kesehatan, seperti contohnya makanan yang dibuat dengan banyak bahan tambahan berbahaya berupa perasa buatan, pemanis buatan, pewarna tekstil, pengawet jenazah, dan bahan tambahan berbahaya lainnya. Belum lagi ditambah dengan aktifitas yang bisa saja berlebihan atau malah kurang. Aktifitas berlebihan seperti halnya bekerja dengan jam kerja yang sangat lama (lebih dari 8 jam sehari), dengan tenaga yang melampaui batas, dan kurang istirahat. Kurangnya aktifitas fisik sering kali menjadi permasalahan yang banyak pada lansia. Keterbatasan fisik yang ada membuat lansia kesulitan untuk bergerak. Hal inilah yang semakin membuat lansia mengalami masalah kesehatan terutama gangguan metabolik.

    2) Pertumbuhan populasi
    Pertumbuhan populasi berjalan seiring dengan perkembangan pembangunan serta kesejahteraan dan jaminan kesehatan yang semakin membaik. Sebagai hasilnya, kelompok usia lanjut semakin bertambah pula. Dari tahun 2004, kelompok usia lanjut memiliki rata – rata usia 68,6 tahun dan pada tahun 2015 sudah meningkat menjadi 70,8 tahun. Masih menurut Donal Pardede, penurunan angka kelahiran akan meningkatkan angka usia harapan hidup. Dari total jumlah warga Indonesia saat ini, 28% di antaranya sudah termasuk kelompok lansia. Tantagan terbesarnya, sebanyak 55% di antaranya berasal dari rumah tangga dengan tingkat ekonomi rendah. Badan pusat statistik telah memprediksi peningkatan kelompok lansia. Pada tahun 2013 sebanyak 27,1 jiwa, tahun 2025 diprediksi sebanyak 33,7 jiwa, dan di tahun 2030 sebanyak 50 juta jiwa. Akibatnya, rasio ketergantungan lansia terus meningkat. Sementara pada saat yang sama potensial support menurun.

    3) Batasan usia produktif di Indonesia
    Batasan usia produktif di Indonesia adalah 65 tahun. Setelah melewati usia tersebut maka seseorang akan dihentikan masa pengabdian bekerjanya bagi negara. Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi masyarakat dan menjadi beban untuk negara. Setelah berhenti bekerja maka pemenuhan ekonomi sesorang hanya dapat bergantung pada uang pensiunan, uang pesangon, bantuan pemerintah, ataupun bantuan dari sanak keluarganya. Berbeda dengan negara jepang yang kini tengah meningkatkan usia lansia pada warganya. Di Jepang, masa produktif warganya dibatasi sampai usia 75 tahun. Hal tersebut diungkapkan oleh Senior Advisor for Health Economic Ministry of Health Republic Indonesia, Donal Pardede, saat menjadi pembicara dalam kegiatan ICHS (International Conference In Health Sciences), yang digelar oleh Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Jendral Soedirman (Fikes Unsoed) Purwokerto di Hotel Java Herritage, Sabtu 4 November 2017. Menurut Donal, jika umur harapan hidup begitu panjang, akan banyak yang bekerja untuk negara dan negara hanya akan membiayai setengah dari yang ada saat ini, termasuk biaya jaminan kesehatan.

    4) Pekerjaan
    Pekerjaan seseorang di masa lampau juga mempengaruhi apa yang terjadi di masa tuanya. Hal ini berkaitan dengan tingkat ekonomi dan jaminan kesehatan yang dimilikinya. Apabila seseorang dulunya bekerja secara formal dan mendapat gaji yang cukup serta mendapatkan jaminan kesehatan dari kantor atau perusahaan di mana ia bekerja maka ia dapat menabung dan mempersiapkan masa tuanya dengan lebih baik. Berbeda dengan orang yang bekerja tidak formal seperti buruh harian lepas, pekerja serabutan, dan pekerjaan lain yang menghasilkan penghasilan pas – pasan sehingga ia tidak bisa menabung. Biasanya seseorang yang bekerja secara tidak formal juga tidak mendapatkan jaminan kesehatan dari tempat ia bekerja. Maka dari itu untuk mendapatkan jaminan kesehatan mereka akan mendapatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dibiayai penuh oleh pemerintah. Lagi – lagi ini menjadi beban ekonomi untuk pemerintah Indonesia.

