Hubungan IMT dengan Fungsi Kognitif pada Penduduk Tiongkok Berusia 90 Tahun atau Lebih

Pendahuluan

Penelitian epidemiologi terbaru menghubungkan antara adipositas di usia pertengahan dengan peningkatan risiko demensia di usia lanjut, terutama demensia tipe penyakit Alzheimer. Hubungannya sebagai berikut: (1) atrofi lobus temporal dan prevalensi demensia yang lebih tinggi pada wanita lanjut usia berhubungan dengan indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi secara konsisten selama masa dewasa; (2) atrofi otak berhubungan dengan IMT yang lebih tinggi pada usia 50-an; dan (3) volume hipokampal yang lebih kecil pada lansia berhubungan dengan rasio lingkar pinggang/lingkar panggul. Beberapa penelitian epidemiologis lainnya menemukan bahwa peningkatan IMT pada usia pertengahan sebagai faktor risiko untuk diagnosis demensia beberapa dekade kemudian, terutama pada wanita. Penelitian-penelitian ini secara umum sudah mempertimbangkan kondisi penyerta seperti hipertensi, diabetes melitus, dan lain-lain, menegaskan bahwa lemak tubuh memiliki efek merusak terhadap integritas dan fungsi otak. Adipositas memiliki relevansi fungsional karena penelitian menemukan fungsi belajar, daya ingat dan eksekusi yang lebih buruk pada lansia obesitas dibandingkan yang tidak obesitas. Sebagai tambahan, di sebuah penelitian pada dewasa muda, menemukan hubungan antara kondisi overweight atau obesitas dengan gangguan fungsi eksekutif. Di sisi lain, penurunan berat badan lazim dijumpai pada lansia penderita demensia, terutama pada penderita penyakit Alzheimer.

Baca juga: Belajar dari Profesor Umar

Sudah diketahui dengan baik bahwa penuaan berkaitan dengan perubahan komposisi tubuh, termasuk peningkatan massa lemak dan penurunan massa otot. Lemak abdominal, terutama akibat akumulasi lemak viseral, lebih meningkat secara proporsional seiring bertambahnya usia dibandingkan lemak perifer. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kelebihan lemak viseral abdominal berkorelasi dengan peningkatan risiko hipertensi, dislipidemia dan hiperglikemia. Pengukuran IMT pada lansia mungkin tidak cukup tepat menggambarkan akumulasi lemak abdominal karena adanya penurunan massa otot.

Peningkatan IMT pada usia pertengahan sebagai faktor risiko demensia dalam beberapa dekade berikutnya, demensia sebagai faktor risiko penurunan berat badan pada lansia, hubungan antara penuaan dengan penurunan kognitif, dan hubungan antara penuaan dan perubahan komposisi tubuh telah dikonfirmasi melalui berbagai penelitian. Kita bisa menyimpulkan bahwa pada subjek yang berusia 90 tahun atau lebih, terdapat hubungan erat antara IMT dan fungsi kognitif, yang mungkin berbeda dengan lansia secara umum (berusia 60 tahun atau lebih).

 

Subjek dan Metode

Subjek Penelitian

Berdasarkan sensus pada tahun 2005 di Dujiangyan (Provinsi Sichuan, Tiongkok barat daya), penelitian potong-lintang untuk penyakit terkait usia dilakukan pada 870 subjek berumur sangat tua (>90 tahun), sebagai bagian dari Project of Longevity and Aging in Dujiangyan (PLAD). Hasil pengumpulan data diisikan dalam formulir standar, kuesioner gaya hidup dan fungsi kognitif [diukur menggunakan 30-item Mini-Mental State Examination (MMSE)]. Kami mengeksklusikan mereka yang tidak menyelesaikan tes MMSE atau yang tidak memiliki data IMT.

 

Pengumpulan Data dan Pengukuran

Penilaian Fungsi Kognitif

Fungsi kognitif diukur menggunakan 30-item MMSE, yang merupakan sebuah tes global dengan komponen orientasi, atensi, kalkulasi, bahasa dan kemampuan mengingat. Untuk menurunkan kesalahan metodologis dan menjamin reliabilitas metodologis, administrator mendapatkan pelatihan profesional yang meliputi: (1) meninjau prosedur MMSE dan sistem penilaian yang disampaikan secara garis besar melalui boklet singkat dan video, (2) memantau seorang ahli geriatri melakukan MMSE pada penduduk yang bukan subjek penelitian ini, (3) mendapatkan supervisi ketika melakukan MMSE pada penduduk yang bukan subjek penelitian ini. MMSE dilakukan pada individu yang memberikan persetujuan berpartisipasi dalam penelitian ini. Individu dikategorikan sebagai berikut: demensia possible (nilai 0-18), gangguan kognitif ringan (nilai 19-24), dan normal (nilai 25-30).

