steak ikan bergizi

Kandungan Gizi Ikan Gindara

Disusun oleh Yoseph Samodra

 

Ikan Gindara memiliki nama ilmiah Lepidocybium flavobrunneum, yang tergolong dalam keluarga Gempylidae (Snake mackerels). Ikan ini dikenal juga dengan istilah Escolar, Walu, Hawaiian Butterfish, ataupun White Tuna.

 

Badannya berwarna coklat tua kehitaman, dan makin gelap ketika makin tua. Namun dagingnya putih berminyak.

Baca juga: Malaria di Indonesia

Dalam tiap 100 gram daging gindara mentah kita bisa mendapatkan kandungan zat gizi sebagai berikut:

Kalori 124

Kalori dari lemak 61

Lemak Total 7g

Lemak Jenuh 0,9g

Kolesterol 55mg

Sodium/Natrium 76mg

Protein 15g

 

 

Kandungan nilai gizi ikan gindara dapat berbeda-beda, terutama ketika mengalami proses pemasakan.

 

Sebagai contoh, berikut ini adalah kandungan nilai gizi ikan gindara asap per 4 oz (sekitar 114 gram):

Kalori 157,7

Lemak Total 8,8g

Lemak Jenuh 0,9g

Lemak Tak Jenuh Tunggal 5g

Lemak Tak Jenuh Ganda 0,6g

Kolesterol 35mg

Sodium/Natrium 65,1mg

Potassium/Kalium 19,8g

Karbohidrat Total 3,5g

Gula 2g

Protein 16,2g

 

Yang jika dikonversikan menjadi per 100 gram ikan gindara asap akan didapatkan:

Kalori 138,3

Lemak Total 7,7g

Lemak Jenuh 0,8g

Lemak Tak Jenuh Tunggal 4,4g

Lemak Tak Jenuh Ganda 0,5g

Kolesterol 30,7mg

Sodium/Natrium 57,1mg

Potassium/Kalium 17,4g

Karbohidrat Total 3,1g

Gula 1,8g

Protein 14,2g

 

Demikianlah kandungan nilai gizi (nutrition facts) dari ikan gindara yang dapat menjadi pilihan alternatif lauk hewani kita.

steak ikan bergizi

Sumber:

fao.org/fishery/species/3267/en; fishbase.org/summary/1042; seafoods.com/product/222-walu; freshislandfish.com/products/walu-escolar; fishtrays.com/smoked/cold-smoked-escolar.html

11 thoughts on “Kandungan Gizi Ikan Gindara

  1. Berita online diambil dari Tempo.co
    Judul berita: Kerang Mengandung Arsenik dan Sianida, BBPOM: Stop Konsumsi

    Determinan Sosial Kesehatan
    1. Host
    Host adalah semua faktor yang terdapat pada diri manusia, yang dapat mempengaruhi timbul dan menyebarnya penyakit. Pada kasus ini, faktor host yang mempengaruhi timbulnya keracunan massal warga Desa Mallasoro adalah sebagai berikut :
    • Imunitas
    Imunitas merupakan kesanggupan host untuk mengembangkan suatu respon imunologis, dapat secara alamiah maupun diperoleh, sehingga kebal terhadap suatu penyakit. Pada kasus ini, 63 warga Desa Mallasoro yang mengalami keracunan massal sedang dalam keadaan imunitas yang kurang baik, sehingga setelah mereka mengonsumsi kerang, mereka mengalami sakit dan menimbulkan gejala keracunan seperti mual, muntah, pusing, dan lain-lain. Pada kasus ini, warga yang mengalami keracunan dan bahkan dua di antaranya meninggal dunia, dapat dipengaruhi juga oleh penyakit penyerta lain yang sedang dialami masing-masing warga.
    • Pendidikan
    Pendidikan yang tinggi belum tentu selaras dengan tingkat pengetahuan seseorang, namun, pendidikan tetap menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan tingkat pengetahuan. Tingkat pendidikan warga Desa Mallasoro berbeda-beda, hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan warga tentang keamanan pangan, zat-zat berbahaya dalam makanan, dan tentang penyakit yang ditimbulkan apabila mengonsumsi makanan yang mengandung zat berbahaya.
    • Tingkat pengetahuan
    Tingkat pengetahuan dapat mempengaruhi persepsi masyarakat mengenai suatu hal. Pada kasus ini, terlihat kurangnya pengetahuan warga Desa Mallasoro mengenai keamanan pangan, zat-zat berbahaya dalam pangan, pencemaran lingkungan, dan penyakit-penyakit yang dapat ditimbulkan setelah mengonsumsi makanan berbahaya. Warga Desa Mallasoro kurang memahami bahwa kerang yang mereka konsumsi dapat menimbulkan efek berbahaya bagi tubuh karena diambil dari laut yang tercemar limbah pabrik. Warga Desa Mallasoro juga mempunyai persepsi yang salah, bahwa makanan yang sudah dimasak adalah aman bagi tubuh. Mereka tidak memahami bahwa zat kimia berbahaya yang berasal dari pencemaran pabrik tersebut tidak akan hilang walaupun dimasak.
    • Gaya hidup
    Gaya hidup warga Desa Mallasoro dapat mempengaruhi terjadinya keracunan, seperti kebiasaan makan makanan laut, terutama kerang. Gaya hidup juga dapat mempengaruhi imunitas seseorang, seperti konsumsi makanan bergizi, olah raga teratur, menjaga kebersihan, dan lain-lain. Dalam kasus ini, gaya hidup yang kurang baik dapat menyebabkan imunitas warga Desa Mallasoro lemah, sehingga terjadi keracunan.