    5) Akses Kesehatan
    Seperti yang diungkapkan di atas, pekerjaan di masa lalu seseorang berkaitan erat dengan tingkat ekonominya. Tingkat ekonomi juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengakses fasilitas kesehatan. Seseorang dengan ekonomi menengah ke atas akan dapat mengakses fasilitas kesehatan yang lebih baik dan lebih lengkap serta terpadu, begitu pun sebaliknya dengan orang yang memiliki tingkat ekonomi menengah kebawah hanya dapat mengakses fasilitas kesehatan dengan terbatas. Contohnya seserorang dengan tingkat ekonomi baik ketika sakit maka ia akan bisa langsung berobat ke rumah sakit, ditangani oleh dokter spesialis, dan mendapatkan pengobatan serta perawatan yang baik. Berberda dengan seseorang yang memiliki tingkat ekonomi rendah, apalagi pemegang KIS, ia hanya bisa mengakses fasilitas kesehatan tingkat 1, apabila memenuhi kriteria barulah ia dirujuk. Apabila harus dilakukan rawat inap, maka ruang rawat inap yang disediakan adalah kelas 3 dan jumlahnya terbatas. Lansia juga menjadi kelompok orang yang sulit untuk mengakses fasilitas kesehatan. Walaupun orang tersebut berada pada tingkat ekonomi yang baik, keterbatasan fisik seringkali membuat para lansia kesulitan untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan karena mereka harus diantar dan ditemani. Kesulitan mencari waktu yang tepat dari teman sang lansia ini yang menjadi masalah.

    Like

  8. Judul berita online : Lansia di Yogyakarta Hampir 40 Ribu Orang, Sebagian Terlantar
    https://news.okezone.com/read/2015/06/07/510/1161584/lansia-di-yogyakarta-hampir-40-ribu-orang-sebagian-terlantar

    Determinan sosial kesehatan yang terlibat dalam berita tersebut diatas adalah :

