Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Terhadap DBD di Dusun Trisigan, Desa Murtigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul

Amaze Grace Sira, Yoseph Leonardo Samodra

 

Abstract

Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a disease that caused by dengue virus. Dengue infection is most prevalent mosquito-borne disease inrecent years, so it becomes one of world health problems. In 2010, Indonesia ranked first in South East Asia, with 150,000 cases and mortality in 1,317 cases. Many factors related to prevalency of DHF, such as host characteristics, vector, environment, mobility, knowledge, attitude, and behaviour of the people regarding DHF. This study is aiming to measure the knowledge, attitude, and behaviour of the people live in Dusun Trisigan, Desa Murtigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. This study used observational method, with descriptive cross-sectional design, done in April-May 2015. From 50 respondents, 64% have good knowledge, 90% have good attitude, and 78% have good behaviour regarding DHF, regarding mostly about environment setting related to mosquito breeding place. But most of them (96%) stated that mosquito, not virus, causes DHF.

 

Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF), knowledge, attitude, behaviour

 

Abstrak

Demam berdarah dengue (DBD) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue. Infeksi dengue merupakan penyakit menular melalui nyamuk yang paling sering terjadi pada manusia dalam beberapa tahun terakhir, sehingga masih merupakan masalah kesehatan dunia. Pada tahun 2010 Indonesia memiliki kasus DBD tertinggi di ASEAN dengan 150.000 kasus dan 1.317 orang meninggal akibat penyakit ini. Berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kejadian DBD di suatu wilayah antara lain faktor penderita (host), tersangka vektor, kondisi lingkungan, tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku serta mobilitas penduduk, yang berbeda-beda untuk setiap daerah dan berubah-ubah dari waktu ke waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap DBD di Dusun Trisigan, Desa Murtigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional, dengan rancangan cross-sectional yang bersifat deskriptif. Penelitian berlangsung pada April-Mei 2015. Dari responden berjumlah 50 orang, didapatkan gambaran pengetahuan yang baik (64%), sikap yang baik (90%), dan perilaku yang baik (78%) terhadap DBD, terutama menyangkut kondisi lingkungan yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk. Namun sebagian besar (96%) menyatakan bahwa penyebab DBD adalah nyamuk, bukan virus.

 

Kata kunci: Demam Berdarah Dengue (DBD), pengetahuan, sikap, perilaku

nyamuk dbd berbahaya

 

  1. Pendahuluan

Demam berdarah dengue (DBD) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue. DBD disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae1.

Infeksi dengue merupakan penyakit menular melalui nyamuk (mosquito-borne) yang paling sering terjadi pada manusia dalam beberapa tahun terakhir, sehingga masih merupakan masalah kesehatan dunia. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa 2,5 miliar manusia tinggal di daerah virus dengue bersirkulasi2. Di seluruh dunia diperkirakan terjadi lebih dari 50 juta kasus infeksi virus dengue terjadi tiap tahunnya dengan jumlah rawat inap sebesar 500.000 dan angka kematian lebih dari 20.000 jiwa. Tahun 2006 di Indonesia didapatkan laporan kasus dengue sebesar 106.425 orang dengan tingkat kematian 1,06%3. Pada tahun 2010 Indonesia memiliki kasus DBD tertinggi di ASEAN dengan 150.000 kasus dan 1.317 orang meninggal akibat penyakit ini4.

Baca juga: Gizi dan Penyakit Kronis

Berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kejadian DBD di suatu wilayah antara lain faktor penderita (host), tersangka vektor, kondisi lingkungan, tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku serta mobilitas penduduk, yang berbeda-beda untuk setiap daerah dan berubah-ubah dari waktu ke waktu. Faktor lingkungan meliputi kondisi geografi dan demografi. Kondisi geografi yaitu ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, dan iklim5.

Selama bulan Januari hingga April 2015 terjadi tiga kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Sanden. Kasus terakhir di bulan April 2015 adalah salah satu warga Dusun Trisigan yang lokasinya hanya sekira 800 meter dari Puskesmas Sanden. Hal ini perlu diperhatikan agar dapat mencegah timbulnya kasus baru di kemudian hari.