    2. Agen
    Agen merupakan suatu substansi atau elemen terentu yang keberadaannya dapat menimbulkan atau mempengaruhi perjalanan suatu penyakit.
    • Kimia
    Agen kimia dalam kasus ini adalah arsenik dan sianida. Dampak arsenik bagi tubuh dapat terjadi secara akut yakni keracunan, secara kronis yakni gagal ginjal dan ikterus. Dampak sianida bagi tubuh dapat terjadi secara akut yakni keracunan, secara kronis yakni kerusakan paru, kejang, dan kehilangan kesadaran. Apabila zat kimia berbahaya tersebut dikonsumsi dalam jumlah banyak, dan tingkat toksisitas tinggi bagi tubuh, hal tersebut dapat menyebabkan kematian.

    3. Lingkungan
    • Lingkungan fisik : polusi
    Polusi berasal dari limbah pabrik. Limbah pabrik mengandung banyak zat kimia berbahaya yang dapat mencemari agen biologis, sehingga kerang yang dikonsumsi warga Desa Mallasoro dapat menyebabkan keracunan.
    • Lingkungan biologis : kerang
    Kerang merupakan perantara yang menyebabkan keracunan pada warga Desa Mallasoro.

    Like

  2. Judul berita online:
    Waspada Peredaran Makanan Berformalin dan Berbahan Zat Pewarna (07 Jun 2017, 08:30 WIB)

    Diambil dari :
    Liputan6.com
    http://regional.liputan6.com/read/2980887/waspada-peredaran-makanan-berformalin-dan-berbahan-zat-pewarna# diakses pada tanggal 23 November 2017, 16.00 WIB

    Determinan sosial kesehatan yang terlibat dalam berita yang saya pilih, yaitu:

    Perilaku
    Perilaku para produsen nakal yang menjual makanan berbahan formalin, boraks dan zat pewarna tekstil dapat merugikan konsumen. Perilaku ini sudah dilakukan sejak tahun 2016 dan terus dilakukan hingga tahun ini. Hal tersebut dapat mempengaruhi kesehatan konsumen karena bisa menimbulkan masalah kesehatan bagi konsumen.

    Gaya hidup
    Masyarakat di Kecamatan Rembang, Purbalingga yang gemar mengkonsumsi bakso, ikan asin, ikan segar, kikil, tongkol, krupuk singkong dan mie basah menjadikan para konsumen ini untuk membeli bahan-bahan makanan tersebut. Kegemaran yang disertai ketidaktahuan konsumen dalam membedakan sehat atau tidaknya bahan-bahan makanan yang dibeli akan merugikan konsumen, baik dalam hal ekonomi maupun kesehatan.

    Pekerjaan
    Para pedagang/penjual di pasar Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Purbalingga nekat menjual berbagai makanan yang mengandung bahan berbahaya. Hal ini terus dilakukan, walaupun sebelumnya sudah mendapat teguran dari dinas kesehatan setempat.

    Tingkat pengetahuan
    Ketidaktahuan konsumen untuk membedakan makanan yang sehat atau tidak, dapat merugikan para konsumen. Pengetahuan yang luas tentang membedakan bahan makanan yang berbahaya atau tidak serta dampaknya bagi kesehatan jika dikonsumsi, akan membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kecamatan Rembang, Purbalingga. Salah satu penguji makanan, Samsul Arifin mengatakan makanan yang mengandung formalin saat dilakukan pengujian cepat akan terbentuk cincin ungu di tabung uji. Caranya yakni dengan menambahkan air ke sampel kemudian di kocok, setelah itu diberi zat pengurai, kemudian didiamkan sesaat maka akan terbentuk warna ungu melingkar tabung seperti cincin. Kemudian untuk makanan yang mengandung boraks akan berwarna kuning kecoklatan.

    Bahan makanan
    Baso kemasan, ikan asin, ikan segar, kikil dan tongkol, kerupuk singkong dan mi basah jika proses produksinya secara higienis dan tanpa tambahan bahan berbahaya serta dikonsumsi dalam jumlah tertentu, tentunya tidak akan menimbulkan masalah kesehatan (penyakit bahkan kematian) bagi konsumen.

    Agen kimia
    Formalin, boraks, zat pewarna tekstil seperti zat Rodamin B untuk warna merah dan mettanil yellow untuk warna kuning tidak selayaknya ditambahkan pada bahan makanan untuk dikonsumsi, karena akan berpengaruh pada kesehatan masyarakat. Mengkonsumsi makanan tersebut dalam jangka yang panjang akan mengakibatkan kerusakan pada ginjal. Ginjal akan bekerja secara ekstra yang akan berakibat pada ginjal lemah dan lebih parah lagi terjadi gagal ginjal.

    Lingkungan tempat kerja
    Tim pengawasan bahan makanan dan minuman dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purbalingga yang dibantu oleh Satuan Polisi Pamong Praja dan Kepolisian menemukan makanan mengandung formalin dan pewarna makanan di Pasar Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Purbalingga, Selasa 6 Juni 2017. Penemuan di tempat yang sama, sudah pernah terjadi sebelumnya di tahun 2016. Hal ini mungkin disebabkan karena lingkungan setempat yang mendukung, seperti mudahnya para produsen membeli bahan berbahaya untuk dicampurkan ke makanan dan belum adanya peraturan yang ketat untuk membatasi produksi formalin, boraks, dan zat pewarna tekstil.

