status gizi lansia cerdas

Profil Kognitif Lanjut Usia dan Hubungannya dengan Aspek Antropometrik dan Fungsional

Pendahuluan

Dalam beberapa dekade terakhir, terdapat perilaku demografik baru pada lanjut usia, yaitu adanya peningkatan progresif prevalensi populasi lanjut usia akibat perbaikan usia harapan hidup dan peningkatan proporsi lanjut usia pada populasi dunia. Hal ini membuat pencarian strategi untuk memperpanjang usia harapan hidup yang bebas dari gangguan kognitif dan fungsional menjadi hal yang relevan. Populasi lanjut usia adalah sebuah kelompok yang ditandai oleh heterogenitas, sehingga kita bisa menemukan dalam satu kelompok yang sama lanjut usia yang memiliki kapasitas fungsional yang masih terjaga dan yang gangguan memorinya sudah dalam tahap lanjut.

Baca juga: Anemia menyebabkan tuli?

Penuaan adalah proses berkelanjutan di mana terdapat penurunan progresif pada proses fisiologis. Di antara perubahan fisiologis yang paling kentara selama penuaan, terdapat penurunan tinggi badan sebanyak sekitar 1 cm tiap dekade serta perubahan struktural dan fungsional di sistem saraf, akibat penurunan jumlah neuron. Hal yang lain yang lazim dijumpai adalah peningkatan kekakuan arteri, peningkatan tekanan darah, penurunan cardiac output saat istirahat maupun saat olahraga, dan penurunan densitas mineral tulang.

Secara spesifik, terdapat ventrikulomegali dan penurunan mantel kortikal, biasanya disertai oleh gangguan kognitif progresif. Dengan atau tanpa penyakit-penyakit degeneratif, disfungsi kognitif dan demensia dapat dijumpai. Demensia adalah penurunan progresif atau hilangnya kemampuan kognitif, parsial atau komplit, permanen atau sementara, yang cukup untuk menyebabkan hilangnya otonomi dan penurunan fungsional.

Menurut Pedrosa dan Holland, hilangnya independensi dan rendahnya kebugaran kardiorespirasi berhubungan dengan risiko morbiditas dan mortalitas dari penyakit kronis, di sisi lain performa aktivitas harian dan pemeliharaan independensi berkaitan dengan peningkatan kesehatan secara umum. Rendahnya kekuatan otot dan obesitas berhubungan dengan penurunan fungsional dan gangguan kognitif.

Kapasitas fungsional dan mempertahankan otonomi berhubungan dengan insidensi penyakit degeneratif kronis yang lebih rendah. Sehingga terdapat kebutuhan konstan untuk penilaian dan perawatan kebugaran fisik, karena berkaitan dengan kesehatan secara umum pada lanjut usia terutama dalam hubungannya dengan penyakit kardiovaskular, respon kognitif dan rawat inap di rumah sakit. Dari hal-hal ini, tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi profil kognitif lanjut usia dan hubungannya dengan aspek antropometrik dan fungsional.

 

Metode

Subjek

Sampel terdiri atas 84 lanjut usia (15 pria dan 69 wanita) berusia 61-90 tahun yang tinggal di Distrik Federal, dipilih secara convenience. Kriteria inklusinya: berusia lebih dari 60 tahun, tinggal di rumah sendiri, menandatangani informed consent, melengkapi seluruh data, tidak menderita neuropati atau masalah muskuloskeletal saat tes fisik.

 

Rancangan penelitian

Setelah kontak dengan lanjut usia di rumah mereka, kami mengumpulkan data terkait pengukuran antropometrik, MMSE, dan tes fungsional menggunakan The adapted Functional Fitness Test.

Tes Romberg: Peneliti meminta tiap subjek untuk berdiri tegak dengan dua kaki, tanpa alas kaki, dengan mata terbuka selama 30 detik lalu dengan mata tertutup selama 30 detik. Tes dinilai positif jika subjek gagal mencapai minimal 10 detik dengan mata tertutup tanpa tubuhnya bergoyang-goyang.

Tes handgrip: Setelah pengenalan alat, subjek diminta duduk, dengan bahu dalam posisi netral. Subjek diminta untuk melakukan kontraksi isometrik maksimal sesuai perintah pemeriksa.

Stand up and walk test (TSW) (Timed up and go – TUG): Tes ini diukur dengan stopwatch dan direkam dalam detik waktu yang diperlukan untuk berdiri dari kursi, berjalan sejauh 3 meter, memutari rintangan dan duduk kembali.

Chair get up test: Untuk tes ini kami menggunakan kursi dengan sandaran tradisional, tanpa sandaran samping, tinggi 45 cm, serta sebuah stopwatch. Kursi dipasang erat pada dinding untuk mencegah bergeser selama tes. Pengenalan prosedur dilakukan untuk memastikan subjek duduk di sebagian besar kursi dengan posisi telapak kaki rata di lantai.

Mini Mental State Examination (MMSE): MMSE terdiri atas pertanyaan tipikal terdiri atas 7 kategori, masing-masing didesain untuk menilai fungsi kognitif spesifik, yaitu: orientasi waktu, lokasi, pengenalan kata, atensi dan perhitungan, memori, bahasa, dan kapasitas konstruktif visual.

Massa tubuh dan tinggi badan: Untuk mengukur massa tubuh digunakan timbangan digital Britania dengan ketelitian 0.1 kg. Subjek diukur dengan pakaian minimum, berdiri tegak, tidak bergerak hingga angka di timbangan stabil. Pita ukur yang ditempel ke dinding digunakan untuk mengukur tinggi badan. Kepala diposisikan menurut Frankfurt plan di mana garis imajiner melewati titik terendah dari tepi orbital inferior dan titik tertinggi dari tepi atas lubang telinga kanan.

status gizi lansia cerdas

Lingkar pinggang dan panggul: Pengukuran pinggang menggunakan pita 150 cm dengan ketelitian 0,1 cm. Diukur melewati pusar, tanpa pakaian. Pengukuran panggul dilakukan pada daerah paling lebar di panggul, dengan kaki lurus dan telapak kaki rapat.

Lingkar lengan atas: Pengukuran dilakukan dengan posisi fleksi terhadap dada dalam sudut 90 derajat, pada lokasi pertengahan akromion dan olekranon.

Lingkar paha: Pita ukur dilingkarkan di pertengahan linea inguinal dan batas atas patella. Kedua telapak kaki sedikit terbuka dan berat tubuh dibagi merata.

Lingkar leher: Pengukuran dilakukan saat subjek berdiri dengan punggung lurus dan kepala dalam posisi Frankfurt. Pita dilingkarkan di atas prominensia laring (atau jakun pada laki-laki).

 

Analisis statistik

Awalnya normalitas data diperiksa dengan tes Shapiro-Wilk atau tes Kolmogorov-Smirnov. Statistik deskriptif dilakukan untuk menilai prevalensi hipertensi, diabetes, labirinitis, osteoporosis, aktivitas fisik dan evaluasi nutrisional antar grup yang berbeda. Kami menggunakan tes chi-square untuk menganalisis rasio frekuensi antar grup. Independent T-test digunakan digunakan untuk menganalisis perbedaan antropometrik, perbedaan hemodinamik, kondisi mental dan performa tes fungsional dalam hubungannya dengan tingkat aktivitas fisik, klasifikasi nutrisional, dan jenis kelamin.

Untuk menganalisa cutoff points untuk indikator antropometrik dan performa tes fungsional digunakan teknik kurva ROC (receiver operating characteristic). Model regresi bivariat dan regresi logistik multivariat digunakan untuk menghitung Odds Ratio (OR). Analisis statistik dilakukan dengan SPSS 18.0 (SPSS Inc., Chicago, Illinois, USA) for Windows, dan Stata software version 9.1 (College Station, TX:StataCorp LP).

 

Hasil

Terdapat perbedaan bermakna pada variabel: berat badan, tinggi badan, rasio lingkar pinggang dan pinggul, lingkar leher, dan lingkar pinggang, dimana pria memiliki angka yang lebih tinggi dari wanita.

Awalnya jenis kelamin diuji sebagai modifier efek; namun tidak menunjukkan perubahan kapasitas, sehingga analisis dilakukan pada keseluruhan sampel tanpa stratifikasi berdasarkan jenis kelamin. Dari variabel yang dianalisis, hanya rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan dan ekuilibrium yang ditemukan memiliki efek risiko atau protektif. Lansia dengan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan lebih dari 0,67 memiliki risiko 5,63 kali menderita demensia, sedangkan lansia yang memiliki keseimbangan 15% lebih jarang menderita demensia.

 

Pembahasan

Jumlah lemak abdominal paling tinggi diverifikasi oleh lingkar pinggang dan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan. Matsudo dkk menyatakan bahwa penimbunan lemak di daerah sentral yang tergambar melalui lingkar pinggang dan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan memiliki hubungan dengan tingkat aktivitas fisik yang lebih rendah dan gaya hidup yang kurang aktif.

 

Diringkas dan diterjemahkan oleh dokteryoseph

Ayo #banyakbaca

Sumber: Brito, W. A., Mendes, L., Sales, M. M., Neto, J. B., Brito, C. J., Grigoletto, M. E., et al. (2016). Cognitive profile associated with functional and anthropometric aspects in elderly. Rev Andal Med Deporte , 9 (4), 154–159.

25 thoughts on “Profil Kognitif Lanjut Usia dan Hubungannya dengan Aspek Antropometrik dan Fungsional

  1. Berat badan yang ideal dan bentuk tubuh yang ramping telah menjadikan diet sebagai tren masa kini. Berbagai tipe diet memperkenalkan diri pada masyarakat sebagai cara menurunkan berat badan dengan cepat, efektif, dan sehat. Salah satu diet yang dikenal masyarakat sebagai cara menurunkan berat badan yang cepat, efektif, dan sehat adalah Diet GM. Diet GM merupakan kepanjangan dari Diet General Motors, awalnya merupakan diet yang dibuat untuk pekerja Perusahaan General Motors yang ingin menurunkan berat badan. Di Indonesia, Diet GM ini juga dikenal sebagai Diet 7 Hari, karena Diet GM ini diklaim mampu menurunkan 5-8 kilogram berat badan hanya dalam 7 hari. Diet GM memiliki aturan makan dari hari pertama hingga hari ketujuh penurunan berat badan.
    Pada hari pertama, anda hanya boleh mengkonsumsi buah-buahan sebanyak apapun, semua jenis buah, kecuali pisang. Anda disarankan mengkonsumsi lebih banyak melon atau semangka pada hari ini dan tidak mengkonsumsi buah kering atau buah kalengan.
    Pada hari kedua, anda hanya boleh mengkonsumsi sayuran baik dimasak maupun dimakan segar seperti salad. Pagi hari dimulai dengan sarapan kentang kukus sebagai sumber karbohidrat lalu diikuti dengan konsumsi sayur sebagai sumber serat dan vitamin. Hal yang perlu diperhatikan pada hari kedua ini adalah cara mengolah sayuran menghindari penggunaan minyak maupun santan untuk memasak sayuran.
    Pada hari ketiga, anda diperbolehkan mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran, selain pisang dan kentang. Buah-buahan akan menggantikan kentang sebagai sumber karbohidrat dan sayuran akan menjadi sumber serat dan vitamin. Pada hari ini tubuh dinilai siap dengan penurunan berat badan sehingga akan muncul cravings atau keinginan terhadap makanan tertentu.
    Pada hari keempat, anda akan mengkonsumsi 8 buah pisang dan 3 gelas susu rendah lemak saja. Makanan lain yang diperbolehkan untuk anda konsumsi adalah Sup GM. Bahan untuk Sup GM ini adalah 26 oz air, 6 bawang bombai, 2 paprika hijau, 3 buah tomat, 1 buah kubis, seledri, dan herbal sebagai bumbu. Sup GM ini diijinkan untuk dikonsumsi tanpa batasan jumlah.
    Pada hari kelima, anda akan mengkonsumsi 20 ons daging, 6 buah tomat, dan Sup GM. Daging dapat diganti dengan daging ayam tanpa kulit atau tahu dan tempe bagi orang yang vegetarian. Oleh karena konsumsi daging dalam jumlah besar akan menyebabkan penumpukan asam urat, maka dianjurkan untuk minum 12 gelas air sehari untuk membantu pengeluaran asam urat.
    Pada hari keenam, anda akan mengkonsumsi 20 ons daging dengan berbagai jenis sayuran dan Sup GM. Pada hari ini anda juga dianjurkan untuk minum banyak air. Urin akan terlihat lebih bening daripada biasanya dan terjadi penurunan berat badan banyak.
    Pada hari ketujuh, pola makan anda perlahan kembali seperti biasa. Menu yang disarankan adalah 1 gelas nasi merah, jus buah, sayuran yang disukai dan Sup GM. Pada saat ini seharusnya anda sudah menurunkan 5-8 kg berat badan dari hari pertama.
    Selain aturan makan tersebut, ada juga aturan-aturan lain saat menjalani Diet GM. Aturan yang pertama adalah tidak boleh menggunakan lebih dari 1 sendok teh minyak saat mengolah sayuran dan tidak boleh menggunakan saus atau salad dressing. Aturan yang kedua adalah minum banyak air, jumlah air yang dianjurkan diminum dalam sehari adalah 10 gelas atau 2 liter air. Aturan yang ketiga adalah kopi hitam dan teh diperbolehkan, tapi penggunaan pemanis atau susu tidak diperbolehkan. Disarankan juga untuk melakukan olahraga setiap hari dengan intensitas sedang selama 20 menit per hari. selain itu, Diet GM ini dapat diulang kapan saja dengan jeda 3 hari untuk mengistirahatkan tubuh (Link, 2017). Diet GM tersebut tampak menjanjikan dengan efek yang cepat, efektif, dan terlebih lagi sehat karena tidak menggunakan obat dan mengkonsumsi buah dan sayur. Namun apakah kenyataannya demikian?
    Pada hari pertama satu-satunya sumber nutrisi yang anda konsumsi adalah buah selain pisang. Menurut FKUI dalam buku Menyusun Diet Berbagai Penyakit, buah mengandung karbohidrat, serat, vitamin B1, B6, dan C, juga beberapa mineral, seperti Kalium. Namun, buah tidak mengandung lemak dan protein (FKUI, 2013). Padahal, tubuh manusia tidak hanya memerlukan karbohidrat, melainkan juga lemak dan protein dengan kadar tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap orang. Dengan demikian maka anda tidak mendapatkan kebutuhan lemak dan protein harian anda pada hari pertama diet.
    Pada hari kedua berdiet, satu-satunya sumber nutrisi yang anda konsumsi adalah sayuran. Menurut buku Menyusun Diet Berbagai Penyakit, sayuran mengandung karbohidrat, mineral, serat, beberapa jenis protein, dan tidak mengandung lemak (FKUI, 2013). Menurut Katsilambros dalam buku Asuhan Gizi Klinik, sayuran tidak mengandung beberapa asam amino essensial, seperti Triptofan, Valin, dan Fenilalanin yang biasa ditemukan didalam daging (Katsilambros, 2016).
    Pada hari ketiga, anda diperbolehkan mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran. Kebutuhan tubuh anda akan kalori, karbohidrat, protein, serat, vitamin, dan mineral akan tercukupi. Akan tetapi, tubuh anda masih memerlukan lemak dan beberapa jenis asam amino esensial yang tidak dapat ditemukan pada sayuran.
    Pada hari keempat, anda hanya akan makan 8 buah pisang dan 3 gelas susu rendah lemak. Menurut Kumar dalam jurnal Traditional and Medicinal Uses of Banana, buah pisang memiliki khasiat untuk memperbaiki masalah pencernaan seperti diare, namun pisang juga dapat menyebabkan rasa kantuk karena pisang mengandung banyak karbohidrat (20% gula). Selain itu, pisang juga mengandung sedikit protein, vitamin B, kalsium, dan potassium (Kumar, 2012). Kandungan potassium yang terkandung dalam 1 buah pisang ambon adalah sekitar 620 mg, sedangkan dalam segelas susu sapi didapatkan sebanyak 400 mg potassium. Menurut WHO dalam Jurnal Effect of Increased Potassium Intake on Blood Pressure and Potential Adverse Effects in Children, potassium dapat mempengaruhi peningkatan tekanan darah dan peningkatan kadar lemak seperti, kolesterol dan trigliserida dalam darah. Efek tersebut dapat terlihat jika konsumsi potassium melebihi 70mmol atau 3558,1 mg (WHO, 2012). Pada hari keempat ini jika di totalkan, anda akan mengkonsumsi kurang lebih 6160 mg potassium.
    Pada hari kelima dan keenam, anda akan mengkonsumsi 20 ons daging dan 6 buah tomat atau sayuran. Konsumsi daging dalam jumlah banyak akan mempengaruhi kadar asam urat dalam darah. Dalam buku Asuhan Gizi Klinik dikatakan, konsumsi lebih banyak daging sapi dan makanan laut meningkatkan risiko gout (Katsilambros, 2016).
    Pada hari ketujuh, pola makan anda akan mulai kembali seperti normal, misalnya dengan mengkonsumsi nasi merah dengan sayuran dan jus buah. Menurut Menteri Kesehatan RI dalam Buku Pedoman Gizi Seimbang, penurunan berat badan hendaknya menyeimbangkan antara zat gizi yang masuk dan zat gizi yang keluar dengan memperhatikan Empat Pilar Gizi Seimbang, salah satunya adalah mengkonsumsi aneka ragam pangan. Program penurunan berat badan hendaknya dilakukan dengan mengontrol asupan kalori dengan kalori yang dikeluarkan dan tidak menghilangkan salah satu nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

    Daftar Pustaka:
    Katsilambros, Nikolaos, dkk. 2016. Asuhan Gizi Klinik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
    FKUI. 2013. Menyusun Diet Berbagai Penyakit Berdasarkan Daftar Bahan Makanan Penukar Edisi Keempat. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
    WHO. 2012. Effect of Increased Potassium Intake on Blood Pressure and Potential Adverse Effects in Children. Switzerland: World Health Organization.
    Kumar, K. P. Sampath, dkk. 2012. Traditional and Medicinal Uses of Banana. India: Coimbatore Medical College.
    Kementerian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
    Link, Rachael. 2017. 5 Reasons to Skip The GM Diet Plan, According to Science. FitnessReloaded. Diakses melalui https://fitnessreloaded.com/gm-diet-plan/ pada tanggal 6 September 2017 pukul 19.32 WIB.

    Gladys Bernada – 41150015

    Like

  2. Pada tahun 2016, Indonesia memasuki peringkat ke-7 dari 10 negara dengan penderita diabetes melitus tertinggi di dunia. Jumlah penderita diabetes mencapai 10 juta orang dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 21,3 juta jiwa pada 2030 mendatang. Hal ini menjadi cukup mengkhawatirkan. Lebih mengkhawatirkan lagi, berdasarkan riset dr. R. Bowo Pramono, Sp.PD.KEMD, 60% pengidap diabetes tidak sadar bahwa mereka mengidap diabetes. Mereka datang ketika sudah mengalami komplikasi. Ini artinya masyarakat Indonesia masih kurang mendapatkan edukasi mengenai gejala diabetes pada tubuh. Di sisi lain, masyarakat Indonesia pun tidak membiasakan diri untuk screening rutin sehingga kerap penyakit dalam terdeteksi sudah cukup parah.
    Lalu, apakah yang dapat dilakukan masyarakat Indonesia saat ini? Diet ketogenik adalah jawabannya. Kita selama ini kerap menyalah-artikan fungsi diet. Kerap diet hanya diidentikkan dengan upaya menurunkan berat badan bagi sebagian besar penderita obesitas atau sekedar untuk mencapai “body goals” tanpa disadari oleh alasan kesehatan yang mendasar. Akhirnya, kebanyakan orang akan berhenti diet ketika berat badan mencapai target tertentu dan mengulangi pola makan yang tidak teratur. Padahal, diet semestinya dipahami sebagai upaya untuk mencapai berat badan yang ideal dengan pola makan dan gaya hidup yang sehat secara konstan. Berat badan yang ideal bisa dicapai dengan cara menaikkan atau menurunkannya. Jadi, orang kurus pun bisa melakukan diet dengan cara menaikkan berat badannya.
    Sejak dini, masyarakat Indonesia tumbuh dengan makanan pokok di berbagai daerah yang berbahan dasar karbohidrat yang tersimpan dalam nasi, umbi-umbian, jagung, dan makanan olahan karbohidrat lainnya. Tidak tanggung-tanggung, rata-rata karbohidrat yang dikonsumsi masyarakat Indonesia relatif dalam jumlah besar. Berapa sendok nasi dikonsumsi tiap harinya dalam tiga kali makan oleh rata-rata masyarakat Indonesia? Selama ini sebagian besar masyarakat Indonesia tidak pernah menakar apa yang mereka makan. “Asal kenyang, lauknya kerupuk tidak apa, yang penting nasinya banyak” adalah kalimat yang pernah diucapkan oleh sebagian besar masyarakat untuk membenarkan diri dalam memuaskan rasa laparnya. Belum lagi masyarakat Indonesia yang gemar mengkonsumsi gorengan. Gorengan cenderung menggunakan bahan tepung yang murah yang berkabohidrat tinggi. Tidak cukup satu-dua gorengan dilahap, bisa jadi minimal lima gorengan dikonsumsi tubuh setiap harinya. Belum lagi ditambah gaya hidup yang cenderung minim pada aktivitas olahraga dan stress tinggi karena beban pekerjaan.
    Melihat kasus semacam ini, maka sebagian besar masyarakat Indonesia perlu tahu dan menjalankan diet ketogenik. Apa itu diet ketogenik? Secara sederhana diet ketogenik adalah diet dengan membatasi jumlah konsumsi karbohidrat. Mengapa harus menjalankan diet ketogenik? Bukannya karbohidrat juga salah satu sumber energi? Tidak salah mengatakan bahwa karbohidrat adalah salah satu sumber energi. Permasalahannya di sini adalah penyimpanan karbohidrat yang terbatas dalam tubuh. Karbohidrat dalam tubuh akan diolah oleh hepar, namun sayangnya, hepar hanya mampu menampung sedikit karbohidrat. Berbeda jauh dengan penyimpanan lemak yang mampu menampung lemak yang siap diolah menjadi energi dalam kapasitas besar, hepar yang tidak mampu mengolah semua karbohidrat yang masuk akan mengubah karbohidrat itu ke dalam bentuk lain, yaitu gula darah. Gula darah yang dihasilkan dari mengkonsumsi karbohidrat berlebih bisa berkali lipat lebih banyak dibandingkan gula darah yang semestinya ada dalam tubuh. Kenaikan gula darah yang tinggi ini menyebabkan bertambah beratnya kerja insulin untuk mengendalikannya, hingga berpotensi terjadinya resistensi insulin yang berujung diabetes.
    Lantas, bagaimana caranya melaksanakan diet ketogenik dengan baik? Prinsip dasarnya sesungguhnya adalah konsumsi rendah karbohidrat, tinggi lemak. Tampaknya tidak mudah, tapi sebenarnya hal ini bisa dilakukan dengan cara yang amat sederhana, yaitu makan hanya ketika lapar dan berhenti makan camilan ketika tiba-tiba hasrat makan camilan itu muncul. Tentu saja jenis makanan berkabohidrat yang dikonsumsi pun harus sedikit demi sedikit dikurangi. Jika awalnya bisa mengkonsumsi sampai 10 sendok makan nasi, perlahan kurangi menjadi 7, lalu 5, lalu 3, dan sampai 0. Lalu kemudian ganti jenis makanan yang berprotein dan berlemak, seperti daging sapi, ayam, ikan, keju, atau telur. Tentu saja, perlu diingat bahwa dalam jumlah yang wajar, tidak berlebih, tanpa banyak gula (atau bumbu yang mengadung banyak gula), dan dikonsumsi dengan pola yang tertatur.
    Hal lain yang perlu diperhatikan adalah untuk menghindari puasa seharian penuh, lalu kemudian melanjutkannya dengan makan sebanyak-banyaknya. Puasa tidak perlu, yang diperlukan hanyalah makan secukupnya ketika lapar dan biasakan minum air putih. Tidak perlu olahraga yang berat, cukup aktivitas fisik yang mendukung kebugaran, seperti senam setiap pagi setelah bangun tidur atau sore hari ketika usai bekerja. Tubuh mungkin akan mengalami beberapa gejala, seperti pusing, mual, lemas, tremor, jantung berdebar, dan sakit kepala di awal diet. Namun tidak perlu khawatir, ini merupakan gejala transisi energi dari glukosa ke keton. Tubuh akan terus merasa kekurangan gula darah. Yang perlu dilakukan hanya bersabar dan membiasakan diri sampai minimal 6 bulan, lalu tubuh dan pola makan akan terbiasa pada perubahan tersebut. Untuk mengatasi gejala-gejala tersebut bisa dengan menggunakan larutan garam ataupun kuah kaldu.
    Memahami setiap bagian dalam tubuh dan fungsinya sangatlah penting. Dengan memahaminya, kita pun bisa memberikan segala sesuatu yang terbaik sesuai fungsinya dan porsinya. Dengan memahami tubuh anda sendiri, anda turut pula menyumbang budaya hidup sehat di masyarakat.