Peran serta masyarakat sangat penting dalam menurunkan angka kesakitan DBD di suatu wilayah. Berbagai program kesehatan seperti Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), dan 3M Plus telah dilaksanakan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kasus DBD baru. Agar program tersebut dapat memberi hasil yang optimal, masyarakat perlu memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang baik terkait DBD.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap DBD di Dusun Trisigan, Desa Murtigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul.

Baca juga: Penelitian DBD di Kota Yogyakarta

 

  1. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan menggunakan rancangan potong lintang yang bersifat deskriptif. Lokasi penelitian adalah di Dusun Trisigan, Desa Murtigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. Penelitian dilakukan selama bulan April hingga Mei 2015.

Sampel yang diambil adalah 50 orang yang mewakili 50 keluarga, berasal dari ibu-ibu yang tergabung dalam kegiatan PKK. Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kuesioner.

Variabel yang diteliti adalah pengetahuan, sikap, dan perilaku responden. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara deskriptif menggunakan software Microsoft Excel® 2010. Analisis data hasil penelitian disajikan secara deskriptif untuk mengetahui proporsi masing-masing variabel dalam bentuk tabel dan grafik.

 

  1. Hasil dan Pembahasan

Karakteristik responden berdasarkan umur menunjukkan bahwa kelompok umur terbanyak adalah umur 36-50 tahun (66%), sedangkan kelompok umur di atas 65 tahun hanya mencakup 4% responden, dan tidak ada responden yang berusia kurang dari 20 tahun (Tabel 1).

 

Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Umur

Umur Frekuensi %
<20 tahun 0 0
20-35 tahun 11 22
36-50 tahun 33 66
50-65 tahun 4 8
>65 tahun 2 4

 

Tabel 2 menunjukkan bahwa tiga kelompok responden terbanyak berdasarkan tingkat pendidikan terakhir adalah SMA (50%), diikuti oleh SMP (28%) dan SD (10%). Sedangkan tiga kelompok responden terbanyak berdasarkan pekerjaan adalah ibu rumah tangga (56%), diikuti oleh PNS (16%) dan petani (14%).

Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan dan Pekerjaan

Variabel Frekuensi %
Pendidikan
Tidak tamat SD 2 4
SD 5 10
SMP 14 28
SMA 25 50
Diploma 0 0
Sarjana 4 8
Pekerjaan
Buruh 1 2
Petani 7 14
PNS 8 16
Pegawai Swasta 5 10
Pensiunan PNS 1 2
Wiraswasta 0 0
Ibu Rumah Tangga 28 56

 

Ketika dilakukan pengelompokan berdasarkan kategori tingkat pengetahuan mengenai DBD, didapatkan bahwa 32 orang (64%) pengetahuannya dikategorikan baik, 12 orang (24%) pengetahuannya dikategorikan sedang, dan hanya 6 orang (12%) yang termasuk dalam kategori pengetahuan kurang. Hal yang menarik adalah hanya 2 orang (4%) yang mengetahui penyebab DBD adalah virus, bukannya nyamuk yang hanya berperan sebagai penular (vektor).

Hasil penelitian menunjukkan responden yang mempunyai sikap dalam kategori baik sebanyak 45 orang (90%) dan hanya 5 orang (10%) yang mempunyai sikap dalam kategori sedang. Hanya 1 orang (2%) yang tidak setuju bahwa kegiatan 3M (mengubur, menutup, menguras) harus dilakukan secara rutin.

Tidak semua responden memiliki perilaku dalam kategori baik. Lebih lanjut, distribusi responden berdasarkan perilaku dapat dilihat pada Tabel 3.

 

Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Terkait DBD

Perilaku Frekuensi %
Baik 39 78
Sedang 9 18
Kurang 2 4

 

Karakteristik responden berdasarkan umur menunjukkan bahwa mayoritas ibu-ibu PKK di Dusun Trisigan, Desa Murtigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul berusia antara 20 hingga 50 tahun, yaitu sebanyak 44 orang (88%). Meskipun di pedesaan, tingkat pendidikan responden cukup tinggi, 58% ibu-ibu PKK memiliki pendidikan terakhir minimal tamat SMA. Pekerjaan lebih dari separuh responden (56%) adalah ibu rumah tangga, yang memungkinkan mereka untuk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan lingkungan sekitar.

Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik (64%) dan sedang (24%), meskipun masih banyak ditemukan pengetahuan yang belum lengkap dan benar. Terbukti bahwa sebagian besar (96%) menyatakan bahwa penyebab DBD adalah nyamuk, bukan virus. Padahal nyamuk hanyalah penular (vektor), bukan penyebab DBD. Di Indonesia, vektor penyakit DBD yang paling sering dijumpai adalah nyamuk Aedes sp. terutama adalah Aedes aegypti walaupun Aedes albopictus dapat juga menjadi vektornya1.

Pendidikan formal bukanlah satu-satunya sumber pengetahuan terkait DBD. Pada penelitian di Kelurahan Parang Tambung, wilayah Puskesmas Tamalate, Kota Makassar, respondennya memiliki karakteristik tingkat pendidikan akhir yang mirip dengan penelitian ini, namun didapatkan hasil tingkat pengetahuan yang baik pada 90,4 responden. Hal ini diikuti dengan adanya hubungan antara pengetahuan dengan pengendalian DBD6.

Pengetahuan yang belum lengkap dan benar dapat dipicu kurangnya informasi yang benar untuk meluruskan salah kaprah di masyarakat. Temuan menarik di wilayah kerja Puskesmas Mataram menunjukkan bahwa kader kesehatan di dua kelurahan sebagian besar hanya memiliki pengetahuan terkait DBD pada kategori cukup7. Hal ini menjadi salah satu hal yang perlu diintervensi oleh Puskesmas untuk dapat memberikan informasi yang lengkap dan benar dalam kapasitasnya sebagai lembaga kesehatan milik pemerintah.

Pada penelitian di Kelurahan Baler Bale Agung, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana pada tahun 2012 ditemukan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan masyarakat dengan kejadian DBD. Namun, ada hubungan signifikan antara sikap dan tindakan masyarakat dengan kejadian DBD8.

Tidak ada responden yang memiliki sikap dalam kategori kurang. Terdapat 90% responden yang memiliki sikap dalam kategori baik, dan 10% dalam kategori sedang. Beberapa responden yang tidak setuju dengan mengubur barang bekas yang dapat menjadi perindukan nyamuk beralasan bahwa barang tersebut dapat dijual atau digunakan kembali.

Hasil penelitian ini menyerupai hasil penelitian di Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang pada tahun 2008, yaitu didapatkan 97% responden dengan sikap positif. Namun pada pembahasannya, ditekankan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara sikap dengan praktik ibu rumah tangga terkait DBD9.

Perilaku sebagian besar responden (78%) adalah terkategorikan baik. Hanya 18% responden yang memiliki perilaku dengan kategori sedang, dan 4% responden dengan kategori kurang. Hal yang diperhitungkan dalam penilaian perilaku adalah: pemberian obat penurun panas pada anggota keluarga yang dicurigai menderita DBD, melakukan 3M dan PSN, dan kerja bakti jika ada warga yang terjangkit DBD.

Pemberian obat penurun panas sebagai bagian dari penatalaksanaan awal DBD sudah dilakukan oleh 78% responden kepada anggota keluarganya yang dicurigai terjangkit DBD.

Dalam lingkup kesehatan lingkungan keluarga, perilaku terkait DBD dapat dinilai amat baik karena banyak keluarga yang rutin melakukan 3M dan PSN. Ada 70% responden yang rutin mengubur barang bekas yang dapat menjadi penampungan air, dan ditemukan 80% responden yang rutin menguras bak mandi minimal satu kali dalam seminggu. Selain itu, 90% responden mengaku menutup tempat penampungan air bersih. Sedangkan dalam penelitian tentang pemberantasan sarang nyamuk di Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara pada tahun 2012 didapatkan bahwa hanya 48,9% responden yang menjalankan aktivitas PSN dengan baik10.

Dalam lingkup komunitas, ternyata hanya 40% responden yang melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan ketika ada warga yang terjangkit DBD. Padahal kemungkinan besar di lingkungan yang tidak terawat akan ditemukan banyak tempat perindukan nyamuk. Secara keseluruhan perilaku responden dalam bidang kesehatan lingkungan terkait DBD sudah cukup baik, meskipun perlu meningkatkan perilaku dalam lingkup komunitas.