    Kebijakan publik
    Temuan makanan yang mengandung bahan berbahaya di bulan Ramadan ini akan segera ditindaklanjuti dengan membuat surat ke Kepolisian agar produsen segera ditindak. Langkah ini dilakukan agar konsumen tidak dirugikan akibat ulah produsen nakal, terutama untuk kerupuk singkong yang sudah berkali-kali ditemukan mengandung pewarna tekstil berbahaya. Tahun kemarin sudah dilakukan pembinaan terhadap produsen agar tidak menggunakan zat pewarna tekstil, namun hari ini masih temukan lagi menggunakan zat pewarna tekstil.
    Selain itu, dilakukan juga sidak makanan di toko modern di Desa Makam Kecamatan Rembang ternyata juga dijumpai makanan yang sudah kadaluarsa. Kemudian ada makanan yang tidak ada tanggal kadaluarsa. Pada hasil pemantauan juga dijumpai jenang berjamur, nopia berkutu, saos produksi tahun 2013 dan selai tidak mempunyai tanggal kadaluwarsanya. Atas temuan tersebut, Dinas Kesehatan meminta kepada pemilik toko untuk segera mencabut bahan makanan tersebut dan tidak menjualnya kepada masyarakat.

    Like

  3. Berita dikutip dari : http://news.liputan6.com/read/3101630/murid-sd-di-bekasi-keracunan-spageti-dan-susu-gratis

    Determinan sosial kesehatan dari kasus keracunan makanan :
    – Host
    Daya tahan tubuh host lemah maka resiko keracunan semakin meningkat.
    Bisa juga disebabkan karena host sendiri tidak pandai memilah makanan yang sehat.
    – Pembuat makanan
    Bisa disebabkan karena rendahnya kesadaran si pembuat makanan untuk membuat dengan bahan-bahan yang baik dan dengan cara yang baik.
    Bisa juga karena kontaminasi terhadap makanan oleh pembuat makanan yang sakit, misalnya batuk atau luka di tangan.

    – kebersihan alat-alat makanan
    Kebersihan alat-alat makan dikaitkan dengan alat makan atau minum harus selalu dalam keadaann bersih. Penularan penyakit dapat terjadi karena alat makan atau minum kurang bersih.
    Cara pencucian alat makan dan minum juga sangat berperan penting dalam hal higien dan sanitasi makanan dan minuman. Karena pencucian alat makan dan minum yang tidak bersih dapat meninggalkan sisa sabun cuci atau deterjen yang dapat menyebabkan keracunan bahan kimia.
    – penyimpanan bahan makanan
    Penyimpanan bahan makanan sebelum diolah perlu perhatian secara khusus, mulai dari wadah tempat penyimpanan sampai dengan cara penyimpanannya denga maksud menghindari terjadinya karacunan karena kesalahan penyimpanan. Contoh bahan makanan seperti bumbu dapur yang digunakan dalam proses pengolahan makanan hendaknya diatur dan ditata dengan baik dalam wadah yang berbeda, sehingga apabila akan menggunakannya dengan mudah dapat menagambilnya. Hindari penyimpanan yang sama antara bahan yang bersifat racun dengan tempat penyimpanan bumbu dapur. Selain itu penyimpanan bahan makanan yang mudah rusak seperti ikan, sayur-sayuran, tomat, lombok yang belum akan digunakan pada saat itu juga sebaiknya disimpan dalam lemari es sesuai dengan suhu penyimpanannya, sedangkan yang tidak mudah rusak disimpan digudang atau lemari bahan makanan. Kerusakan bahan makanan dapat terjadi karena:
    o Tercemar bakteri karena alam atau perlakuan manusia
    o Adanya hormon atau bahan makanan yang diperlukan untuk proses pematangan seperti pada buah-buahan. Contoh hormonnya adalah etilen.
    o Kerusakan mekanis akibat gesekan, tekanan, dan benturan.

    – pengolahan makanan
    Pengolahan makanan menjadi makanan siap santap merupakan salah satu titik rawan terjadinya keracunan. Banyak keracunan terjadi akibat individu penjamah makanan yang tidak memperhatikan aspek sanitasi.

    Terjadinya kasus keracunan makanan disebabkan karena:
    o Tempat pengolahan makanan
    Pengusaha atau bagian yang bertanggung jawab dalam menyediakan tempat pengolahan makanan atau sering disebut dapur, harus menyediakan dapur yang memenuhi standart persyaratan higiene dan sanitasi untuk mencegah resiko pencemaran (kontaminasi silang dan kontaminasi ulang terhadap makanan).
    o Tenaga pengolah makan (penjamah makanan)
    Seorang tenaga pengolah makanan atau penjamah makanan baik dalam mempersiapkan, mengolah, menyimpan, mengangkut, maupun menyajikan perlu memperhatikan kebersihan tiap individunya. Salah satu contohnya adalah kebersihan tangan. Dari sebuah penelitian menyebutkan bahwa bagi orang yang malas mencuci tangan, maka di tangannya akan terkontaminasi oleh mikroorganisme seperti Salmonella compylobacter, Eschercia colibahkan bisa juga virus. Seorang penjamah makanan yang tidak sehat dapat menjadi sumber penyakit yang dapat menyebar ke suatu masyarakat konsumen.

    – penyimpanan makanan masak
    Makanan masak merupakan campuran bahan yang lunak dan sangat disukai bakteri. Bakteri akan tumbuh dan berkembang dalam makanan yang berbeda dalam suasana yang cocok untuk hidupnya sehingga jumlahnya akan menjadi banyak. Diantara banyak bakteri terdapat beberapa bakteri yang menghasilkan racun (toksin).
    – Kuman penyebab : V. parahaemoliticus, Salmonella sp., Eschercia Coli patogen, dan lainnya. Sedangkan tipe intoksitasi disebabkan oleh Staphylococcus aerus, Clostridium botolinum, Bacillus aereus, dan Clostridium perfringes.
    – Adanya bahan kimia yang terkandung dalam makanan