    Daftar Pustaka

    1. Apa Itu Pola Makan Ketogenic (Diet Keto)? oleh https://pantangdiet.com/2016/08/13/apa-itu-pola-makan-ketogenic-diet-keto/. Diakses pada 6 September 2017.
    2. Jumlah Penderita Diabetes Indonesia Peringkat ke-7 di Dunia oleh Atiqa Hanum dalam http://www.harianjogja.com/baca/2016/08/31/jumlah-penderita-diabetes-indonesia-peringkat-ke-7-di-dunia-749111. Diakses pada 6 September 2017.
    3. 60 Persen Penderita Diabetes Tidak Sadar Mengidap Diabetes oleh Ika dalam https://www.ugm.ac.id/id/berita/1146760.persen.penderita.diabetes.tidak.sadar.mengidap.diabetes. Diakses pada 6 September 2017.
    4. Mari Kita Cegah Diabetes Dengan Cerdik oleh Kemenkes dalam http://www.depkes.go.id/article/print/16040700002/menkes-mari-kita-cegah-diabetes-dengan-cerdik.html. Diakses pada 6 September 2017.
    5. Katsilambros, Nikolaos, dkk. 2016. Asuhan Gizi Klinik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

    Ernestine Benita – 41150017

    Like

  3. DIET TINGGI PROTEIN, BAIK ATAU TIDAK?

    Sekarang ini banyak jenis diet yang kita ketahui, salah satunya adalah diet tinggi protein. Jenis diet tinggi protein ini dianjurkan karena selain dapat menggantikan porsi karbohidrat juga dianggap dapat memberikan rasa kenyang yang lebih lama. Konsumsi protein tinggi akan menyebabkan peningkatan produksi hormon leptin dalam tubuh. Hormon leptin ini akan bekerja menurunkan dan juga menekan nafsu makan seseorang. Protein sendiri merupakan salah satu zat gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Peran protein bagi tubuh seperti membantu proses pertumbuhan, membentuk sistem kekebalan tubuh, hormon, enzim dan lain sebagainya. Jenis diet protein terbagi menjadi dua, yaitu diet protein yang disertai dengan pembatasan konsumsi karbohidrat dan jenis diet protein dimana karbohidrat digantikan seluruhnya dengan protein.
    Diet tinggi protein ini dilakukan dengan mengkonsumsi protein minimal 1,5 gram per harinya, per kilo berat badan atau 30-40 persen dari total kalori yang dikonsumsi. Bila diet ini dilakukan dengan benar selama kurang lebih 8-12 minggu, dapat memberikan hasil berupa penurunan berat badan antara 6,5 hingga 10 kg, selain itu lingkar pinggang juga dapat berkurang berkisar 6-9,4 cm. Hasil ini akan semakin baik jika orang tersebut mengimbangi pola makan dengan serat yang cukup dan juga melakukan olahraga secara teratur. Jenis protein disini yang disarankan adalah jenis protein hewani. Dengan pola seperti diatas, maka tubuh seseorang akan dipaksa untuk menggunakan cadangan lemak dalam tubuhnya untuk membentuk energi dalam beraktivitas. Porsi yang tepat dalam diet ini bila memenuhi porsi 50 persen karbohidrat, 20 persen lemak dan juga 30 persen protein.
    Jenis diet tinggi protein ini, selain dapat membantu menurunkan berat badan secara efektif, juga memberikan dampak positif lainnya. Salau satu dampak positif yang didapat yaitu seseorang akan dapat meningkatkan massa otot miliknya. Protein sangatlah dibutuhkan untuk seseorang dalam berolahraga sebab ketika seseorang melakukan olahraga, maka otot akan dipecah untuk kemudian dibangun menjadi lebih kuat. Proses pembangunan otot ini sangatlah membutuhkan bantuan protein yang juga dapat membantu mengembalikan kondisi cedera otot yang mungkin saja terjadi selama berolahraga. Hasil otot yang kuat ini juga akan mempertahankan dan mendukung tendon, ligamen dan jaringan tubuh lainnya.
    Keuntungan lain yang didapat dengan melakukan diet tinggi protein yaitu dapat menjaga tingat gula darah seseorang. Hal ini dikarenakan makanan tinggi protein dapat mengecilkan kemungkinan peningkatan lonjakan kadar glukosa dalam darah dan juga dapat memperlambat proses penyerapan gula saat makan. Hal ini tentu membuat seseorang terhindar dari berbagai penyakit seperti Diabetes Mellitus tipe 2.
    Protein memiliki kandungan 9 jenis asam amino, dimana ini sangatlah dibutuhkan supaya kadar hormon dalam tubuh seseorang dapat tetap terjaga keseimbangannya. Protein secara alamiah membantu neurotransmitter supaya dapat berfungsi dengan baik serta membantu proses sintesis hormon seperti serotonin dan juga dopain dimana kedua jenis hormon ini membantu seseorang menjadi merasa tenang dan juga selalu berifikir secara positif. Kondisi kekurangan asam amino dalam protein dapat menyebabkan seseorang mengalami kelemahan, murung dan meningkatnya kemungkinan mengalami depresi akibat perasaan cemas yang timbul.
    Mengkonsumsi jumlah protein dengan porsi yang lebih tinggi juga dapat membantu menjaga kondisi jantung seseorang. Hal ini dapat disebabkan karena dalam proses diet ini, dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi makanan dengan kandungan karbohidrat tinggi yang dimana kita ketahui, karbohidrat merupakan salah satu sumber masalah pada jantung. Penggantian makanan tinggi karbohidrat dengan makanan yang tinggi protein ini membuat kandungan kolesterol serta trigliserida LDL lebih rendah, hal ini lah yang menjadi alasan mengapa diet tinggi protein ini dapat mencegah seseorang terkena permasalahan yang berhubungan dengan jantung.
    Meskipun banyak keuntungan yang dapat diperoleh dengan melakukan diet tinggi protein ini, ternyata metode diet ini juga dapat berdampak buruk terlebih jika diet tidak dilakukan dengan benar. Beberapa kewaspadaan dalam melakukan diet ini seperti kemungkinan terjadinya gangguan pada fungsi ginjal. Kita ketahui bahwa ketika seseorang mengkonsumsi makanan dengan kandungan tinggi protein, maka tubuh akan dipaksa melakukan pembakaran yang dimana hal ini akan memaksa ginjal berkerja dengan berat. Berdasarkan beberapa penelitian, bahaya gangguan ginjal ini banyak terjadi pada seseorang yang melakukan diet tinggi protein dengan riwayat gangguan ginjal. Oleh sebab hal itu, diet ini tidak disarankan bagi seseorang yang memiliki permasalahan dengan ginjal mereka sedangkan pada orang dengan kondisi ginjal yang sehat, diet tinggi protein ini masih dapat dilakukan dikarenakan belum ada penelitian yang menghasilkan bukti yang kuat bahwa konsumsi tinggi protein dapat menyebabkan kondisi cidera pada ginjal orang yang sehat. Hal yang sama juga dapat terjadi pada organ hati, dimana organ hati akan bekerja semakin berat ketika seseorang mengkonsumsi makanan tinggi protein, namun berdasarkan penelitian, kondisi yang dapat memperburuk ketika seseorang tersebut sudah memiliki gangguan pada hati sebelum melakukan diet tinggi protein ini dan penelitian juga belum menghasilkan bukti yang kuat bahwa kondisi hati sehat dapat menjadi rusak akibat konsumsi protein dalam jumlah tinggi.
    Permasalahan lain yang muncul adalah kondisi kekurangan gizi pada tubuh seseorang yang menjalani diet tinggi protein. Hal ini dikarenakan orang tersebut mengkonsumsi makanan tinggi protein dalam jangka waktu yang panjang tanpa disertai makanan dengan kandungan gizi yang lain, padahal kita ketahui bahwa tubuh kita tidak hanya membutuhkan protein saja, melainkan juga jenis zat gizi lain seperti karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, serat dan lain sebagainya. Keadaan ini dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti konstipasi, divertikulitis, dan lain sebagainya.
    Berdasarkan data, dapat dikatakan bahwa diet tinggi protein aman untuk dilakukan. Penelitian juga tidak membuktikan bahwa seseorang yang sehat yang menjalani diet tinggi protein dapat mengalami kondisi yang membahayakan kesehatannya. Diet tinggi protein ini aman dengan catatan bahwa orang tersebut harus tetap memenuhi kebutuhan gizi lainnya. Diet ini menjadi berbahaya ketika seseorang tersebut benar-benar mengganti kebutuhan gizi lain seperti karbohidrat dengan protein, kondisi ini dapat menyebabkan kondisi yang disebut ketosis. Ketosis merupakan kondisi dimana tubuh kekurangan gula yang biasa digunakan sebagai energi dan kemudia memecah lemak sebagai pengganti bahan bakar utama, proses ini dapat menghasilkan zat keton dalam darah yang dapat berbahaya bagi kesehatan.

    Daftar Pustaka
    Anggraeni, A.C. (2012) Asuhan Gizi Nutritional Care Process. Yogyakarta : Graha Ilmu

    Artikel ini ditulis oleh Henry Evandore-41150013

    Like

  4. Tubuh Sehat dan Ideal dengan Diet Mayo

    Siapa yang tidak menginginkan tubuh sehat dan ideal? Pasti semua orang menginginkan memiliki tubuh yang sehat dan ideal. Namun, untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Hal ini membuat banyak orang melakukan berbagai macam diet, terutama bagi kaum wanita yang pastinya menginginkan tubuh yang langsing dan ideal. Namun, diet sering disalahartikan sebagai usaha mengurangi makan untuk mendapatkan berat badan yang ideal atau untuk mendapatkan bentuk tubuh yang ideal. Padahal, arti kata dari diet dari KBBI adalah mengatur pola makan atau aturan makanan khusus untuk kesehatan dan sebagainya. Jadi diet dapat didefinisikan sebagai usaha seseorang dalam mengatur pola makan dan mengurangi atau membatasi jumlah makanan yang dilarang untuk mendapatkan berat badan ideal. Intinya bukan untuk mengurangi makan, tetapi mengurangi atau membatasi makanan yang dilarang, misalnya mengurangi konsumsi gorengan dan makanan cepat saji yang bisa memberikan efek yang buruk bagi tubuh kita.
    Saat ini banyak jenis program diet yang disusun untuk mendapatkan tubuh sehat dan ideal. Salah satunya adalah diet Mayo. Diet ini disebut diet Mayo karena disusun oleh Mayo Clinic, Amerika. Diet Mayo merupakan sebuah program penurunan berat badan yang memiliki prinsip, yaitu mengkonsumsi kelompok makanan yang berada di level bawah dan mengurangi konsumsi kelompok makanan yang berada di level atas. Jadi intinya adalah diet ini berfokus pada konsumsi sayur dan buah yang diikuti dengan pengurangan konsumsi karbohidrat, lemak, dan gula, serta mengkonsumsi kalori yang secukupnya setiap hari berdasarkan jenis kelamin dan berat badan. Diet Mayo ini sifatnya tidak menyiksa, tetapi bisa membuat hidup menjadi lebih sehat.
    Diet Mayo dilakukan dengan cara mengkonsumsi makanan sesuai dengan Mayo Clinic Healthy Weight Pyramid. Piramida tersebut menyarankan untuk mengkonsumsi berbagai makanan yang bernutrisi, seperti buah dan sayur. Namun, batasan kalori yang dikonsumsi adalah 1200 – 1800 kalori tergantung jenis kelamin dan kesibukan yang dilakukan. Contoh menu makanan sesuai Mayo Clinic Healthy Weight Pyramid :
    – Mengkonsumsi buah-buahan sebanyak minimal tiga porsi. Buah termasuk menu yang ‘unlimited’ atau tidak terbatas
    – Mengkonsumsi sayuran sebanyak minimal empat porsi. Sayuran sama seperti buah-buahan yang termasuk menu ‘unlimited’ atau tidak terbatas
    – Mengkonsumsi karbohidrat sehat (misalnya gandum) sebanyak empat sampai delapan porsi
    – Mengkonsumsi protein atau produk susu (tanpa lemak) sebanyak tiga sampai tujuh porsi
    – Mengkonsumsi lemak sehat sebanyak tiga sampai lima porsi
    – Mengkonsumsi makanan manis hanya sampai 75 kalori atau bahkan tidak dikonsumsi
    Diet Mayo boleh dilakukan oleh siapa saja, tetapi dengan catatan pelaku diet adalah orang yang sehat dan tidak mempunyai penyakit yang mengkhawatirkan. Diet Mayo ini juga sebaiknya dilakukan sekali dalam setahun yaitu selama tiga belas hari atau dua minggu, bukan berarti hanya boleh dilakukan sekali saja dalam setahun. Tetapi memang disarankan dilakukan hanya setahun sekali karena untuk menunjang dari segi keamanan serta kekuatan fisik tiap orang berbeda-beda. Selama melakukan diet Mayo juga disarankan untuk selalu mengkonsumsi air putih sebanyak delapan gelas per hari. Sehingga kebutuhan cairan tubuh juga terpenuhi dengan baik.
    Diet Mayo dilakukan dalam dua minggu atau tiga belas hari dalam setahun dengan melalui dua fase. Pada fase pertama yaitu fase ‘Lose It’. Pada fase ini akan dibantu untuk menurunkan berat badan dengan cara mengatur pola makan sehat dan juga menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang akan mengganggu proses diet ini. Pada fase ini dilakukan lima prinsip kebiasaan baik dan menghindari lima prinsip kebiasaan buruk. Lima prinsip kebiasaan baik yaitu dengan makan buah dan sayur, selalu sarapan dengan menu sehat, membiasakan diri mengkonsumsi grains atau sereal, membiasakan diri mengkonsumsi lemak sehat, serta olahraga minimal 30 menit setiap hari. Kemudian lima kebiasaan buruk yang perlu dihindari yaitu makan yang mengandung banyak gula, makan snack atau camilan selain buah atau sayur, makan sambil melakukan kesibukan lain misalnya menonton televisi atau bermain ponsel, makan terlalu banyak daging dan makan di restoran cepat saji (fast food). Pada fase kedua adalah fase ‘Live It’. Pada fase ini akan dibantu untuk mengontrol berat badan ideal yang telah didapatkan setelah melalui fase ‘Lose It’. Biasanya pelaku diet hanya perlu melanjutkan kebiasaan sehatnya dari fase pertama. Hasil atau efek pada setiap orang berbeda-beda tergantung dari kepekaan dan metabolisme masing-masing. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka harus melakukan aturan-aturan dari diet Mayo tersebut dengan baik.
    Selain dari segi menu makanan, untuk melakukan diet Mayo harus diikuti dengan melakukan kebiasaan hidup sehat, menentukan tujuan, dan selalu memotivasi diri agar diet ini berjalan lancar. Kebiasan hidup sehat yaitu dengan olahraga yang aktif bergerak selama 30-60 menit setiap hari dengan jenis olahraga bebas sesuai dengan keinginan pelaku diet, misalnya jogging, senam, dll. Menentukan tujuan yaitu dengan memilih tujuan dari diet ini yaitu untuk hidup sehat, menurunkan berat badan, mendapatkan berat badan ideal, dll. Motivasi diri yaitu dengan mengingat tujuan kita dalam mengikuti diet ini, serta harus disiplin dalam menjalani diet ini.
    Disiplin memang sangat penting dan dibutuhkan dalam melakukan diet Mayo agar berhasil dan memberikan efek yang dinginkan pelaku diet. Apabila pelaku diet tidak menjalankan diet Mayo ini dengan disiplin atau melanggar aturan dan pantangannya, maka harus mengulang lagi prosesnya dari awal. Hal ini disebabkan diet Mayo hanya memerlukan waktu tiga belas hari atau dua minggu dalam setahun untuk melakukan diet ini, sehingga pelaku diet harus menaati segala auran yang telah dibuat, mengingat waktu untuk melakukan diet ini terbilang cepat atau singkat. Bila dilakukan dengan baik sesuai dengan anjuran, biasaya pelaku diet akan merasakan perubahan pada hari keenam. Diet ini dilakukan tiga belas hari bertutur-turut dengan menu yang berbeda setiap harinya. Setelah memasuki hari kedelapan maka menu yang harus dikonsumsi kembali lagi ke hari pertama.
    Keunggulan dari diet Mayo adalah dapat memberikan hasil cepat dan efektif hanya dalam 2 minggu atau 13 hari. Diet Mayo ini juga mengarah pada pola makan gizi seimbang, sehingga tidak menimbulkan efek samping dan bisa membuat pelaku diet menjadi terbiasa mengkonsumsi makanan yang sehat dan sesuai dengan kebutuhan gizi tubuh.
    Kekurangan dari diet Mayo ini adalah dalam piramida makanan tidak ditulis untuk mengkonsumsi nasi, padahal sebagai orang Indonesia jika belum makan nasi maka belum dianggap makan atau belum merasa kenyang. Untuk diet Mayo ini mungkin sedikit sulit untuk diterapkan di Indonesia karena kebutuhan akan nasi masih sangat dominan. Tetapi juga sudah mulai banyak orang Indonesia yang tidak mengkonsumsi nasi untuk makanan sehari-hari dan beralih ke menu-menu diet seperti diet Mayo ini.
    Di Indonesia, diet Mayo ini sudah popular dan banyak jasa catering yang menawarkan menu diet Mayo. Tetapi kita juga harus berhati-hati dalam melakukan diet ini dan jangan asal sembarangan memilih catering untuk diet Mayo. Jadi untuk mengikuti program diet ini kita harus berkonsultasi terlebih dahulu ke ahli gizi karena kebutuhan setiap orang dalam asupan makanan yang masuk ke tubuh berbeda-beda, misalnya dari kalori, serta kebutuhan karbohidrat, lemak, dan protein.

    Daftar Pustaka :
    Almatsier, Sunita. 2007. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia.
    Alwi, Hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
    Anastasia, Claudia. 2015. Majalah Anak Gizi Universitas Indonesia Vol. 4. Jakarta : AKG IM FKM UI.
    Budiyanto, Moch. Agus K. 2006. Dasar-dasar Ilmu Gizi. Malang : UMM Press.

    Sheilla Dewi Sadara – 41150014

    Like

  5. Diet Kenyang dengan Cooking Hypnotherapi by Dewi Hughes

    Cantik…siapa sih perempuan yang tidak mau cantik? Hampir semua perempuan pasti menginginkan cantik atau enak dipandang mata. Dan perempuan cantik itu identik dengan berat badan yang ideal dan tidak gemuk. Artis Indonesia yang bernama Desak Made Hugheshia Dewi atau dikenal dengan Dewi Hughes awalnya berfikir bahwa big is beautiful, tetapi ketika beberapa penyakit mulai mampir ke tubuhnya akibat kegemukan, dia bertekad harus mulai perduli dengan kesehatan tubuhnya dan memulai untuk melakukan diet.
    Berbagai macam diet telah dilakukan oleh artis Indonesia ini, namun semuanya tak membuahkan hasil. Hingga pada akhirnya beliau menerapkan diet ala dirinya sendiri. Metode diet yang digunakan Dewi Hughes mengkombinasikan antara pola makan dan hypnotherapy. Dewi hughes mengkonsumsi makanan sehat Real Food yaitu makanan yang tumbuh dari tanah, yang disinari matahari dan tanpa olahan. Real food disini diartikan sebagai makanan yang dikonsumsi dalam bentuk yang masih asli, tidak diolah berlebihan, tidak menggunakan pengawet, pewarna, pemanis, garam dan penyedap, serta sebisa mungkin berasal dari bahan organic karena memiliki kandungan pestisida yang sedikit, serta sebisa mungkin berasal dari local (Indonesia). Dengan metode ini Dewi Hughes berhasil menurunkan berat badan sebanyak 80 kg, yang pada awalnya 150kg sekarang ini menjadi 70kg saja. Karena keberhasilannya dalam menurunkan berat badan, banyak netizen yang menginginkan tips-tips diet ala Dewi Hughes, hingga pada akhirnya beliau menerbitkan sebuah buku berjudul Diet Kenyang dengan Cooking Hypnotherapy.
    Menurut Dewi Hughes, diet yang ia jalani saat ini adalah “Diet yang unik, karena tidak menderita kelaparan. Bukan hanya langsing tetapi juga bahagia.” Metode ini dituliskan dalam buku Diet Kenyang dengan Cooking Hypnotherapy. Diet Kenyang dengan Cooking Hypnotherapy ini bukan hanya membahas tentang sebuah diet untuk tubuh namun juga untuk membentuk serta mengubah pola pikir menjadi lebih baik. Tak kalah penting, Membentuk pola pikir atau cara berpikir yang baik dapat dibantu dengan menggunakan ilmu hypnotherapy. Hypnotherapy adalah jenis terapi mental, pikiran dan emosi serta perilaku yang dilakukan dalam keadaan hipnotis. Saat ini, hipnotherapi juga digunakan untuk membantu seseorang menurunkan berat badan yaitu dengan mengubah perasaan kita tentang makanan yang kita makan. “mengubah perasaan kita tentang makanan yang kita makan” itu apa sih? Nah, sebagai contoh, Dengan menggunakan ilmu hipnoterapi, seseorang yang memiliki tubuh gemuk sejak kecil akibat terlalu sering bahkan kecanduan mengkonsumsi makanan manis sejak kecil, dapat diubah pola pikirnya melalui alam bawah sadar menjadi pola pikir hidup sehat, dimana orang tersebut akan berpikir bahwa kebiasaannya mengkonsumsi makanan manis itu tidak sehat sehingga ia harus berhenti mengkonsumsinya. Selain itu dengan ilmu hipnoterapi tersebut dapat membantu menanamkan pola pikir baru melalui alam bawah sadar bahwa buah dan sayur lebih baik dikonsumsi daripada makanan manis tersebut. Dengan adanya perubahan pengelolaan pola pikir yang sehat maka diet menjadi jauh lebih ringan dan mudah.
    Langkah awal dalam memulai diet kenyang dengan cooking hypnotherapy yaitu:
    1. Mengakui bahwa saya gemuk dan itu tidak sehat
    2. Mengakui bahwa saya kecanduan makanan sehingga tubuh saya gemuk
    3. Mengubah pola pikir bahwa “saya mau sehat dan saya harus berubah”
    Ketika cara berfikir berubah, maka hidup akan berubah. Begitu juga dengan tubuh, apabila kita mengkonsumsi makanan yang sehat, maka tubuh kita juga akan sehat.
    Dalam metode “Diet Kenyang dengan Cooking Hypnotherapy” kita diminta untuk mensugesti diri sendiri tentang apa yang kita makan melalu ilmu hipnoterapi. Salah satu cara menghipnoterapi diri yaitu dengan melakukan pemberian nama resep makanan atau minuman yang mengandung makna positif seperti yang dilakukan oleh Dewi Hughes yaitu pada resep pembuatan Jus Semangka, diberi istilah Change yang berarti apabila kita ingin mengubah pola hidup untuk berbahagia, lakukanlah dengan mengubah cara kita berpikir, maka kita akan melihat hidup akan berubah.
    “I change the way i look at myself. Saya adalah prioritas utama. Saya harus mulai dari diri saya sendiri . I love myself ( hal:13)”
    Selain itu, Resep pembuatan jus wortel atau Kindness juice. Ini di minum saat tubuh mengirimkan sinyal tidak nyaman, seperti batuk,pilek. Disebut kindness karena keluhan dari tubuh kita merupakan sebuah reaksi bahwa kita sudah lupa berbaik hati kepada diri sendiri. Selanjutnya adalah Resep Green Peace bahannya terdiri dari sayuran bayam, tauge, kecipir dan kacang panjang yang direbus atau yang dikenal dengan istilah Urap atau Kluban. Dewi Hughes memberi sugesti pemikiran bahwa kita harus berbaik hati,berdamai dengan tubuh,pikiran dan perasaan. Seringkali kita mempunyai target dan keinginan yang dipkasakan,sedangkan tubuh kita menginginkan hal tersebut, misalnya ingin kurus dengan cara instan tetapi malah jatuh sakit atau bahkan tidak sakit namun memiliki efek samping yang timbul setelah jangka waktu lama.
    Tips Diet ala Dewi Hughes ini memang sulit dilakukan, karena untuk mengatur pola makan tidaklah mudah, seseorang sangat manusiawi apabila ingin mencoba sesuatu yang kelihatannya enak den seringkali tergoda untuk memakan makanan yang menjadi pantangan saat diet. Pada umumnya orang menggunakan Cheating day yaitu boleh makan sesuatu yang tidak sehat hanya sehari dalam seminggu atau sebulan, tetapi seringkali menjadi keenakan akhirnya diet menjadi gagal karena tidak tahan menerapkan kebiasaan hidup sehat. Namun, dalam hal ini Dewi Hughes memberikan sugesti dengan Cheating Hour . Cheating hour yang dimaksudkan adalah kita boleh memakan sesuatu yang enak hanya dalam waktu 1 jam saja, tetapi tidak boleh makan makanan yang mengandung gula (karbohidrat) dan minyak (lemak) yang berlebihan. Jadi cheating bukan berarti kalap, lepas, dan bebas merusak pola dan niat hidup sehat yang sudah dipupuk.
    contoh menu diet kenyang yang dilakukan oleh Dewi Hughes yaitu saat bangun tidur di pagi hari, beliau minum 1 liter air mineral dalam jangka waktu 2 jam, yang tentunya diminum secara perlahan, tidak sekaligus habis. Menurut Ahli Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (Diah, 2017), Sebaiknya memang minum air putih dalam frekuensi yang sering, meski sedikit-sedikit. Dibandingkan jarang minum, namun langsung minum banyak. Minum air putih setelah bangun tidur sangat bagus untuk mendetoksifikasi racun-racun dalam tubuh sehingga bisa dikeluarkan lewat urin. Minum air putih kedua, 30 menit kemudian juga baik sehingga kerja ginjal tidak terlalu berat. Setiap 2 jam berikutnya, beliau mengkonsumsi berbagai jenis sayur dan buah misalnya yaitu air kelapa hijau 1 biji, kemudian dilanjutkan dengan jus buah/sayuran sekitar 200-300 ml, buah potong atau salad, dilanjutkan lagi dengan mengkonsumsi air mineral atau jus lagi, dan begitu seterusnya setiap 2 jam sekali. Beliau juga menyarankan untuk menu ngemil diganti dengan kacang-kacangan yang diolah tanpa rasa dan tanpa minyak misalnya disangrai.
    Namun, diet ala Dewi Hughes tidak bisa dilakukan hingga jangka panjang karena metode yang dilakukan ini cenderung bersifat individual yang bergantung pada postur tubuh. Diet juga tidak bisa dilakukan secara drastic dari yang biasanya makan segala makanan dalam jumlah banyak, namun tiba-tiba langsung drastis hanya konsumsi buah dan sayur dapat membuat metabolisme tubuh stres. Sehingga penurunan jumlah makanan harus diatur atau dilakukan bertahap. Sayur dan buah adalah sumber vitamin dan mineral. Sementara manusia juga membutuhkan karbohidrat dan lemak untuk sumber energi dan protein sebagai zat pembangun (mengganti dan memperbaiki sel yang rusak). Menurut Ahli Gizi FKMUI, jika dalam waktu lama hanya mengonsumsi sayur dan buah saja, sedangkan tubuh sudah tidak punya cadangan lemak dan protein dalam tubuh, maka dikhawatirkan tubuh akan menjadi lemas, fungsi otak turun, dan produktivitas juga turun. Oleh sebab itu, ketika berat badan sudah turun cukup banyak dengan metode Diet Kenyang dengan Cooking Hipnotherapy, maka prinsip diet harus diubah menjadi gizi seimbang. Selain itu, karena diet sifatnya adalah individual, maka sebaiknya diet harus di bawah pengawasan ahli gizi, sehingga bisa diketahui jumlah zat gizi yang harus dikonsumsi.