    – Ekonomi atau pendapatan
    Meningkatnya kasus penelantaran lansia adalah salah satunya ekonomi atau pendapatan uang yang rendah atau bahkan tidak mempunyai biaya sama sekali untuk menghidupi diri sendiri. Untuk mendapatkan suatu fasilitas atau suatu kebutuhan baik itu untuk sandang, pangan , papan ataupun kesehatan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jika seorang lansia tidak mempunyai ekonomi yang kuat atau stabil untuk mengurusi dirinya sendiri baik itu dari pihak lain atau didapatkan sendiri dengan cara bekerja, maka lansia tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhannya dan memperbaiki kesehatannya dengan baik dan kehidupannya akan terlantar. Salah satu yang dapat dilihat dalam masalah ekonomi ini adalah apakah lansia tersebut mendapatkan kiriman uang hidup atau mendapatkan uang hidup yang sekiranya dapat mendukung kehidupan lansia tersebut.
    – Usia
    Usia yang sudah lanjut membuat keterbatasan fisik yaitu tubuh pada lansia tidak lagi sanggup untuk bekerja keras seperti pada saat usia muda, sehingga hal tersebut membuat lansia hanya dapat melakukan segala sesuatunya dengan keterbatasan. Selain itu pekerjaan juga mencantumkan batasan usia sebagai salah satu syarat untuk dapat ikut bekerja. Jadi jika hal tersebut tidak dapat dipenuhi maka lansia tidak dapat secara mandiri mengurusi kesehatan dan kehidupan sosialnya dengan baik. Karena keterbatasan yang ada seperti pada usia lansia tersebut membuat usia produktif lebih diperhitungkan dan lebih banyak di daya gunakan sehingga hal tersebut membuat lansia ditelantarkan dan kurang diberi kesempatan.
    – Ketiadaan Keluarga
    Usia lanjut membutuhkan perawatan yang lebih dibandingkan dengan usia muda. Hal tersebut menuntut anggota keluarga yang memiliki usia lebih muda baik itu anak atau sanak sodaranya dapat merawat lansia tersebut. Baik merawat kesehatannya dan merawat kondisi sosialnya. Keluarga, merupakan sebuah lembaga yang seharusnya memberi kasih sayang, dukungan ekonomi, serta perawatan kesehatan dan keluarga merupakan pihak yang sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan dari lansia tersebut. Keluarga, yang seharusnya menjadi satu-satunya lembaga yang merawat dan menjaga eksistensi lansia justru mengabaikannya dan membuangnya ke tempat-tempat penitipan lansia dengan dalih manajemen yang lebih baik dan lebih terarah. Hal ini lantas menimbulkan dampak dan gejala ledakan lansia terlantar,Jika lansia tidak memiliki keluarga yang dapat merawat dan memberikan biaya yang layak untuk kehidupan lansia tersebut maka akan menyebabkan lansia tersebut merasa tersingkir dan terlantar kehidupannya.
    – Dukungan Sosial
    Kurangnya dukungan sosial sekitar dapat membuat lansia tersebut merasa diasingkan dan tidak dilibatkan dalam kehidupan bermasyarakat. Dukungan sosial ini bisa dalam bentuk yang bermacam-macam seperti mengadakan acara-acara lansia di lingkungan, mengikutsertakan dalam kegiatan bermasyarakat seperti arisan, pertemuan warga,dan lain lain. Dukungan sosial ini juga mencakup perhatian dan bantuan baik secara ekonomi, sandang atau papan demi terwujudnya lansia yang sehat dan penurunan angka lansia terlantar. Dinas-dinas terkait lansia ini juga dapat berpartisipasi dalam mewujudkan lansia yang bahagia dan tidak terlantar dengan cara memberikan bantuan-bantuan seperti pelayanan kesehatan, pelayanan psikologis, pendampingan, pelatihan dan kegiatan kegiatan lainnya yang dapat dipergunakan untuk mendukung gagasan penurunan angka lansia terlantar.
    – Perawatan Kesehatan
    Perawatan kesehatan ini merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh lansia dalam rangka tetap menjaga kesehatan jasmani lansia dan menaikkan kualitas kehidupannya. Perawatan kesehatan lansia ini dapat termasuk dalam memperhatikan kesehatan lansia tersebut, mengontrol rutin kondisi kesehatan lansia, memeriksakan ke dokter jika ada gangguan kesehatan, memberikan obat-obatan yang seharusnya didapatkan, perawatan yang baik bila sakit dan memperhatikan kebahagiaan lansia. Perawatan kesehatan ini dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan baik itu dokter,perawat dan keluarga sendiri.
    – Kebijakan
    Kurangnya kebijakan dari pemerintah yang mengurusi tentang berbagai masalah tentang lansia tersebut membuat kesejahteraan lansia berkurang. Kebijakan yang merangkul lansia dapat membuat lansia semakin dianggap sebagai bagian dari masyarakat dan dapat menaikkan derajat kesehatan dari lansia tersebut. Kebijakan kebijakan yang dapat dikeluarkan seperti merangkul lansia untuk tetap aktif dalam masyarakat, meningkatkan derajat kesehatan lansia, memperbaiki kehidupan lansia dan menjamin kesinambungan bantuan sosial baik itu dari segi ekonomi dan lainnya.

    Like

  9. Judul berita online LANSIA PEREMPUAN LEBIH RENTAN DITELANTARKAN berita di rilis tanggal 03- oktober- 2017

    http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/10/03/ox8vk9328-lansia-perempuan-tercatat-lebih-rentan-ditelantarkan

    rincian determinan sosial kesehatan dari berita ini:
    -Partisipasi kerja
    Menurut penelitian tentang analisis partisipasi kerja penduduk lanjut usia d indonesia bahwa individuvlanjut usia berjenis kelamin laki- laki memiliki tingkat partisipasi dalam lapangan pekerjaan lebih tinggi dari individu lanjut usia berjenis kelamin perempuan. Hal ini disebabkan karena kondisi fisik dari individu lanjut usia perempuan. Turunnya sistem kerja organ manusia seiring meningkatnya usia seseorang inilah yang menyebabkan individu lanjut usia wanita lebih rentan menarik diri dari pekerjaan. Tingkat ketrampilan yang menurun juga menyebabkan individu lanjut usia wanita lebih sulit untuk melanjutkan bahkan mencari pekerjaan