    Like

  4. Berita online diambil dari CNN Indonesia
    https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170902183208-20-239038/pesta-daging-kurban-warga-di-sukabumi-keracunan-massal/
    Pesta daging kurban, warga di Sukabumi keracunan massal (sabtu, 02/09/2017)
    Determinan sosial kesehatan yang terdapat pada berita ini adalah
    1. Faktor dukungan Sosial
    Dalam hal ini warga harus mendapatkan dukungan dari para stakeholder yang berperan seperti ketua RT, ketua RW, dan kepala desa dimana para pemimpin ini harus berkomunikasi aktif dengan warga dengan diadakan acara pesta daging kurban ini, sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti berita ini. dukungan dapat diberi dengan pemantapan terkait pesta rakyat ini dari persiapan, penyelenggaraan dan penutupan acara ini
    2. Faktor spiritual
    Kebiasaan umat beragama muslim dalam merayakan hari raya Idul adha sangatlah identik dengan kurbar (daging hewan yang di sembelih/potong dan dibagikan). Kejadian keracunan massal pada berita ini sangat berkaitan dengan hari raya umat muslim
    3. Faktor budaya
    Salah satu Budaya Indonesia adalah saling berbagi, dimana pada berita tersebut setiap warga mengumpulkan hasil kurban yang di peroleh dan bersama- sama mengolah menjadi makanan tanpa ada pengawasan terkait hygiene dari daging kurban tersebut
    4. Faktor lifestyle
    Dengan kebiasan yang kurang memperhatikan tingkat kebersihan ketika mengolah makanan dalam jumlah besar dan juga Kebersihan dalam mengolah bahandan bumbu makanan secara massal sering kali memiliki tingkat hygiene yang rendah dan dapat mengakibatkan terganggunya kesehatan dalam skala yang cukup besar seperti berita ini
    5. Faktor pengetahuan
    Dengan faktor pengetahuan yang tinggi cara mengolah daging yang baik dan aman dapat memperkecil terjadinya keracunan seperti berita tersebut
    6. Faktor sosial- ekonomi
    Dengan faktor ekonomi yang tinggi, bahan dan bumbu makanan yang akan dipilih untuk diolah dan disajikan adalah bahan dan bumbu makanan yang baik dan berkwalitas untuk dikonsumsi secara masal, sebaliknya jika faktor sosial ekonomi nya rendah bahan dan bumbu makanan berkwalitas apa adanya/berkwalitas rendah lah yang disajikan dan dapat menimbulkan beberapa masalah kesehatan
    7. Faktor sosial- komunitas
    Dengan komunikasi dan kerja sama yang baik akan menyukseskan sebuah acara, dari berita tersebut dari sekumpulan warga yang menyelenggarakan pesta daging korban kurang dalam komunikasi tentang bahan dan bumbu yang dipilih dan diolah untuk daging tersebut,.
    8. Faktor pelayanan medik
    Di dalam berita ini langkah yang diambil dari Puskesmas dalam mengatasi kejadian luar biasa seperti ini telah berjalan dengan baik dimana semua pasien berhasil ditangani dan beberapa pasien di rujuk untuk mendapatkan penanganan yang lebih serius di fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.

    Like

  5. Berita diambil dari laman https://kupastuntas.co/berita-daerah-lampung/selatan/2017-06/kasus-keracunan-massal-di-lampung-selatan-hasil-uji-lab-makanan-mengandung-kuman/ pada hari Sabtu, 25 November 2017 pukul 14.08.
    Judul berita online : Kasus Keracunan Makanan Masal di Lampung Selatan, Hasil Uji Lab Makanan Mengandung Kuman
    Berita ditulis oleh Putri Kurniawati pada tanggal 15 Juni 2017

    Determinan Sosial Kesehatan yang berpengaruh pada berita tersebut adalah bakteri (proteus Sp dan kebsiella Sp) sebagai agen dan kurang bersihnya makanan yang menyebabkan adanya bakteri tersebut dalam makanan. Kuman proteus Sp dan klebsiella Sp adalah 2 jenis kuman yang terkandung di dalam makanan yang kurang bersih pada kasus ini. Dari kesemua makanan yang dijadikan sampel pemeriksaan di UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, membuktikan bahwa kelima jenis makanan diantaranya sop ayam, capcay, bolu kukus , es campur, dan air galon isi ulang tidak mengandung zat berbahaya. Namun demikian, di dalam sop ayam dan es campur mengandung kuman proteus Sp, sedangkan capcay, bolu kukus, dan air galon isi ulang mengandung kuman klebsiella Sp.

    Proteus Sp termasuk dalam famili enterobakteriaceae, bakteri bentuk batang, gram negatif, tidak berspora, tidak berkapsul, flagel peritrik, ada yang cocobacilli, polymorph, berpasangan atau membentuk rantai, kuman ini berukuran 0,4-0,8 x 1.0-0,3 mm. Bakteri proteus sp. termasuk dalam bakteri non fruktosa fermenter, bersifat fakultatif aerobe/anaerob. Proteus sp. termasuk kuman patogen, menyebabkan infeksi saluran kemih atau kelainan bernanah seperta abses, infeksi luka. Proteus sp. Ditemukan sebagai penyebab diare pada anak anak dan menimbulkan infeksi pada manusia. Penyebaran penyakit oleh Proteus sp. melalui air sumur yang digunakan penduduk untuk mandi, mencuci, makan dan minum yang kemungkinan bakteri ini untuk masuk ke tubuh dan masuk melalui luka yang menyebabkan infeksi pada saluran kemih serta dapat menyebabkan diare.