    Daftar Pustaka :
    Hughes, Dewi. 2017. Diet Kenyang dengan Cooking Hypnotherapi. Jakarta: PT Grasindo.

    https://www.jawapos.com/read/2017/05/21/131573/ahli-gizi-sepakat-diet-kenyang-hughes-kurangi-ggl-dan-banyak-minum. Diakses pada tanggal 6 September 2017.

    Artikel ini ditulis oleh : Yemima Kenia Atmaja – 41150019

    Like

  6. Raw Food Diet

    Sekarang ini dikenal berbagai pola diet yang cukup populer masyarakat. Pola diet satu dengan yang lain memiliki cara dan kegunaannya masing-masing. Salah satu contoh diet yang dijalani yaitu raw food diet.
    Raw food diet, jika diartikan secara langsung yaitu diet makanan mentah. Raw food diet ini merupakan diet yang meliputi makanan yang terutama tidak diproses, yang dimakan secara keseluruhan, dan kebanyakan berasal dari tumbuhan (beberapa memilih yang organik) (Nordqvist: 2017). Namun, ada beberapa yang mengatakan bahwa makanan bisa dipanaskan atau dimasak, asal tidak melebihi suhu tertentu. Teori yang mendasari raw food diet ini yaitu makanan yang mentah memiliki enzim alami. Jika makanan tersebut dimasak dengan suhu di atas 116 derajat F, panas ini dapat merusak vitamin, fitonutrien, serta enzim yang terkandung di dalamnya. Kebiasaan makan makanan yang mentah ini ternyata sudah mulai ada sejak sekitar abad ke 19. Sejak itu, metode raw food diet ini mulai dikenal dan disebarkan (Amidor: 2016).
    Raw food diet ini bisa dibagi ke dalam beberapa tipe. Yang pertama yaitu tipe raw vegetarian yang makan makanan yang berasal dari tumbuhan ditambah dengan susu maupun produk olahannya. Tipe kedua yaitu raw vegan yang hanya makan makanan yang berasal dari tumbuhan saja. Tipe yang ketiga yaitu raw omnivore yang makan makanan yang berasal dari tumbuhan maupun yang berasal dari hewan. Ketiga tipe di atas sama-sama utamanya makan makanan yang mentah. Tipe ketiga juga seperti itu, dan karena tipe ketiga juga mengonsumsi daging, tipe ketiga ini mengonsumsi daging mentah. (Nordqvist:2017).
    Ada berbagai contoh makanan yang bisa dimakan oleh orang yang melakukan raw food diet, antara lain yaitu kacang-kacangan, buah segar, sayuran mentah, rumput laut, juga makanan yang difermentasi. Untuk beberapa orang yang juga makan makanan yang berasal dari hewan, bahan makanan seperti telur, ikan (misalnya dibuat sushi atau sashimi), daging, dan susu serta produk olahannya juga bisa dimakan (Nordqvist:2017). Dalam raw food diet ini, ada juga pantangan, atau makanan yang sebaiknya dihindari, yaitu semua makanan yang sudah dimasak atau diproses yang tidak sesuai dengan ketentuan dari diet raw food ini, juga gula refinasi, makanan atau minuman yang mengandung kafein seperti kopi, teh, alkohol, pasta, serta jus dan susu yang sudah mengalami proses pasteurisasi. Pengolahan dari makanan yang dikonsumsi pada raw food diet ini cukup terbatas. Makanan yang akan dikonsumsi bisa dipotong, atau diblender dan dibuat jus. Pada intinya, yang terpenting adalah jangan dimasak di atas suhu tertentu (116 derajat F) (Amidor: 2016).
    Dengan menjalani raw food diet lantas apa saja manfaat yang akan kita dapatkan? Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Garcia, dkk (2008), raw food diet yang sudah berlangsung lama menunjukkan status vitamin A yang normal dan konsentrasi β-carotene plasma dalam kondisi baik yang dapat membantu mencegah penyakit kronis, namun memiliki kadar lycopene plasma yang rendah. Selain itu, Tuso, dkk (2013) melakukan penelitian yang memiliki hasil bahwa dengan makan makanan yang berasal dari tumbuhan diduga dapat menurunkan IMT, tekanan darah, kadar HbA1C, dan kadar kolesterol. Selain itu juga diduga dapat mengurangi pengobatan yang dibutuhkan untuk perawatan penyakit kronis dan menurunkan angka kematian dari penyakit jantung iskemik. Karena itulah, makan makanan yang hanya berasal dari tumbuhan dapat disarankan bagi pasien dengan tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit kardiovaskuler, dan obesitas.
    Di sisi lain, apakah diet ini sama sekali tidak memiliki kekurangan? Contohnya bisa dilihat dari orang yang menjalani raw food diet tipe pertama, yaitu raw vegetarian. Konsumsi sayuran dan buah bisa dikaitkan dengan menurunnya risiko penyakit kardiovaskuler. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Koebnick, dkk (2005) didapat hasil bahwa dengan menjalani raw food diet yang ketat, dapat menurunkan kadar kolesterol total dan konsentrasi trigliserid. Namun, HDL kolesterol serum juga menurun dan konsentrasi tHcy (total homocysteine) meningkat. Peningkatan kadar homosistein ini bisa dikarenakan adanya defisiensi vitamin B12. Vitamin B12 merupakan vitamin yang disintesis oleh mikroorganisme yang kemudian akan tergabung ke dalam jaringan hewan. Karena itulah, konsumsi yang tidak disertai dengan semua produk hewani dapat menimbulkan defisiensi vitamin B12. Selain peningkatan homosistein, defisiensi vitamin B12 juga dapat mengakibatkan kelemahan otot, kesemutan di bagian tangan atau kaki, serta anemia pernisiosa (Katsilambros : 2014). Selain dari tipe raw vegetarian, contoh juga bisa dilihat dari tipe lainnya. Ada orang yang menjalani raw food diet dengan tetap minum susu, namun bukan susu pasteurisasi. Susu yang belum diolah memiliki risiko mengandung mikroorganisme patogen, antara lain yaitu E. Coli, serta spesies dari Salmonella dan Campylobacter. (Davis, dkk : 2014).
    Sekarang memang sudah cukup banyak pola diet yang jika ingin, bisa dipilih dan dijalankan oleh masyarakat. Contohnya yaitu raw food diet ini. Namun, pola diet ini juga memiliki manfaat dan risikonya sendiri. Oleh sebab itu, sebelum memulai diet harus dipertimbangkan apakah diet tersebut cocok untuk diri sendiri atau tidak. Selain itu, belum tentu segala sesuatu yang sangat berlebihan atau sangat kekurangan itu baik. Maka dari itu, jika belum butuh atau ingin menjalani diet-diet tersebut, sebaiknya diusahakan untuk mengatur dan menyeimbangkan makanan yang dimakan.

    Daftar Pustaka :
    Amidor, Toby. 2016. Ask the Expert: The Raw Food Diet. Today’s Dietitian. Vol 18 No 3. (Diakses dari http://www.todaysdietitian.com/newarchives/0316p10.shtml).
    Davis, Benjamin J.K., dkk. 2014. A Literature Review of the Risks and Benefits of Consuming Raw and Pasteurized Cow’s Milk : A response to the request from The Maryland House of Delegates’ Health and Government Operations Committee. (Diakses dari https://www.jhsph.edu/research/centers-and-institutes/johns-hopkins-center-for-a-livable-future/_pdf/research/clf_reports/RawMilkMDJohnsHopkinsReport2014_1208_.pdf).
    Garcia, Ada L., dkk. 2008. Long-term Strict Raw Food Diet is Associated with Favourable Plasma β-carotene and Low Plasma Lycopene Concentrations in Germans. British Journal of Nutrition, Vol 99 Issue 6 : 1293-1300. (Diakses dari https://www.cambridge.org/core/journals/british-journal-of-nutrition/article/longterm-strict-raw-food-diet-is-associated-with-favourable-plasma-carotene-and-low-plasma-lycopene-concentrations-in-germans/AACB36B5CC49490A86FF154424FAEB82/core-reader).
    Katsilambros, Nikolaos, dkk. 2014. Asuhan Gizi Klinik. Jakarta: EGC.
    Koebnick, Corinna, dkk. 2005. Long-Term Consumption of a Raw Food Diet Is Associated with Favorable Serum LDL Cholesterol and Triglycerides but Also with Elevated Plasma Homocysteine and Low Serum HDL Cholesterol in Humans. J. Nutr. Vol 135 No 10: 2372-2378. (Diakses dari http://jn.nutrition.org/content/135/10/2372.long).
    Nordqvist, Cristian. 2017. The Raw Food Diet : Should I Try It?. (Diakses dari http://www.medicalnewstoday.com/articles/7381.php pada 6 September 2017).
    Tuso, Philip J., dkk. 2013. Nutritional Update for Physicians : Plant Based Diets. Perm J. 17 (2): 61-66. (Diakses dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3662288/).

    Like

  7. Diet Food Combining

    Memiliki tubuh yang ideal adalah dambaan setiap orang. Oleh karena itu, setiap orang akan berlomba – lomba untuk mencapai bentuk tubuh yang sesuai dengan keinginannya dengan berbagai cara dan metode – metode. Banyak metode populer yang dapat dijadikan acuan untuk memperoleh tubuh ideal yang didamba – dambakan, salah satu metodenya yakni Food Combining.
    Food Combining merupakan suatu metode pengaturan asupan makanan yang disesuaikan dengan mekanisme alamiah tubuh, khususnya yang berhubungan dengan sistem pencernaan dengan cara menganjurkan kombinasi spesifik makanan tertentu (seperti tidak mencampur makanan kaya karbohidrat dengan makanan kaya protein dalam makanan yang sama).
    Food Combining akan membentuk pola makan yang mengoptimalkan antara masukan dan penyerapan zat gizi dengan cara mengonsumsi makanan yang serasi saja setiap kali makan sehingga akan menciptakan kondisi homeostasis yang merupakan kondisi ideal tubuh dimana seluruh fungsi tubuh berjalan dengan sempurna. Salah satu indikatornya adalah tercapainya keseimbangan antara nilai asam dan basa tubuh atau kondisi pH netral (7,35 – 7,45).
    Asal – usul
    Food Combining merupakan pola makan sehat tertua di dunia. Berdasarkan catatan sejarah, ditemukan bahwa Food Combining pertama kali dilakukan oleh bangsa Esseni di Palestina sekitar 2000 tahun yang lalu. Mereka mengikuti ajaran taurat yang masih murni. Ajaran bangsa Esseni yang berhubungan dengan pola makan diantaranya, tidak menggabungkan antara roti dan daging di waktu yang bersamaan, juga susu dan daging, tidak makan darah, bangkai, dan daging binatang yang diharamkan (daging babi, ikan tanpa sirip/insang, dan binatang melata), serta tidak makan berlebihan.
    Kemudian, pola makan dengan metode food combining dipopulerkan kembali di Jerman sekitar tahun 1800-an, dan sejak itu menyusul di Eropa, Amerika, dan Australia.
    Metode
    Konsep food combining mengacu pada fakta bahwa setiap kelompok makanan tertentu memiliki tingkat waktu cerna dan serap yang berbeda – beda. Jus dicerna selama 15-20 menit, buah segar dicerna selama 30-40 menit, sayuran selama 30-40 menit, karbohidrat selama 90 menit, kacang – kacangan selama 2,5 – 3 jam, sedangkan protein hewani dicerna dari 30 menit(telur) hingga 3 – 4 jam(sapi). Berkaitan dengan tingkat waktu cerna, food combining juga mengacu kepada ritme biologis (Ritme Sirkadian) tubuh dalam mengatur waktu dan jenis makanan yang tepat sesuai kebutuhan tubuh yang terbagi atas 3 waktu/3 fase, yaitu :
    1. Jam 12.00 – 20.00 (Waktu Cerna)
    Pada fase ini sistem pencernaan aktif dalam mencerna setiap makanan yang masuk. Fase ini sejalan dengan waktu makan siang, kudapan sore, dan makan malam.
    2. Jam 20.00 – 04.00 (Waktu Penyerapan)
    Pada fase ini tubuh akan memanfaatkan secara maksimal apa yang dimakan pada waktu sebelumnya dan berlangsung penyerapan zat gizi, sirkulasi zat – zat berguna yang diproses dari makanan, pergantian sel, perbaikan jaringan, dll
    3. Jam 04.00 – 12.00 (Waktu Pembersihan)
    Sisa metabolisme dan tumpukan makan pada usus besar dikonsentrasikan tubuh untuk dibuang pada fase ini. Banyak energi tubuh yang dialokasikan untuk membersihkan sisa kotoran tersebut. Menyibukkan kerja sistem cerna dengan konsumsi makanan berat akan mengganggu alokasi energi.
    Setiap kelompok makanan juga memerlukan enzim yang berbeda – beda. Beberapa kelompok makanan memerlukan zat asam sedangkan lainnya memerlukan zat alkali. Jika mengonsumsi makanan dalam satu kelompok, maka penyerapan nutrisi akan jauh lebih efektif dan tidak menimbulkan masalah pada pencernaan. Tetapi sebaliknya, apabila kita mengonsumsi makanan yang tidak dalam satu kelompok secara bersamaan, alkali dan asam bertemu sehingga menetralisir satu sama lain dan akhirnya menghambat pencernaan. Oleh karena itu diet food combining tidak menyarankan orang – orang untuk menyantap nasi, lauk – pauk, sayuran, dan buah sekaligus dalam 1 jam makan.
    Kombinasi Makanan Serasi dan Tidak Serasi
    • Serasi
     Protein dan Lemak
    Bahan makanan yang tergolong ini adalah daging, kacang – kacangan, dsb. Cara mengonsumsi kombinasi bahan ini jangan digoreng, karena lemak yang dihasilkan akan meningkat yang akan menyebabkan pencernaan berlangsung lebih lama dan tidak sempurna.
    Cara terbaik : dipanggang, dikukus, atau dibakar

     Pati dan Lemak
    Terdapat pada makanan pokok seperti roti tawar, nasi, dsb. Lemak boleh ditambahkan sedikit saja sebagai penambah flavor.
    Kolak ubi – kombinasi makanan yang tidak serasi (ubi dan santan)
    Yang serasi :
    Roti + sedikit margarin
    Nasi ditanak + minyak kelapa sedikit (nasi goreng)

     Protein Nabati dengan Protein Nabati
    Protein nabati pada umumnya memiliki kandungan asam amino essensial yang kurang lengkap, dengan saling mengkombinasikan protein nabati dengan protein nabati dapat melengkapi kebutuhan asam amino essensial.
    Kombinasi serasi – serealia (biji – bijian) dengan kacang – kacangan
    Contoh :
    Nasi merah dengan tempe
    Nasi + kacang merah
    Sup aneka biji – bijian

    • Tidak Serasi
     Protein dan Pati
    Protein dan pati masing – masing memerlukan enzim pencernaan yang berbeda dan pH yang juga berbeda satu sama lain, selain itu protein memerlukan waktu pencernaan yang lebih lama daripada pati.
    Contoh :
    Roti dan telur
    Nasi dan ayam goreng
    Mie dan bakso daging

     Protein dan Asam
    Makanan yang asam dapat membantu fungsi asam lambung merupakan kekeliruan, karena tingkat keasaman lambung bergantung pada jenis protein yang dikonsumsi. Mengonsumsi makanan tinggi protein dengan asam justru akan menurunkan fungsi asam lambung.
    Contoh :
    Ikan masak bumbu acar
    Ayam dan saus nanas
    Daging dan kuah saus tomat yang asam

    Food Combining sebagai Terapi Kanker

    Berangkat dari penelitian dr. Otto Heinrich Warburg yang dihadiahi nobel pada tahun 1931. Ia menemukan bahwa sel kanker memiliki vitalitas penggunaan oksigen yang tidak sebaik sel sehat, terkait dengan kerja enzim pencernaan. Dari penemuan itu ia menarik kesimpulan “Sel kanker bersifat asam, sehingga tidak mampu hidup dalam pH darah bersifat basa”.

    Dalam Food Combining, buah serta sayuran yang menjadi pondasi materi pola makan ini cenderung bersifat pembentuk basa. Artinya bahwa mengonsumsi makanan pembentuk basa akan menjadikan pH darah – tubuh cenderung basa, sehingga sel kanker tidak memiliki kesempatan untuk hidup.