    – Harapan hidup
    Angka Harapan Hidup merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menilai derajat kesehatan penduduk, artinya jika angka harapan hidup meningkat, maka derajat kesehatan penduduk juga meningkat serta memperpanjang usia harapan hidupnya. Usia harapan hidup individu lanjut usia perempuan lebih tinggi dibanding harapan hidup individu lanjut usia laki – laki di Indonesia, hal ini menyebabkan banyak individu lanjut usia perempuan yang tidak mempunyai kegiatan rutin dalam jangka waktu panjang dibanding indivu lanjut usia pria

    -Tingkat kemiskinan
    Tidak memiliki pekerjaan danharapan hidup yang panjang Individu lanjut usia perempuan menyebabkan peningkatan tingkat kemiskinan Individu lanjut usia perempuan dibanding Individu lanjut usia laki- laki. Masalah ekonomi yang dialami penduduk lanjut usia yaitu tentang pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari seperti kebutuhan sandang, pangan, perumahan, kesehatan, rekreasi dan sosial. Kondisi fisik dan psikis yang menurun menyebabkan mereka kurang mampu menghasilkan pekerjaan dengan baik. Di sisi lain mereka dituntut untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup sehari-hari yang semakin meningkat dari sebelumnya, seperti kebutuhan akan makanan bergizi seimbang, pemeriksaan kesehatan secara rutin, perawatan bagi penderita penyakit penuaan dan kebutuhan rekreasi. Penghasilan yang diperoleh lansia antara lain dari pensiun, tabungan, dan bantuan keluarga. Jika lansia tidak memiliki aset dan tabungan yang cukup menjadikan pilihan untuk memperoleh pendapatan akan terbatas, maka lansia yang tidak bekerja berarti bantuan yang mereka dapatkan yaitu dari bantuan keluarga atau masyarakat bahkan pemerintah

    -Dukungan sosial
    Pada usia lanjut, akan terjadi penurunan kondisi fisik atau biologis, kondisi psikologis dan kondisi perubahan sosial. masyarakat beranggapan bahwa seakan-akan tugasnya sudah selesai, mereka berhenti bekerja dan semakin mengundurkan diri dalam pergaulan bermasyarakat. dukungan sosial adalah dukungan yang didapat dari keakraban sosial (teman, keluarga, anak ataupun orang lain) berupa pemberian informasi, nasehat verbal atau non verbal, bantuan nyata atau tidak nyata, tindakan yang bermanfaat sosial dan efek perilaku bagi penerima yang akan melindungi diri dari perilaku yang negatif. Setiap dukungan memberikan pengaruh atau manfaat bagi individu yang menerimanya. Dukungan emosional berkaitan dengan salah satu faktor yang mempengaruhi penerimaan diri individu yaitu tidak adanya gangguan emosional di dalam lingkungan. Dengan tidak adanya hambatan emosioanal dalam lingkungan, individu dapat lebih menerima dirinya. Dukungan emosioanal yang diberikan oleh keluarga membuat individu dapat bekerja lebih baik dan lebih bahagia. Dimana penerimaan diri pada lansia akan semakin baik apabila ada dukungan dari lingkungan sekitar

    -Tempat tinggal
    Lingkungan tempat tinggal menjadi faktor penting yang berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia. Lingkungan tempat tinggal yang berbeda mengakibatkan perubahan peran lansia dalam menyesuaikan diri. Bagi lansia, perubahan peran dalam keluarga, sosial ekonomi, dan sosial masyarakat tersebut mengakibatkan kemunduran dalam beradaptasi dengan lingkungan baru dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Berbeda dengan lansia di komunitas, lansia yang tinggal di panti akan mengalami paparan terhadap lingkungan dan teman baru yang mengharuskan lansia beradaptasi secara positif ataupun negatif. Pergeseran struktur keluarga dan kekerabatan dari keluarga besar (extended family) ke arah keluarga kecil (nuclear family) berdampak pada berkurangnya atau hilangnya fungsi-fungsi tertentu dalam keluarga seperti fungsi perawatan untuk para lanjut usia. Aktivitas yang dilakukan oleh lansia ini jauh menurun bila dibandingkan dengan masa produktifnya, sehingga mengakibatkan aktivitas yang dilakukan oleh lansia cenderung berada di dalam rumah. kurang memiliki kemampuan untuk dapat menghadapi hidupnya, kekurangan yang dimiliki lansia membuat dirinya merasa tidak sederajat dengan orang-orang sekitar dan cenderung menarik diri.