    Infeksi Klebsiella yang didapat masyarakat memiliki beberapa ciri khas. Klebsiella telah dianggap sebagai penyebab penting pneumonia yang didapat masyarakat. Gejala yang timbul di ataranya demam tinggi dan hemoptisis yang mendadak dengan sputum yang kuning dan kental. Kelainan radiografi dada seperti retakan interlobar menonjol dan abses kavitasi menonjol. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pneumonia Klebsiella yang didapat oleh komunitas sekarang sangat langka di Amerika Utara, Eropa Barat dan Australia (terhitung kurang dari 1% kasus pneumonia yang memerlukan rawat inap). Namun gejala klasik dari infeksi bakteri Klebsiella pneumonia tetap umum di Asia dan Afrika.

    Kurang bersihnya makanan bisa terjadi pada saat proses produksi, penyimpanan, distribusi, maupun saat penyajian makanan. Kebersihan pada saat produksi meliputi bagaimana kebersihan bahan makanan, kebersihan alat-alat yang digunakan, perilaku cuci tangan dari para pemasak makanan, dan tingkat kematangan makanan. Bahan makanan yang dipakai adalah yang segar (untuk daging, ikan, sayuran, buah) dan yang tidak lewat masa kadauarsa. Sayur, daging, ikan, buah sebaiknya dicuci dengan air mengalir yang berasal dari sumber air yag bersih pula. Alat yang akan digunakan untuk memasak pun juga harus dicuci (menggunakan sabun dan air mengalir). Para pemasak harus cuci tangan sebeluum proses memasak dilakukan. Makanan dimasak kurang lebih selama 15 menit dalam suhu diatas 75 derajat celcius.

    Makanan kering sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup dan terhindar dari suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi serta tempat yang tidak lembab. Makanan yang sudah dimasak sebaiknya langsung disajikan. Apabila akan disimpan, simpan dalam kondisi makanan sudah tidak panas. Makanan yang sudah disimpan tidak boleh dipanasi berulang kali. Makanan disimpan maksimal selama 2 hari.

    Pada saat distribusi dan peyajian, gunakan alat yang terlebih dahulu dicuci bersih. Tutup makanan dengan rapat agar terhindar dari kontaminan. Pastikan makanan yang akan disajikan tidak berubah warna, rasa, dan aroma sehingga masih layak dikonsumsi.

    Like

  6. Judul berita online:
    Warga batuan kaler keracunan makanan,27 orang sempat dirawat di RS Sanjiwani (2 November 2017)

    Diambil dari : http://bali.tribunnews.com/2017/11/02/warga-batuan-kaler-keracunan-makanan-27-orang-sempat-dirawat-di-rs-sanjiwani diakses pada tanggal 25 November 2017 pukul 14.00 WIB.

    Determinan sosial kesehatan yang terlibat dalam berita diatas menurut saya adalah:
    1. Lingkungan tempat penyimpanan makanan
    Makanan yang disiapkan oleh PKK Banjar Cangi berjumlah sangat banyak dan setelah mereka selesai menyiapkan makanan sebanyak 1500 bungkus mereka hanya menutup makanan tersebut menggunakan daun pisang dan dibungkus menggunakan plastik bening. Tidak ada pengawasan lebih lanjut mengenai lokasi penyimpanan makanan tersebut, apakah terhindar dari lalat atau dekat dengan tempat pembuangan sampah sehingga memungkinkan terjadinya kontaminasi oleh lalat.
    2. Host
    Terdiri dari faktor-faktor yang berada di dalam diri manusia. Seperti tingkah laku sebelum menyantap makanan, sistem imunitas masing-masing orang, tingkat pengetahuan, dan sikap.
    -Tingkah laku
    Apakah orang tersebut selalu mencuci tangan sebelum menyantap makanan atau setelah melakukan aktivitas di luar rumah sehingga meminimalisir kemungkinan terjadinya kontaminasi.
    -Sistem imunitas
    Daya tahan tubuh seseorang dalam mengkonsumsi makanan tersebut, banyak orang yang tidak mampu menahan makanan yang terlalu pedas untuk dimakan, serta aktivitas setiap individu yang berbeda-beda.
    -Tingkat pengetahuan
    Bedanya tingkat pengetahuan yang diterima oleh setiap individu menetukan mampu dan tidaknya orang tersebut mengenali makanan yang layak konsumsi dan tidak layak konsumsi.
    -Sikap
    Tingkat kepedulian masing-masing individu terhadap kesehatan dirinya dan tidak berani mengambil resiko untuk mengkonsumsi makanan yang sudah sedikit basi. Namun ada juga beberapa orang yang dengan sadar mengkonsumsi makanan yang sedikit sudah basi.
    3. Kebersihan dalam pengelolaan makanan
    Hygenitas sangat diperlukan dalam proses menyiapkan makanan, dimulai dari saat pemilihan bahan, pencucian bahan yang akan dimasak, saat pemotongan, bahkan saat makanan mengolah makanan tersebut dan proses membungkus makanan tersebut. Apabila saat proses memasak semuanya telah dilakukan secara hygenis namun pembungkus makanan tidak dibersihkan dengan baik maka hal tersebut menjadi sia-sia. Mengingat makanan yang akan dibagikan disajikan pada wadah tamas yang dibuat dari janur dan dibuat membentuk lingkaran menyerupai piring.
    4. Batas aman makanan dapat dikonsumsi
    Mengingat waktu makanan yang disiapkan pukul 11.00 WITA dan makanan baru dibagikan kepada warga yang berada di Pura pada pukul 19.00 WITA. Namun dikarenakan makanan yang disajikan tersebut terdiri dari nasi kuning dengan lauk telur dadar, ayam sisit, sayur kacang panjang dan saur maka dapat diperkirakan bahwa nasi tersebut seharusnya tidak mampu bertahan lama. Dan setelah proses pengolahan makanan tersebut apakah nasi tersebut dibiarkan mendingin terlebih dahulu atau langsung dibungkus saat masih panas sehingga membiarkan uap di dalam makanan tersebut terperangkap di dalam plastic pembungkus dan mengendap menyebabkan makanan menjadi basi.