Karena MMSE menekankan pada kemampuan visual dan auditori, 28 pria dan 72 wanita tidak menyelesaikan tes MMSE akibat gangguan penglihatan atau pendengaran. Untuk mengatasinya, subjek tersebut dieksklusikan dari analisis.

 

Pengukuran IMT

Tinggi badan dan berat badan diukur mengacu pada prosedur baku. Kami menggolongkan IMT berdasarkan ambang batas untuk Asia sesuai saran WHO menjadi 4 kategori: kurang (<18,5), normal (18,5–23,0), overweight (23,0–27,5) dan obesitas (>27,5). Kami juga membagi berdasarkan kuartil. Kami mengeksklusikan individu yang tidak bisa berdiri.

 

Penilaian Kovariat

Penilaian dasar mencakup informasi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, konsumsi teh, olahraga, kadar asam urat serum dan IMT. Tekanan darah diukur di lengan kanan sebanyak 2 kali oleh dokter atau perawat terlatih. Kadar lemak/lipoprotein (mencakup trigliserida, kolesterol total, HDL dan LDL), gula darah puasa dan asam urat serum diukur menggunakan teknik laboratorium standar. Kovariat lain dikumpulkan menggunakan kuesioner.

 

Analisis Statistik

Seluruh analisis statistik dilakukan dengan SPSS for versi 11.5 (SPSS Inc., Chicago, Ill., USA). Analisis yang digunakan: 1-way ANOVA, Pearson’s Chi2 atau Fisher’s exact test, Student’s t test, regresi logistik multipel.

 

Hasil

Dari 638 partisipan, usia rata-rata 93,36 tahun, 64 berusia 100 tahun atau lebih, dan 427 berjenis kelamin perempuan. Sembilan puluh persen partisipan tinggal di pedesaan. Nilai rata-rata MMSE 15,57, hanya 35 subjek yang nilainya lebih dari 24. Pada sampel oldest-old, prevalensi demensia possible 54,6%, prevalensi pada pria 39% dan pada wanita 67,4%. Pada sampel tersebut, prevalensi demensia possible berhubungan dengan tingkat pendidikan.

Pada sampel oldest-old, rata-rata IMT adalah 19,05. Ketika dikategorikan menggunakan cutoff point standar WHO maupun menggunakan kuartil tidak ditemukan perbedaan bermakna pada faktor gaya hidup di antara subgrup.

Nilai MMSE dan risiko demensia tidak berbeda bermakna ketika IMT dikategorikan menggunakan cutoff point standar WHO, namun ada perbedaan ketika IMT dikategorikan berdasarkan kuartil.

 

Pembahasan

IMT yang dikategorikan menurut kuartil menunjukkan bahwa kelompok ketiga (IMT 18,9-21,1) memiliki risiko demensia yang lebih kecil dan nilai MMSE yang lebih tinggi. Penuaan terkait dengan perubahan komposisi tubuh (termasuk penurunan IMT), dan hasil ini konsisten dengan penelitian lain. Pada penduduk Tiongkok yang berusia sangat tua, IMT sekitar 20 (18,9-21,1) adalah yang paling tepat untuk pencegahan demensia.

Berbeda dengan hampir seluruh penelitian sebelumnya, standar yang digunakan dalam penelitian ini adalah MMSE, bukan diagnosis secara klinis, karena alasan kepraktisan. MMSE hanyalah alat skrining demensia, yang secara luas juga dipakai untuk mengukur fungsi kognitif. Nilai MMSE tidak selalu merefleksikan fungsi kognitif sesungguhnya karena kadang dapat dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan subjek. Pada penelitian ini, individu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi memiliki risiko demensia yang lebih rendah. Hal ini konsisten dengan penelitian sebelumnya. Setelah menyesuaikan untuk usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan, IMT sekitar 20 masih memiliki risiko demensia yang lebih rendah dibanding kelompok lain. Hal ini menegaskan bahwa IMT sekitar 20 adalah faktor determinan penting untuk fungsi kognitif pada lansia. Temuan ini memiliki implikasi praktis berupa intervensi sebagai pencegahan demensia, yaitu lansia harus diupayakan memiliki IMT 20.

Hubungan IMT tinggi dengan fungsi kognitif dapat ditelusuri melalui hal-hal berikut: IMT tinggi pada penduduk sangat tua terkait dengan peningkatan IMT pada usia pertengahan, yang dianggap sebagai faktor risiko diagnosis demensia beberapa dekade kemudian; dan bersama-sama dengan obesitas, hipertensi, dislipidemia, hiperurisemia dan diabetes dianggap sebagai komponen sindrom metabolik. Sindrom metabolik telah dikonfirmasi sebagai faktor risiko untuk demensia. Pada penelitian ini, subjek dengan IMT tinggi memiliki tekanan darah tinggi, kadar TG dan asam urat tinggi, dan kadar HDL rendah, dan mereka yang demensia possible memiliki kadar kolesterol total yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Gaya hidup seperti kebiasaan merokok, minum alkohol, minum teh, dan olahraga memiliki kaitan dengan IMT dan fungsi kognitif.