    Temuan Hiromi Shinya terhadap karakter sistem cerna 370.000 pasiennya juga menunjukkan hal yang sama. Beliau mengatakan bahwa “Makanan dan keadaan saluran pencernaan berhubungan dengan timbulnya tumor jinak atau ganas, dan dapat berhubungan dengan semua penyakit yang sudah muncul maupun yang masih dorman”. Pasien kankernya. Pasca mengubah pola makannya dengan menjadi lebih berat ke materi buah dan sayur segar, menunjukkan tingkat kesembuhan yang mengagumkan, bakan nyaris nisbi tindakan kuratif. Lebih mengagumkan lagi, pasien yang telah sembuh dari kanker, tingkat kambuhnya 0%

    Daftar Pustaka :
    Meyerowitz, Steve.2002.Food Combining and Digestion : 101 Ways to Improve Digestion. Singapura : Elsevier

    Diet Food Combining diakses dari :
    https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://foodcombiningindonesia.co.id/juklak/faq-food-combining-wajib-di-baca/&ved=0ahUKEwiis9jxpJLWAhUHyrwKHYtyCOoQFghNMAY&usg=AFQjCNGhohpYaeQzqJdTAUnBUW0Q8UJE9A

    Artikel ini ditulis oleh Denny Hendrawan – 41150011

    Like

  8. Artikel ini ditulis oleh Komang Jourdy Kharisma Pradnyana – 41150016
    Diet Dukan

    Dukan Diet merupakan diet yang menekankan pola makan tinggi protein, rendah karbohidrat, dan rendah lemak. Diet Dukan dirancang sehingga Anda tidak mudah untuk merasa lapar karena kandungan protein dalam makanan dapat membuat perasaan kenyang lebih cepat, diet Dukan diperkenalkan oleh Dr.Pierre Dukan seorang ahli nutrisi, diet Dukan terdiri dari 4 fase makan yang menggunakan prinsip berbeda beda terdapat 4 fase ; 2 fase menurunkan berat badan and dua fase pemeliharaan berat badan.
    Fase yang pertama adalah The attack phase atau the pure protein merupakan tahap yang menyengkan bagi individu yang mau menjalankan diet karena motivasi diet sangat kuat pada awal mulai diet, lamanya fase ini tergantung dari seberapa kamu ingin menurunkan berat badanmu, biasanya berlangsung selama 10 hari namun banyak yang gagal pada hari kedua sampe ke tujuh, tahapan pertama adalah memakan makanan yang mengandung protein yang tinggi, pada fase ini bertujuan untuk membersihkan kelebihan air, menurunkan nafsu makan (saat hanya menkonsumsi protein, tubuh memproduksi sel-sel ketonik yang akan menekan nafsu makan secara alami) dan untuk menjaga dan membentuk massa otot, tetapi seperti yang kita tahu, tidak ada makanan yang mengandung 100% protein tetapi pada tahapan ini biasanya dianjurkan untuk memakan daging dagingan seperti daging, ikan, seafood dan telur karena makanan tersebut mengandung komposisi yang kaya akan protein, dibandingkan dengan diet rendah kalori, diet murni protein (pure protein diet) diet ini dinamakan sebagai real war machine.
    Yang kedua adalah the cruise phase atau the alternating protein diet phase ini adalah fase dimana menu protein boleh dikombinasikan dengan kombinasi lainnya misalnya sayur sayuran dan fase cruised ini harus tetap dilanjutkan tidak boleh berhenti di tengah jalan walaupun kita waktu melakukan fase sebelumnya (pure protein phase) dengan tidak baik karena fase alternating ini paling sedikit berhubungan dengan fase sebelumnya terkait penurunan berat badan, pada fase ini kita tidak boleh mengkonsumsi makanan yang mengandung zat tepung (kentang, jagung manis, kacang polong, lentil, buncis dll). Lakukan fase ini secara silih berganti sampai mencapai berat yang anda kehendaki penurunan berat badan mencapai sekitar 1 kilogram seminggu.
    Fase ketiga The consolidation phase atau the transtition diet ini adalah fase dimana kita dapat makan makanan yang lebih bervariasi pada fase konsolidasi, setelah konsolidasi
    Setelah kita mencapai berat yang diinginkan kita perlu kembali kepola makan yang normal secara perlahan lahan supaya kita tidak mengalami defisiensi nutrisi dan pada fase konsolidasi anda dapat mulai kembali makan makanan yang sebelumnya yang anda hindari seperti nasi atau roti tetapi anda bisa menerapkan fase konsolidasi secara perlahan lahan untuk mengatur keseimbangan nutrisi dengan tubuh yang baru mungkin anda dapat menambahkan 2 iris roti dan buah buahan dalam porsi menu diet harian anda misalnya anda bisa menambahkan buah apel, jeruk, pear, satu potong melon atau dua buah kiwi, lalu anda juga dapat menambahkan keju 40 gram dan daging domba, babi atau ham 1-2 kali perminggu, lalu juga pada fase ini anda dapat two celebration meals per minggu yang meliputi satu makanan pembuka, satu menu utama, satu dessert dan satu gelas wine. Dan fase yang terakhir adalah fase stabilisasi dimana anda sudah mulai makan secara normal dengan menerapkan dua aturan yaitu yang pertama
    menetapkan Sehari dalam seminggu untuk melakukan diet protein murni dan yang kedua makan tiga sendok makan oats dan dedak gandum setiap hari.
    Tadi sudah dijelaskan tentang fase fase pada dukan diet jadi sekarang ini adalah menu menu yang dapat kita makan pada saat menjalani fase pada dukan diet, pada Attack phase kita bisa mengkonsumsi makan pagi berupa keju cottage tanpa lemak dengan 1,5 sendok makan oats dengan cinnamon dan minumnya bisa dengan kopi atau the dengan tanpa gula dan air putih, lalu makan siang dapat berupa ayam panggang dan minumnya es the tanpa gula, lalu untuk makan malamnya ada bisa makan udang atau yang tinggi protein lalu disertai dengan agar agar (gelatin) dan minumannya dapat berupa kopi atau teh tanpa disertai gula.
    Pada Cruise phase anda bisa sarapan pagi dengan scrambled egg (telurnya bisa tiga butir), lalu dengan tambahan satu iris tomat dan pada makan siang anda dapat mengkonsumsi ayam bakar dengan campuran sayur yang tinggi serat dan juga anda dapat mengkonsumsi yogurt non fat dengan 2 sendok oats dan makan malamnya dapat berupa salmon fillet, broccoli kukus dan dengan dessert agar agar. Lalu pada Consolidation phase anda dapat sarapan berupa omlet dengan 3 telur dan campuran keju 40 gram serta bayam dengan minuman berupa kopi atau the tanpa gula, lalu untuk makan siangnya anda dapat mengkonsumsi sandwich ayam tanpa kulit dengan 2 iris roti gandum dan juga anda dapat mengkonsumsi 2keju cottage dengan 2 sendo makan oats dan untuk makan malamnya anda dapat makan babi panggang, dengan dessert buah apel.
    Belum terlalu banyak penelitian yang dilakukan untuk Dukan diet tetapi dapat kita ketahui bahwa dukan diet merupakan diet yang mengkonsumsi makanan tinggi protein dan rendah karbohidrat serta lemak, dan protein memiliki banyak keuntungan faktor untuk menurunkan berat badan misalnya meningkatkan pembakaran kalori pada saat gluconeogenesis, diet protein juga membuat metabolism tubuh menjadi lebih meningkat daripada mengkonsumsi karbohidrat atau lemak sehingga membuat perasaan kenyang dan puas dan protein juga dapat menurunkan hormone lapar ghrelin dan meningkatkan hormon kepuasan/kenyang seperti GLP-1,PYY dan CCK jadi akan mengkonsumsi makanan yang mengandung protein akan membuatmu merasa lebih cepet puas dan kenyang sehingga kamu akan makan lebih sedikit.

    Sumber :
    Dukan Pierre. 2000. The Dukan Diet: 2 Steps to Lose the Weight, 2 Steps to Keep It Off Forever.
    A Complete Guide to The Dukan Diet healthline.com/nutrition/dukan-diet-101#section1 diakses pada 6 September 2017

    Like

  9. I Gede Pande Wahyu Widiastana – 41150018
    AMANKAH DIET WRP 6 DAY?
    Tentunya kira sering mendengar tentang pola-pola diet di media social maupun media massa, namun apakah arti dari kata diet?. Diet adalah pengaturan pola konsumsi makanan dan minuman yang dilarang, dimodifikasi, atau diperbolehkan dengan jumlah tertentu untuk tujuan terapi penyakit yang diderita, kesehatan, atau penurunan berat badan. Jadi diet memang dapat digunakan untuk program penurunan berat badan, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menjalankan program diet yang sehat yaitu harus mengandung semua kelompok makanan, penurunan kalori total tidak boleh melebihi 500-1000 kilokalori sehari sehingga penurunan berat badan maksimal 1 kg dalam seminggu.
    Mengandung semua kelompok makanan berarti harus tetap terdapat sumber karbohidrat, protein maupun lemak sehingga tubuh kita memiliki energy yang cukup untuk melakukan aktivitas fisik. Sebagai contoh pada piramida diet mediterania dikatakan bahwa batasi makan makanan manis dan daging, makanlah dengan porsi sedang daging ungas, telur, keju dan yoghurt setiap dua hari atau seminggu sekali, sering makan ikan dan makanan laut minimal dua kali dalam satu minggu, dan setiap hari makan makanan yang mengandung sayur-sayuran maupun kacang-kacangan dan buah.
    Penurunan kalori total tidak boleh melebihi 500-1000 kilokalori karena tubuh memiliki kebutuhan energy minimal yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari. Kebutuhan minimal kalori setiap orang tentunya berbeda-beda, kebutuhan wanita yaitu 25 kalori/kg berat badan (BB) dan laki-laki 30 kalori/kg BB. Bayangkan jika seorang wanita yang memiliki BB 60kg jadi kebutuhan kalori wanita tersebut sehari adalah 1500 kilokalori. Bagaimana jika konsumsi kalori harian wanita tersebut hanya mengkonsumsi 400 kilokalori, pastinya akan mengganggu tubuh untuk berfungsi sebagaimana mestinya.
    Jadi konsep dari diet yang sehat bukan menghilangkan karbohidrat sebagai sumber kalori terbesar akan tetapi mengurangi porsi makan secara bertahap sehingga fungsi normal tubuh masih tetap terjaga. Lalu bagaimanakah diet WRP 6 Day tersebut ?. Diet WRP 6 Day terdiri dari WRP Nutritious Drink dan WRP Cookies sebagai makanan utama dan makanan selingan. WRP Nutritious Drink sebagai pengganti makan pagi dan makan malam dan konsumsi satu sachet WRP cookies sebagai snack di pagi dan sore hari.
    Kandungan gizi yang tertera pada kemasan WRP Nutritious Drink yaitu 200 kilokalori energy total per sajian dimana 50 kilokalori energy berasal dari lemak. Takaran saji WRP Nutritious Drink yaitu 50 gram untuk 2 sachet. Sehingga dalam 2 sachet mengandung 6 gram lemak total, 12 gram protein, 27 gram karbohidrat total serta banyak vitamin dan mineral. Sedangkan WRP cookies mengandung 100 kilokalori dalam tiap sajiannya dimana takaran persajian WRP cookies yaitu 20 gram. Jadi dalam 1 sachet mengandung 5 gram lemak total, 1 gram protein, 11 gram karbohidrat total serta 3 miligram zat besi.
    Jika kita bandingkan tata cara diet WRP 6 day dengan kandungan gizi yang tertera maka dalam 1 hari kita akan mengkonsumsi 2 sachet WRP Nutritious Drink dan 2 sachet WRP cookies dimana hanya mengandung 400 kilokalori. Lalu bagaimana dengan jumlah karbohidrat, protein, dan lemak per harinya?. Jika dijumlahkan dalam sehari berarti telah mengkonsumsi 49 gram karbohidrat, 14 gram protein dan 16 gram lemak.
    Lalu apakah diet WRP 6 day sudah memenuhi kebutuhan kalori yang dibutuhkan setiap harinya? Dan apakah diet WRP 6 day itu baik untuk tubuh kita?. Berdasarkan buku Asuhan Gizi Klinik diet yang sehat harus mengandung semua kelompok makanan, penurunan kalori total tidak boleh melebihi 500-1000 kilokalori sehari sehingga penurunan berat badan maksimal 1 kg dalam seminggu. WRP diet 6 day sudah mengandung semua kelompok makanan baik karbohidrat, protein, maupun lemak namun jika kebutuhan kalori kita 1500 kilokalori sehari dimana penurunan maksimal yaitu 1000 kilokalori sehari sehingga kalori sehari yang harus dikonsumsi yaitu 500 kilokalori sedangkan diet WRP 6 day hanya 400 kilokalori. Kebutuhan karbohidrat, protein, dan lemak untuk orang yang ingin menurunkan berat badan yaitu karbohidrat 50%, protein 30%, dan lemak 20% dari kebutuhan kalori sehari. Jadi kebutuhan karbohidrat pada orang dengan kebutuhan kalori 1500 kilokalori yaitu 750 kilokalori atau setara dengan 187,5 gram, protein 450 kilokalori atau setara dengan 112,5 gram, dan lemak 300 kilokalori atau setara dengan 33,3 gram sehari.
    Mari kita bandingkan kedua hasil diatas, kebutuhan karbohidrat sehari adalah 187,5 gram sedangkan yang dikonsumsi adalah 49 gram atau sekitar 26,1% dari kebutuhan sehari, kebutuhan protein sehari adalah 112,5 gram sedangkan yang dikonsumsi adalah 14 gram atau sekitar 12,4% dari kebutuhan sehari, dan kebutuhan lemak sehari adalah 33,3 gram sedangkan yang dikonsumsi adalah 16 gram atau sekitar 48% dari kebutuhan sehari.
    Dalam media promosinya WRP 6 day mengatakan bahwa mampu menurunkan berat badan 1,5 kilogram dalam 6 hari dan tanpa efek samping, mengandung 24 vitamin dan mineral sehingga siap menjalankan diet tanpa lemas, dan protein untuk pembentukan otot dan pembakaran lemak.
    Mari kita bahas satu persatu, menurunkan berat badan 1,5 kilogram dalam 6 hari tentu sudah melebihi anjuran diet sehat yang ada dan memungkinkan untuk mengalami gangguan fungsi metabolisme tubuh. Mengandung 24 vitamin dan mineral sehingga siap menjalankan diet tanpa lemas, lemas atau tidaknya seseorang dipengaruhi oleh asupan kalori yang dikonsumsi sehingga vitamin dan mineral jika dihubungkan dengan lemas kurang tepat. Mengandung protein untuk pembentukan otot dan pembakaran lemak, akantetapi jumlah protein yang diberikan hanya 12,4% dari kebutuhan. Jadi apakah diet WRP 6 day itu aman? Silahkan disimpulkan masing-masing.

    Daftar Pustaka
    Katsilamros, Nikolaus et al. 2016. Asuhan Gizi Klinik. Jakarta. EGC
    Sanjaya, Inggar. 2014. Pengembangan Aplikasi Rekomendasi Diet Berbasis Android. S1 thesis, UAJY
    Waspadji, Sarwono, dkk. 2013. Menyusun Diet Berbagai Penyakit : Berdasarkan Daftar Bahan Makanan Penukar. Edisi Keempat. Jakarta FK UI
    WRPdiet. WRP 6 Day.

    Artikel ini ditulis oleh I Gede Pande Wahyu Widiastana – 41150018

    Like

  10. The Lemonade Diet

    Setiap orang mempunyai impian untuk memiliki bentuk tubuh yang ideal, tidak terkecuali kaum hawa. Menurut kaum hawa tubuh ideal adalah memiliki bentuk tubuh yang langsing. Saat ini, trend untuk menjadi langsing sangat populer. Hal ini disebabkan karena pengaruh dari lingkungan maupun pengaruh dari apa yang dilihat ( menonton drama korea yang mana pemain wanitanya memiliki bentuk tubuh langsing ). Akibatnya, kaum hawa melakukan berbagai cara untuk mendapatkan bentuk tubuh yang ideal. Salah satu cara adalah dengan program diet.
    Di zaman ini, program diet yang ditawarkan sangat bervariasi. Anda dapat melihat berbagai jenis program diet yang ditawarkan oleh berbagai pihak, dari diet rendah kalori, rendah lemak, rendah protein,diet detox dan lain – lainnya. Kemudian, diet juga bukanlah suatu hal yang digunakan hanya untuk menurunkan berat badan. Akan tetapi, diet berguna untuk melindungi diri dari berbagai penyakit. Di seluruh dunia, telah banyak program – program diet yang ditawarkan kepada masyarakat. Salah satunya adalah The Lemonade Diet or The Master Cleanse Lemonade Diet. Oleh karena itu, didalam artikel ini saya akan membahas mengenai apa yang dimaksud dengan The Lemonade Diet, bagaimana menu diet ini, manfaat, dan efek samping.
    Program The Lemonade Diet dikenalkan oleh Stanley Burroughs, serta dipopulerkan oleh Beyonce. Diet ini diklaim dapat menurunkan berat badan secara cepat. Padahal, diet ini adalah jenis diet detoksifikasi yang bertujuan untuk mengeliminasi racun – racun di tubuh Anda. Pada diet tersebut, bahan utama yang digunakan adalah Lemon. Alasan mengapa bahan utama dalam diet ini adalah lemon karena lemon paling kaya akan mineral & vitamin, serta lemon juga tersedia dalam setiap musim dan mudah ditemukan di seluruh dunia.
    The Lemonade Diet adalah pilihan diet yang tepat untuk menurunkan berat badan secara cepat karena diet ini dapat melarutkan lemak. Diet ini dijalankan selama 10 hari dengan tidak makan makanan yang solid dan tidak disarankan untuk minum minuman beralkohol. Selama 10 hari pertama, Anda hanya diperbolehkan untuk minum minuman air lemon dan teh herbal. Adapun menunya adalah 2 sendok makan lemon segar ( sekitar ½ lemon ), tambahkan 1/10 sendok teh cayenne ( red pepper ) atau secukupnya, lalu tambahkan 2 sendok makan sirup maple asli (bukan sirup gula rasa maple ya). Kemudian, campur ketiga bahan diatas dan masukkan ke dalam air 10 oz atau 300 ml. Aduk rata dan minumlah.
    Selanjutnya, setelah 10 hari, Anda diperbolehkan untuk menambahkan makanan lain tetapi dengan syarat makanan yang ditambahkan hanya jenis sayur – sayuran dan buah – buahan. Makanan tersebut dapat diolah menjadi sup, jus, dan salad buah. Adapun menu dietnya saat sarapan pagi adalah cukup dengan minum jus jeruk atau minuman lemon segar. Kemudian, makan siang hanya diperbolehkan konsumsi buah sejumlah kecil. Jika menginginkan lebih, bisa konsumsi sayuran dalam porsi kecil / salad buah, atau dengan konsumsi sup saja ( buatan sendiri dengan menu vegetarian) dan pilihan terakhir adalah salad sayur. Untuk makan malam, Anda dapat makan secara sederhana yang dimulai dengan sup sayuran, kemudian diberi 3 jenis sayuran kukus. Pilihan lain, dapat konsumsi 3 jenis sayuran kukus dengan sajian nasi merah dan konsumsi daging tidak diperbolehkan. Setelah Anda menjalankan semua ini, Anda dapat mengkonsumsi daging dengan porsi yang sangat sedikit.
    Berdasarkan menu diet diatas, itulah sebabnya Anda mengalami penurunan berat badan. Penurunan berat badan yang terjadi dalam diet ini disebabkan Anda hanya mendapat asupan kalori yang sangat sedikit. Asupan kalori yang sedikit inilah yang memungkinkan Anda kehilangan berat badan yang cepat dan kehilangan massa otot sehingga nampak kurus. Kemudian, diet detoksifikasi tidak memiliki bukti dapat menyebabkan penurunan berat badan. Apabila mengalami penurunan berat badan akibat diet ini, berarti penurunan berat badan tersebut bersifat sementara karena saat Anda membatasi asupan kalori atau asupan makan secara drastis maka penurunan berat badan dapat terjadi. Adapun manfaat dari The Lemonade diet hanyalah untuk menghilangkan atau membersihkan racun di dalam tubuh Anda.
    Kemudian, The Lemonade Diet ini dapat menimbulkan efek samping yang kemungkinan diantaranya berbahaya. Efek samping pertama yang nampak pada pengguna diet ini adalah lapar. Kekurangan asupan kalori yang terjadi pada tubuh Anda selama 10 hari atau lebih, yang mana akibat dari diet tidak konsumsi makanan solid atau padat dan hanya minum minuman jenis lemon dapat menyebabkan rasa lapar. Untuk mengatasi rasa lapar pada diet ini, para praktisi detoks merekomendasikan untuk minum air lemon lebih banyak untuk mengurangi rasa lapar. Selain itu, penurunan berat badan yang drastis adalah salah satu efek dari diet ini. Penurunan berat badan yang drastis sekitar 10 kg dapat berbahaya bagi kesehatan Anda. Terakhir, salah satu efek dari diet ini adalah gangguan sistem gastrointestinal yaitu sakit perut & diare, serta menyebabkan sering buang air besar. Jadi, dapat disimpulkan bahwa The Lemonade Diet adalah diet yang tidak tepat dan tidak sehat bagi Anda yang ingin menurunkan berat badan karena sifatnya yang drastis dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Jika ingin menurunkan berat badan, lakukan penurunan secara bertahap dengan memperhatikan kebutuhan nutrisi Anda karena yang instan belum tentu baik.

    Daftar Pustaka

    Robinson, Kara Mayer. 2016. The Lemonade Diet / Master Cleanse. D

    Burroghs, Stanley. 2014. The Master Cleanse.

    Adams, Lawrence. 2017. Side Effects of the Lemon Diet.

    Mia Florensia Tammara – 41550020

    Like

  11. PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    NOMOR 13 TAHUN 2010

    TENTANG

    PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERHADAP PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN GELAP NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA DAN ZAT ADIKTIF

    AKTOR
    Penyusun :
    – Pemerintah daerah
    – DPR DIY
    – Gubernur DIY
    – Dinas kesehatan

    Pelaksana :
    – Pemerintah daerah
    – Masyarakat

    KONTEKS
    Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif di satu sisi merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan atau pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan, namun di sisi lain dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila disalahgunakan atau digunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan seksama. Jika disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan dapat menimbulkan akibat yang sangat merugikan bagi perseorangan atau masyarakat khususnya generasi muda. Hal ini akan lebih merugikan jika disertai dengan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika yang dapat mengakibatkan bahaya yang lebih besar bagi kehidupan dan nilai-nilai budaya bangsa yang pada akhirnya akan dapat melemahkan ketahanan nasional, termasuk di daerah.

    Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota pariwisata memiliki tingkat lalu lintas manusia yang sangat tinggi yang membawa serta berbagai kebudayaan yang sangat memungkinkan terjadinya penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif. Tindak pidana Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif di dalam masyarakat menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan korban yang meluas, terutama di kalangan anak-anak, remaja, dan generasi muda pada umumnya di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif mendorong adanya peredaran gelap, sedangkan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif menyebabkan meningkatnya penyalahgunaan yang makin meluas. Oleh karena itu diperlukan upaya pencegahan, penanggulangan penyalahgunaan, upaya pemberantasan dan peredaranya dalam era globalisasi komunikasi, informasi dan transportasi yang semakin maju, dengan mengaturnya dalam Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tentang pencegahan dan penanggulangan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif.

    KONTEN / ISI
    Dalam rangka mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif yang dilakukan secara terorganisasi dan memiliki jaringan yang luas melampaui batas administrasi daerah, dalam Peraturan Daerah ini juga diatur mengenai kerja sama, baik antara Pemerintah Daerah dalam wilayah Provinsi, antar Pemerintah Daerah maupun antara Pemerintah Daerah dengan Pemerintah maupun Lembaga Non Pemerintah.

    Tujuan ditetapkannya Peraturan Daerah ini adalah:
    – untuk mengatur dan memperlancar pelaksanaan upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif agar dapat terselenggara secara terencana, terpadu, terkoordinasi, menyeluruh dan berkelanjutan di Daerah
    – memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif
    – membangun partisipasi masyarakat untuk turut serta dalam upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif
    – menciptakan ketertiban dalam tata kehidupan bermasyarakat, sehingga dapat memperlancar pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif. 

    Peraturan Daerah ini juga memberikan suatu upaya khusus bagi pemakai pemula yaitu anak yang berusia di bawah 18 tahun yang menyalahgunakan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif karena coba-coba, dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa, dan/atau diancam untuk menggunakan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif atau seorang pecandu di bawah umur, untuk mendapatkan pendampingan dan/atau advokasi. Pendampingan dan/atau advokasi ini selain diberikan kepada pemakai pemula dan pecandu di bawah umur, juga diberikan kepada orang tua atau keluarganya. Hal tersebut perlu dilakukan agar pemakai pemula tidak meningkat menjadi pecandu, dan pecandu masa depannya dapat terselamatkan.

    Dalam Peraturan Daerah ini diatur juga peran serta masyarakat dalam usaha pencegahan dan penanggulangan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif termasuk pemberian penghargaan bagi anggota masyarakat yang berjasa dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaanya dan peredaran gelap. Penghargaan tersebut diberikan kepada penegak hukum dan masyarakat yang telah berjasa dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif di Daerah.

    PROSES
    Proses Terbentuknya Kebijakan :

    Untuk penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif yang telah diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 3 Tahun 2000 tentang Penanggulangan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan situasi dan kondisi yang berkembang saat ini, sehingga perlu diganti. Berdasarkan hal tersebut guna peningkatan upaya pencegahan dan penyalahgunaan dan peredaran gelap serta mendukung pemberantasan tindak pidana Narkotika perlu dilakukan pembaruan terhadap Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 3 Tahun 2000 tentang Penanggulangan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya.

    Pembaruan peraturan ini disebabkan karena pemerintah melihat berubahnya situasi dan kondisi yang ada di Yogyakarta. Yogyakarta merupakan kota pelajar, budaya, pariwisata yang membawa berbagai kebudayaan yang sangat memungkinkan terjadinya penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif. Kasus penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif kini makin banyak dan jumlah remaja yang terkena banyak.

    Proses Pelaksanaan Kebijakan:

    Tugas Pemerintah Daerah dalam pencegahan dan penanggulangan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif adalah:
    – memberikan layanan serta akses komunikasi, informasi dan edukasi yang benar kepada 
masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif
    – melakukan koordinasi lintas lembaga, baik dengan lembaga pemerintah, swasta maupun 
masyarakat
    – memfasilitasi upaya khusus, rehabilitasi medis, dan rehabilitasi sosial bagi pemakai 
pemula dan pecandu Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif
    – melindungi kepentingan masyarakat luas terhadap resiko bahaya penyalahgunaan 
Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif.



    Upaya pencegahan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif dilaksanakan melalui kegiatan:
    – kampanye perilaku hidup bersih sehat
    – penyebaran informasi yang benar mengenai bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif
    – pemberian edukasi dini kepada peserta didik melalui satuan pendidikan mengenai bahaya penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif
    – peningkatan peran aktif masyarakat untuk ikut mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif
    – peningkatan koordinasi lintas lembaga pemerintah maupun dengan masyarakat untuk melakukan pengawasan terhadap setiap kegiatan yang berpotensi terjadi penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif
    – memberikan upaya khusus bagi pemakai pemula Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif.

    Upaya pencegahan dilaksanakan melalui:
    – keluarga
    – satuan pendidikan
    – masyarakat
    – institusi Pemerintah Daerah, Lembaga Pemerintah di Daerah dan DPRD
    – tempat kerja
    – media massa daerah. 