    Like

  7. Berita Online Jawa Pos : Produk Pangan Ber-SNI Masih Sangat Minim ( 24 November 2016)
    Diambil dari : https://www.jawapos.com/read/2016/11/24/66429/produk-pangan-ber-sni-masih-sangat-minim

    1. Perilaku
    Perilaku merupakan salah satu sosial determinan yang terdapat dalam berita ini. Di Indonesia ada sekitar 68 ribu pelaku usaha pengolahan pangan, dan dari sekian banyak hanya 700-an yang sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Artinya, masih ada puluhan ribu yang belum memenuhi standar produksi maupun produk sesuai ketentuan Badan Standardisasi Nasional (BSN). Hal ini merupakan momok bagi keamanan pangan di Indonesia yang mencerminkan bahwa perilaku pelaku usah tersebut tidak menyadari pentingnya kesehatan orang – orang yang mengkonsumsi makanan yang mereka perdagangkan, mulai dari kurangnya memperhatikan Soal kebersihan ruang produksi, dapur, ventilasi, sirkulasi udara. Belum lagi yang terkait proses pembuatan, kebersihan, dan lain sebagainya.
    2. Faktor ekonomi
    Faktor ekonomi memiliki peran dalam kesehatan, pada berita online ini pendapatan yang didapat oleh pelaku usaha tentu akan mempengaruhi usahanya. Dimana apabila pendapatannya besar maka dengan mudah dia akan memperbaharui segala kekurangan yang ada dalam usahanya, misal menambah mesin mesin produksi yang layak pakai, dan merupakan salah satu ketentuan BPOM dan memenuhi standar nasional Indonesia untuk keamanan pangan sehingga mendapatkan sertifikasi SNI.
    3. Tingkat pengetahuan
    Salah satu faktor yang mendasari keamanan pangan adalah tingkat pengetahuan. Dimana pengetahuan yang dimiliki masing – masing irang ini akan membentuk cara berpikir dan kemampuan seseorang untuk memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menjaga kesehatannya. Biasanya, orang yang berpendidikan (dalam hal ini orang yang menempuh pendidikan formal) mempunyai resiko lebih kecil terkena penyakit atau masalah kesehatan lainnya dibandingkan dengan masyarakat yang awam dengan kesehatan. Untuk pelaku usaha sendiri, pihak BPOM perlu untuk melakukan pembinaan kepada pelaku usaha kesehatan masyarakat. Melalui pendampingan dan pembinaan usaha kesehatan masyarakat akan meningkatkan daya saing produk dan mengimbangi produk olahan dari luar negeri. Tidak bisa dipungkiri demand produk olahan luar masih sangat tinggi. Untuk masyarakat yang menjadi konsumen bahan pangan sehari-hari dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki, ia akan mampu membedakan mana makanan yang sehat dan bersih dengan standar nasional Indonesia.
    4. Gaya Hidup
    Masyarakat memiliki gaya hidup masing – masing. Yang menurut kita baik, belom tentu menurut orang lain baik. Gaya hidup yang mengkonsumsi makanan sembarangan atau mengkonsumsi makanan tanpa memperhatikan keamanannya akan mempengaruhi kondisi kesehatan kita selain itu pola hidup bersih juga penting, salah satunya memperhatikan kebersihan pangan yang diolah untuk di jual, sehingga memenuhi standar layak jual dan mendapatkan sertifikasi standa nasional Indonesia.
    5. Bahan baku produk
    Banyaknya usaha pangan yang belum memiliki sertifikasi Standar Nasional Indonesia disebabkan karena ada beberapa syarat yang tidak terpenuhi dan menjadi cakupan penilaian Standar nasional Indonesia meliputi keamanan produk bebas dari mikroba/ bakteri, logam berat, ukuran protein dan lemak juga ada standarnya

    Like

  8. Berita online diambil dari metro sindonews.com yang berjudul :
    Puluhan siswa SMPN 184 keracunan makanan saat jambore di cibubur.

    https://metro.sindonews.com/read/1242511/170/puluhan-siswa-smpn-184-keracunan-makanan-saat-jambore-di-cibubur-1506253829

    Determinan sosial kesehatan pada berita :
    • Kebersihan dalam menyajikan makanan
    Pada berita dituliskan siswa mengalami keracunan saat melaksanakan jambore. Makanan yang dicurigai meracuni siswa saat jambore berupa salah satu lauk yang di sajikan dalam nasi kotak. Pada kasus ini, mungkin faktor kebesihan saat mengelola makanan tidak higienis sehingga dapat menyebabkan keracunan masal bagi siswa yang mengkonsumsi makanan yang disediakan oleh katering tersebut.
    • Imunitas
    Pada berita dituliskan siswa mengalami keracunan saat mejalankan kegiatan pramuka. Dari sini kemungkinan perserta memiliki imunitas yang kurang baik saat melasanakan kegiatan. Sehingga pada saat jam istirahat dan memakan makanan yang kurang bersih. Para perserta mengalami keracunan massal.
    • Pemilihan bahan makanan
    Pada berita dituliskan, para siswa mengeluh pada lauk yang disajikan memiliki rasa yang agak lain dari yang semestinya. Dari hal ini dapat terjadi kemungkinan terjadi kelalaian dalam memilih bahan makanan yang akan disajikan untuk jambore. Sehingga kualitas kebersihan makanan yang disajikan memiliki kualitas yang kurang baik sehingga menimbulkan kejadian keracunan masal.
    • Suhu lingkungan
    Suhu lingkungan sekitar makanan dapat berpengaruh pada kualitas makanan yang disajikan. Makanan yang sudah lama penyajiannya memiliki resiko tinggi untuk terjadi pertumbuhan bakteri dalam jumlah yang banyak karena pengaruh suhu. Sehingga saat makanan sampai ke tangan perserta jambore makanan bisa saja terjadi kontaminasi bakteri yang menyebabkan makan tidak layak makan dan menghasilkan rasa yang tidak sesuai dengan semestinya atau basi.