Hubungan antara IMT rendah dengan fungsi kognitif juga dapat dikaitkan dengan penurunan berat badan pada subjek dengan demensia, dan perubahan komposisi tubuh (yang hasilnya menurunkan IMT) dan demensia keduanya terkait dengan penuaan.

Sebagai kesimpulan, memperhatikan umur panjang pada penduduk Tiongkok, terdapat hubungan antara IMT dan fungsi kognitif. IMT sekitar 20 (18,9-21,1) terkait dengan risiko paling rendah terjadinya demensia dan hasil fungsi kognitif yang paling tinggi.

indeks massa tubuh

Judul asli: Association between Body Mass Index and Cognitive Function among Chinese Nonagenarians/Centenarians

Jurnal: Dement Geriatr Cogn Disord 2010;30:517–524 DOI: 10.1159/000322110

Penulis: Yan Zhou, Joseph H. Flaherty, Chang-Quan Huang, Zhen-Chan Lu, Bi-Rong Dong

Afiliasi penulis: Department of Geriatrics, West China Hospital, Sichuan University, Chengdu , China; Department of Internal Medicine and Division of Geriatrics, St. Louis University School of Medicine, St. Louis, Mo., USA

Kontak penulis: Bi-Rong Dong. Department of Geriatrics, West China Hospital, Sichuan University. Guoxuexiang 37. Chengdu, Sichuang 610041 (China) Tel. +86 189 8060 1332 E-Mail hxzhouyan@hotmail.com

25 thoughts on “Hubungan IMT dengan Fungsi Kognitif pada Penduduk Tiongkok Berusia 90 Tahun atau Lebih

  1. Dimas Satrio Wicaksono September 7, 2017 — 12:29 am

    Berikut ini benar mengenai asam linoleat adalaih…
    a. Merupakan suatu asam lemak jenuh
    b. Dihasilkan oleh tubuh
    c. Tidak dibutuhkan dalam jalur penyampaian sel
    d. Defisiensi asam linoleat mengakibatkan gangguan pencernaan
    e. Defisiensi asam linoleat mengakibatkan gangguan neurologis

    Jawaban : e
    sumber : Asuhan Gizi Klinik (buku hijau) halaman 9 – 10
    Dimas Satrio Wicaksono – 41150084

    Like

  2. I Gusti Bagus Suryanegara September 7, 2017 — 7:03 pm

    Vitamin yang larut dalam lemak …
    A. A,D,E,K
    B. B
    C. C
    D. A,C,E,K
    E. A,B,E,K
    Jawaban: A. A,D,E,K
    Sumber: Buku Asuhan Gizi Klinik (Buku Hijau) halaman 16.
    I Gusti Bagus Suryanegara – 41150043

    Like

  3. Dalam terapi obesitas, sangat penting untuk memberikan diet ideal pada pasien. Ciri khas diet ideal penurunan berat badan adalah….

    A. Penurunan berat badan 1-2kg/minggu
    B. Penurunan kalori total 500-1000kkal/hari
    C. Menghentikan asupan karbohidrat secara total.
    D. Mengganti protein hewani dengan nabati.
    E. Berdasarkan atas model piramida makanan.

    Jawaban : B. Penurunan kalori total 500-1000kkal/hari

    Sumber : Buku Asuhan Gizi Klinik halaman 51
    Ni Nengah Ayu Petra Steffiasih – 41150021

    Like

  4. Salah satu komplikasi utama dari nutrisi parenteral adalah ?
    a. Abses saluran cerna
    b. Trombofeblitis
    c. Hiperalimentasi
    d. Hiperglikemia
    e. Gagal sistem saluran cerna

    Jawaban : B
    sumber : Buku Asuhan Gizi Klinik (Buku Hijau) halaman 218
    Dian Leandro Purba 411150067

    Like

  5. Tanda-tanda fisik malnutrisi energi dan protein (MEP) yang paling sering dijumpai antara lain, kecuali..
    a. Penurunan berat badan dan kakesia
    b. Kram dan nyeri otot
    c. Gangguan dan kelainan saraf
    d. Perubahan di rambut
    e. Perubahan di kuku

    Jawaban : E
    Sumber : Buku Asuhan Gizi Klinik (Buku Hijau) halaman 40
    I Made Fajar Sutrisna Himawan – 41150079

    Like

  6. Di bawah ini yang merupakan peranan kolesterol bagi tubuh adalah:
    a. mempertahankan fungsi metabolik dan pembentukan sel darah agar tetap normal
    b. perkusor terhadap sintesis asam empedu dan hormon steroid
    c. mengatur keseimbangan asam basa
    d. memberi citarasa manis ke dalam makanan
    e. mencegah cedera oksidatif akibat radikal bebas
    jawaban: C
    sumber: Buku Asuhan Gizi Klinik halaman 12.