    Tugas orang tua dalam upaya pencegahan antara lain:
    – memberi pendidikan keagamaan
    – memberi contoh perilaku hidup bersih sehat
    – meningkatkan komunikasi dengan anggota keluarga, khususnya dengan anak-anak
    – melakukan pendampingan kepada anak-anak agar mempunyai kekuatan mental dan keberanian untuk menolak penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif
    – memberikan edukasi dan informasi yang benar mengenai bahaya penyalahgunaan dan 
peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif. 


    Masyarakat berkewajiban untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif antara lain:
    – ikut melaksanakan kampanye dan penyebaran informasi yang benar mengenai bahaya 
penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif
    – melaksanakan program hidup bersih sehat di wilayah masing-masing

    – menggerakkan kegiatan sosial masyarakat melawan peredaran dan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif di wilayah masing-masing
    – membentuk satuan tugas di tingkat Rukun Tetangga
    – meningkatkan pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan masyarakat yang berpotensi 
terjadi penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif


    Like

  12. Kebijakan yang dipilih adalah PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
    Analisis Kebijakan dari PERGUB Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta nomor 31 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Kesehatan Reproduksi Remaja adalah
    1. Gambaran Umum Kebijakan
    Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta nomor 31 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Kesehatan Reproduksi Remaja adalah kebijakan yang mengatur tentang penyelenggaraan kesehatan reproduksi remaja dalam rangka mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, yang memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan terpenuhinya rasa aman, rasa tentram serta rasa keadilan bagi remaja, terutama untuk memenuhi hak reproduksi remaja diperlukan penyelenggaraan kesehalan reproduksi remaja secara terpadu dalam mendapalkan informasi dan upaya kesehalan. Kebijakan ini mencakup ruang lingkup :
    – Mengatur tentang pemberian pelayanan kesehatan reproduksi remaja melalui penerapan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) atau pendekatan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Integratif di tingkat pelayanan dasar yang bercirikan peduli remaja dengan melibatkan remaja dalam kegiatan secara penuh.
    – Mengatur tentang pelaksanaan Program KRR secara terintegrasi yang dilakukan melalui perencanaan. pelaksanaan. pemantauan dan pembinaan serta evaluasi atas kebijakan/program/ kegiatan pada sektor terkait, termasuk penganggarannya
    – Mengatur tentang pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui integrasi materi KRR ke dalam mata pelajaran yang relevan dan mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler seperti bimbingan dan konseling. Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS) dan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
    – Mengatur tentang pelaksanaan pelayanan kesehatan reproduksi remaja bagi remaja di luar sekolah dapat diterapkan melalui berbagai kelompok remaja yang ada di masyarakat seperti karang taruna, kelompok anak jalanan di rumah singgah, kelompok remaja masjid/gereja. kelompok BKR, kelompok dukungan sebaya dan komunitas remaja lainnya.
    – Mengatur tentang peran serta masyarakat dan kemandirian lembaga yang menangani upaya kesehatan reproduksi.
    Penetapan peraturan ini merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah daerah dan masyarakat untuk mencapai tujuan sebagai berikut :
    – memberikan acuan kebijakan dan strategi dalam pelaksanaan Program KRR secara terintegrasi yang dilakukan melalui perencanaan. pelaksanaan. pemantauan dan pembinaan serta evaluasi atas kebijakan/program/ kegiatan pada sektor terkait, termasuk penganggarannya
    – meningkatkan keterpaduan pelaksanaan upaya kesehatan reproduksi terutama Program KRR bagi seluruh sektor terkait
    – menetapkan prosedur pelaksanaan Program KRR
    – meningkatkan peran serta masyarakat dan kemandirian lembaga yang menangani upaya kesehatan reproduksi
    Kajian Kritis
    1. Aktor yang berperan
    a. Pembuatan atau penyusunan Kebijakan
    – Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
    – Wakil Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
    – Sekertaris Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
    – Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
    – Unit Kerja Perangkat Daerah
    – Biro Kesejahteraan Sosial Setda Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
    – Dinas Sosial Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
    – Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
    – Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
    – Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB)
    b. Badan yang mengurusi terkait pembinaan dan pengawasan
    – Pemerintah Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan pelayanan kesehatan reproduksi remaja yang dilaksanakan oleh para Kader Kesehatan Remaja, Guru dan pihak lain yang sudah dipilih.
    – Dalam melaksanakan penyelenggaraan pelayanan kesehatan reproduksi remaja, Pemerintah Daerah dan Pemerintah Kota berwenang melakukan pengawasan.
    – Gubernur dan pejabat terkait bertanggung jawab untuk terlaksananya penyelenggaraan pelayanan kesehatan reproduksi remaja di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
    c. Ujung Tombak Implementasi Peraturan Gubernur
    – Remaja yang mana adalah penduduk usia 10-24 tahun yang belum menikah
    – Anak yang mana adalah seseorang yang belum beria 18 tahun dan atau belum menikah
    – Keluarga
    2. Konteks
    Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta merupakan kota metropolitan, yang menyebabkan mudahnya usia remaja di DKI Jakarta terkena dampak dari globalisasi yang beberapa diantaranya adalah pornografi, perilaku yang salah yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi dan perilaku seks bebas. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, secara kumulatif jumlah kasus AIDS yang dilaporkan sebanyak 22.726 kasus tersebar di 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota. Kasus terbanyak menimpa kelompok belia dan produktif (usia 20-39 tahun) sebanyak 78,8%, usia 20-29 tahun (47,8%), diikuti kelompok umur 30-39 tahun (30,9%), dan kelompok umur 40-49 tahun (9,1%). Dari jumlah itu, 4.250 kasus atau 18,7% diantaranya meninggal dunia. Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari Provinsi DKI Jakarta. Sembilan puluh lima persen kehamilan remaja adalah peristiwa yang tidak diharapkan. Pada usia 18 tahun, 25% remaja pernah mengalami kehamilan. Lima puluh lima persen kehamilan remaja terjadi dalam 6 bulan pertama sejak aktivitas seksual dimulai
    Permasalahan remaja yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi, sering kali berakar dari kurangnya informasi, pemahaman dan kesadaran untuk mencapai keadaan sehat secara reproduksi. Banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan hal ini, mulai dari pemahaman mengenai perlunya pemeliharaan kebersihan alat reproduksi, pemahaman mengenai proses-proses reproduksi serta dampak dari perilaku yang tidak bertanggung jawab seperti kehamilan tak diinginkan, aborsi, penularan penyakit menular seksual termasuk HIV. Kurangnya informasi mengenai kesehatan reproduksi mengakibatkan banyak remaja tidak cukup memiliki pengetahuan guna menghadapi perubahan dan masalah pada masa remaja. Ketidakcukupan informasi kesehatan reproduksi tersebut menyebabkan remaja memiliki kesalahan persepsi tentang kesehatan reproduksi. Minimnya pemahaman tersebut, menyebabkan mereka banyak yang tidak menyadari bahwa aktivitas yang dilakukannya berisiko terhadap kesehatan reproduksi. Terkait meningkatnya perilaku menyimpang pada remaja khususnya perilaku seks pranikah, saat ini memang terdapat indikasi di perkotaan maupun perdesaan yang menunjukkan peningkatan. Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja merupakan topik yang perlu diketahui oleh remaja agar mereka memiliki informasi yang sebenar-benarnya mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada disekitarnya. Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab terkait proses reproduksi. Informasi kesehatan reproduksi yang disampaikan melalui metode komunikasi dengan berbagai sumber dan media tertentu, dapat dikatakan sebagai faktor pendukung maupun faktor pendorong terhadap terjadinya faktor predisposisi status kesehatan individu maupun masyarakat. Berubahnya pengetahuan, sikap, kebiasaan dan juga kepercayaan yang ada pada individu dan masyarakat ke arah perilaku kesehatan yang positif merupakan ujung dari perubahan perilaku.
    3. Proses Penyusunan Kebijakan
    – Identifikasi masalah kesehatan reproduksi remaja
    – Melakukan koordinasi dan rapat kerja dengan bagian bagian kerja dan pejabat terkait pembahasan Rancangan Peraturan Gubernur tentang Kesehatan Reproduksi Remaja
    – Melakukan konsultasi dan penyesuaian kebijakan oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB), Dinas Kesehatan dan dinas terkait lainnya yang menangani kesehatan reproduksi remaja ini
    – Rapat Kerja dengan mitra kerja terkait seperti LSM dan lembaga yang mengurusi tentang kesehatan reproduksi remaja DKI Jakarta.
    – Rapat pembahasan dan anggaran oleh para pemangku kepentingan, dinas dinas terkait dan pejabat terkait lainnya
    – Pengesahan dan persetujuan.
    4. Isi
    Adapun substansi yang diatur dalam Peraturan Gubernur tentang Kesehatan Reproduksi Remaja ini, meliputi:
    – Mengatur tentang pemberian pelayanan kesehatan reproduksi remaja melalui penerapan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) atau pendekatan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Integratif di tingkat pelayanan dasar yang bercirikan peduli remaja dengan melibatkan remaja dalam kegiatan secara penuh.
    – Mengatur tentang pelaksanaan Program KRR secara terintegrasi yang dilakukan melalui perencanaan. pelaksanaan. pemantauan dan pembinaan serta evaluasi atas kebijakan/program/ kegiatan pada sektor terkait, termasuk penganggarannya
    – Mengatur tentang pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui integrasi materi KRR ke dalam mata pelajaran yang relevan dan mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler seperti bimbingan dan konseling. Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS) dan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
    – Mengatur tentang pelaksanaan pelayanan kesehatan reproduksi remaJa bagi remaja di luar sekolah dapat diterapkan melalui berbagai kelompok remaja yang ada di masyarakat seperti karang taruna, kelompok anak jalanan di rumah singgah, kelompok remaja masjid/gereja. kelompok BKR, kelompok dukungan sebaya dan komunitas remaja lainnya.
    – Mengatur tentang peran serta masyarakat dan kemandirian lembaga yang menangani upaya kesehatan reproduksi.

    Like

  13. Kebijakan yang dipilih :

    PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 6 TAHUN 2008TENTANG PENYELENGGARAAN KESEHATAN REPRODUKSI

    Analisis Kebijakan dari Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Selatan Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Kesehatan Reproduksi adalah
    1. Aktor yang berperan
    a. Pembuatan atau penyusunan Kebijakan
    – Gubernur Provinsi Sumatera Selatan
    – Wakil Gubernur Provinsi Sumatera Selatan
    – Sekertaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan
    – Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi Sumatera Selatan
    – Bupati se Sumatera Selatan
    – Wakil Bupati se Sumatera Selatan
    – Walikota se Sumatera Selatan
    – Komisi Kesehatan Reproduksi adalah Komisi Kesehatan Reproduksi Provinsi Sumatera Selatan.
    – Dinas Sosial Provinsi Sumatera Selatan.
    – Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan.
    – Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.
    – Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan Provinsi Sumatera Selatan.
    – Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Selatan melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan pelayanan kesehatan reproduksi remaja yang dilaksanakan oleh Pemerintah kabupaten atau kota bersama para Kader Kesehatan dan pihak lain yang terlibat.
    – Gubernur Provinsi Sumatera Selatan dan para bupati atau walikota beserta pejabat terkait bertanggung jawab untuk pengawasan dan pelaksanaan penyelenggaraan pelayanan kesehatan reproduksi remaja di Provinsi Sumatera Selatan.
    – Dalam melaksanakan penyelenggaraan pelayanan kesehatan reproduksi remaja, Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Selatan dan Pemerintah Kabupaten atau Kota berwenang melakukan pengawasan secara langsung dan mengkoreksi atau evaluasi.
    – Remaja yang sudah dan atau belum menikah dan juga yang sudah mandiri secara finansial atau belum.
    – Keluarga
    – Masyarakat

    2. Konteks
    Proporsi usia muda atau kelompok usia remaja di Provinsi Sumatera Selatan ini sangat banyak ketimbang proporsi usia lanjut. Kelompok Remaja di Provinsi Sumatera Selatan ini menjadi sorotan kelompok dan menjadi fokus perhatian karena dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan angka pernikahan usia muda (15-20 tahun). Tak hanya itu, berdasarkan hasil survei beberapa waktu lalu diketahui bahwa 56 persen remaja berusia 15-17 tahun sudah mengalami sex bebas sehingga kaum remaja ini perlu mendapatkan perhatian untuk masa datang. Berdasarkan hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap 4.500 pelajar SMP dan SMA di 12 kota besar Indonesia yang salah satunya juga di Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan persentase yang cukup mencengangkan.
    Sebanyak 97 persen responden mengaku telah mengakses situs berkonten pornografi dan juga menonton video porno melalui internet.
    Selain itu, KPAI juga menemukan ada 92,7 persen responden melakukan kissing dan oral sex, 61 persen pelajar SMP melakukan hubungan di luar nikah, dan 21,2 persen siswi SMU melakukan aborsi.
    Remaja kekurangan infor¬masi dasar mengenai keterampilan menegosiasikan hubungan seksual dengan pasangannya. Mereka juga memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mendapatkan pendidikan formal dan pekerjaan yang pa¬da akhirnya akan mempengaruhi pengambilan keputusan dan pemberdayaan mere¬ka untuk menunda perkawinan dan keha¬milan serta mencegah kehamilan yang ti¬dak dikehendaki. Bahkan pada remaja di pedesaan, menstruasi pertama biasanya akan segera diikuti dengan perkawinan yang menempatkan mereka pada resiko kehamilan dan persalinan dini.
    Keterbatasan pengetahuan dan in¬formasi tentang kesehatan reproduksi orang tua juga dapat menjadi pencetus perilaku atau kebiasaan tidak sehat pada remaja. Hal ini berawal dari sikap orang tua yang menabukan pertanyaan remaja tentang fungsi dan proses reproduksi, serta penyebab rangsangan seksualitas. Orang tua cenderung risih dan tidak mampu memberikan informasi yang memadai mengenai alat reproduksi dan proses reproduksi itu. Tiadanya informasi dari orang tua membuat remaja mengalami kebingungan akan fungsi dan proses reproduksinya. Ketakutan kalangan orang tua dan guru, bahwa pendidikan yang menyentuh isu perkembangan organ reproduksi dan fungsinya akan mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah, justru mengaki-batkan remaja diliputi oleh ketidaktahuan atau mencari informasi yang belum tentu benar, yang pada akhirnya justru dapat menjerumuskan remaja kepada ketidaksehatan reproduksi.
    Kesehatan reproduksi harus dipahami dan dijabarkan sebagai siklus kehidupan (life cycle) mulai dari konsepsi sampai mengalami menopause dan menjadi tua. Hal ini berarti menyangkut kesehatan balita, anak, remaja, ibu usia subur, ibu hamil dan menyusui, dan ibu yang me¬nopause. Setiap tahap dalam siklus kehidupan itu memiliki keunikan permasalahan masing-masing, namun juga saling terkait dengan tahap lainnya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi dalam siklus itu, di antaranya kemiskinan, status sosial yang rendah, diskriminasi, ku¬rangnya pelayanan dan pemeliharaan ke¬sehatan, pendidikan yang rendah, dan kehamilan usia muda. Setiap faktor akan membawa dampak bagi kesehatan repro¬duksi, baik secara langsung maupun tidak langsung.
    Masa remaja ada dua aspek perubahan yaitu perubahan fisik dan perubahn psikologis. Keluarga, sekolah,dan tetangga merupakan aspek yang secara langsung mempengaruhi kehidupanremaja. Banyak remaja mengira bahwa kehamilan tidak akan terjadi padaintercourse (senggama) yang pertama kali atau mereka merasa bahwa dirinyatidak akan pernah terinfeksi HIV / AIDS karena pertahanan tubuhnya cukup kuat. Dari kesalahan persepsi itulah penting dilakukan program yang mengajarkan perilaku sehat kepada para remaja, dan bagi para petugas medis diharapkan dapatmemberi pendidikan kesehatan reproduksi pada para remaja serta dapat menjadi pendengar dan tempat konsultasi yang baik bagi para remaja. Berubahnya pengetahuan, sikap, kebiasaan dan juga kepercayaan yang ada pada individu dan masyarakat ke arah perilaku kesehatan yang positif merupakan ujung dari perubahan perilaku. Faktor informasi berupa ketersediaan dan aksesibilitas informasi kesehatan dari berbagai media, orang-orang tertentu juga memberikan informasi dapat berpengaruh pada perilaku seseorang. Sikap dan perilaku yang dijadikan contoh, menjadikan hal tersebut sebagai faktor pendorong perilaku kesehatan seseorang. Artinya, selain penting bagi remaja, informasi kesehatan reproduksi juga penting diketahui bagi para pemberi pelayanan kesehatan, pembuat keputusan, serta para pendidikan dan penyelenggara program bagi remaja, agar dapat membantu menurunkan masalah kesehatan reproduksi remaja.

    3. Proses Penyusunan Kebijakan
    – Identifikasi masalah yang ada dan atau ditimbulkan oleh kesehatan reproduksi remaja.
    – Melakukan rapat kerja dengan dinas dan pejabat terkait tentang pembahasan Rancangan Peraturan Gubernur Provinsi Sumatera Selatan tentang Kesehatan Reproduksi Remaja
    – Melakukan penyesuaian kebijakan dan musyawarah oleh Komisi Kesehatan Reproduksi adalah Komisi Kesehatan Reproduksi Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Kesehatan dan dinas terkait lainnya yang menangani kesehatan reproduksi remaja ini
    – Rapat Kerja dengan semua mitra kerja terkait dan lembaga yang mengurusi tentang kesehatan reproduksi Provinsi Sumatera Selatan.
    – Rapat pembahasan dan anggaran dasar atau rumah tangga oleh komisi-komisi dan kepala bagian, dinas dinas terkait dan pejabat terkait lainnya
    – Pengesahan dan persetujuan.

    4. Konten
    – Pelayanan kesehatan reproduksi yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan/atau rehabilitatif, termasuk reproduksi dengan bantuan wajib dilakukan secara aman dan sehat dengan memperhatikan aspek-aspek yang khas. khususnya fungsi reproduksi perempuan.
    – Ketersediaan sarana informasi dan sarana pelayanan kesehatan reproduksi yang aman, bermutu dan terjangkau masyarakat, termasuk kelurga berencana
    – Pelaksanaan upaya pemeliharaan kesehatan bagi remaja ditujukan untuk mempersiapkan remaja manjadi orang dewasa yang sehat dan produktif, baik sosial maupun ekonomi.
    – Edukasi dan informasi mengenai kesehatan remaja, termasuk kesehatan reproduksi, agar mampu hidup sehat secara bertanggungjawab..
    – Mengatur tentang peran serta remaja dalam masyarakat dan lembaga yang berperan yang menangani upaya kesehatan reproduksi.

    Like

  14. Saya akan melakukan analisis kebijakan mengenai PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN KESEHATAN REPRODUKSI.
    Kebijakan yang akan saya analisis terutama pada BAB VII yang mengatur mengenai kesehatan reproduksi remaja.

    ISI ATAU KONTEN PERATURAN DAERAH

    BAB VII
    Pasal 21
    (1) Pemerintah Provinsi menyelenggarakan upaya pemeliharaan kesehatan bagi remaja dengan memastikan adanya layanan kesehatan reproduksi yang ramah remaja (youth friendly) tanpa stigma dan diskriminasi.
    (2) Upaya pemeliharaan kesehatan bagi remaja ditujukan untuk mempersiapkan remaja menjadi manusia yang sehat dan produktif, baik sosial maupun ekonomi.
    (3) Upaya pemeliharaan kesehatan reproduksi remaja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) agar remaja terbebas dari berbagai gangguan kesehatan yang dapat menghambat kemampuan menjalani kehidupan reproduksi secara sehat.

    Pasal 22
    (1) Pemerintah Provinsi memberikan jaminan kepada remaja agar dapat memperoleh edukasi dan informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja dan seksualitas.
    (2) Pemberian jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) agar remaja mampu bertanggung jawab untuk melindungi diri dari prilaku seksual berisiko, Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk HIV dan AIDS .
    (3) Pemerintah Provinsi harus memberikan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas secara jelas dan benar serta berkesinambungan.

    Remaja adalah tunas bangsa, generasi penerus bangsa, remaja adalah tumpuan harapan bangsa yang akan bisa melanjutkan cita-cita bangsa menuju Indonesia yang bermartabat. Tercatat bahwa kelompok usia remaja merupakan kelompok yang cukup besar, sekitar 23% dari seluruh populasi. Sehingga sebagai generasi penerus kelompok remaja merupakan asset bangsa atau modal utama sumber daya manusia bagi pembangunan bangsa di masa yang akan datang. Kelompok remaja yang berkualitas memegang peranan penting dalam mencapai kelangsungan serta keberhasilan tujuan pembangunan nasional, sehingga perlu mendapat perhatian yang serius untuk meningkatkan kualitasnya.
    Tumbuh kembang remaja adalah masa yang begitu penting dalam hidup manusia, karena masa tersebut terjadi proses awal kematangan organ reproduksi manusia yang disebut sebagai masa pubertas. Masa remaja dapat dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu : (1) Masa remaja awal (11-13 tahun); (2) Masa remaja tengah (14-16 tahun); (3) Masa remaja akhir (17-19 tahun). Masa remaja juga merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini banyak terjadi perubahan baik dalam hal fisik maupun psikis. Perubahan-perubahan tersebut dapat mengganggu batin remaja. Kondisi ini menyebabkan remaja dalam kondisi rawan dalam menjalani proses pertumbuhan dan perkembangannya. Kondisi ini juga diperberat dengan adanya globalisasi yang ditandai dengan makin derasnya arus informasi.

    AKTOR YANG TERLIBAT

    Aktor yang terlibat dalam penyusunan perda tersebut antara lain :
    1)Gubernur
    Gubernur adalah kepala daerah yang memimpin sebuah provinsi. Gubernur memiliki kewenangan (otoritas) untuk mengatur daerah yang dipimpinnya. Dalam hal ini gubernur adalah orang yang menyetujui dan memerintahkan untuk dilaksanakannya peraturan daerah tersebut.
    2)SKPD
    Satuan Kerja Perangkat Daerah berperan memberi usulan kepada gubernur untuk diterbitkannya suatu peraturan daerah. Kemudian SKPD penggagas yang sesuai dengan bidang tugas akan merumuskan dan menyusun draft yang berisi materi yang akan ditetapkan disertai dengan Naskah Akademik dan atau Penjelasan atau Keterangan dan memberikannya kepada Sekretaris Daerah (Sekda).
    3)Sekda
    Draft yang telah disampaikan kepada Sekretaris Daerah (Sekda) melalui bagian hukum dan disertai surat pengantar yang ditandatangani oleh kepala SKPD kemudain diagendakan dalam buku register koreksi oleh petugas bagian hukum, distempel kolom legal drafting setelah disampaikan kepada kepala bagian hukum untuk diproses lebih lanjut.
    4)DPRD
    Draft yang diusulkan adalah termasuk dalam program legislasi daerah (Prolegda) yang telah ditetapkan dalam keputusan DPRD. Selanjutnya DPRD akan melakukan rapat untuk menentukan besarnya anggaran yang disediakan untuk menjalankan peraturan daerah tersebut.
    5)Kepala Sub Bagian Perundang Undangan
    Terhadap draft yang diusulkan akan dilakukan pengoreksian dan pengkajian berjenjang dari pelaksana yang menangani perundang-undangan, Kasubbag Perundang Undangan, dan Kepala Bagian Hukum untuk mendapat paraf pengkoreksian. Kemudian bagian hukum melakukan rapat koordinasi internal terhadap hasil pengkoreksian dan pengkajian terhadap draft yang diusulkan.
    6)Dinas Kesehatan
    Dinas kesehatan berperan memberi masukan kepada SKPD mengenai permasalahan apa saja yang terjadi pada remaja yang kemudian akan dibahas untuk dijadikan peraturan daerah.