    Like

  10. Berita Online Suara.com : Kasus Baru Demensia Muncul Setiap Tiga Detik ( 10 Maret 2016 )
    Diambil dari : https://www.suara.com/health/2016/03/10/140800/kasus-baru-demensia-muncul-setiap-tiga-detik
    1. Aktivitas fisik
    Ketika seorang lansia sedang banyak pikiran, mereka cenderung untuk berdiam diri tanpa beraktifitas atau melakukan hal – hal yang mengurangi beban pikirannya. Padahal aktivitas fisik berperan dalam timbulnya demensia. Beraktifitas atau bergerak dapat meningkatkan aliran darah ke otak sehingga pembuluh darah terstimulasi dan akses otak untuk mendapatkan glukosa dan oksigen meningkat. Dimana meningkatnya aliran darah ke otak dapat menyebabkan stimulasi ke suatu area otak yang membantu pembentukan memori. Gukosa bagi otak merupakan bahan bakar utama supaya otak dapat bekerja optimal. Setiap kali orang berpikir, akan menggunakan glukosa, sehingga tercukupinya kadar glukosa dapat mempengaruhi proses berpikir, selain itu kurangnya suplai oksigen ke otak dapat menimbulkan disorientasi, bingung, kelelahan, gangguan konsentrasi, dan masalah daya ingat.
    2. Faktor Ekonomi
    Saat ini kebutuhan seseorang untuk melangsungkan hidupnya semakin meningkat. Selain itu harga – harga sandang , pangan dan papan juga tinggi. Ini adalah hal yang memicu seseorang untuk memiliki penghasilan yang tinggi pula, agar semua kebutuhannya terpenuhi dan hatinya pun senang. Hal ini berbanding terbalik dengan orang – orang yang memilki status ekonomi yang rendah dimana mereka cenderung memiliki tingkat stress yang tinggi. Rendahnya pendapatan menyebabkan adanya kesulitan ekonomi sehingga sering menyebabkan tekanan dalam hidupnya karena semua barang yang diperlukan atau diinginkan sering tidak terpenuhi. Disini stress dapat meningkatkan terjadinya demensia.
    3. Gaya hidup
    Selain cenderung berdiam diri, banyak lansia yang mengkonsumsi rokok untuk memunculkan ide – ide. Sebagian orang beranggapan bahwa dengan merokok akan dapat membantu otak memunculkan ide-ide segar. Akan tetapi sebenarnya, selain memicu penyakit seperti kanker paru-paru, impotensi serta penyakit berbahaya lainnya, menghisap rokok juga ternyata bisa memberi dampak buruk bagi otak kita. Dimana apabila seseorang tersebut merokok secara terus – menerus maka akan menyebabkan penipisan korteks dari waktu ke waktu, bahkan dalam jangka panjang bisa menurunkan kemampuan memori otak. Selain itu penting untuk konsumsi makanan sehat, karena otak juga memerlukan nutrisi dan asupan yang baik agar bisa bekerja secara maksimal. Pemenuhan kebutuhan nutrisi otak dengan mengonsumsi makanan – makanan sehat juga akan membantu kinerja otak dalam meningkatkan daya ingatnya.
    4. Interaksi Sosial
    Seseorang yang berpartisipasi secara aktif dalam berinteraksi sosial dengan baik seperti kontak
    Mata dan mempunyai keterikatan emosional dengan teman dekat atau ikut serta dalam memberikan respon terhadap suatu situasi yang santai akan mempunyai fungsi kognitif yang baik. Sedangkan seseorang yang tidak mau berinteraksi sosial dengan baik dan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan sosial akan menimbulkan reaksi stres dimulai dengan meningkatnya produksi
    glukocorticoid dan ini berpengaruh terhadap hipotalamus dan secara perlahan akan mempengaruhi fungsi kognitifnya. Kemampuan memelihara luasnya hubungan sosial dan aktivitas sosial,
    yaitu tingkat partisipasi dalam kegiatan di masyarakat, Lebih banyak mempunyai jaringan sosial dan lebih banyak aktivitas sosial diasosiasikan dengan lebih lambatnya penurunan kognitif dan lansia yang menerima dukungan emosional mempunyai fungsi kognitif lebih baik.
    5. Penyakit
    Gaya hidup berkaitan erat dengan timbulnya penyakit. Hipertensi dapat menyebabkan banyak kerusakan pada organ tubuh termasuk jantung, ginjal, mata, dan otak. Pada orang sehat hipertensi dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi otak, dimana salah satu perubahannya termasuk kemampuan untuk memproses informasi. Penurunan fungsi kognitif pada hipertensi diawali perubahan patologik pada pembuluh darah otak. Dimana terjadi peningkatan terkanan darah pada penderita hipertensi akan menyebabkan perburukan kemampuan autoregulasi otak karena penaingkatan tekanan sitolik dan diastolik yang mempengaruhi pebuluh darah di otak yang menyebabkan penurunan fungsi kognitif seperti mengolah informasi, penyimpanan informasi dan memori
    6. Tingkat pendidikan
    Lansia dengan tingkat pendidikan yang kurang merupakan faktor salah satu predisposisi terjadinya demensia. Dimana bila memiliki tingkat pendidikan, pendidikan mampu mengkompensasi semua tipe neurodegenerative dan gangguan vaskular, dan juga mempengaruhi berat otak. Orang yang berpendidikan lebih lanjut, memiliki berat otak yang lebih dan mampu menghadapi perbaikan kognitif serta neurodegenerative dibandingkan orang yang berpendidikan rendah.