    Pemerintah, khususnya dinas kesehatan setempat, melakukan penanganan berupa membawa siswa yang mengalami keracunan ke rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut.Dalam berita disebutkan, ada 70 anak yang harus mendapat perawatan di rumah sakit.Selain itu disebutkan juga dalam berita yang terkait, beberapa sample makanan yang dicurigai membuat terjadinya keracunan masal diperiksa untuk memastikan penyebab lebih lanjut dari kasus keracunan masal pada siswa siswa SMPN 184 yang mengkonsumsi makanan saat acara jambore. Kuman penyebab tidak disebutkan secara detai dalam penulisan berita ini.

    Like

  9. Berita online diambil dari Tribunnews.com
    Judul berita : Usai Santap Nasi Kuning, 20 Siswa SMA Keracunan
    http://www.tribunnews.com/regional/2015/08/11/usai-santap-nasi-kuning-20-siswa-sma-keracunan
    Determinan sosial kesehatan yang ada dalam berita tersebut adalah
    Lingkungan
    Lingkungan sekitar penjual makanan di sekolah adalah salah satu faktor yang dapat menyebabkan penyakit akibat pencemaran makanan oleh agen lain. Idealnya lingkungan yang sekitarnya harus bersih dari binatang seperti lalat, tikus dan kecoa yang suka hinggap di makanan dan dapat mengkontaminasi makanan. Selain keberadaan binatang yang dapat mengkontaminasi makanan, keberadaan sampah apalagi yang sampai menimbulkan bau dan dikelilingi oleh gerombolan lalat atau hewan lain dapat memindahkan atau menyebarkan bakteri atau bahkan sampah kecil yang tertiup terkena angin dan dapat menempel dimakanan dan mengkontaminasi makanan.
    Kebersihan atau Perilaku
    Perilaku dari seseorang yang berada disekitar penjual makanan atau berada di sekitar makanan dapat mempengaruhi kebersihan dan kontaminasi dari makanan tersebut. Perilaku yang dimaksud adalah seperti tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang atau kontak dengan makanan, mencuci dengan bersih alat makan yang akan digunakan, merokok atau melakukan kegiatan yang dapat mencemarkan makanan oleh bahan kimia lain disekitar makanan dan memakan kembali makanan yang sudah tidak layak makan atau yang telah terkontainasi. Mencuci tangan merupakan hal yang wajib dilakukan sebelum dan sesudah kontak dengan makanan, karena sebelum memegang makanan mungkin tangan kita sudah terkontaminasi oleh bakteri atau sesuatu yang dapat menginfeksi tubuh dan menyebabkan suatu penyakit. Mencuci tangan dilakukan dibawah air mengalir dan menggunakan sabun, mencuci tangan menggunakan 6 langkah dan mengeringkannya dengan lap bersih dan kering. Merokok atau melakukan kegiatan yang dapat mencemarkan makanan oleh bahan kimia lain disekitar makanan dapat menjadi penyebab keracunan atau infeksi pada tubuh, karena makanan dapat terkontaminasi oleh abu rokok dan asap rokok yang mana asap rokok ini mengandung bahan bahan aktif berbahaya bagi tubuh dan dapat mengiritasi pencernaan. Memakan kembali makanan yang sudah tidak layak makan atau yang telah terkontainasi dapat menyebabkan Infeksi pada saluran penceraan dan tubuh karena dapat makanan yang sudah tidak layak makan akan yang terkontaminasi tersebut mungkin dapat mengandung jamur, bakteri atau bahan lainnya yang dapat menyebabkan penyakit.
    Pengetahuan
    Pengetahuan dari pengolah makanan, penjual makanan dan pembeli makanan menjadi yang penting dalam menjaga makanan agar tidak menjadi suatu penyakit. Pengetahuan dari pengolah makanan tentang bumbu yang digunakan, kualitas bahan-bahan makanan yang layak untuk diolah, kebersihan yang terjamin pada saat pengolahan dan cara masak yang benar agar makanan tersebut aman dan layak makan. Pengetahuan dari penjual makanan juga menentukan seperti bagaimana kondisi tempat penjualan makanan itu bersih dari polusi dan lalat, kebersihan makanan pada saat di tempat penjualan dan saat memberikan ke pembeli dan tidak menjual makanan yang tidak layak makan. Pengetahuan pembeli juga ikut serta mempengaruhi seperti memilih makanan yang layak makan dan kebersihan sat memakan makanan seperti cuci tangan tersebut.

    Like

  10. Berita online dari SINDONEWS.com

    Berulang Kali di Razia, Jajanan Berbahan Kimia Berbahaya Masih Ditemukan (Senin, 19 Juni 2017).
    Berita diambil dari: https://metro.sindonews.com/read/1214957/170//berulang-kali-di-razia-jajanan-berbahan-kimia-berbahaya-masih-ditemukan-1497869213

    Determinan sosial kesehatan yang terdapat pada berita ini adalah:

    1. Faktor Ekonomi / Pendapatan
    Peran ekonomi atau pendapatan dalam kesehatan bisa berpengaruh dari produsen atau penjual bahan makanan seperti yang disebutkan pada berita, sejumlah makanan yang mengandung bahan kimia bisa membantu produsen untuk menghasilkan makanan yang lebih banyak dengan biaya produksi yang lebih sedikit, beberapa bahan kimia juga dapat membuat makanan tersebut menjadi lebih awet atau tahan lama, sehingga orang -orang yang menjual makanan tersebut bisa mendapat keuntungan yang lebih banyak. Sedangkan bagi para konsumen yang memiliki ekonomi rendah, sebagian orang hanya membeli atau mencari makanan yang memiliki harga yang murah dan langsung tergiur tanpa memperhatikan kualitas makanan yang akan mereka beli terlebih dahulu.