    Aktor yang terlibat dalam pelaksanaan peraturan daerah
    1)Dinas kesehatan
    Dinas kesehatan dalam hal ini membuat dan menerbitkan materi serta tugas-tugas apa saja yang harus dilakukan oleh puskesmas terkait untuk melakukan program kesehatan yang ditujukan untuk remaja.
    2)Puskesmas
    Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan yang berkaitan langsung dengan dinas kesehatan akan mengimplementasikan tugas-tugas yang diberikan dengan membuat materi penyuluhan, melakukan perencanaan pemeriksaan kesehatan, melakukan pemeriksaan kesehatan, mendampingi remaja yang bermasalah dengan kesehatan, dan mengevaluasi serta melaporkan hasil kegiatan kepada dinas kesehatan.
    3)Guru di sekolah
    Guru memiliki peran penting dalam pengawasan terhadap remaja di sekolah. Di sekolah, remaja akan banyak berinteraksi dengan teman sebayanya. Dalam hal ini diharapkan guru dapat mengawasi dan memberikan bimbingan mengenai pergaulan remaja bersama teman sebayanya. Apalagi di zaman sekarang ini banyak remaja terutama anak sekolah pada jenjang Sekolah Menengah Atas yang tidak tinggal bersama orang tua (indekos).
    4)Orang tua dan keluarga remaja
    Orang tua adalah orang yang setiap hari dan sejak kecil ada bersama para remaja. Orang tua mengetahui perkembangan dan perilaku anaknya ketika berada di rumah. Waktu-waktu sekarang ini sangat sulit untuk melakukan pengawasan terhadap remaja. Diharapkan orang tua dapat menjalin kedekatan dengan remaja sehingga sangbremaja dapat terbuka kepada orang tuanya.
    5)Remaja
    Pelaku utama dari kebijakan ini adalah remaja itu sendiri. Remaja diharapkan dapat memahami dan waspada terhadap kesehatan dirinya sendiri. remaja juga harus terbuka kepada orang tua maupun guru di sekolah apabila memiliki permasalahan salah satunya masalah kesehatan. Mungkin remaja masih malu untuk mengungkapkan apa yang menjadi masalah mereka, di sini pembimbing diharapkan untuk melatih keterbukaan dan memberikan kepercayaan diri terhadap para remaja.

    KONTEKS PERATURAN DAERAH

    Kesulitan dan problematika yang dihadapi remaja sangatlah kompleks. Kebutuhan remaja di desa dan kota sangat berbeda. Seorang remaja di desa bila sudah akil balik kemungkinan akan dinikahkan oleh orang tuanya, keadaan ini menjadi masalah kesehatan bila mempunyai masalah gizi seperti menderita anemia kurus bahkan sangat kurus. Sebaliknya berbeda dengan para remaja yang hidup di kota, kehidupan dan kebutuhan remaja semakin menuntut mengikuti kemajuan teknologi. Gaya hidup di perkotaan dapat menyebabkan pelbagai masalah psikososial seperti kesulitan belajar penyalahgunaan NAPZA, seks tidak aman. Menu makanan siap saji (fast food) merupakan salah satu hal yang menyebabkan kelebihan berat badan bahkan kegemukan. Demikian pula latar belakang social budaya yang berbeda, menyebabkan problematika berbeda pula. Bila diteliti lebih lanjut, ternyata prioritas kebutuhan atau problematika masing-masing individu juga berbeda-beda.
    Masalah remaja berasal dari :
    (1) Individu remaja sendiri, seperti :
    a) Emosi. Umumnya remaja malu mengemukakan pendapat, tidak mau dicela dan mau benar sendiri;
    b) Perubahan pribadi. Umumnya remaja tidak menyukai sikap sombonng, sulit berbaur dengan orang yang asing, malu tampil dimuka umum dll. Perlu dipersiapkan, kalau tidak mereka akan menarik diri, melamun hal-hal yang menyebabkan pikiran kacau;
    c) Kesehatan. Yang menjadi perhatian remaja antara lain pertumbuhan badan memerlukan gizi yang cukup kualitas maupun kuantitasnya, perlu perawatan tubuh supaya sehat dan menarik;
    d) Kebutuhan keuangan. Kebutuhan yang dianggap penting adalah makanan/jajan, pakaian/perlengkapan serta hiburan, namun orang tua menganggap tidak penting dengan alasan semaunya sendiri, ikut-ikutan teman, tidak tau prioritas dan kurang instropeksi diri;
    e) Perilaku seks. Secara fisik remaja sudah dapat melakukan hubungan seks, namun kesiapan fisik yang sehat dan social ekonomi belum bisa memenuhi persyaratan nikah yang ideal. Prolem inilah yang menjadi sumber konflik dalam diri, dilain pihak pengetahuan tentang seks yang bertanggung jawab tidak didapatkan;
    f) Persiapan berkeluarga. Dibanding laki-laki remaja perempuan lebih besar perhatiannya terhadap poersiapan berkeluarga, antara lain memilih jodoh yang tepat, apa fungsi suami atau istri dll. Umumnya mereka belum banyak mengetahui hal tersebut;
    g) Pemilihan pekerjaan dan kesempatan belajar. Banyak remaja kurang menyadari dengan sepenuhnya tentang pilihan pekerjaan dan belajar yang tepat bagi dirinya;
    h) Agama dan akhlak. Dikhawatirkan remaja belum tertanam agama sejak kecil, ragu terhadap keyakinan beragama, karena kadang-kadang tidak sesuai dengan fikirannya.
    (2) Lingkungan sosial sekitar remaja, seperti :
    a) Keluarga. Sering terjadi pertentangan antara remaja dan orang tuanya, dimana orang tua terlalu otoriter dan belum banyak mengetahui dan memperhatikan tentang perkembangan remaja;
    b) Sekolah. Sebagai lembaga pendidikan, sekolah sangat berperan dalam memberikan dan menanamkan nilai kepribadian selain ilmu pengetahuan. Namun banyak persoalan yang terjadi, seperti pelajaran teori yang membosankan, perubahan pola belajar karena kurikulum yang berubah;
    c) Penyediaan sarana hiburan dan olah raga.
    (3). Faktor lain di luar lingkungan dekat remaja, seperti :
    a) Mitos. Banyak mitos yang berkembang di masyarakat yang belum terbukti kebenarannya, tetapi percaya dapat berpengaruh terhadap keyakinan dan perilaku reproduksi remaja;
    b) Kehidupan social. Budaya, social dan adat istiadat sangat berpengaruh pada kehidupan remaja. Remaja sering suka terhadap hal yang baru dan terutama berbau asing;
    c) Politik. Dapat mempengaruhi remaja, dalam keadaan wajar bisa secara bebas dipakai untuk mengembangkan diri tanpa tekanan-tekanan politik dari luar.
    Demikian banyaknya problem yang dihadapi remaja sehingga banyak konflik yang akhirnya menimbulkan reaksi menarik diri atau melarikan diri ke hal-hal negative. Stres yang terlalu berat, berlarut-larut dan tidak terselesaikan dapat menimbulkan gangguan jiwa yaitu depresi. Gejala depresi adalah perasaan sedih dan tertekan yang menetap, putus asa dan tidak dapat menikmati kegiatan yang biasa dilakukan. Manifestasi depresi pada remaja adalah gangguan perilaku, misalnya menentang guru/orang tua, sulit belajar, kenakalan remaja, kebut-kebutan, berkelahi/tawuran, perilaku seks yang berisiko dll. Jenis gangguan jiwa selain depresi yang sering terjadi pada remaja yaitu gangguan cemas, gangguan psikosomatik (somatoform) dan gangguan psikotik. Pencegahan agar gangguan tersebut tidak terjadi, memerlukan pengertian dari orang tua, guru dan kerabatnya untuk memberikan bimbingan supaya remaja mampu melewati masa transisinya dengan baik.
    Untuk itulah maka perlu diterbitkan peraturan daerah yang mengatur kesehatan remaja.

    PROSES

    Pembentukan Kebijakan

    1)Rancangan kebijakaan yang akan dibentuk diusulkan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
    2)Usulan dimaksud dalam bentuk draft yang dirumuskan dan disusun oleh SKPD penggagas sesuai dengan bidang tugas dan materi yang akan ditetapkan disertai dengan Naskah Akademik dan atau Penjelasan atau Keterangan
    3)Draft disampaikan kepada Sekretaris Daerah (Sekda) melalui bagian hukum disertai surat pengantar yang ditandatangani oleh kepala SKPD
    4)Draft yang diusulkan kemudain diagendakan dalam buku register koreksi oleh petugas bagian hukum, distempel kolom legal drafting setelah disampaikan kepada kepala bagian hukum untuk diproses lebih lanjut
    5)Draft yang diusulkan adalah termasuk dalam program legislasi daerah (Prolegda) yang telah ditetapkan dalam keputusan DPRD
    6)Terhadap draft yag diusulkan dilakukan pengorksian dan pengkajian berjenjang dari pelaksana yang menangani perundang-undangan, Kasubbag Perundang Undangan, dan Kepala Bagian Hukum untuk mendapat paraf pengkoreksian
    7)Bagian hukum melakukan rapat koordinasi internal terhadap hasil pengkoreksian dan pengkajian terhadap draft yang diusulkan dan menerbitkannya.

    Pelaksanaan Kebijakan

    Pelaksaan kebijakan menggunakan metode top-down, yaitu kebijakan berasal dari pemimpin daerah dan dilaksanakan oleh lembaga di bawahnya. Pokok materi dan tugas disusun oleh dinas kesehatan kemudian diserahkan ke Puskesmas untuk dilakukan penyusunan program yang diimplementasikan untuk remaja, baik di sekolah maupun organisasi-organisasi remaja. Setelah dilaksanakan, kegiatan akan dievaluasi dan dilaporkan kembali ke lembaga di atasnya.

    Like

  15. Analisis kebijakan Peraturan daerah kota Surabaya no. 2 tahun 2017 bagian IV pasal 8 tentang upaya kesehatan remaja
    Latar belakang
    Pada masa remaja terjadi perubahan baik fisis maupun psikis yang menyebabkan remaja dalam keadaan rawan pada proses tumbuh kembang nya. Dimana Masa ini merupakan masa terjadinya proses awal pematangan dan pemantapan organ reproduksi disertai perubahan hormonal yang nyata. Masalah- masalah kompleks yang sering dihadapi remaja sering terkait dengan perubahan fisis, kecukupan gizi, perkembangan psikososial, emosi dan kecerdasan yang akhirnya menimbulkan konflik dalam dirinya yang kemudian memengaruhi kesehatannya. Remaja yang mengalami gangguan kesehatan berusaha untuk melakukan reaksi menarik diri karena alasan-alasan tersebut. Pencegahan terhadap terjadinya gangguan kesehatan pada remaja memerlukan pengertian dan perhatian dari lingkungan baik orangtua, guru, teman sebayanya, dan juga pihak terkait agar mereka dapat melalui masa transisi dari kanak menjadi dewasa dengan baik.
    Menurut survei kesehatan reproduksi remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2007, persentase perempuan dan lelaki yang tidak menikah, berusia 15-19 tahun merupakan :
     Perokok aktif hingga saat ini: Perempuan: 0,7%; sedangkan lelaki: 47,0%.
     Mantan peminum alkohol: Perempuan: 1,7%; dan lelaki: 15,6%.
     Peminum alkohol aktif: perempuan: 3,7%; lelaki: 15,5 %.
     Lelaki pengguna obat dengan cara dihisap: 2,3%; dihirup: 0,3 %; ditelan 1,3%.
     Perempuan pertama kali pacaran pada usia <12 tahun: 5,5%; pada yusia 12-14 tahun: 22,6%; usia 15-17 tahun: 39,5%; usia 18-19 tahun: 3,2%. Melakukan petting pada saat pacaran: 6,5%.
     Lelaki pertama kali pacaran pada usia <12 tahun: 5,0%; usia 12-14 ytahun: 18,6%; usia 15-17 tahun: 36,9%; usia 18-19 tahun: 3,2%. Melakukan petting saat pacaran: 19,2%.
     Pengalaman seksual pada perempuan: 1,3%; lelaki: 3,7%.y
     Lelaki yang memiliki pengalaman seks untuk pertama kali pada usia: <15 tahun: 1,0%; usia 16 tahun : 0,8%; usia 17 tahun: 1,2%; usia 18 tahun: 0,5%; usia 19 tahun: 0,1%.
     Alasan melakukan hubungan seksual pertama kali sebelum menikah ypada remaja berusia 15-24 tahun ialah: Untuk perempuan alasan tertinggi adalah karena terjadi begitu saja (38,4%); dipaksa oleh pasangannya (21,2%). Sedangkan pada lelaki, alasan tertinggi ialah karena ingin tahu (51,3%); karena terjadi begitu saja (25,8%).
     Delapan puluh empat orang (1%) dari responden pernah mengalami KTD, 60% di antaranya mengalami atau melakukan aborsi.
    Remaja adalah individu yang berada pada masa peralihan dari masa kanak ke masa dewasa. Peralihan ini disebut sebagai fase pubertas, yang ditandai dengan perubahan fisis, psikis, dan pematangan fungsi organ seksual. Perkembangan psikologis ditunjukkan dengan kemampuan berpikir secara logis dan abstrak sehingga mampu berpikir secara multi-dimensi. Emosi pada masa remaja cenderung tidak stabil, sering berubah, dan tak menentu. Remaja berupaya melepaskan ketergantungan sosial-ekonomi, menjadi relatif lebih mandiri. Masa remaja merupakan periode krisis dalam upaya mencari jati dirinya.
    Beberapa alasan mengapa program kesehatan remaja ini perlu diperhatikan antara lain disebabkan:
    1. Jumlah remaja di Indonesia lebih kurang 20% dari populasi;
    2. Remaja merupakan aset sekaligus investasi generasi mendatang;
    3. Upaya pemenuhan Hak Asasi Manusia;
    4. Untuk melindungi sumber daya manusia potensial
    Dilihat dari sisi bahwa remaja belum siap untuk menguasai fungsi fisis dan psikisnya secara optimal, remaja termasuk golongan anak. Dengan begitu, remaja dikelompokkan menurut rentang usia sesuai dengan sasaran pelayanan kesehatan anak. Disesuaikan dengan konvensi tentang hak-hak anak dan UU RI no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, remaja berusia antara 10-18 tahun
    Tujuan dari pembuatan kebijakan
    a. meningkatkan derajat kesehatan remaja setinggi-tingginya;
    b. terpenuhinya kebutuhan remaja akan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu serta terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat
    c. menyediakan jumlah, jenis dan bentuk upaya kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan remaja
    d. mendorong peran serta remaja dalam penyelenggaraan upaya kesehatan
    Isi dari kebijakan
    1. Setiap remaja berhak mendapatkan pelayanan kesehatan remaja.
    2. Pemerintah Daerah, penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan dan masyarakat berperan dalam menyelenggarakan upaya kesehatan remaja, melalui kegiatan:
    a. pemberian edukasi, informasi dan layanan mengenai kesehatan remaja agar mampu hidup sehat, produktif baik sosial maupun ekonomi;
    b. mengintegrasikan pendidikan kesehatan remaja dalam kurikulum pendidikan formal; dan
    c. menyediakan fasilitas umum yang berwawasan kesehatan
    II. Pelaku kebjakan
    1. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Surabaya.
    2. Walikota Surabaya.
    3. Dinas Kesehatan Kota Surabaya
    4. Usaha kesehatan masyarakat (UKM)
    5. Usaha kesehatan perseorangan (UKP)
    6. para pelajar dan remaja kota Surabaya
    Proses penyusunan kebijakan
    Peraturan daerah kota Surabaya no. 2 tahun 2017 bagian IV pasal 8 tentang upaya kesehatan remaja. Proses dari kebijakan ini bergantung pada kebutuhan dan keperluan remaja yang berguna untuk meningkatkan kesehatan dan ketrampilan para remaja di Kota Surabaya
    • Fasilitas umum yang berwawasan kesehatan yaitu, Membentuk pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR)
    • Membuat fasilitas untuk meningkatkan minat dan bakat dari para remaja seperti: Taman bermain, lapangan olahraga,pusat pembuaan kerajinan tangan.
    I. Pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR)
    adalah program pemerintah yang diampu Dinas Kesehatan di tingkat Kabupaten/Kota, dikoordinas Dinkes tingkat Provinsi, untuk melayani kesehatan remaja
    jenis kegiatan yang dijalankan PKRP
    1. Pemberian informasi dan edukasi
    Dapat dilaksanakan oleh guru, pendidik sebaya yang terlatih dari sekolah, Menggunakan metoda ceramah tanya jawab, focus group discussion (FGD), diskusi interaktif dan Menggunakan sarana komunikasi informasi edukasi
    2. Pelayanan klinis medis (termasuk pemeriksaan penunjang & rujukan)
    Bagi remaja yang menderita penyakit tertentu tetap dilayani dengan mengacu pada prosedur tetap penanganan penyakit tersebut, Petugas PKPR harus menjaga kelangsungan pelayanan dan mencatat hasil rujukan kasus per kasus
    3. Konseling
    Tujuan konseling :
    I. mengatasi kecemasan, depresi, atau masalah kesehatan mental lainnya.
    II. meningkatkan kewaspadaan terhadap isu masalah yang mungkin terjadi pada dirinya.
    III. mempunyai motivasi untuk mencari bantuan bila menghadapi masalah.
    4. Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS)
    Pendidikan ketrampilan hidup sehat merupakan adaptasi dari life skills education (LSE). Sedangkan life skills atau keterampilan hidup adalah kemampuan psikososial seseorang untuk memenuhi kebutuhan, dan mengatasi masalah dalam kehidupan sehari-hari secara efektif
    5. Pelatihan Konselor Sebaya
    Dengan melatih remaja menjadi kader kesehatan remaja atau konselor sebaya dan pendidik sebaya, beberapa keuntungan diperoleh, yaitu kelompok ini berperan sebagai agen perubahan di antara kelompok sebayanya agar berperilaku sehat.
    – Akses pelayanan kesehatan peduli remaja
    Cara mengaksesnya layanan PKRP dengan datang ke Pusat kesehatan masyarakat. Proses dimulai dari pendaftaran, mengantri, dan mendapatkan layanan. Bagi remaja yang masih bersekolah, waktu untuk mengakses bisa menjadi kendala. Kendalatersebut dpat diatasi dengan menggunakan alat kounikasi untuk menelepon pihak puskesmas kemudian melakukan janji dengan pihak puskesmas untuk konseling

    II. Fasilitas untuk meningkatkan minat dan bakat seperti
    • Pembuataan lapangan olahraga seperti lapangan futsal, basket, bulutangkis, dan area untuk jogging. Dengan pembangunan areaini dapat meningkatkan kesehatan fisik dn mental para remaja agar bisa dijauhkan dari pergaulan yang dapat merusak kesehatan mereka
    • Pembuatan taman untuk publik
    • Pusat pembuatan kerajinan tangan
    Ini bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan remaja untuk upaya peningkatan kesehatan remaja dan dapat meningkatkan ketrampilan dari remaja- remaja yang memiliki minat disini.

    Like

  16. BUPATI GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 36 TAHUN 2015
    TENTANG
    PENCEGAHAN PERKAWINAN PADA USIA DINI ATAU ANAK

    GAMBARAN UMUM KEBIJAKAN
    Peraturan Bupati Gunungkidul nomor 36 tahun 2015 adalah kebijakan yang mengatur tentang pencegahan terjadinya perkawinan pada usia dini atau terlalu muda, dikarenakan adanya beberapa dampak buruk yang dapat timbul akibat perkawinan dini khususnya bagi kesehatan remaja putri. Kebijakan ini mencakup ruang lingkup :
    1. Mengatur tentang upaya pencegahan perkawinan pada usia dini sehingga dapat mengurangi tingginya jumlah remaja di gunungkidul yang melakukan perkawinan di usia yang masih sangat muda.
    2. Masyarakat diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam program dan kegiatan Pencegahan Perkawinan pada Usia Anak mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, monitoring dan evaluasi..
    3. Mengatur tentang wajib melakukan pengaduan atau melaporkan bila mengetahui adanya perkawinan pada usia dini.
    4. Mengatur tentang adanya kebijakan, program dan strategi dalam mencegah perkawinan pada usia dini.
    5.Mengatur tentang peran serta dan kewajiban Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota. Pemerintah Desa, masyarakat dan terutama remaja dalam mencegah terjadinya perkawinan pada usia dini.

    Penetapan peraturan ini merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah dan masyarakat untuk mencapai tujuan sebagai berikut :
    1. Mewujudkan Perlindungan anak atau remaja dan menjamin terpenuhinya hak-hak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.
    2. Mewujudkan generasi muda yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera.
    3. Mencegah terjadinya tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dapat mempengaruhi psikis atau mental anak.
    4. Meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.
    5. Mencegah putus sekolah, menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan kualitas kesehatan.

    KAJIAN KRITIS
    1. Aktor
    a. Pembuatan atau penyusunan Kebijakan
    – Bupati Gunungkidul.
    – Wakil Bupati Gunungkidul.
    – Sekertaris kabupaten Gunungkidul
    – Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), yaitu unsur pembantu Bupati dalam penyelenggaraan pemerintah daerah.
    b. Pelaksana
    Pemerintah, masyarakat diantaranya orang tua dan anak atau remaja tersebut sendiri.

    2. Konteks
    Pada era globalisasi ini, lingkungan sosial sangat dinamis dan terbuka. Konteks remaja sangat bervariasi diberbagai tempat di dunia bahkan di dalam satu negara. Salah satu yang dibawa dalam perubahan ini adalah perubahan gaya hidup remaja. Kombinasi antara usia perkembangan remaja yang khas seperti usia belajar dengan dinamisnya lingkungan sosial dan budaya pada dewasa ini, membuat remaja masuk di berbagai lingkungan atau dunia yang sering kali tidak bisa diikuti dan difahami lagi secara benar oleh generasi sebelumnya termasuk orang tuanya sendiri.
    Ada banyak lingkungan yang dimasuki remaja sesuai dengan daya tariknya. Akibat minimnya informasi yang mereka miliki akhirnya menghasilkan perbuatan/tingkah laku yang tidak wajar seperti narkoba, seks bebas dan lain sebagainya yang mudah terjadi sehingga pada akhirnya berujung pada sebuah pernikahan. Pernikanan bukan merupakan hal yang mudah untuk dilalui. Perlu adanya kesiapan mental dan fisik bagi para mempelai baik pria maupn wanita untuk menjadi sebuah keluarga. Namun pada kenyataannya proses ini tidak semudah yang dikatakan maupun direalisasikan. Masyarakat Indonesia saat ini menghadapi berbagai macam persoalan yang berkaitan dengan masalah keluarga. Diantara problem sosial ini adalah masalah kenakalan remaja seperti tawuran, narkoba dan seks bebas yang memunculkan beragam problem sosial, kekerasan dalam rumah tangga dan berbagai persoalan lainnya termasuk pernikahan dini atau pernikahan pada usia anak.
    Pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilakukan pada usia dibawah 18 tahun (UNICEF, 2000). Pernikahan dibawah usia 18 tahun bertentangan dengan hak anak untuk mendapatkan pendidikan, kesenangan, kesehatan maupun kebebasan untuk berekspresi dan diskriminasi. Penelitian UNICEF menyebutkan, pernikahan usia dini juga tak lepas dari dampak kesehatan yang ditimbulkan. Dipaparkan, perempuan yang melahirkan pada usia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun ketika bersalin, dibanding mereka yang hamil dan bersalin pada usia 20-24 tahun. Dari segi psikologis, UNICEF menyebutkan perkawinan pada usia anak dapat mengganggu kesehatan jiwa pada saat dihadapkan pada urusan rumah tangga karena anak belum siap memikul tanggung jawab untuk mengurusnya, khususnya pekerjaan domestik yang belum selayaknya dikerjakan oleh anak.

    3. Proses Penyusunan kebijakan
    – Identifikasi masalah apa yang ada dan atau ditimbulkan oleh perkawinan dini atau perkawinan usia muda.
    – Melakukan rapat kerja dengan staff kabupaten mengenai masalah yang ada dan atau yang ditimbulkan oleh perkawinan dini atau perkawinan usia muda.
    – Staff menyusun naskah rancangan Perbup sesuai dengan kewenangan.
    – Rapat Kerja dengan semua mitra kerja terkait, instansi dan masyarakat.
    – Staff kabupaten menginformasikan pada Bupati mengenai masalah yang ada dan atau yang ditimbulkan oleh perkawinan dini atau perkawinan usia muda.
    – Bupati melakukan koreksi, kemudian Bupati mengeluarkan Perbup dengan dasar UU nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan.