 

  1. Simpulan dan Saran

Sebagian besar warga Dusun Trisigan, Desa Murtigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul sudah memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang baik terkait DBD.

Pemerintah Bantul melalui Puskesmas Sanden diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dengan terus melaksanakan berbagai program untuk mencegah terjadinya wabah DBD. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan penyuluhan kesehatan dan kembali menggiatkan kegiatan PSN yang tidak hanya mencakup tiap-tiap rumah penduduk, namun juga lingkungan sekitarnya.

 

  1. Referensi
  1. Rampengan, T. (2008). Demam Berdarah Dengue dan Sindrom Syok Dengue. In T. Rampengan, Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Edisi 2. (pp. 122-147). Jakarta: EGC.
  2. Karyanti, M., & Hadinegoro, S. (2009). Perubahan Epidemiologi Demam Berdarah Dengue Di Indonesia. Sari Pediatri , 10 (6), 424-432.
  3. (2011). Kebocoran Plasma pada Demam Berdarah Dengue. Cermin Dunia Kedokteran , 38 (2), 92-96.
  4. Puspitasari, R., & Susanto, I. (2011). Analisis Spasial Kasus Demam Berdarah di Sukoharjo Jawa Tengah dengan Menggunakan Indeks Moran. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika ”Matematika dan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran” (pp. 67-77). Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY.
  5. Djati, A. P., Rahayujati, B., & Raharto, S. (2012). Faktor Risiko Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunungkidul Provinsi DIY Tahun 2010. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Jurusan Kesehatan Masyarakat (pp. 1-16). Purwokerto: FKIK UNSOED.
  6. Risdayanti, Haskas, Y., & Sumira. (2014). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pengendalian Demam Bedarah Dengue di Kelurahan Parang Tambung Wilayah Kerja Puskesmas Tamalate Kota Makassar. Jurnal ilmiah kesehatan Diagnosis , 5 (4), 423-431.
  7. Jelantik, I. G., & Kurniatun. (2014). Perbedaan Perilaku Kader Kesehatan tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) terhadap Angka Bebas Jentik (ABJ) antara Kelurahan Monjok dengan Kelurahan Monjok Timur Wilayah Kerja Puskesmas Mataram. Media Bina Ilmiah , 8 (7), 29-33.
  8. Aryati, I. K., Sali, I. W., & Aryasih, I. G. (2014). Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Masyarakat dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Baler Bale Agung Kecamatan Negara Tahun 2012. Jurnal Kesehatan Lingkungan , 4 (2), 118-123.
  9. Lerik, M. D., & Marni. (2008). Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap dengan Praktik Ibu Rumah Tangga dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) di Kelurahan Oebufu Kecamatan Oebobo Kota Kupang Tahun 2008. Media Kesehatan Masyarakat , 3 (1), 34-44.
  10. Santhi, N. M., Darmadi, I. G., & Aryasih, I. (2014). Pengaruh Pengetahuan dan Sikap Masyarakat tentang DBD terhadap Aktivitas Pemberantasan Sarang Nyamuk di Desa Dalung Kecamatan Kuta Utara Tahun 2012. Jurnal Kesehatan Lingkungan , 4 (2), 152-155.

11 thoughts on “Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Terhadap DBD di Dusun Trisigan, Desa Murtigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul

  1. Determinan sosial kesehatan yang mempengaruhi masyarakat dalam hubungannya dengan DBD berdasarkan artikel diatas, yaitu:
    – Agen biologis
    penyebab DBD adalah virus Dengue yang termasuk kelompok arthropoda borne virus (Arboviruses). Anggota dari genus Flavivirus, family flaviviridae yang di tularkan oleh nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus yang merupakan vektor infeksi DBD.

    – Sikap
    sebagian besar responden sudah mempunyai sikap yang baik terhadap penyakit DBD, namun ada responden yang tidak setuju bahwa kegiatan 3M (mengubur, menutup, menguras) harus dilakukan secara rutin dan beralasan bahwa barang bekas yang dapat menjadi perindukan nyamuk tidak harus dikubur karena masih dapat dijual/digunakan kembali.