    Nadia Stephanie Tuankotta-4115007

    Like

  7. Raden Roro Claude Fernasetti September 8, 2017 — 11:30 am

    Berapa range kebutuhan cairan harian seorang wanita berusia 25tahun dengan TB: 165cm, BB: 55kg?
    a. 1,925-2,200mg/dL
    b. 1,750-1,925mg/dL
    c. 1,100-1,375mg/dL
    d. 1,375-1,750mg/dL
    e. 1,100-1,750mg/dL

    jawaban: B
    sumber: Buku Asuhan Gizi Klinik halaman 217

    Ditulis oleh: Raden Roro Claude Fernasetti – 41150097

    Like

  8. Raden Roro Claude Fernasetti September 8, 2017 — 11:31 am

    Berapa range kebutuhan cairan harian seorang wanita berusia 25tahun dengan TB: 165cm, BB: 55kg?
    a. 1,925-2,200ml/hari
    b. 1,750-1,925ml/hari
    c. 1,100-1,375ml/hari
    d. 1,375-1,750ml/hari
    e. 1,100-1,750ml/hari

    jawaban: B
    sumber: Buku Asuhan Gizi Klinik halaman 217

    Ditulis oleh: Raden Roro Claude Fernasetti – 41150097

    Like

  9. Marisa Shintani Putriaji September 8, 2017 — 11:56 am

    Berikut merupakan sasaran nutrisi utama guna mencegah dan mengobati osteoporosis, kecuali….

    A. Asupan kalsium dan vitamin D yang cukup
    B. Batasi asupan alkohol hingga mencapai 8-30ml per hari
    C. Asupan natrium perhari 3000 mg
    D. Menghindari asupan fosfor berlebih
    E. Diet kaya buah-buahan dan sayur-sayuran

    Jawaban: C. Asupan natrium perhari 3000 mg

    Sumber: Buku Asuhan Gizi Klinik (Buku Hijau) halaman 179

    Marisa Shintani Putriaji – 41150061

    Like

  10. Defisiensi apakah yang paling sering terjadi setelah proses pembedahan lambung?

    A. Vitamin A
    B. Vitamin D
    C. Vitamin B12
    D. Vitamin B9
    E. Vitamin K

    Jawbaan C. Vitamin B12
    Sumber : Buku Asuhan Gizi Klinik Halaman 102

    Ditulis oleh : Nigel Boeky- 41150062

    Like

  11. Prayana Banjarnahor September 8, 2017 — 3:25 pm

    Dibawah ini pengukuran antropometrik yang dipergunakan bagi orang dewasa biasanya kecuali…
    A. Tinggi
    B. Berat badan
    C. IMT
    D. Rasio pinggang/pinggul
    E. Persentase otot tubuh

    Jawaban : E

    Sumber buku Asuhan Gizi Klinik halaman 32

    Like

  12. Isabella Diah Ayu September 9, 2017 — 10:38 am

    Dehidrasi adalah ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran cairan dalam tubuh. Berikut yang BUKAN termasuk penanda biokimia yang mampu mendeteksi adanya dehidrasi adalah …

    A. rasio urea/kreatinin >0,15
    B. peningkatan kadar natrium plasma
    C. warna urine atau berat jenis urin
    D. osmolaritas serum
    E. penurunan kadar natrium plasma

    JAWABAN : E

    Sumber Buku Asuhan Gizi Klinik halaman 36

    Like

  13. Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam asupan diet guna mengatasi efek samping kemoterapi pada penderita kanker yaitu…
    A. Pada efek samping kehilangan nafsu makan maka perlu menghidangkan makanan dalam porsi besar
    B. Pada efek samping kehilangan cita rada maka pilihlah makanan yang tidak menggunakan bumbu penyedap
    C. Pada xerostomia hindari memanggang atau menggoreng makanan
    D. Pada sariawan tingkatkan konsumsi jus jeruk, jeruk bali dan lemon
    E. Pada xerostomia tingkatkan konsumsi makanan kering atau kasar

    Jawaban: C. Pada xerostomia hindari memanggang atau menggoreng makanan

    Sumber: asuhan gizi klinik hal. 176-177

    Like

  14. Darren Eduardo William September 9, 2017 — 10:16 pm

    Dibawah ini yang merupakan asam amino essensial(tak tergantikan) adalah ….

    A. alanin
    B. serin
    C. asparagin
    D. asam aspartat
    E. leusin

    Jawaban E. leusin

    sumber: asuahan gizi klinik hal. 14

    Like

  15. Marcella Anggatama November 20, 2017 — 2:56 pm

    1. Usia
    Semakin bertambahnya usia, akan terjadi perubahan komposisi tubuh termasuk peningkatan massa lemak tubuh dan penurunan massa otot tubuh. Lemak tubuh mempunyai efek merusak terhadap integritas dan fungsi otak. Lemak viseral lebih meningkat secara proporsional seirint bertambahnya usia dibandingkan dengan lemak perifer. Dimana lemak viseral berhubungan pula dengan hipertensi, dislipidemia, hiperglikemia.

