Penelitian RCT di Jepang menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau rutin setiap hari sebanyak 2-4 porsi selama setahun tidak memperbaiki kemampuan kognitif pada lansia yang mengalami gangguan kognitif [1].

Jika anda ingin tetap mengonsumsi teh hijau maka tetaplah menikmatinya. Minum teh hijau mungkin tidak membuat anda makin pintar. Bahkan mungkin teh hijau tidak menimbulkan efek menenangkan bagi anda seperti yang banyak disebutkan orang lain.

Nikmati secangkir teh hijau hangat untuk menemani anda menjalani aktivitas hari ini. Jika anda lebih memilih teh lain, kopi, atau minuman lain untuk menemani aktivitas anda maka silahkan menikmatinya dengan penuh ucapan syukur.

manfaat teh hijau untuk kesehatan

Selain teh hijau, bawang putih juga dikenal sejak dulu kala memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan. Pada masa Olimpiade kuno di Yunani, bawang putih diketahui diberikan pada atlit untuk meningkatkan stamina. Pada pengobatan Cina kuno, bawang putih sering dipakai untuk mengobati diare dan cacingan [2].

Charaka-Samhita (naskah kedokteran India kuno) merekomendasikan bawang putih untuk pengobatan penyakit jantung dan artritis selama berabad-abad. Pada naskah kedokteran India kuno lainnya, Bower Manuscript (~300 Masehi), bawang putih dipakai untuk pengobatan kelelahan, penyakit parasit, gangguan pencernaan, dan kusta [2].

Dokter terkemuka dari abad ke-16, Pietro Mattiali dari Siena, meresepkan bawang putih untuk mengobati gangguan pencernaan, cacingan, gangguan ginjal, serta membantu ibu yang mengalami kesulitan melahirkan. Di Inggris, bawang putih dipakai untuk mengobati sakit gigi, konstipasi, edema, dan plague [2].

Ingin mencoba mengonsumsi teh hijau dicampur bawang putih? Atau anda punya ide yang lain? Silahkan tinggalkan komentar.

Sumber:

[1] Ide K, Yamada H, Takuma N, Kawasaki Y, Harada S, Nakase J, et al. Effects of green tea consumption on cognitive dysfunction in an elderly population: A randomized placebo-controlled study. Nutr J. 2016;15(49).

[2] Banerjee SK, Maulik SK. Effect of garlic on cardiovascular disorders: A review. Nutr J. 2002;1(4).

Leave a comment

Leave a Reply