    – Perilaku
    Secara keseluruhan responden juga mempunyai perilaku yang baik terkait penyakit DBD, dimana banyak keluarga yang rutin melakukan 3M dan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) serta memberikan obat penurun panas sebagai bagian dari tatalaksana awal DBD kepada anggota keluarganya yang dicurigai terjangkit DBD.

    – Pekerjaan
    Lebih dari 50% responden merupakan ibu rumah tangga, sehingga memudahkan mereka untuk menghabiskan waktu di rumah dan lingkungan sekitar dengan rutin melakukan PHBS, 3M dan PSN untuk mencegah kasus DBD yang baru.

    – Pendidikan
    Walaupun responden tinggal di wilayah pedesaan, namun tingkat pendidikan mereka cukup tinggi (minimal tamat SMA) dan secara keseluruhan pengetahuan mereka terkait DBD sudah cukup baik. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan formal yang tinggi bukanlah satu-satunya sumber pengetahuan terkait DBD.

    – Demografi dan geografi
    Ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, iklim dan mobilitas penduduk yang berubah-ubah dari waktu ke waktu dapat memicu timbulnya kasus DBD baru di kemudian hari.

    Dalam menurunkan angka kesakitan DBD disuatu wilayah, peran serta masyarakat sangatlah penting dan puskesmas sebagai salah satu lembaga kesehatan memiliki tanggung jawab dalam memberikan informasi yang lengkap dan benar agar masyarakat memiliki pengetahuan, sikap dan perilaku yang baik dan benar terhadap DBD.

    Like

  2. Determinan eko-sosial kesehatan disimpulkan oleh dahlgren dan whitehead (1991) adalah kesehatan individu, kelompok atau komunitas yang optimal dengan didukung oleh kemampuan setiap individu untuk daptat memodifikasi faktor- faktor yang didapat dari luar tubuhnya untuk dapat meningkatkan atau menurunkan status kesehatan individu tersebut yang mempengaruhi sebuah kelompok atau komunitas
    Berlandasan dari definisi determinan sosial dalam menghadapi dan menangani DBD di dusun Trigisan, desa murtigading kecamatan sanden, kabupaten bantul ada beberapa aspek yang harus diperhatikan seperti pregram komunitas, tingkat pengetahuan,pekerjaan, kesadaran masyarakat. Mengigat kabupaten bantul adalah kabupaten yang endemik DBD dimana semua aspek, lembaga masyarakat, lembaga kesehatan dan jajaran pemimpin masyarakat harus bekerja sama untuk membasmi dan memerangi virus DBD ini
    Aspek-aspek tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut
    1. Program komunitas
    Dalam hal ini program- program yang tepat sasaran dan tepat eksekusi dapat membasmi virus DBD di daerah tersebut. Program PSN (pemberantasan sarang nyamuk) sangatlah ampuh untuk mencegah terjadi nya penyakit ini butuh ketekunan dan ketelatenan dalam mengeksekusi program ini. Kemudian program 3M adalah program yang sangat klasik tapi sangat efektif untuk mencegah penyakit ini.
    2. Tingkat pengetahuan
    Pengetahuan masyarkat dalam menghadapi penyakit ini sangatlah penting dilihat dari demografi pengetahuan tentang pengetahuan brdasarkan penyabab DBD sangatlah masih kurang. Dalam kejadian ini masyarakat harus sering mendapatkan penyuluhan dan sosialisasi dari berbagai lembaga yang berperan aktif dalam menghadapi maslah ini antara lain lembaga kesehatan, lembaga pemerintahan dan jajaran pemuka masyarakat untuk dapat meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat.
    3. Tingkat Kesadaran masyarakat
    Kesadaran dalam asrti aspek ini adalah kesadaran dari setiap masyarakat dalam menjalankan progrma- program komuntas diatas dan kesadaran dari lembga lembaga yang berperan penting untuk memerangi penyakit ini. Mengigat bahwa suatu daerah yang endemik DBD harus dengan tekun dan telaten dalam menjalankan setiap upaya untuk mengurangi bahkan membasmi penyakit ini.