    2. Penyakit penyerta
    Sindroma metabolik :
    – obesitas
    Terkait IMT, IMT sekitar 20 memiliki risiko yang rendah untuk demensia.
    – hipertensi
    – dislipidemia
    • trigliserida
    • kolesterol total
    • hdl
    • ldl
    – hiperurisemia
    – diabetes melitus

    3. Gaya hidup
    – kebiasaan merokok
    – kebiasaan mengkonsumsi alkohol
    – kebiasaan mengkonsumsi teh
    – kebiasaan olahraga
    Gaya hidup tersebut dapat mempengaruhi IMT dan juga kesehatan yang bisa mempengaruhi fungsi kognitif.

    3. Tingkat pendidikan
    Pendidikan yang tinggi menurunkan resiko demensia.

    Like

  16. Determinan Sosial Kesehatan yang Mempengaruhi Fungsi Kognitif Lansia :
    1. Jenis Kelamin
    Pada sampel oldest-old, prevalensi demensia possible 54,6%, prevalensi pada pria 39% dan pada wanita 67,4%.
    2. Tingkat Pendidikan
    Nilai MMSE tidak selalu merefleksikan fungsi kognitif sesungguhnya karena kadang dapat dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan subjek. Pada penelitian ini, individu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi memiliki risiko demensia yang lebih rendah.
    3. Tingkat Ekonomi
    Tingkat ekonomi menentukan gaya hidup dan ketahanan pangan. Gaya hidup seperti kebiasaan merokok, minum alkohol, minum teh, dan olahraga memiliki kaitan dengan IMT dan fungsi kognitif. Hubungan IMT tinggi dengan fungsi kognitif dapat ditelusuri melalui hal-hal berikut: IMT tinggi pada penduduk sangat tua terkait dengan peningkatan IMT pada usia pertengahan, yang dianggap sebagai faktor risiko diagnosis demensia beberapa dekade kemudian; dan bersama-sama dengan obesitas, hipertensi, dislipidemia, hiperurisemia dan diabetes dianggap sebagai komponen sindrom metabolik. Sindrom metabolik telah dikonfirmasi sebagai faktor risiko untuk demensia.

    Like

  17. E. C. Aryo Nugroho November 22, 2017 — 12:13 pm

    Determinan sosial kesehatan yang mempengaruhi hubungan IMT dengan fungsi kognitif pada lansia dalam penelitian tersebut adalah IMT lebih dari 20 dimana normal 18,9 – 21,1; usia 90 tahun lebih berhubungan erat sebagai faktor risiko untuk demensia beberapa dekade kemudian; lansia berjenis kelamin wanita; kondisi penyerta seperti hipertensi, diabetes melitus, kolesterol, dan lain-lain, menegaskan bahwa lemak tubuh memiliki efek merusak terhadap integritas dan fungsi otak; gaya hidup seperti kebiasaan merokok, minum alkohol, minum teh, dan olahraga memiliki kaitan dengan IMT dan fungsi kognitif. Pada penelitian tersebut mengatakan bahwa responden dengan IMT sekitar 20 (18,9-21,1) merupakan risiko paling rendah terjadinya demensia dan memiliki hasil fungsi kognitif yang paling tinggi dan individu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi memiliki risiko demensia yang lebih rendah sehingga bukan merupakan faktor yang mempengaruhi hubungan IMT dengan fungsi kognitif.

    Like

  18. L. A. Fendi Permana November 22, 2017 — 2:54 pm

    Determinan kesehatan yang berpengaruh pada artikel ini antara lain:

    1. Adipositas, peningkatan atau tingginya IMT, dan lingkar pinggang/lingkar panggul yang tinggi pada usia pertengahan
    Adipositas atau kegemukan adalah berat badan berlebih akibat timbunan lemak di atas nilai normal. Adipositas dapat dibagi 2 macam yaitu adipositas endogen dan eksogen. Adipositas endogen disebabkan oleh kelainan hormonal dalam tubuh seseorang, yang kadangkala disertai kelebihan makan makanan berkalori tinggi. Adipositas eksogen dimaksudkan pada orang sehat yang mengalami kegemukan karena pola kebiasaan makan yang berkelebihan kalori dengan aktivitas fisik yang kurang memadai untuk membakar kelebihan kalori tersebut. Adipositas memiliki kaitan erat dengan tinnginya IMT dan berkorelasi dengan lingkar pinggang/lingkar panggul yang tinggi pula. Apabila pada saat usia pertengahan sesorang mengalami adipositas dan memiliki IMT yang tinggi maka pada saat lansia lingkar pinggang/panggulya akan besar karena komposisi lemak abdominal akan lebih tinggi dibanding orang yang memiliki IMT normal.