    4. Isi
    Adapun upaya pencegahan perkawinan dini , meliputi:
    Bagi orang tua:
    1. Orang tua berkewajiban untuk mencegah terjadinya Perkawinan pada Usia Anak dengan cara:
    a. memberikan pendidikan karakter.
    b. memberikan pendidikan keagamaan.
    c. memberikan penanaman nilai-nilai budi pekerti dan budaya.
    d. pendidikan kesehatan reproduksi.
    2. Orang tua berkewajiban untuk melakukan pembinaan dan pengasuhan serta bimbingan bagi Anak, dan menjaga Anak agar tidak melakukan Perkawinan pada Usia Anak.

    Bagi anak:
    a. menghormati dan menjaga nama baik Orang tua, wali dan guru;
    b. mencintai keluarga, Masyarakat, dan menyayangi teman;
    c. mencintai tanah air, bangsa, dan negara;
    d. menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya;
    e. melaksanakan etika dan akhlak yang mulia;
    f. menyelesaikan pendidikan dasar;
    g. memperoleh pendidikan kesehatan reproduksi; dan
    h. berpartisipasi dalam pembangunan.

    • Kewajiban Masyarakat dan Pemangku Kepentingan dalam upaya Pencegahan Perkawinan pada Usia Anak dilaksanakan dengan melibatkan Psikolog Anak, Konselor, organisasi kemasyarakatan, akademisi, dan pemerhati Anak.

    • Peran Masyarakat dapat dilakukan oleh orang perseorangan, lembaga Perlindungan Anak, lembaga kesejahteraan sosial, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, media massa, dan dunia usaha.

    • Peran Masyarakat dilakukan dengan cara antara lain:
    a. memberikan informasi melalui sosialisasi dan edukasi terkait dengan peraturan perundang-undangan tentang Anak;
    b. memberikan masukan dalam perumusan kebijakan yang terkait upaya Pencegahan Perkawinan pada Usia Anak;
    c. melaporkan kepada pihak berwenang jika terjadi pemaksaan Perkawinan pada Usia Anak;
    d. berperan aktif dalam proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial bagi Anak yang menikah pada usia Anak;
    e. peran aktif masyarakat dapat melalui lembaga-lembaga pemerhati Anak antara lain yaitu Gugus Tugas KLA, Gugus Tugas KRA, Gugus Tugas DRA, FPK2PA dan P2TP2A;
    f. Masyarakat dapat menyelenggarakan kesepakatan bersama dan/atau deklarasi Pencegahan Perkawinan pada Usia Anak bersama dengan Pemerintah Daerah dan seluruh Pemangku Kepentingan; dan
    g. peran serta Masyarakat dalam Pencegahan Perkawinan pada Usia Anak dilakukan dengan semangat kepentingan terbaik bagi Anak, kekeluargaan dan kearifan lokal.

    Like

  17. KEBIJAKAN
    Peraran Bupati Pandeglang Nomor 46 Tahun 2015 Tentang Pengintergrasian Program Generasi Berencana Dalam Kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Pandeglang

    PELAKU/AKTOR
    a. Pembuatan dan Penyusunan Kebijakan
    • Bupati Pandeglang
    • Wakil Bupati Pandeglang
    • Sekretaris Daerah Pandeglang
    b. Pelaksana
    • Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mempunyai peran melakukan analisis kompetensi mata pelajaran yang akan diintegrasikan dengan materi generasi berencana.
    • BKKBN (Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional) sebagai wakil pemerintah yang bertanggung jawab menjalankan program PKBR (Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja) suatu program yang memfasilitasi remaja agar belajar memahami dan mempraktikan perilaku hidup sehat dan berakhlak untuk mencapai ketahanan remaja sebagai dasar mewujudkan Generasi Berencana (GenRe).
    • BP3AKB mempunyai peran dalam menganalisis kompetensi materi generasi berencana, berkewajiban membentuk Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK/R) di seluruh Sekolah Menengah Atas Negeri da Swasta bekerja sama dengan Kepala Sekolah dan Komite Sekola, melaksanakan bimbingan teknis/pelatihan/orientasi kepada Pengelola, Pendidik Sebaya, dan Konselor di masing-masing sekolah.
    • Dewan Pendidikan mempunyai peran dalam menganalisis kemanfaatan pengintegrasian kurikulum sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman.
    • Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri dan Swasta mengimplementasikan pengintergrasian Program GenRe dalam Kurikulum Sekolah Menengah Atas mulai tahun pelajaran 2016-2017, membentuk
    • Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah bertugas menfasilitasi pelaksanaan kebijakan.
    • Sekolah Menengah Atas Negeri dan Swasta berugas menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan kebijakan.

    KONTEKS
    Faktor Situasional
    • Perkembangan dunia yang kian menglobal, menjadikan perubahan-perubahan besar terhadap perilaku remaja, namun perubahan tersebut lebih cenderung mengarah pada kegiatan negatif dibanding positifnya.
    • Masalah remaja yang timbul biasanya berkaitan dengan masalah seksualitas (Hamil di luar nikah, aborsi), AIDS, penyalahgunaan Napza dan sebagainya. Remaja dalam kondisi ini tentu saja membutuhkan penanganan serta informasi seluas-luasnya mengenai kesehatan reproduksi, pentingnya menata masa depan dengan baik lewat meninggalkan perilaku yang tidak bermanfaat dan merusak masa depan remaja itu sendiri.
    • Usia perkawinan yang terlalu muda masih sering ditemui, sehingga dibuat aturan usia perkawinan pertama dengan minimal usia 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi laki-laki.
    • Kurangnya komunikasi, pembinaan dan perhatian dari keluarga pada masa tumbuh kembang anak, khususnya remaja.

    Faktor Struktural
    • Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, yang didominasi usia remaja dan dewasa muda. Laju pertumbuhan penduduk yang pesat juga dipengaruhi oleh tingginya angka kelahiran, akibat dari kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai Program Generasi Berencana dan Usia Perkawinan.
    • Ketersediaan instansi atau organisasi, sarana dan prasarana yang memberi wadah bagi remaja serta memberikan pengetahuan tentang materi GenRe masih terbatas.
    • Kurang maksimalnya fungsi organisasi, sarana, prasarana yang membawahi urusan remaja terkait GenRe.
    • Rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat khususnya remaja mengenai GenRe, kesehatan reproduksi, tumbuh kembang anak, perkembangan zaman dan dampaknya.

    Faktor Budaya
    • Remaja cenderung terpengaruh dengan budaya barat, sehingga kehidupan remaja semakin banyak menuntut kebebasan, hal ini menyebabkan dampak negatif yang lebih banyak, seperti seks bebas, aborsi, penggunaan NAPZA, dan lainnya.
    • Persepsi masyarakat yang salah bahwa, mempunyai banyak anak akan memberi banyak rejeki bagi keluarga, sehingga masih banyak masyarakat yang tidak menggunakan KB.

    ISI/KONTEN
    1. Maksud dan Tujuan
    • Maksud
    Maksud pengintergrasian Program GenRe dalam kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah mengintergrasikan materi-materi GenRe yang meliputi: 8 (delapan) Fungsi Keluarga, Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), TRIAD KRR, Keterampilan Hidup (Life Skill), ke dalam Kurikulum SMA.
    • Tujuan
    Pengintergrasian Program GenRe dalam Kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA) bertujuan agar remaja memiliki pengetahuan, keterampilan, dan berperilaku sebagai remaja yang tegar dalam menyiapkan dan merencanakan dengan matang kehidupan berkeluarga, serta mampu melangsungkan jenjang-jenjang pendidikan secara terencana, berkarir, dan bekerja secara terencana dan menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus kesehatan reproduksi.

    2. Sasaran
    Sasaran kebijakan ini adalah semua Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Pandeglang.

    3. Pengintergrasian Kurikulum
    (1) Pengintergrasian kurikulum didasarkan pada prinsip bahwa setiap sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk kemampuan dasar yang dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik sesuai dengan kaidah kurikulum berbasis kompetensi.
    (2) Pengintergrasian kurikulum memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat, atas dasar prinsip perbedaan kemampuan individual peserta didik, serta memberikan kesempatan peserta didik untuk memiliki tingkat penguasaan di atas standar yang telah ditentukan (dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan).
    (3) Pengintergrasian kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta lingkungannya, serta didasarkan prinsip bahwa peserta didik pada posisi sentral dan aktif dalam belajar.
    (4) Pengintergrasian kurikulum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) sampai dengan ayat (3) berfungsi sebagai :
    a. Pedoman bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam melakukan analisis kompetensi mata pelajaran yang akan diintergrasikan dengan materi generasi berencana.
    b. Pedoman bagi BP3AKB dalam menganalisis kompetensi materi generasi berencana.
    c. Pedoman bagi Dewan Pendidikan dalam menganalisis kemanfaatan pengintergrasian kurikulumm sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman.

    PROSES
    Proses Penyusunan Kebijakan
    Berawal dari keterbatasan informasi dan pengetahuan masyarakat di Kabupaten Pandeglang mengenai program GenRe, yang meliputi: 8 (delapan) Fungsi Keluarga, Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), TRIAD KRR, Keterampilan Hidup (Life Skill), bupati Pandeglang kemudian memutuskan untuk membuat sebuah integrasi materi GenRe dengan kurikulum sekolah. Peraturan Bupati tersebut disusun atas kerjasama dengan BKKBN (Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional) selaku wakil pemerintah yang bertanggung jawab menjalankan program PKBR (Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja). Materi-materi GenRe tersebut lebih terfokus pada usia remaja, sehingga intergrasi dilakukan dengan kurikulum Sekolah Menengah Atas, dengan harapan meningkatkan informasi dan pengetahuan masyarakat tentang Program GenRe, fungsi reproduksi, serta menurunkan dampak negatif yang ditimbulkan dari perkembangan zaman (khususnya bagi remaja).

    Proses Pelaksanaan Kebijakan
    • Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mempunyai peran melakukan analisis kompetensi mata pelajaran yang akan diintegrasikan dengan materi generasi berencana.
    • BKKBN (Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional) sebagai wakil pemerintah yang bertanggung jawab menjalankan program PKBR (Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja) suatu program yang memfasilitasi remaja agar belajar memahami dan mempraktikan perilaku hidup sehat dan berakhlak untuk mencapai ketahanan remaja sebagai dasar mewujudkan Generasi Berencana (GenRe).
    • BP3AKB mempunyai peran dalam menganalisis kompetensi materi generasi berencana, berkewajiban membentuk Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK/R) di seluruh Sekolah Menengah Atas Negeri da Swasta bekerja sama dengan Kepala Sekolah dan Komite Sekola, melaksanakan bimbingan teknis/pelatihan/orientasi kepada Pengelola, Pendidik Sebaya, dan Konselor di masing-masing sekolah.
    • Dewan Pendidikan mempunyai peran dalam menganalisis kemanfaatan pengintegrasian kurikulum sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman.
    • Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri dan Swasta mengimplementasikan pengintergrasian Program GenRe dalam Kurikulum Sekolah Menengah Atas mulai tahun pelajaran 2016-2017, membentuk
    • Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah bertugas menfasilitasi pelaksanaan kebijakan.
    • Sekolah Menengah Atas Negeri dan Swasta berugas menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan kebijakan.
    • Laporan dan Review Pelaksanaan Program dilakukan oleh Ketua PIK/R, Pengelola Program GenRe tingkat Kecamatan, dan Kepala BP3AKB.

    Like

  18. Kebijakan yang dipilih:
    KEPUTUSAN WALIKOTA PARIAMAN NOMOR: 120/674/2016 T E N T A N G
    PENETAPAN PUSKESMAS PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA KOTA PARIAMAN TAHUN 2016
    Analisa keputusan walikota pariaman nomor ; 120/674/2016 tentang penetapan puskesmas pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) kota pariaman:
    1. Gambaran umum.
    Peraturan ini dibuat untuk mempersiapka generasi muda sebagai penerus dan pelestarian cita – cita perjuangan bangsa dengan adanya perhatian dan penanganan dari berbagai sektor, khususnya dari sektor kesehatan. Sehingga perlu adanya program untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dan peningkatan derajat kesehatan remaja bagi remaja disekolah maupun di non institusi. Hal ini yang membuat dinas kesehatan kota pariaman menetapkan pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) di wilayah kerja dinas kesehatan kota pariaman tahun 2016.
    Pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) merupakan program yang digalakkan pemerintah sejak tahun 2003 sebagai upaya untuk mengatasi masalah kesehatan remaja, baik promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif di dalam maupun diluar gedung puskesmas. Pelayanan kesehatan yang ditujukan dan dapatdijangkau oleh remaja, menyenangkan, menerima remaja dengan tangan terbuka, menghargai remaja, menjaga kerahasiaan, peka akan kebutuhan terkait dengan kesehatannya, serta efektif dan efisien dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Berikut ini karakteristik PKPR merujuk WHO (2003) yang menyebutkan agar Adolescent Friendly Health Services (AFHS) dapat terakses kepada semua golongan remaja, layak, dapatditerima, komprehensif, efektif dan efisien :
    a) Kebijakan yang peduli remaja.
    Kebijakan peduli remaja ini bertujuan untuk:
    1) Memenuhi hak remaja sesuai kesepakatan internasional.
    2) Mengakomodasi segmen populasi remaja yang beragam, termasuk kelompok yang rapuh dan rawan.
    3) Tidak membatasi pelayanan karena kecacatan, etnik, rentang usia dan status.
    4) Memberikan perhatian pada keadilan dan kesetaraan gender dalam menyediakan pelayanan.
    5) Menjamin privasi dan kerahasiaan.Mempromosikan kemandirian remaja, tidak mensyaratkan persetujuan orang tua, dan memberikan kebebasan berkunjung.
    6) Menjamin biaya yang terjangkau/gratis. Perlu kebijakan pemerintah daerah misalnya pembebasan biaya untuk kunjungan remaja.
    b) Prosedur pelayanan yang peduli remaja.
    1) Pendaftaran dan pengambilan kartu yang mudah dan dijamin kerahasiaannya.
    2) Waktu tunggu yang pendek.
    3) Dapat berkunjung sewaktu-waktu dengan atau tanpa perjanjian terlebih dahulu. Bila petugas PKPR masih merangkap tugas lain, berkunjung dengan perjanjian akan lebih baik, mencegah kekecewaan remaja yang datang tanpa bisa bertemu dengan petugasyang dikehendaki.
    c) Fasilitas kesehatan yang peduli remaja.
    1) Lingkungan yang aman. Lingkungan aman disini berarti bebas dari ancaman dan
    2) tekanan dari orang lain terhadap kunjungannya sehingga menimbulkan rasa tenang dan membuat remaja tidak segan berkunjung kembali.
    3) Lokasi pelayanan yang nyaman dan mudah dicapai. Lokasi ruang konseling tersendiri, mudah dicapai tanpa perlu melalui ruang tunggu umum atau ruang-ruang lain sehingga menghilangkan kekhawatiran akan bertemu seseorang yang mungkin beranggapan buruk tentang kunjungannya (stigma). Fasilitas yang baik, menjamin privasi dan kerahasiaan. Suasana semarak berselera muda dan bukan muram, dari depan gedung sampai ke lingkungan ruang pelayanan, merupakan daya tarik tersendiri bagi remaja agar berkunjung. Hal lain adalah adanya kebebasan pribadi (privasi) di ruang pemeriksaan, ruang konsultasi dan ruang tunggu, di pintu masuk dan keluar, serta jaminan kerahasiaan. Pintu dalam keadaan tertutup pada waktu pelayanan dan tidak ada orang lain bebas keluar masuk ruangan. Kerahasiaan dijamin pula melalui penyimpanan kartu status dan catatan konseling di lemari yang terkunci, ruangan yang kedap suara, pintu masuk keluar tersendiri, ruang tunggu tersendiri, petugas tidak berteriak memanggil namanya atau menanyakan identitas dengan suara keras.
    4) Jam kerja yang nyaman. Umumnya waktu pelayanan yang sama dengan jam sekolah menjadi salah satu faktor penghambat terhadap akses pelayanan. Jam pelayanan yang menyesuaikan waktu luang remaja menjadikan konseling dapat dilaksanakan dengan santai, tidak terburu-buru, dan konsentrasi terhadap pemecahan masalah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
    5) Tidak adanya stigma. Pemberian informasi kepada semua pihak akan meniadakan stigma misalnya tentang kedatangan remaja ke puskesmas yang semula dianggap pasti mempunyai masalah seksual atau penyalahgunaan NAPZA.
    6) Tersedia materi KIE. Materi KIE perlu disediakan baik di ruang tunggu maupun di ruang konseling. Perlu disediakan leaflet yang boleh dibawa pulang tentang berbagai tips atau informasi kesehatan remaja. Hal ini selain berguna untuk memberikan pengetahuanmelalui bahan bacaan juga merupakan promosi tentang adanya PKPR kepada sebayanya yang ikut membaca brosur tersebut.
    Tujuan PKPR di puskesmas
    a. Tujuan Umum:
    Optimalisasi pelayanan kesehatan remaja di Puskesmas.
    b. Tujuan Khusus:
    a) Meningkatkan penyediaan pelayanan kesehatan remaja yang berkualitas.
    b) Meningkatkan pemanfaatan puskesmas oleh remaja untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
    c) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja dalam pencegahan masalah kesehatan khusus pada remaja.
    d) Meningkatkan keterlibatan remaja dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan remaja
    2. Aktor
    a. Pembuatan penyusunan kebijakan
    i. Pemerintah pusat
    ii. Kementrian kesehatan
    iii. Pemerintah daerah provinsi sumatera barat
    iv. Walikota pariaman
    b. Badan yang mengurusi terkait pembinaan, pengawasan
    i. Dinas kesehatan kota pariaman
    ii. Kepala puskesmas terkait
    iii. Staf – staf ahli yang menjalan kan program – program pelayanan kesehatan peduli remaja.
    c. Ujung tombak implementasi keputusan walikota
    i. Remaja, penduduk yang memiliki usia 10 24 tahun yang belum menikah
    ii. Anak yang belum berusia 18 tahun atau belum menikah atau berkeluarga.
    iii. Keluarga yang memiliki anak yang masuk kategori remaja (berusia 10 – 24 tahun)
    3. Konteks
    Masa remaja merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara dinamis dan pesat meliputi aspek fisik, psikologis, intelektual, sosial serta perilaku social yang erat kaitannya dengan pubertas. Masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa yang menyebabkan rasa keingintahuan yang tinggi sehingga berpotensi dalam berperilaku beresiko. Remaja adalah perempuan dan laki-laki berusia 10-19 tahun (WHO) dan 10-18 tahun merujuk Undang-Undang Perlindungan Anak Tahun 2002 (DepKes, 2008).
    Kesehatan remaja merupakan keadaan baik secara fisik, psikologis, spiritual serta sosial yang memungkinkan remaja tersebut untuk hidup produktif. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan remaja yakni perilaku beresiko remaja yang sering ditemui yaitu injury, rokok, alcohol dan obat-obatan, perilaku seksual, perilaku diet tidak sehat dan tidak ada aktivitas fisik.
    4. Proses penyusunan
    Keputusan walikota dibuat berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan undang – undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah. Selain itu dilakukan juga :
    • Identifikasi masalah kesehatan remaja
    • Melakukan koordinasi dan rapat kerja dengan bagian kerja dan pejabat yang terkait dengan keputusan walikota pariaman tentang penetapan puskesmas pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR)
    • Melakukan rapat dengan pihak – pihak instansi terkait seperti dinas kesehatan
    • Melakukan rapat pembahasan anggaran yang kemungkinan dikeluarkan
    • Pengesahan dan persetujuan
    5. Isi
    Isi substansi yang terdapat dalam keputusan walikota pariaman nomor ; 120/674/2016 tentang penetapan puskesmas pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) kota pariaman, berupa :
    • Peran
    Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan berperan dalam melaksanakan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), untuk itu puskesmas harus mampu dalam manajemen perkembangan untuk menjadi puskesmas mampu PKPR (pelayanan peduli kesehatan remaja)

    • Fungsi manajemen puskesma PKPR (pelayanan kesehatan peduli remaja) meliputi:
    1. Perencanaan
    a) Mengumpulkan data dan informasi tentang sasaran remaja yang ada di wilayah kerja puskesmas baik remaja yang berada di instansi formal maupun instansi informal
    b) Melakukan analisa dan pemetaan sesuai dengan hasil pengumpulan data dan informasi yang di dapat
    c) Menyusun rencana kerja
    d) Melaksanakan sosialisasi oleh tenaga kesehatan yang sudah terlatih atau yang telah mendapatkan orientasi program PKPR, baik sosialisasi internal, sosialisasi untuk lintas sektor terkait.
    e) Menyiapkan tenaga pelaksana minimal 2 ( dua ) orang ( dokter, bidan dan perawat ) yang sudah mendapatkan pelatiha PKPR.
    f) Menyiapkan petugas konseling dan wawancara yang sudah dilatih komunikasi interpersonal/ konseling, teknik wawancara pada remaja, yang telah dilatih sebagai konselor remaja.
    g) Menyiapkan sarana dan prasarana yang kemungkinan akan digunakan.
    2. Pelaksanaan
    a) Melakukan pemeriksaan kesehatan pada remaja
    b) Melakukan tindakan medis pada remaja apa bila diperlukan
    c) Wawancara dan konseling
    d) Penyuluhan pada remaja
    e) Melakukan Kunjungan ke rumah remaja yang bermasalah
    3. Pengawasan dan pengendalian
    a) Melakukan monitoring dan evaluasi ( Monev )
    b) Membuat laporan kegiatan

    Like

  19. Kebijakan yang dipilih adalah PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI.

    Menurut saya analisis kebijakan dari peraturan gubernur Nusa Tenggara Barat nomor 8 tahun 2012 adalah :
    1. AKTOR
    Penyusun :
    – Pemerintah daerah Nusa Tenggara Barat
    – DPR Nusa tenggara barat
    – Gubernur Nusa Tenggara Barat
    – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat
    – Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat
    – Dinas Kesehatan Nasional
    Pelaksana :
    – Pemerintah daerah Nusa Tenggara Barat
    – Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat
    – Semua tenaga kesehatan yang bekerja di Nusa Tenggara Barat
    – Orang tua yang tinggal di Nusa Tenggara Barat
    – Remaja yang bertempat tinggal di Nusa Tenggara Barat

    2. KONTEKS
    Peraturan gubernur ini di maksudkan untuk menjadi perdoman satuan kerja perangkat daerah terkait lingkup pemerintah provinsi dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan reproduksi. Agar terjalinnya kerja sama lintas sektoral secara maksimal agar peraturan yang sudah ditetapkan oleh gubernur nusa tenggara barat dapat terlaksana dengan baik. Nusa tenggara barat merupakan sebuah provinsi yang berada di gugusan sunda kecil dan termasuk dalam Kepulauan Nusa Tenggara dan memiliki 7 kabupaten, 2 kota, 116 kecamatan, dan 960 kelurahan. Dengan hanya memiliki dua kota besar, banyak remaja di nusa tenggara barat yang tidak mendapatkan pendidikan dan informasi yang jelas dan akurat mengenai kesehatan reproduksi. Minimnya seminar-seminar yang diadakan disana membuat banyak remaja terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba, dan seks bebas. Berdasarkan data dai Badan Narkotika Provinsi (BNP) Nusa Tenggara Barat frekuensi penyalahgunaan narkoba di Nusa Tenggara Barat menurut data di tahun 2011 sebesar 1,2% dari jumlah penduduk di Nusa Tenggara barat. Sedangkan dari data Badan Narkotika Nasional (BNN) jumlah pecandu di Nusa Tenggara Barat mencapai 1.140 orang. Setiap tahun angka tersebut makin meningkat seiring dengan perkembangan jaman. Berdasarkan data dari Komisi penanggulangan HIV atau AIDS pada tahun 2016 jumlah penderita HIV atau AIDS di Nusa Tenggara Barat meningkat secara tajam yaitu 12% dari tahun 2015. Total kasus mencapai 713 kasus, sedangkan pada tahun 2015 jumlahnya hanya 638 kasus dari kabupaten kota yang ada. Dimana kota Mataram termasuk paling tinggi yaitu 464 kasus. Dimana peningkatan kasus paling tinggi terjadi di kota mataram, dan kebanyakan penderita HIV atau AIDS merupakan usia produktif dari kalangan pelajar ataupun mahasiswa.
    Tujuan diselenggarakannya pelayanan kesehatan reproduksi adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia melalui upaya peningkatan kesehatan reproduksi dan pemenuhan hak-hak reproduksi dengan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender melalui kerja sama lintas sektoral dari pihak pemerintah maupun dari pihak non pemerintah. Dimana ruang lingkup yang dimaksud dalam kesehatan reproduksi meliputi kesehatan ibu dan bayi yang baru lahir, keluarga berencana, pencegahan dan penanggulangan infeksi saluran reproduksi (ISR) termasuk Infeksi menular seksual (IMS) dan AIDS serta kesehatan reproduksi remaja.