    2. Zat Kimia
    Zat kimia sangat berbahaya bagi kesehatan, dengan adanya ditemukan makanan atau jajanan berbahan kimia membuat kesehatan menjadi terganggu. Beberapa macam bahan kimia yang telah ditemukan oleh Polres Metro Jakarta Barat bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mulai dari pewarna tekstik Rhodamin B, dan makanan pengawet jenazah formalin.

    3. Tingkat Pengetahuan
    Dengan adanya pengetahuan yang tinggi, maka masyarakat dapat memilih makanan yang meiliki kualitas yang lebih baik dan layak untuk di konsumsi. Salah satu contoh untuk dapat mengatahui kualitas atau kelayakan makanan yaitu dengan melihat warna, bentuk, bau, kemasan dan adanya nomor BPOM yang menandakan bahwa makanan tersebut sudah di seleksi BPOM dan dinyatakan layak untuk di konsumsi. Sedangkan bagi beberapa masyarakat dengan pengetahuan yang masih kurang maka dampaknya hanya akan mengambil makanan yang terlihat enak dan rasanya nikmat tanpa mempertimbangkan kualitas dari makanan yang di konsumsi.

    4. Pemberian Izin BPOM
    Pengecekan secara menyeluruh ke sejumlah pasar wajib dilakukan bersama BPOM. Tujuannya, tak lain demi memastikan masyarakat dapat mengkonsumsi makanan berkualitas. Pemberian proses izin edar yang dilakukan BPOM menerapkan aspek kesejahteraan, artinya BPOM sendiri mempercayai dokumen yang diberikan oleh perusahaan atau pihak importir sebagai syarat dalam memberikan izin edar. Pada kasus dari berita kepala BPOM mengatakan pihak importir menyebut dokumen yang dilampirkan tidak mengandung daging maupun minyak babi, hal itu menjadi landasan BPOM mengeluarkan izin. Namun, untuk menghindari kejadian serupa, BPOM akan memperketat registrasi untuk pemberian izin edar serta sanksi tegas bagi importir yang terbukti melanggar aturan. Sanksi tersebut berupa pencabutan izin edar hingga sanksi pidana kepada perusahaan yang melanggar.

    Like

  11. Judul berita online:
    Bakso Mengandung Boraks Ditemukan di Pusat Jajanan Medan
    Diambil dari :
    http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/16/06/13/o8pnto284-bakso-mengandung-boraks-ditemukan-di-pusat-jajanan-medan

    Determinan sosial kesehatan yang terlibat dalam berita tersebut adalah :
    – Lokasi dan waktu.
    Lokasi penjual bakso berada ditempat kerumunan orang sehingga memungkinkan banyak pembeli datang yaitu di lokasi yang sering diadakan ramadhan fair di jl. Masjid Raya Medan. Waktu yang dipilih adalah sore hari dimana orang – orang sudah pulang dari kerja ataupun sekolah dan setelah waktu berbuka puasa sehingga banyak orang yang datang.

    – Ekonomi pedagang dan masyarakat
    Kondisi ekonomi pelaku pedagang bakso borax yang kurang sehingga memaksa mereka untuk membuat bakso dengan borax sebagai pengawet agar jika bakso yang dijual tidak laku, pedagang tersebut masih bisa menjualnya lagi. Tingkat ekonomi masyarakat yang menjadi sasaran pedagan ini juga yang menengah kebawah oleh karena sajian yang dijual memiliki harga yang ekonomis dan sudah cukup mengenyangkan.

    – Pengetahuan pedagang dan masyarakat
    Pengetahuan pedagang yang tentang bahan yang digunakan sangat rendah. Pedagang tidak mengetahui bahwa bahan yang digunakan berbahaya bagi orang yang mengkonsumsi bakso tersebut. Pengetahuan masyarakat mengenai bahaya borax juga sangat kurang dan tidak mengerti cara membedakan mana yang tidak mengandung bahan borax dan mana yang tidak mengandung bahan borax.

    – Bahan dasar bakso
    Karena mahalnya bahan dasar bakso yang dijual seperti daging sapi, daging ayam, serta bumbu yang digunakan menyebabkan pedagang memilih memberi pengawet pada makanannya agar bakso yang tidak terjual dapat dijual lagi esoknya.

    – Gaya hidup masyarakat
    Pola hidup kurang sehat pada masyarakat yang sering mengkonsumsi makanan cepat saji dimana dalam hal ini bakso adalah salah satu makan cepat saji yang ada di Indonesia dapat menjadi salah satu hal yang berpengaruh pada kesehatan masyarakat. Oleh karena kandungan di sajian bakso tidak sepenuhnya sehat.

    – Bahan kimia
    Bahan kimia yang digunakan pada bakso adalah borax. Borax memiliki kandungan zat beracun yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Borax yang telah dikonsumsi akan terserap oleh usus untuk kemudian menumpuk di dalam hati, ginjal, serta testis. Dan akhirnya kadar toksin yang terkumpul di dalam tubuh akan semakin tinggi sehingga mengakibatkan ganguan fungsi organ. Bila konsumsi secara terus menerus bahaya borax bagi kesehatan adalah dapat menyebabkan kanker.

    Like

Silahkan berkomentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s