    2. Wanita lanjut usia
    Wanita memiliki persentase lemak yang lebih banyak dibandingkan pria. Penuaan berkaitan dengan perubahan komposisi tubuh, termasuk peningkatan massa lemak dan penurunan massa otot. Lemak abdominal, terutama akibat akumulasi lemak viseral, lebih meningkat secara proporsional seiring bertambahnya usia dibandingkan lemak perifer. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kelebihan lemak viseral abdominal berkorelasi dengan peningkatan risiko hipertensi, dislipidemia dan hiperglikemia. Apabila sesorang tersebut merupakan wanita dan berusia lanjut, maka risiko untuk terjadi demensia lebih besar.

    3. Tingkat pengetahuan
    Nilai MMSE tidak selalu menggambarkan fungsi kognitif sesungguhnya karena dapat dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan subjek. Pada penelitian ini, individu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi memiliki risiko demensia yang lebih rendah, begitupun sebaliknya.

    4. Penyakit metabolik
    Obesitas, hipertensi, dislipidemia, hiperurisemia dan diabetes dianggap sebagai komponen sindrom metabolik. Pada penelitian ini, subjek dengan IMT tinggi memiliki tekanan darah tinggi, kadar TG dan asam urat tinggi, dan kadar HDL rendah, dan mereka yang demensia possible.

    5. Gaya hidup
    Gaya hidup seperti kebiasaan merokok, minum alkohol, minum teh, dan olahraga memiliki kaitan dengan IMT dan fungsi kognitif.

    Like

  19. determinan sosial kesehatan adalah kondisi dimana orang lahir, tumbuh, hidup, bekerja dan bertambah usia (WHO, 2012). Faktor-faktor yang mempengaruhi determinan sosial kesehatan lansia pada penelitian diatas
    1. IMT
    Dengan indeks masa tubuh melebihi normal ( nilai normal IMT :18,5- 23,0) dapat memicu timbulnya penyakit-penyakit metabolik seperti hipertensi, hiperdislipidemia, diabetes militus dan stroke, dimana penyakit-penyakit tersebut dapat mempengaruhi aliran darah menuju otak dan dapat mengakibatkan penurunan fungsi kognitif
    2. Lifestyle
    Gaya hidup yang sehat seperti berolahraga, mengkonsumsi makanan tinggi serat dan rajin menkonsumsi makanan- makanan dari bahan yang alami dapat membantu fungsi kerja organ seiring dengan bertambahnya usia
    3. Tingkat kemiskinan
    Kemiskinan dapat mempengaruhi kesehatan. Dimana kesehatan fisik dan mental dapat terganggu akibat kemiskinan. Kebutuhan dan gizi tidak dapat terpenuhi akibat tingkat kemiskinan yang tinggi
    4. Dukungan sosial
    Dengan dukungan sosial dari sekitar dan lingkungan dapat merubah pola pikir sesorang. Dukungan moral adalah cara yang jitu untuk para geriatri dengan dukungan dari dalam keluarga dan sekitar sangat mempengaruhi status kesehatan mental dari para lansia
    5. Hubungan sosial
    Masalah yang sering di hadapi para lansia adalah kejenuhan. Banyak lansia yang dulu nya aktif ketika masih muda kemudian hanya diam dirumah ketika tua, ini adalah masalah yang dapat mempengaruhi status kognitif lansia. Hubungan sosial sperti mengikuti aktivitas sosial, terlibat dalam sebuah kegiatan sosial, dll dapat menambah semangat dari para lansia dan tentunya kesehatan mental mereka juga akan selalu terjaga kesehatannya

    Like

  20. Virgiana Rira Cassia November 22, 2017 — 3:43 pm

    Determinan sosial kesehatan yang mempengaruhi fungsi kognitif pada artikel adalah :

    Usia
    Pada penelitian yang dilakukan terdapat peningkatan resiko demensia pada usia lanjut. Adanya atrofi lobus temporal dan prevalensi demensia yang lebih tinggi pada wanita lanjut usia berhubungan dengan indeks masa tubuh yang lebih tinggi secara konsisten selama masa dewasa. Atrofi otak berhubungan dengan IMT yang lebih tinggi pada usia 50-an.

    Indeks Massa Tubuh (IMT)
    Beberapa penelitian epidemiologis yang disebutkan diartikel menemukan bahwa peningkatan IMT pada usia pertengahan sebagai faktor risiko untuk diagnosis demensia beberapa dekade kemudian, terutama pada wanita.

    Gaya hidup
    Pada pembahasan disebutkan gaya hidup seperti kebiasaan merokok, minum alkohol, minum teh, dan olahraga memiliki kaitan dengan IMT dan fungsi kognitif.

    Like

  21. Determinan sosial kesehatan yang mempengaruhi fungsi kognitif lansia pada penelitian, sebagai berikut:

    1. Lifestyle/Gaya hidup
    Gaya hidup memiliki peran yang cukup kuat bagi fungsi kognitif terutama dari kebiasaan yang beragam dari masing-masing orang dalam kehidupan sehari-hari. Dari penelitian di atas gaya hidup yang dimaksud seperti kebiasaan merokok, minum alkohol, minum teh dan berolahraga.