    Liked by 1 person

  3. Determinan Sosial Kesehatan terkait DBD :
    1. Penderita (host), meliputi tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku.
    2. Penular (vektor), terutama adalah Aedes aegypti walaupun Aedes albopictus dapat juga menjadi vektornya.
    3. Program Kesehatan, meliputi penyuluhan tentang DBD, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), dan 3M Plus.
    4. Kondisi geografi, meliputi ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, iklim.
    5. Kondisi demografi.

    Liked by 1 person

  4. Aprilia Vetricia Gandrung November 19, 2017 — 11:18 pm

    Determinan sosial kesehatan yang mempengaruhi masyarakat dalam hubungannya dengan DBD
    1. Lingkungan
    Kondisi lingkungan yang selau berubah dapat menurunkan kondisi fisik manusia sehingga dia rentan terhadap penyakit atau kondisi lingkungan yang berubah sehingga agent dapat berkembang biak dengan pesat pada lingkungan tersebut yang menyebabkan timbulnya penyakit.
    2. Perilaku masyarakat
    Tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan sangat baik, dimana masyarakat melaksanakan berbagai kegiatan yang merupakan program kesehatan seperti Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), dan 3M Plus secara rutin.
    3. Pelayanan kesehatan
    Kondisi pelayanan kesehatan juga menunjang derajat kesehatan masyarakat, dimana dapat dikembangkannya dan dilaksanakannya berbagai program untuk promotif dan preventif contoh mengenai DBD, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), dan 3M Plus diatas.
    4. Tingkat pengetahuan
    Tingkat pengetahuan merupakan salah satu penentu keberhasilan program diatas, salah satu hal yang bisa dilakukan untuk menambah pengetahuan warga adalah dilakukannya penyuluhan atau pendekatan dengan pembinaan keluarga mengenai DBD tersebut.

    Like

  5. Determinan sosial kesehatan yang mempengaruhi masyarakat berhubungan dengan DBD:
    1. Pendidikan/pengetahuan pederita:
    Pendidikan kesehatan dapat membantu
    individu-individu tersebut untuk beradaptasi dengan lingkungan,
    mencegah DBD dan menjalankan program yang sudah diberikan dan
    belajar untuk memecahkan masalah ketika menghadapi situasi baru.

    2. Sikap/tindakan:
    Partisipasi masyarakat dapat dilakukan dengan melaksanakan
    gerakan kebersihan dan kesehatan lingkungan secara serentak dan
    gotong royong . semakin besar komitmen pemerintah dan partisipasi
    masyarakat, maka semakin besar pula kebersihan program pencegahan
    DBD.

    3. Fasilitas kesehatan
    Ketersediaan sarana prasarana atau
    fasilitas kesehatan bagi masyarakat, misalnya : air bersih, tempat
    pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja. Termasuk fasilitas
    pelayanan kesehatan seperti : Puskesmas, Rumah Sakit, Poliklinik,
    Posyandu, Pos Obat Desa, Dokter.

    4. Vektor ( nyamuk aedes aegypti)
    Populasi nyamuk Aedes aegypti biasanya meningkat pada
    waktu musim penghujan, Karena sarang – sarang nyamuk akan terisi
    oleh air hujan. Peningkatan populasi ini berarti akan meningkatnya
    kemungkinan bahaya penyakit DBD di daerah endemis.

    5. Kondisi demografi dan geografi
    Faktor demografi, lokasi tempat tinggal dapat berpengaruh dalam mendapatkan fasilitas kesehatan, jarak tempuh yang akan dilalui untuk bisa tiba ke fasilitas kesehatan berapa lama, jarah jauh dan waktu tempuh yang lama bisa menyebabkan keterlambatan penderita mendapat pengobatan yang adekuat.
    Faktor geografi lingkungan, tinggi dari permukaan laut dan cuaca, suhu, iklim pada daerah tersebut.