    3. PROSES PENYUSUNAN KEBIJAKAN
    Kebijakan ini terbentuk atas dasar pertimbangan untuk melaksanakan ketentuan pasal 13 ayat (3) peraturan daerah nomor 7 tahun 2011 tentang Perlindungan Kesehatan Ibum Bayi dan Anak Balita. Serta mengingat banyaknya peraturan perundang-undangan di republik Indonesia mengenai perlindungan Hak Asasi Manusia agar rakyat Indonesia mampu mendapatkan informasi dan fasilitas kesehatan yang seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya.
    Penyelenggaraan arah kebijakan agar dapat terlaksana dengan baik maka perlu dilakukan upaya terpadu antar sektor pemerintah dari tingkat provinsi, kabupaten atau kota, hingga kecamatan, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten atau kota, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan lembaga non pemerintah, selain itu juga tenaga-tenaga professional, organisasi profesi, perguruan tinggi dan masyarakat. Tugas pemerintah provinsi dalam pelayanan kesehatan reproduksi ini adalah menentukan kebijakan umum dan strategi program kesehatan reproduksi dan realistis untuk dilaksanakan di tingkat provinsi, melaksanakan monitoring dan evaluasi mengenai program kesehatan reproduksi yang telah dicanangkan, melaksanakan koordinasi program kesehatan reproduksi antar unsur pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi dan pihak swasta melalui forum komisi kesehatan reproduksi.
    Tugas dewan perwakilan rakyat daerah adalah menempatkan kesehatan reproduksi sebagai prioritas dalam pembangunan provinsi, menetapkan peraturan yang terkait dengan pelayanan kesehatan reproduksi, selain itu juga menetapkan alokasi anggaran yang memadai untuk program kesehatan reproduksi di tingkat provinsi.
    Dengan semakin seringnya program yang ditetapkan itu dilaksanakan dan menjangkau remaja di Nusa Tenggara Barat maka diharapkan penyebaran informasi semakin meluas dan angka terjadinya penyalahgunaan narkoba dan angka remaja yang terjangkit HIV dan AIDS dapat menjadi semakin menurun setiap tahunnya.
    Upaya pencegahan agar remaja tidak terjerumus dalam HIV dan AIDS serta penyalahgunaan narkoba dapat dilaksanakan melalui pembinaan kepada keluarga masing-masing karena diketahui ada 3 alasan utama mengapa remaja sampai terjerumus dalam perilaku tersebut antara lain adalah remaja yang berasal dari keluarga yang broken home sehingga menyebabkan remaja tersebut kurang kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya ataupun kurangnya komunikasi dari orang tua terhadap anaknya, kemiskinan, ataupun pergaulan bebas.

    4. ISI
    Pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS dilaksanakan dengan memutuskan mata rantai penularan yang terjadi melalui hubungan seksual yang beresiko, penggunaan jarum suntik tidak steril dan PMTCT (Prevention of mother to child transmission). Diharapkan juga dengan kerjasama lintas sektoral dengan melibatkan organisasi profesi masyarakat bisnis, lembaga swadaya masyarakat, pemuka agama, keluarga dan orang dengan HIV dan AIDS (ODHA dan OHIDHA). Melaksanakan surveillance HIV dan IMS, memberikan informasi yang benar mengenai HIV dan AIDS, serta melaksanakan monitoring dan evaluasi program secara berkala, terintegrasi dengan menggunakan indikator-indikator pencapaian dalam periode tahunan maupun lima tahunan.
    Sedangkan untuk kesehatan reproduksi remaja pelayanan yang dilaksanakan meliputi penanganan anemia gizi, penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA yang mengarah kepada penularan IMS, HIV dan AIDS, kehamilan remaja atau pranikah, pencegahan aborsi akibat kehamilan yang tidak diinginkan. Dimana pelayanan kesehatan reproduksi remaja diberikan dalam bentuk pembinaan. Pembinaan kesehatan reproduksi remaja disini bertujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan perilaku hidup sehat bagi remaja. Pembinaan yang diberikan meliputi perkembangan fisik, kejiwaan dan kematangan seksual dari remaja, proses reproduksi yang bertanggung jawab, pergaulan yang sehat antara remaja laki-laki dan perempuan, persiapan pranikah dan kehamilan dan persalinan serta pencegahannya.
    – Mengatur mengenai apa saja yang harus dijelaskan kepada remaja terkait kesehatan reproduksi sehingga diharapkan dengan bergitu para remaja di nusa tenggara barat mampu menghindari terjadinya HIV dan AIDS serta seks pranikah secara bebas.
    – Mengatur lembaga apa saja yang wajib dilibatkan agar program pemerintah mengenai kesehatan reproduksi ini dapat berjalan dengan maksimal.
    – Mengatur mengenai cara pengawasan terhadap lembaga-lembaga swadaya, lembaga pemerintahan ataupun masyarakat setempat untuk mengetahui keefektifan program tersebut di masyarakat. Berapa lama waktu yang ditargetkan agar kita dapat mengetahui apakah program tersebut berjalan secara maksimal atau tidak.

    Like

  20. Gambaran Umum Kebijakan
    Peraturan Daerah Tangerang nomor 15 Tahun 2016 adalah kebijakan yang mengatur tentang Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus ( HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) sehubungan dengan maraknya kasus HIV AIDS yang terjadi di Indonesia. Kebijakan ini mencakup ruang lingkup :
    – pengendalian kasus HIV dan AIDS dengan melindungi dan meningkatkan derajat kesehatan Masyarakat
    – peningkatan manajemen Penanggulangan HIV dan AIDS yang akuntabel, transparan, berdayaguna dan berhasil guna
    – pemberdayaan Masyarakat dalam Penanggulangan HIV dan AIDS
    Tujuan dilakukannya penetapan peraturan pemerintah ini adalah
    – mencegah dan mengurangi penularan HIV
    – meningkatkan kualitas hidup ODHA
    – mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat HIV dan AIDS pada individu, keluarga dan masyarakat.
    – memberikan perlindungan dan pedoman penanggulangan HIV dan AIDS kepada semua pihak melalui pengaturan peran dan tanggungjawab Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Daerah,Swasta,Masyarakat, Organisasi Masyarakat, ODHA, OHIDHA dan LSM

    1. Aktor
    a. Pembuatan atau penyusunan kebijakan
    1. DPRD
    2. Gubernur Semarang
    3. Bupati Kabupaten Semarang
    4. Sekretaris daerah, asisten, staf ahli, kepala badan, dinas, kantor dan lembaga Kabupaten Tangerang
    5. Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Semarang
    6. Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang

    b. Badan yang mengurusi terkait pembinaan, pengawasan dan pengendalian perda
    1. Pemerintah daerah melakukan pembinaan terkait Penanggulangan Human Immunodedeficiency Virus ( HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), dengan membentuk KPAK ( Komisi Pemberantasan Aids) kabupaten Tangerang
    2. Dalam melaksanakan penyelenggaraan Penanggulangan Human Immunodedeficiency Virus ( HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), , Pemerintah Daerah dan Pemerintah Kabupaten/Kota berwenang melakukan pengawasan
    3. Bupati/Walikota bertanggung jawab untuk melakukan pengendalian terhadap penyelenggaraan penanggulangan Human Immunodedeficiency Virus ( HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) di Kabupaten Kota

    c. Sasaran diberlakukannya kebijakan
    1. Remaja
    2. pengguna Napza
    3. wanita pekerja seks
    4. pelanggan atau pasangan seks wanita pekerja seks, gay, waria, dan/atau laki laki pelanggan atau pasangan seks dengan sesama laki- laki
    5. pasien Infeksi Menular Seksual

    2. Konteks
    Penyakit menular Seksual terus menjadi ancaman bagi penduduk didunia. Pemberantasan penyakit menular yang merupakan bagian dari pembangunan kesehatan menjadi perhatian setiap negara. Salah satu penyakit menular yang menjadi fokus perhatian adalah HIV dan AIDS. HIV dan AIDS merupakan salah satu jenis penyakit menular seksual akibat Perilaku Hubungan Seksual (PHS) yang berisiko. Di Kabupaten Tangerang pada Tahun 1998 sampai dengan Oktober 2015, data kasus yang ada mencapai 944 kasus terdiri dari HIV dan AIDS. Berdasarkan kasus yang ada di Kabupaten Tangerang periode 2009 sampai dengan 2010, temuan kasus terbanyak adalah pada kelompok pengguna jarum suntik atau disebut dengan kelompok intervena drug user (IDU’s), periode 2011 sampai dengan 2012 temuan kasus terbanyak adalah Wanita Pekerja Seks (WPS), periode 2013 temuan kasus pada tahun ini mengalami perubahan trend, dengan mulai peningkatan kasus di kelompok resiko Waria dan Laki – Laki Seks Laki – laki (LSL) dan HRM. Pada periode 2015 temuan kasus terbanyak adalah Ibu, Lelaki berisiko tinggi dan Lelaki seks Lelaki. Komisi Perlindungan Aids (KPA) Kabupaten Tangerang, Banten, telah mendata sebanyak 106 kasus yang menimpa remaja di wilayah ini tertular HIV-AIDS, pendataan tahun 2016 bahwa terdapat 994 kasus HIV-AIDS, maka 49 kasus diantaranya menimpa remaja usia 14-24 tahun. Kasus 106 remaja tertular HIV-AIDS itu, merupakan akumulatif data pada tahun sebelumnya dan tersebar pada beberapa kecamatan terutama di kawasan pantai utara. Salah satu penyebab terjadinya HIV di kalangan remaja adalah hubungan seks bebas dimana terdapat kemudahan akses terhadap pornografi di berbagai media, mulai handphone hingga internet, dituding dia sebagai salah satu penyebab remaja berhubungan seks. Terlebih, dalam berpacaran kalangan remaja kini lebih permisif terhadap kontak fisik yang mengarah pada kontak seksual. Menjadi seorang remaja di jaman sekarang ini bisa dipandang merupakan hal yang menyenangkan sekaligus tugas yang berat. Saat ini remaja selalu dituntut untuk menjadi anak yang baik, rajin belajar, ditambah seabrek tugas yang harus dikerjakan setiap hari. Tapi di sisi lain juga harus bisa menjadi anak yang gaul, mengikuti trend dan mode saat ini agar bisa diterima oleh teman-teman. Remaja merupakan golongan yang rentan kedua terkena HIV-AIDS setelah ibu rumah tangga. Hal tersebut, karena remaja maupun ibu rumah dianggap tidak mengerti dan belum paham tentang penularan HIV-AIDS. Masalah ini menjadi perhatian khusus untuk pencegahannya, karena berbagai upaya dilakukan diantaranya melalui sosialisasi ke beberapa sekolah. Para remaja diharapkan mengerti tentang pendidikan reproduksi sehingga mereka tidak melakukan tindakan menyimpang sebelum menikah. Kemudian untuk menambah pengetahuan para remaja ini komisi Penanggulanagn aids kabupaten tangerang membentuk Relawan Peduli Kesehatan Reproduksi dan Aids (Replika) yang mayoritas adalah remaja. Perilaku remaja saat ini banyak yang menyimpang dan kelewat batas, karena mereka sampai berhubungan badan, ini dapat membahayakan dirinya dan orang lain, tindakan demikian harus dicegah.

    3. Proses Penyusunan Kebijakan
    – Indentifikasi masalah kesehatan di Kabupaten Tangerang
    – Mengkonfirmasi permasalahan HIV / Aids yang ada dengan pemerintah setempat
    – Peningkatan pengetahuan dan dukungan anggota dewan terkait masalah HIV/AIDs
    – Konsultasi ke dinas kesehatan setempat
    – Pemerintah Daerah menetapkan rancangan draft kebijakan dan strategi dalam upaya Penanggulangan HIV dan AIDS berasama dengan dinas kesehatan setempat
    – Melakukan rapat untuk menyamakan pendapat mengenai kebijakan dan strategi yang tepat sesuai dengan masalah yang terjadi, serta mendapat masukan sebanyak – banyaknya tentang kebijakan ini
    – Melakukan rapat paripurna oleh pimpinan komisi / gabungan komisi atau pimpinan panitia khusus terhadap rancangan peraturan daerah dan atau usul prakarsa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
    – Dalam rangkaian pembahasan yang telah dilaksanakan oleh dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Semarang dengan pemerintah daerah, dan konfirmasi ke Dinas Kesehatan setempat yang selanjutnya akan dikonsultasikan biro hukum kementrian dalam negeri.
    – Penetapan Peraturan daerah oleh Bupati

    4. Isi
    Strategi Pemerintah Daerah dalam Penanggulangan HIV dan AIDS meliputi:
    a. melakukan promosi kesehatan ( remaja, pengguna Napza, wanita pekerja seks, pelanggan atau pasangan seks wanita pekerja seks dan gay, waria, dan/atau laki – laki pelanggan atau pasangan seks dengan sesama laki – laki, ibu hamil, remaja, pasangan usia subur dan pasien Infeksi Menular Seks) dimana promosi kesehatan sebagaimana dimaksud dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan layanan kesehatan lainnya, dan yang diutamakan adalah kesehatan peduli remaja, kesehatan reproduksi dan keluarga berencana, pemeriksaan antenatal, dan rehabilitasi Napza
    b. meningkatkan pencegahan dan penularan HIV
    c. melakukan pemeriksaan diagnosis HIV
    d. meningkatkan pelayanan pengobatan, perawatan dan dukungan;
    e. meningkatkan rehabilitasi
    f. mengalokasikan pembiayaan kegiatan Penanggulangan HIV dan AIDS
    g. melakukan pengembangan sumber daya manusia dalam Penanggulangan HIV dan AIDS
    h. mendorong peran serta Badan Usaha dan/atau Masyarakat meningkatkan koordinasi antas Perangkat Daerah, Pemerintah, Pemerintah Provinsi Banten dan/atau lembaga lain yang terkait dalam Penanggulangan HIV dan AIDS
    j. meakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan

    Like

  21. Kebijakan yang dipilih :
    PERATURAN WALIKOTA KEDIRI NOMOR 58 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

    Aktor/pelaku kebijakan
    1. Pemerintah daerah kota Kediri yaitu walikota, sekretaris daerah, Satuan Kerja Perangkat Daerah, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana yang memiliki kewajiban merumuskan kebijakan, strategi dan pedoman tentang pelaksanaan Program KRR serta bertanggung jawab dalam penyelenggaraan dan fasilitasi pelayanan kesehatan reproduksi, penyelenggaraan manajemen Kesehatan Reproduksi, penyelenggaraan sistem rujukan, sistem informasi, dan sistem surveilans Kesehatan Reproduksi, pemetaan dan penyediaan tenaga kesehatan, penyediaan obat essensial dan alat kesehatan sesuai kebutuhan, penyediaan sumber daya di bidang kesehatan serta pendanaan, penyelenggaraan audit maternal perinatal.

    2. Di lingkungan pendidikan formal dan non formal, seperti Guru Bimbingan Konseling (BK), Guru bidang studi yang relevan, Komite Sekolah, Kader Kesehatan Remaja dan Siswa/Peserta didik/Warga belajar

    3. Di lingkungan masyarakat, seperti tokoh masyarakat, pengurus lembaga kemasyarakatan kelurahan dan tokoh agama, orang tua yang mempunyai anak remaja/BKR, kader BKR dan kelompok remaja Karang Taruna /Forum Anak

    4. Di lingkungan lembaga panti sosial dan organisasi sosial serta organisasi keagamaan

    Konteks Kebijakan
    – Konteks struktural
    Adanya kebijakan desentralisasi dipicu oleh tekanan politik selama masa reformasi. Dalam sebuah situasi yang tidak siap, membawa dampak negative pada sektor kesehatan seperti kegagalan system, kurangnya koodinasi, sumber daya yang tidak mencukupi, dan pengaruh politik yang berlebihan. Dengan adanya Peraturan Walikota ini ini telah memperjelas tugas,tanggung jawab dan pedoman operasional bagi sektor terkait dalam pelaksanaan program Kesehatan Reproduksi Remaja, sehingga tidak terjadi tumpang tindih dan tepat sasaran.
    Dalam rangka mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, yang memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan terpenuhinya rasa aman, rasa tentram serta rasa keadilan bagi remaja, terutama untuk memenuhi hak reproduksi remaja maka diperlukanlah penyelenggaraan kesehatan reproduksi remaja secara terpadu dalam mendapatkan informasi dan upaya kesehatan. Kasus penularan HIV dan AIDS, kekerasan seksual yang berakibat kehamilan tidak dikehendaki dan aborsi serta penyalahgunaan Narkoba di kalangan remaja dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat bertanggung jawab atas pemberian informasi dan pelaksanaan edukasi mengenai kesehatan reproduksi bagi masyarakat khususnya generasi muda.

    – Konteks situasional
    Dalam memperbaiki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan terpenuhinya rasa aman, rasa tentram serta rasa keadilan bagi remaja, terutama untuk memenuhi hak reproduksi remaja dibutuhkan keterlibatan dan peran yang berkesinambungan antara pemerintah daerah dan masyarakat serta diperlukannya penyelenggaraan kesehatan reproduksi remaja secara terpadu dalam mendapatkan informasi dan upaya kesehatan. Kasus penularan HIV dan AIDS, kekerasan seksual yang berakibat kehamilan tidak dikehendaki dan aborsi serta penyalahgunaan Narkoba di kalangan remaja dari tahun ke tahun semakin meningkat sehingga pemerintah daerah dan masyarakat bertanggung jawab atas pemberian informasi dan pelaksanaan edukasi mengenai kesehatan reproduksi bagi masyarakat khususnya generasi muda.

    – Konteks budaya
    Budaya memegang peranan penting sebagai faktor penentu peningkatan derajat kesehatan khususnya kesehatan reproduksi dan kualitas sumber daya manusia. Misalkan dukungan desa yang kurang terhadap program kesehatan, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat terutama ibu serta kader kesehatan sehingga tidak maksimal dalam upaya perbaikan program, faktor budaya dalam membuat keputusan selalu melibatkan keluarga besar sehingga menjadi kendala untuk melakukan tindakan yang cepat, tidak meratanya pelatihan terhadap bidan, fasilitas kesehatan yang kurang memadai, penguasaan bahasa dan budaya setempat yang masih kurang oleh petugas kesehatan, kurang adanya info kesehatan yang ada bagi bidan didesa, dan kurangnya akses informasi kesehatan.

    – Konteks internasional
    Peraturan ini muncul adalah bagian dari keikutsertaan Kota Kediri yang merupakan bagian dari Pemerintah Indonesia dalam mewujudkan dan meningkatkan derajat kesehatan dunia melalui kerjasama lintas Negara dan ikut dalam organisasi WHO sebagai organisasi yang fokus terhadap permasalahn kesehatan dunia.

    Isi/konten Kebijakan
    Peraturan Walikota ini dimaksudkan untuk memberikan pedoman operasional bagi sektor terkait dalam pelaksanaan Program KRR untuk menjamin hak-hak remaja dalam mendapatkan informasi kesehatan reproduksi dan upaya kesehatan secara menyeluruh dan terpadu.
    Pemerintah Daerah, swasta, pemangku kepentingan, dan masyarakat, termasuk orang tua bertanggung jawab dalam melakukan edukasi dan informasi mengenai kesehatan remaja, termasuk kesehatan reproduksi. Pemerintah Daerah memfasilitasi ketersediaan pelayanan informasi dan pelayanan KRR yang aman, bermutu dan terjangkau masyarakat. Setiap pelayanan KRR yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan/atau rehabilitatif, harus dilakukan secara aman dan sehat dengan memperhatikan aspek-aspek yang khas pada remaja. Pelayanan KRR dilaksanakan melalui pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi, konseling dan/atau pelayanan klinis medis.
    Pemerintah Daerah dan masyarakat harus menciptakan lingkungan yang kondusif agar remaja dapat berperilaku hidup sehat untuk menjamin kesehatan reproduksinya. Setiap remaja mempunyai hak yang sama dalam memperoleh pelayanan kesehatan reproduksi remaja yang berkualitas termasuk pelayanan informasi dengan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender.
    Upaya KRR harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk mendukung peningkatan derajat kesehatan remaja dan mencegah resiko TRIAD KRR dengan disertai upaya pendidikan kesehatan reproduksi yang seimbang. Upaya pendidikan KRR dilaksanakan melalui jalur pendidikan formal maupun non formal, dengan memberdayakan para tenaga pendidik dan pengelola pendidikan pada sistem pendidikan yang ada. Upaya kesehatan reproduksi remaja harus dilaksanakan secara terkoordinasi dan berkesinambungan melalui prinsip kemitraan dengan sektor terkait serta harus mampu membangkitkan dan mendorong keterlibatan dan kemandirian remaja.

    Proses Kebijakan
    – Perencanaan
    Kesehatan reproduksi merupakan masalah yang penting dan seharusnya mendapatkan perhatian terutama di kalangan remaja. Peningkatan status kesehatan reproduksi merupakan salah satu prioritas dari Millennium Development Goals (MDGs). Kesehatan reproduksi utamanya kesehatan reproduksi remaja juga masih merupakan salah satu prioritas tujuan dari A New Global Partnership yang merupakan strategi pembangunan pasca MDGs 2015. Data dari Kemenkes RI tahun 2012, di Indonesia komposisi penduduk berusia remaja mencapai 45 juta jiwa atau sekitar seperlima dari estimasi total jumlah penduduk Indonesia. Kelompok remaja ini dapat menjadi modal bagi pembangunan bangsa apabila memiliki kualitas yang memadai. Disisi lain, kasus HIV dan AIDS, kekerasan seksual, aborsi dan NAPZA di kalangan remaja dari tahun ke tahun terus meningkat di kota Kediri dan pemerintah daerah kota Kediri merasa bertanggung jawab atas pentingnya pemberian informasi dan pelaksanaan edukasi mengenai kesehatan reproduksi bagi masyarakat khususnya generasi muda. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka perlu ditetapkan Peraturan Walikota Kediri Nomor 58 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Kesehatan Reproduksi Remaja.

    – Perumusan
    Dalam meningkatkan derajat kesehatan reproduksi lokal di kota Kediri, pemerintah dan berbagai instansi yang terkait sudah melakukan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi, dan Peraturan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Nomor 144 HK-010/85/2009 tentang Pedoman Penanggulangan Masalah Kesehatan Reproduksi, namun belum sepenuhnya optimal. Oleh karena itu, dibuatlah kebijakan melalui Peraturan Walikota Kediri Nomor 58 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Kesehatan Reproduksi Remaja yang bertujuan untuk:
    a. memberikan acuan kebijakan dan strategi dalam pelaksanaan Program KRR secara terintegrasi yang dilakukan melalui perencanaan pelaksanaan pemantauan dan pembinaan serta evaluasi atas kebijakan/program/kegiatan pada sektor terkait, termasuk penganggarannya
    b. meningkatkan keterpaduan pelaksanaan upaya kesehatan reproduksi terutama Program KRR bagi seluruh sektor terkait
    c. menetapkan prosedur pelaksanaan Program KRR
    d. meningkatkan peran serta masyarakat dan kemandirian lembaga yangmenangani upaya kesehatan reproduksi remaja.

    – Pelaksanaan
    Pemerintah kota Kediri memberikan pelayanan kesehatan reproduksi remaja (KRR) sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan remaja. Pelayanan ini berupa komunikasi, informasi dan edukasi, konseling dan pelayanan klinis medis, serta disesuaikan dengan masalah dan tahapan tumbuh kembang remaja serta memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender, mempertimbangkan moral, nilai agama, perkembangan mental, dan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan reproduksi. Pemerintah juga melakukan pengawasan, evaluasi dan pelaporan penyelenggaraan program KRR secara berkala. Pembiayaan untuk penyelenggaraan program KRR dibebankan pada APBD kota Kediri.

    Like

Silahkan berkomentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s