    2. Tingkat Pendidikan:
    Pendidikan seseorang dapat mempengaruhi tingkah laku atau langkah apa saja yang akan dilakukan. Pada penelitian ini dikatakan bahwa semakin tingginya tingkat pendidikan seseorang maka akan lebih rendah peluang beresiko terjadinya demensia.

    3. IMT
    IMT sekitar 20 masih memiliki risiko demensia yang lebih rendah dibanding kelompok lain. Hal ini menegaskan bahwa IMT sekitar 20 adalah faktor determinan penting untuk fungsi kognitif pada lansia. Hubungan IMT tinggi dengan fungsi kognitif dapat ditelusuri melalui hal-hal berikut: IMT tinggi pada penduduk sangat tua terkait dengan peningkatan IMT pada usia pertengahan, yang dianggap sebagai faktor risiko diagnosis demensia beberapa dekade kemudian; dan bersama-sama dengan obesitas, hipertensi, dislipidemia, hiperurisemia dan diabetes dianggap sebagai komponen sindrom metabolik. Sindrom metabolik telah dikonfirmasi sebagai faktor risiko untuk demensia. Pada penelitian ini, subjek dengan IMT tinggi memiliki tekanan darah tinggi, kadar TG dan asam urat tinggi, dan kadar HDL rendah, dan mereka yang demensia possible memiliki kadar kolesterol total yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak. 

    4. Usia
    Dari penelitian di atas bisa disimpulkan bahwa pada subjek yang berusia 90 tahun atau lebih, terdapat hubungan erat antara IMT dan fungsi kognitif, yang mungkin berbeda dengan lansia secara umum (berusia 60 tahun atau lebih).

    Like

  22. Determinan sosial kesehatan yang mempengaruhi lansia dalam penelitian tersebut, antara lain:

    Usia
    Prevalensi dan peningkatan risiko demensia lebih tinggi pada usia lanjut, terutama demensia tipe penyakit Alzheimer. Prevalensi demensia yang lebih tinggi pada wanita lanjut usia berhubungan dengan indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi secara konsisten selama masa dewasa. Penuaan berkaitan dengan perubahan komposisi tubuh, termasuk peningkatan massa lemak dan penurunan massa otot

    Jenis kelamin
    Peningkatan IMT pada usia pertengahan sebagai faktor risiko untuk diagnosis demensia beberapa dekade kemudian, terutama pada wanita. Prevalensi pada pria 39% dan pada wanita 67,4%.

    Gaya hidup
    Konsumsi makanan yang berlemak dapat menyebabkan kelebihan lemak viseral abdominal yang ternyata berkorelasi dengan peningkatan risiko hipertensi, dislipidemia dan hiperglikemia. Selain itu, kondisi penyerta seperti hipertensi, diabetes melitus, menegaskan bahwa lemak tubuh memiliki efek merusak terhadap integritas dan fungsi otak. Adanya kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, konsumsi teh, kadar asam urat serum dan IMT yang berlebih dapat meningkatkan resiko demensia

    Tingkat pendidikan
    Prevalensi demensia possible berhubungan dengan tingkat pendidikan. Individu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi memiliki risiko demensia yang lebih rendah

    Lingkungan pemukiman
    Sembilan puluh persen partisipan tinggal di pedesaan

    Like

  23. Stephanie Caroline Link November 22, 2017 — 4:03 pm

    Faktor determinan sosial kesehatan menurut saya menurut artikel diatas adalah:
    1. Jenis kelamin
    Wanita memiliki kemungkinan lebih besar untuk menderita demensia apabila dibandingkan dengan laki-laki. Dimana wanita memiliki angka prevalensi 67,4% sedangkan laki-laki 39%.
    2. Indeks massa tubuh (IMT)
    Orang lanjut usia dengan total IMT antara 18,9-21,1 memiliki resiko demensia yang jauh lebih kecil apabila dibandingkan dengan lansia dengan IMT lebih dari 20 atau jauh di bawah 18,9.
    3. Penyakit penyerta atau riwayat penyakit terdahulu
    Lansia yang memiliki penyakit seperti obesitas, hipertensi, dislipidemua, hiperurisemia, diabetes dan sindroma metabolik meningkatkan faktor terjadinya demensia secara signifikan.
    4. Lifestyle
    Kebiasaan merokok, banyaknya mengkonsumsi minum teh, meminum minuman beralkohol, dan kurangnya olahraga memiliki kaitan yang erat dengan terjadinya demensia pada usia tua.