    Like

  6. Marcella Anggatama November 20, 2017 — 9:09 am

    1. Host (penderita)
    – pengetahuan : pengetahuan mempengaruhi sikap dan perilaku.
    – sikap : pentingnya 3M (mengubur, menutup, menguras), pemberantasan sarang nyamuk (PSN), PHBS. Sebagai contoh : masih adanya yang tidak berkenan mengubur barang bekas sebab berfikir lebih baik barang tersebut dijual lagi.
    – perilaku
    2. Penyebab (virus dengue)
    3. Vector (nyamuk)
    Terutama nyamuk aedes aegypti. Bisa juga nyamuk aedes albopictus. Nyamuk sebagai pembawa virus.
    4. Kondisi lingkungan
    – geografi : ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembapan, iklim.
    – demografi

    5. Pelayanan kesehatan
    Pelayanan kesehatan penting untuk usaha preventif dan promotif melalui program-programnya (3M, PSN, PHBS)

    Like

  7. Stephanie Caroline Link November 20, 2017 — 10:41 am

    Menurut saya determinan sosial kesehatan yang mempengaruhu masyarakat dalam hubungannya dengan DBD :
    1. Penderita (Host)
    Meliputi tingkat pengetahuan terhadap kesehatan dari individu, sikap individu dalam menerima informasi baru, cara beradaptasi, serta kebiasaan sehari-hari dalam beraktivitas apakah host menerapkan pola hidup bersih sehat atau tidak.
    2. Vektor
    Terutama Aedes aegypti atau Aedes albopictus yang merupakan vektor infeksi terjadinya DBD.
    3. Kondisi geografi
    Meliputi cuaca, iklim, tinggi tempat tinggal dari permukaan air laut, serta suhu tempat tinggal sekitar.
    4. Pelayanan kesehatan sekitar
    Ada atau tidaknya fasilitas kesehatan di sekitar host, aktif atau tidaknya pelayanan kesehatan tersebut untuk mengadakan penyuluhan atau memantau wilayah kerjanya.
    5. Faktor demografi
    Meliputi jauh tidaknya jarak yang harus di tempuh untuk berobat apabila host merasa ada gangguan pada tubuhnya.

    Like

  8. VIRGIANA RIRA CASSIA November 20, 2017 — 12:01 pm

    Determinan kesehatan sosial yang  mempengaruhi masyarakat dalam hubungan dengan DBD.
    – Tingkat pengetahuan
    Adanya pengetahuan yang kurang/ tidak lengkap tentang bahaya DBD baik itu pencegahan maupun penanganan awal.
    – Perilaku
    Kebiasaan penderita/warga sekitar dalam mengendalikan kebersihan sekitar (misal: penutupan / pembersihan berkala tempat penampungan air,)
    – Vektor
    Populasi nyamuk Aedes agepti yang menigkat pada bulan – bulan tertentu seperti pada bulan musim penghujan.
    – Kondisi geografi
    Kondisi cuaca, iklim dan curah hujan yang dapat menigkatkan populasi vektor nyamuk.