    Like

  11. Judul Berita Online:
    Hindari Obesitas di Usia Senja, Ini Caranya.

    Diambil dari : Netralnews.com
    http://www.netralnews.com/news/kesehatan/read/74672/hindari.obesitas.di.usia.senja..ini.caranya

    Determinan sosial kesehatan yang terlibat dalam berita yang saya pilih, yaitu:
    1. Aktivitas fisik
    Obesitas dapat terjadi akibat lanjut usia yang kurang melakukan aktivitas fisik. Sederhananya lanjut usia bisa lakukan olah raga dengan berjalan cepat selama satu jam, sebanyak tiga hingga empat kali dalam seminggu. Waktu khusus bagi lansia untuk melakukan jalan cepat, baik pagi, siang, sore maupun malam tidak dibatasi. Namun, untuk melakukan jalan cepat disarankan dilakukan pada waktu yang konsisten, kalau sekali pagi, pagi terus, kalau malam, malam terus. Para lansia juga dihimbau dalam melakukan jalan cepat dengan menjatuhkan tumit ke bumi terlebih dahulu, bukan menjatuhkan telapak kaki atau ujung jari. Hal tersebut akan membuat lansia melangkah lebih ringan, karena jika telapak kaki atau ujung jari yang dijatuhkan ke bumi terlebih dahulu dapat mengakibatkan menambah beban lansia sehingga mudah lelah. Aktivitas jalan cepat selama satu jam merupakan aktivitas jangka panjang dan titik tersulit adalah melawan rasa bosan. Maka lansia bisa melakukan olahraga tesebut bersama teman atau keluarganya sambil bercerita untuk menghindari timbulnya rasa bosan.