    Like

  24. I Dewa Gde Rainey Chrisananta Putra November 22, 2017 — 4:33 pm

    Kondisi determinan sosial kesehatan yang berpengaruh pada jurnal tersebut diatas adalah
    1. Kurangnya Pendidikan atau Edukasi yang diterima
    Tingkat pendidikan yang ditempuh oleh seseorang akan berpengaruh terhadap perilaku sehari-hari dan secara tidak langsung maupun langsung akan berpengaruh terhadap kesehatannya. Yang nantinya akan dirasakan juga pada usia lansia dengan munculnya berbagai gangguan.
    2. Gaya Hidup
    Life style atau gaya hidup akan mempengaruhi kualitas kesehatan seseorang baik dalam jangka waktu pendek atau panjang yang nanti dirasakan pada saat memasuki usia lanjut. Kebiasaan seperti merokok, malas berolah raga, makan makanan yang tinggi lemak, asupan tinggi gula, minum teh akan membawa efek buruk pada kesehatan dalam hal ini akan mempengaruhi IMT yang nantinya akan bisa mempengaruhi fungsi kognitif.
    3. Usia
    Pada penelitian tersebut diatas juga sudah dijelaskan bahwa ada hubungan antara usia dengan kejadian demensia ini. Semakin lanjut usia seseorang akan berpengaruh terhadap fungsi tubuh yang yang nantinya dapat mengarah ke kejadian demensia.
    4. Jenis Kelamin
    Jenis kelamin ini juga berpengaruh terhadap penyakit-penyakit atau kondisi tertentu yang bisa diderita oleh seseorang dan juga jenis kelamin dapat mempunyai peluang terhadap terjadinya suatu penyakit atau kondisi itu berbeda. Seperti pada jurnal ini dikatakan juga prevalensi demensia pada pria 39% dan pada wanita 67,4%.
    5. Konsumsi pangan
    Cara makan berpengaruh terhadap kesehatan individu, keluarga dan masyarakat. Kekurangan gizi maupun kelebihan gizi berdampak terhadap kesehatan dan penyakit. Kelebihan gizi ini dapat menyebabkan suatu kondisi seperti obesitas yang nantinya berpengaruh terhadap fungsi tubuh dan kognitif.

    Like

  25. Aprilia Vetricia Gandrung November 22, 2017 — 6:00 pm

    Determinan sosial kesehatan yang mempengaruhi lansia dalam penelitian diatas adalah
    1. Pendidikan
    Pendidikan merupakan proses menambah pengalaman hidup yang juga merupakan proses stimulasi intelektual yang akan mempengaruhi kognitif seseorang, dimana semakin sering kita melatih dan menggunakan otak kita, maka kemunduran kognitif juga dapat diperlambat
    Tingkat pendidikan yang rendah, berarti pengalaman mental dan lingkungannya kurang yang
    berdampak pada stimulasi intelektual yang kurang. Sehingga, akibatnya adalah kognitif seseorang akan mengalami penurunan
    2. Jenis Kelamin
    Pada penelitian ini, perempuan usia lanjut memiliki resiko lebih tinggi terjadinya penurunan fungsi kognitif atau demensia daripada laki-laki , hal ini disebabkan adanya peranan level hormon seks endogen dalam perubahan fungsi kognitif.
    3. Faktor Ekonomi
    Faktor ekonomi memiliki hubungan dengan kesehatan seseorang, dimana apabila apabila seseorang tersebut mengalami kemiskinan dengan tingkat pendapatan yang rendah hal ini akan mempengaruhi pola makannya, sehingga apapun jenis makanannya termasuk makanan dengan lemak tinggi dapat dikonsumsi dan berdampak pada indeks masa tubuh.
    4. Usia
    Seiring pertambahan usia sel-sel tubuh banyak yang mati dan mengalami degenerasi. Akibatnya terjadi gangguan fungsional dari berbagai macam organ terutama pada system saraf. Salah satu keadaan yang yang biasa dialami oleh para lansia adalah demensia, selain itu semakin bertambahnya usia juga mempengaruhi peningkatan massa lemak tubuh dimana hal ini
    memiliki hubungan dengan penurunan kemampuan kognitif.
    5. Gaya hidup
    Gaya hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi lansia, dimana Agar
    tetap sehat sampai tua, sejak muda seseorang perlu membiasakan gaya hidup sehat. gaya hidup konsumsi lemak yang menyebabkan obesitas dan kadar kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, alkohol, teh, olahraga yang kurang , serta kurang istirahat atau tidur mempengaruhi fungsi kognitif lansia, terutama terjadinya demensia
    6. Lingkungan sosial
    Lansia cenderung memiliki interaksi sosial yang kurang dari sekitarnya dan beradaptasi dengan lingkungan skitar , hal ini tentu akan mempengaruhi fungsi kognitifnya, dimana akan terjadi perubahan sosial yang akan menimbulkan reaksi stres dimulai dengan meningkatnya produksi glukocorticoid dan ini berpengaruh terhadap hipotalamus dan secara perlahan akan mempengaruhi fungsi kognitifnya

    Like

Silahkan berkomentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close