    Like

  9. I Dewa Gde Rainey Chrisananta Putra November 20, 2017 — 4:25 pm

    Kondisi determinan sosial yang ikut berpengaruh terhadap kasus DBD tersebut adalah
    1. Edukasi atau pengetahuan yang diketahui oleh para penduduk
    Karena tingkat status kesehatan seseorang dipengaruhi oleh pengetahuan yang diketahui, dalam hal ini adalah DBD. Maka semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang akan hal-hal terkait DBD, mulai dari faktor penyebab, bahaya dari DBD, tanda bahaya, dan cara pencegahan maka masyarakat akan semakin aware dan waspada akan hal tersebut.
    2. Perilaku dari penduduk
    Perilaku dari penduduk ini juga mempengaruhi terhadap berkembangnya DBD ini. JIka penduduk mempunyai pengetahuan yang baik dari DBD ini maka perilaku dari penduduk atau perseorangan ini pun akan berubah dengan tujuan utama untuk mengurangi angka kesakitan DBD. Contohnya dengan melakukan 3M plus, pemberantasan jentik nyamuk, memakai kelambu, memakai repelant dan juga memeriksakan sedini mungkin jika ada anggota keluarga yang sakit atau orang lingkungan sekitar yang sakit.
    3. Demografi dan kondisi geografis dari suatu wilayah
    Kondisi demografi dan geografis dari suatu wilayah disini merupakan hal yang sangat penting juga, karena hal tersebut berpengaruh langsung terhadap kondisi alam yang turut meningkatkan perkembangbiakan vektor dan penyebaran vektor tersebut yang mana nantinya akan bisa menginfeksi host yang ada disekitar, apalagi jika ditempat tersebut juga merupakan residensial atau tempat tinggal penduduk. Faktor yang dapat berpengaruh juga antara lain dari ketinggian permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, dan iklim.
    4. Dari Vektor (nyamuk)
    JIka lingkungan geografis dari suatu wilayah itu sangat mendukung untuk berkembangbiaknya vektor DBD ini, maka hal ini akan menyebabkan vektor ini semakin banyak. Vektor nyamuk pada DBD ini adalah aedes aegypti atau juga nyamuk aedes albopictus, yang mana juga mempunyai siklus perkembangbiakan secara pesat pada bulan bulan tertentu terutama bulan pada musim penghujan.
    5. Dari Host atau penderita
    faktor dari host ini harus menjaga kesehatan ( dengan berolah raga, asupan gizi yang cukup, perilaku hidup bersih dan sehat) dapat dilakukan agar fit dan tubuh dapat mempertahankan daya tahan tubuhnya dengan baik. JIka host tidak fit dan tidak menerapkan usaha pencegahan sesuai dengan pengetahuan yang ada maka akan menyebabkan host dapat terinfeksi oleh virus DBD.

    Like

  10. L. A. Fendi Permana November 20, 2017 — 7:25 pm

    Determinan sosial kesehatan yang berpengaruh dalam artikel tersebut antara lain :

    1.Virus Dengue
    Faktor inilah yang harus ada (menjadi penyebab) pada kasus DBD. Virus yang menyebabkan DBD adalah salah satu dari 4 virus dari genus Flavivirus, famili Flaviridae.

    2. Host (faktor penderita)
    Faktor penderita yang mempengaruhi terjadinya DBD antara lain tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap penyakit demam berdarah dengue.

    3. Vektor (pembawa virus dengue yaitu nyamuk)
    Nyamuk yang paling umum membawa virus dengue adalah nyamuk Aedes Aegypti. Selain nyamuk Aedes Aegypti, virus dengue juga bisa dibawa oleh nyamuk Aedes Albopictus.

    4. Kondisi lingkungan
    Kondisi lingkungan yang mempengaruhi DBD meliputi kondisi geografi dan demografi. Kondisi geografi antara lain iklim, cuaca, ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, dan kelembaban. Kondisi demografi yang berpengaruh pada DBD yaitu mobilitas penduduk. Apabila seseorang yang terkena DBD berpindah ke tempat lain dan nyamuk pembawa virus dengue yang ada di tempat baru menghisap darah penderita dan memindahkan virusnya ke orang lain maka orang lain tersebut dapat tertular.

    5. Peran serta masyarakat dalam program kesehatan
    Program kesehatan yang berkaitan dengan pencegahan DBD antara lain Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Penyuluhan Pengetahuan DBD, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), dan 3M Plus.

    Like

  11. E. C. Aryo Nugroho November 20, 2017 — 8:38 pm

    Faktor determinan sosial kesehatan yang mempengaruhi masyarakat dalam hubungannya dengan DBD dalam penelitian diatas adalah nyamuk sebagai vektor virus dengue; lokasi atau daerah, dimana penelitian dilakukan pada daerah endemis DBD yaitu pada Dusun Trisigan, Desa Murtigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul; pekerjaan responden adalah kebanyakan ibu rumah tangga sehingga responden dapat mengurus serta memantau kondisi di lingkungan rumah; usia kebanyakan responden masih dalam usia produktif sehingga dapat menerima dan memahami informasi dengan baik; Pendidikan responden mayoritas adalah lulusan SMA dimana tingkat pendidikan tersebut sudah mencukupi agar responden dapat menerima dan memahami informasi dengan baik; lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk seperti tempat penampungan air, bak mandi, dan sampah; perilaku responden seperti pemberian obat penurun panas pada anggota keluarga yang dicurigai menderita DBD, melakukan 3M dan PSN, dan kerja bakti jika ada warga yang terjangkit DBD.

    Like

Silahkan berkomentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close