    2. Pola makan atau asupan makanan
    Selain kurangnya aktivitas fisik, faktor yang berpengaruh terhadap obesitas pada lanjut usia didukung dengan jumlah asupan karbohidrat atau konsumsi manis berlebihan. Konsumsi yang mengandung gula merupakan asupan yang paling cepat diserap oleh tubuh. Ketika tubuh menyerap gula dan tidak digunakan untuk beraktivitas akan tertimbun di tubuh menjadi lemak. Ini juga dapat mengakibatkan penyempitan pembuluh darah, hingga gangguan sistem metabolik. Lansia juga sangat perlu memperhatikan waktu dan seberapa sering makan berat dalam sehari dan memperhatikan jenis-jenis dari lauk pauk dan sayuran yang di konsumsi

    3. Usia
    Semakin bertambahnya usia, semakin rentan pula untuk timbulnya penyakit hingga terjadinya komplikasi. Karena dengan semakin bertambahnya usia maka semakin menurun pula fungsi kerja tubuh dan organ tubuh. Sehingga dapat mempermudah munculnya berbagai macam penyakit pada tubuh, salah satunya termasuk obesitas yang juga disebutkan pada berita.

    4. Tingkat Pendidikan
    Pendidikan mencerminkan tingkat kecerdasan dan keterampilan seseorang. Pendidikan yang memadai mempunyai andil yang besar terhadap kemajuan ekonomi. Statistik Penduduk lansia tahun 2006 menunjukkan kondisi pendidikan lansia yang rendah ini terlihat pada tingginya persentase penduduk lansia yang tidak bersekolah sebanyak 35,53% dan yang tidak menamatkan SD (Sekolah dasar) sebanyak 30,77% dan yang tamat SD sebanyak 21,27% . Dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan berpengaruh terhadap pekerjaan dan pendapatan serta pengetahuan untuk mendapatkan informasi makanan yang mengandung gizi yang diperlukan dalam tubuh dan untuk kesehatan (BPS, 2007). Pengetahuan gizi dan kesehatan merupakan salah satu jenis pengetahuan yang dapat diperoleh melalui pendidikan. Pengetahuan gizi dan kesehatan akan berpengaruh terhadap pola konsumsi pangan.

    5. Tingkat Pendapatan
    Faktor sosial ekonomi berhubungan dengan keadaan gizi seseorang dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas dan kuantitas makanan. Menurut Powers (1980) terdapat kecenderungan bahwa dengan meningkatnya pendapatan nasional makan akan meningkat pula prevalensi kegemukan (Harun, 1998). Hal ini dapat dipahami karena dengan keadaan ekonomi yang membaik dan tersedianya berbagai makanan siap saji yang enak dan kaya energi dapat menjadikan lansia mengkonsumsi zat-zat gizi melebihi dari kebutuhan tubuh. Hal ini akan membawa lansia pada keadaan IMT obesitas. Kemajuan di bidang sosial ekonomi akan mengakibatkan terjadinya perubahan pola konsumsi ke arah pangan yang berkalori dengan harga yang lebih mahal. Proporsi sumber energi dari karbohidrat akan berkurang dan diikuti dengan meningkatnya proporsi lemak dan protein sehingga bila tidak terkontrol akan berdampak pada masalah gizi lebih.

    6. Faktor Psikologi
    Apa yang ada di dalam pikiran seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan. Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang negatif.

    7. Hormonal
    Pada wanita yang telah mengalami menopause, fungsi hormon tiroid di dalam tubuhnya akan menurun. Oleh karena itu kemampuan untuk menggunakan energi akan berkurang. Terlebih lagi pada usia ini juga terjadi penurunan metabolisme basal tubuh, sehingga mempunyai kecenderungan untuk meningkat berat badannya (Wirakusumah, 1997). Selain hormon tiroid hormon insulin juga dapat menyebabkan kegemukan. Hal ini dikarenakan hormon insulin mempunyai peranan dalam menyalurkan energi kedalam sel-sel tubuh. Orang yang mengalami peningkatan hormon insulin, maka timbunan lemak di dalam tubuhnya pun akan meningkat. Hormon lainnya yang berpengaruh adalah hormon leptin yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari, sebab hormon ini berfungsi sebagai pengatur metabolisme dan nafsu makan serta fungsi hipotalamus yang abnormal, yang menyebabkan hiperfagia (Purwati, 2001).

    8. Faktor Obat-Obatan
    Obat-obat tertentu (misalnya steroid dan beberapa anti-depresi) bisa menyebabkan penambahan berat badan.

    Like

Silahkan berkomentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s